
Awalnya Gladish datang ke Cibogy Caffe tersebut dengan menggunakan jasa Ojek Online, akan tetapi karena uang jajannya tambah menipis, karena memesan makanan-makanan yang menurutnya ringan dan tak mengenyangkan, di Caffe tersebut. Ia pun akhirnya memilih pulang ke rumahnya dengan menggunakan transportasi angkot.
Sial baginya~
Gladish pun langsung saja menerobos masuk ke dalam angkot, untuk sekedar mencari tempat duduk ke dalam angkot hijau tersebut… Tanpa melihat-lihat terlebih dulu isi jenis manusia dari angkot hijau tersebut.
Gladish pun melihat tempat duduk yang kosong, dan segera mendaratkan pantatnya di salah satu kursi penumpang yang kebetulan posisinya berhadap-hadapan.
“Mau kemana Neng Geulis?” Tanya Supir angkot tersebut.
“Griya Bogor Raya Pak!” Seru Gladish, menyebutkan tempat tujuannya.
“Siap Neng!” Seru Supir angkot tersebut.
“Brrruuummmmm~” Angkot pun berjalan.
Gladish pun meneguk air liurnya, mencium aroma yang sangat menyengat disekitarnya, seperti bau alkohol.
Ia pun tercengang melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Di hadapan Gladish saat ini, terdapat tiga orang pria muda dalam keadaan wajah yang memerah, mata yang memerah, gerakan tubuh yang oleng dan sempoyongan, sepertinya ketiga pria tersebut sedang teler alias mabok, yang terlihat dari botol minuman keras yang mereka bertiga masing-masing pegang, yang saat ini ketiga pemuda itu sedang menatap ke arahnya dengan tatapan yang penuh nafsu.
Tubuh Gladish pun seketika merinding, mendapatkan tatapan intens tersebut.
“STOP! STOP PIR!!!” Teriak Gladish, kepada sang supir angkot, karena gadis tomboy yang saat ini berdandan serba feminim tersebut, mempunyai perasaan yang tak enak dengan hal ini.
“I, Iya Neng…” Jawab Sang Supir, dengan nada gugup. Sang supir pun megikuti pinta Gladish, dengan merapatkan angkotnya ke arah kiri jalan, dan memberhentikan angkotnya tersebut.
Gladish pun membayar angkot tersebut. “Nih Pak, terima kasih yah, Pak!” Ucapnya, dan segera bergegas keluar dari angkot hijau tersebut.
Tanpa disangka, ternyata ketiga orang pria mabok tersebut, ikutan menahan angkot tersebut, dan mereka bertiga pun turun ke arah jalan, mengikuti langkah Gladish, dengan langkah sempoyongan mereka.
__ADS_1
Gladish yang merasakan tiga pria mabok tersebut sedang mengikutinya, langsung mengambil nafasnya dalam-dalam, dan mengeluarkannya. Ia pun mulai tersenyum simpul dan menghentikan langkah kakinya.
Gladish pun membalikan tubuhya ke arah mereka. Melihat wajah mereka satu persatu dengan seksama.
Mereka juga menatap Gladish, mereka pun tergiur dengan pesona kecantikan Gladish yang saat itu memang terlihat sangat cantik dengan make up natural-nya, apalagi mereka bertiga saat ini sedang mabok, mereka tidak hanya menginginkan seorang gadis hanya untuk digoda, tapi juga untuk memuaskan hasrat seksual mereka, dilihat dari air liur mereka yang saat ini sedang menetes, melihat pesona Gladish dengan penuh nafsu.
“Cewek, kamu cantik sekali~” Goda salah satu dari mereka, dengan senyuman yang tak biasa, yakni senyuman mesum.
“Kalian mau bermain-main denganku?” Tawar Gladish dengan suara yang lembut dan dengan tatapan yang menggoda, sambil menjatuhkan tali Dress Overall Terracotta yang menggantung di bahu kirinya.
Gladish pun perlahan mendekatkan langkahnya ke arah mereka, dan mengangkat dagu wajah, salah satu dari mereka, pria yang berdiri paling tengah tentunya. “Kau tampan juga.” Bisik Gladish ke arah telinga kiri pria tersebut, sambil mengedipkan sebelah matanya.
Angin malam pun berhembus dengan kencang ke arah mereka berempat, pada malam yang sunyi dan gelap gulita tersebut, ranting-ranting pohon disekitar mereka pun bergoyang-goyang dengan seksama mengikuti irama angin malam.
₩₩₩₩₩
Ia merasa gelisah… Ia membayangkan gadis remaja polos tak berdosa tersebut sedang digerayangi oleh ketiga pemuda berandal tersebut. “Jangan-jangan ketiga pemuda itu menghentikan angkot ini, guna memperkosa Neng Geulis itu!” Pekik Sang Supir, dengan ekspresi ketakutan.
“CIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTT!!!!” Supir angkot itu pun, menginjak rem kemudinya secara mendadak. Dan memutar balikan angkotnya ke arah jalan yang barusan Ia lewati tadi.
₩₩₩₩₩
“Melanie, sudah malam… kamu tidak tidur… ?” Sapa wanita paru baya, sambil mengintip ke arah kamar anak gadisnya tersebut.
“Mama…” Gumam gadis tersebut, dengan ekspresi pucat pasih. “Rambut Melanie rontok lagi… rambut Melanie rontok lagi!” Adu-nya dengan suara yang serak dan linangan air mata, sambil menggenggam erat puluhan helai rambut yang akarnya terlepas dari kepalanya. “Sebentar lagi mungkin rambut Melanie akan habis.” Ucap gadis berambut panjang tipis tersebut, dengan ekspresi bergetar.
__ADS_1
“Yang sabar yah sayang, itu memang pengaruh Kemoterapi, nanti juga kamu akan terbiasa.” Ucap wanita paru baya yang merupakan ibu kandung dari gadis tersebut.
Melanie pun memeluk ibunya, “Melanie takut, Mah, Melanie takut…!” Gumam Melanie, sambil mengeratkan pelukannya ke arah ibunya. Isak tangisnya pun menggema di kamar rumah sakit tersebut. “Melanie nggak mau botak, Mah, Melanie nggak mau! Huhuhuuuuu~”
“Jangan sedih yah sayang, semua akan berlalu… Melanie pasti sebentar lagi akan sembuh!” Tenang Ibu Melanie, menenangkan anak gadisnya, dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak ingin anak gadisnya itu tahu, kalau Ia juga terpukul dengan kenyataan pahit ini, tapi dia sebagai seorang ibu, harus berusaha sekuat tenaga untuk terlihat tegar, agar Melanie tidak down dalam masa pengobatannya.
Yah sekitar tujuh bulan yang lalu Melanie di-diagnosis oleh dokter, bahwa perempuan berlesung pipi berumur 22 tahun tersebut menderita Kanker Serviks Stadium 2B, dimana kanker yang di derita Melanie telah menyebar ke jaringan leher Rahim. Hal ini mengharuskan gadis cantik tersebut harus terbaring di meja operasi, dan harus menjalani Kemoterapi, guna menghambat penyebaran atau menghambat pertumbuhan Sel Kanker yang ada di tubuh Melanie.
₩₩₩₩₩
Supir angkot yang hendak menyelamatkan Gladish tersebut pun menghentikan angkot berwarna hijaunya, dan segera turun dari angkotnya, tak lupa ia mengambil sebatang kayu panjang yang Ia siapkan guna memukul ketiga pemabuk berotak mesum tersebut.
Akan tetapi apa yang terjadi…
Ia pun membelalakkan matanya, melihat pertunjukan yang ada di hadapannya, seorang gadis feminim yang dengan kekuatan ilmu bela dirinya yang tinggi, berhasil menendang, memukul, bahkan membanting ketiga pria berhidung belang tersebut, dengan tangan kosongnya.
“Hiiiaaaaatttt, HIAAAAAAAAAAAAAAATTTTTTTTT, Hiiiiaaaaaaaaaaatttttt~” Teriak Gladish, sambil mengeluarkan jurus-jurus andalannya.
Ketiga pemuda mabuk itu pun akhirnya ambruk di tangan Gladish, mereka bertiga saat ini pingsan di tempat, dengan keadaan wajah yang tak tampan lagi, alias babak belur.
“Lumayan, memukul kalian membuatku bisa melampiaskan kekesalanku kepada Cowok Alien (Arga) itu, Hahahaaa” Ucap Gladish dengan gelak tawa, sambil menepuk tangannya yang terasa panas. Sebenarnya gadis tomboy tersebut, memukul, menendang dan membanting pria-pria mabuk tersebut, sambil membayangkan wajah Arga yang dingin kepadanya, wajah Arga yang cuek kepadanya, wajah Arga yang terlihat datar kepadanya dan wajah Arga yang. Huh, sial~ terlihat tampan dihadapannya.
“Neng Geulis!” Seru supir angkot tersebut, sambil menghampiri Gladish.
“Bapak siapa?” Tanya Gladish, sambil mengerutkan alisnya. Melihat seorang pria paru baya yang tampak asing, datang menghampirinya sambil membawa sebatang kayu di tangannya.
“Neng, saya supir angkot hijau yang tadi, yang barusan mengangkut Eneng dan tiga pria mabuk yang tadi.” Jelas bapak supir itu, sambil melirik 3 orang pemuda yang sedang terbaring pingsan di hadapannya. “Alhmdulillah Neng, Eneng nggak kenapa-kenapa, tadi saya khawatir, saya kira tadi Neng akan di perkosa sama tiga pria yang tadi.” Sambung Supir tersebut, dengan ekspresi lega.
“Terima kasih yah Pak, sudah khawatir sama saya, dan sudah berniat untuk menyelamatkan saya.” Ucap Gladish, sambil menundukkan kepalanya.
“Iya Neng, sama-sama. Ayo Neng~ masuk lagi ke dalam angkot, biar bapak antar pulang kembali!” Ajak Supir angkot tersebut, sambil mengarahkan tubuh Gladish dengan tangannya.
“Terima kasih yah pak, nanti saya akan bayar Bapak lebih.”
“Ah tidak usah Neng, tadi kan Neng sudah bayar angkot Bapak Full, padahal belum sampai ke tempat tujuan. Hehehe.” Jawab, Supir angkot tersebut, dengan raut wajah yang tulus.
__ADS_1
#To Be Continued