
[WARNING!!! ADEGAN DI CHAPTER INI MENGANDUNG BENDA TAJAM DAN DARAH!!!]
Di dalam kamar mandi, Arya membaringkan tubuhnya di atas Bathtub putih kamar mandi, dan…
“BLuuussshhh~” Suara air sabun di dalam Bathtub tersebut, berhamburan, banyak yang tumpahan karena menampung berat tubuh Arya, yang hampir seukuran Bathtub tersebut.
Bathtub itu terlihat sempit baginya, karena lemak di perutnya kian bulan semakin bertambah.
“Bahkan Bathtub saja enggan menerima keberdaanku~” Ucap Arya, dengan sorot mata yang lirih… “Dunia juga, enggan menerima keberadaanku!” Ucap Arya lagi, sambil tersenyum kecut, sambil mengambil sebotol minuman keras yang terletak di sebelah Bathtub tersebut, yang sedari tadi dia bawa, dengan di tutupi oleh lipatan handuk, yang hendak di pakainya untuk mandi.
Ia pun membuka botol minuman keras tersebut, dan meneguk sangar ujung botolnya. “Apakah lebih baik aku mati saja, yah?” Tanya Arya dengan nada bergetar.
Matanya saat ini pun memerah, dia pun menangis sejadi-jadinya…
“Huhuhuuuuu~ huhuhuhuhuuuu~ huhuhuuhuhuuuuu~”
Yah~ mati saja!
Toh~ Pikirnya tidak ada yang akan menangisi kematiannya.
Keluarganya tidak akan menangisi kematiannya, paling ada si tampan Arga, sebagai pengganti dirinya… jatah beras pun nggak akan berkurang lagi, kalau tidak ada keberadaannya…
Teman-teman dan guru-gurunya?
Nggak mungkin merasa kehilangan dirinya, toh dengan tidak ada keberadaannya di sisi mereka, tidak ada lagi yang menghalangi jalan karena terhalang oleh tubuhnya, tidak ada lagi kursi-kursi yang patah lagi, karena menanggung beban tubuhnya… pasti mereka semua bahagia, karena tidak ada lagi yang merusak keindahan pemandangan mata mereka, tidak ada lagi yang mereka olok-olok gembrot… Murid-murid berprestasi pun juga banyak di sekolahnya, nggak Cuma hanya dia saja!
Melanie? Yah~ Paling hanya Melanie yang menangisi kematiannya, menangis karena tidak ada lagi orang bodoh, yang memberikan contekan PR dan tugas-tugas di sekolah lagi kepada gadis tomboy berwatak play girl tersebut. Lagipula dengan tidak adanya keberadaan dirinya Melanie bisa bebas berkencan dengan siapa saja, tidur dengan siapa saja, dan memeloroti duit om-om yang mana saja…
“Huhuhuuuuu~ huhuhuhuhuuuu~ huhuhuuhuhuuuuu~”
Arya pun menangis, dan terus menangis…
Dengan tangan bergetar Ia membuka air keran Bathtub, di atas kepalanya berbaring, agar suara tangisnya, tak terdengar oleh siapa pun, tertutup oleh suara air keran yang mengalir.
Tiba-tiba udara malam di kamar mandi tersebut, terasa semakin dingin~
Tubuh Arya tanpa berbusana, dengan air sabun menggenang di sekitar tubuhnya, dan kondisi tubuh yang kini dalam keadaan mabuk pun, semakin kedinginan~ semakin menggigil~
Terngiang-ngiang kembali olokan-olokan beberapa siswa, yang sering dia dengar hampir setiap hari, selama Ia berada ke sekolah…
“ARYA JELEK!”
“ARYA GENDUT!”
“ARYA GEMBROT!”
“HAHAAHAHAHAHAHA~”
Hinaan-hinaan yang membuat dadanya selalu sesak tersebut, kembali lagi terngiang-ngiang dalam kepalanya.
Seketika itu dada Arya merasa sesak kembali…
Ia pun lalu memukul-mukul dadanya tersebut dengan kuat. Guna menenangkannya~
“Makanya diet!” Tergiang sindiran Arga, yang selalu terlontar untuknya, di kala Ia mengeluh karena bajunya yang sesak selalu robek.
__ADS_1
“Ia… Ia bukan siapa-siapaku!” Tergiang lagi ucapan Melanie, sambil berlalu dari hadapannya. Bersama dengan pria gendut yang saat itu di gandeng oleh lengan Melanie.
“HUHUHUUHUUUUUU~” Tangisan Arya semakin memecah…
Tubuh Arya bergetar dengan kuat.
Dadanya pun semakin sakit.
Mata dan wajahnya kini sama-sama memerah… dan…
“PRAAAAAAAAAANNNNNNNNNKKKKKKK~”
Ia pun memecahkan botol minuman keras yang sedari tadi di genggamnya.
Arya pun terbangun dari Bathtub nya, dan memilih pecahan kaca dari botol minuman keras tersebut, yang menurutnya ujung potongan kaca tersebut, ujungnya paling tajam…
♡♡♡♡
“Bulan purnama? Kak Arya?” Gumam Arga tiba-tiba… Ia teringat kembali kata-kata yang kemarin, yang di ucapkan oleh wanita asing tersebut kepadanya:
“Jaga dirinya baik-baik… karena pada bulan purnama, dia akan membunuh dirinya sendiri.” Ucap Tante asing tersebut, dengan senyuman simpul di wajahnya.
“Ayah, Bunda, ayo selamatkan Kak Arya! Kak Arya mau bunuh diri!” Seru Arga tiba-tiba, dan berlari di arah kamar mandi keluarga mereka, yang kebetulan dekat dengan ruang dapur.
“A Apa?!” Seru Bunda dan Ayah mereka, kaget, dan ikut berlari juga ke arah kamar mandi, mengikuti jejak Arga.
Sesampainya di depan pintu kamar mandi…
“DORRR~ DOOOORRR~ DOOOORRRRR~” Bunyi pintu kamar mandi yang di gedor kuat.
“Kak Arya buka pintunya! Kak Arya!!” Teriak Arga, sambil mengendor-gedor kuat pintu kamar mandi tersebut.
Yang ada hanya suara… genangan air yang mengalir dengan kerasnya, dari arah dalam kamar mandi tersebut…
♡♡♡♡
Arya pun memungut salah satu dari potongan kaca tajam tersebut, dan berniat mengiris nadi tangannya.
“DORRR~ DOOOORRR~ DOOOORRRRR~” Bunyi pintu kamar mandi yang di gedor kuat.
“Kak Arya buka pintunya! Kak Arya!!” Teriak Arga, sambil mengendor-gedor kuat pintu kamar mandi tersebut.
Arya pun mendengar suara gedoran pintu, dari arah luar kamar mandi… akan tetapi dia lebih memilih diam, agar aksinya saat ini tidak ketahuan oleh siapa pun…
Tak lama kemudian…
“Arya, buka pintunya Nak! Buka pintunya sayang!” Terdengar suara Bunda dan Ayahnya, dari arah luar, dengan nada suara, yang terdengar panik…
Arga, Bunda, dan Ayah, secara bergantian memanggil-manggil namanya… menggedor-gedor pintu kamar mandi yang terkunci tersebut… agar di bukakan olehnya...
Tapi, terlambat…
Arya sudah terlalu lelah dengan kehidupan menyedihkannya…
Arya pun hanya menanggapi suara-suara yang meneriakan namanya, dengan senyuman simpul di wajahnya…
__ADS_1
Arya pun akhirnya mengarahkan potongan kaca tajam tersebut ke arah tangan kirinya…
Dan...
Darah segar pun mengalir lembut di area sekitar pergelangan tangannya.
Arya pun kembali tersenyum, tersenyum berusaha menahan sakit di sekitar pergelangan tangannya.
Dia pun akhirnya mengarahkan pergelangan tangannya yang berdarah tersebut, ke arah keran air yang mengalir…
“Huhuhuhuuhuuuuuuuu~” Tangis Arya kembali, melihat air berdarah yang mengalir di sekitarnya.
Dan tubuh Arya pun pingsan, bersamaan dengan kolam darah yang Ia ciptakan sendiri di dalam kamar mandi tersebut
“BRAAAAAKKKKK~ BRAAAAAKKKKK~ BRAAAAAKKKKK~!!!!”
Suara dobrakan pintu, oleh ayah pun, berhasil membuka pintu kamar mandi tersebut dalam 3 kali hentakan…
“Arya… Aryaaaaa… Aryaaaaaaaaaaa!!” Teriak ketiga keluarga tersebut, dengan keadaan panik yang amat luar biasa.
Mendapati tubuh besar Arya, yang tak sadarkan diri, di lantai kamar mandi, bersama dengan kolam darah di Bathtub yang baru saja dia ciptakan tersebut.
Arga pun segera meraih handuk Arya, melilitkan dan mengikat pergelangan darah Arya, agar tidak mengalir lagi...
♡♡♡♡
Dua Jam Kemudian...
“Untung saja dia segera di bawa di rumah sakit ini… kalau terlambat sedikit saja, anak ibu bisa meninggal dunia.” Ucap Dokter kepada Tante Lia, yang saat ini sedang menangis tersedu-sedu.
Yah~ Saat ini mereka berempat sedang ada di rumah sakit, untuk memberikan pertolongan kepada Arya.
Arga pun juga menangis pada saat itu, sambil melirik kakaknya yang sedang pingsan.
Dan saat ini di sebelah ranjang Arya, ada ayahnya yang terbaring di ranjang rumah sakit juga, sambil memberikan donor darah kepada anaknya yang paling tua tersebut.
“Melanie~ Melanie~~” Ucap Arya dalam pingsan-nya tersebut… sepertinya dia sudah mulai sadar.
“Huhuhuuuuu~ Me... Melanie?” Pekik Arga, yang saat ini dalam keadaan menangis sesegukan, sambil mengerutkan alisnya.
.
.
.
#To Be Continued
[Curcol : Jujur, Author gemeteran nulisnya... moga yang baca tetap betah saja yah bacanya... mohon jangan Tinggalkan novel ini karena Chapter yang ini 😅😅😅]
ayo cung tangan yang baca Chapter ini sampe habis 🙋♀️🙋♀️🙋♀️
__ADS_1