
Pagi-pagi sekali, ketika matahari belum muncul, Arga berangkat dari Bogor ke bandara dengan mengendarai Honda Jazz merahnya, guna meminimalisir resiko di tilang oleh polisi, karena umurnya saat ini belum genap 17 tahun. Dan Ia saat ni mengendarai sebuah mobil dengan nekat membawa SIM A kakaknya.
Udara kota Bogor saat itu terasa begitu dingin, seburat kabut tebal masih tampak jelas terlihat di sepanjang jalan kota Bogor, hal ini sering terjadi karena masa udara basah terangkat secara konvektif di daerah pergunungan.
Untungnya Arga bisa melewati jalanan berkabut itu dengan selamat.
₩₩₩₩₩
Sesuai rencana, pagi-pagi sekali Arya juga sudah berada di dalam pesawat.
Arya kini tidur dengan posisi bersandar di kursi pesawat yang ia tumpangi.
“Permisi tuan!” Suara seorang Pramugari sambil membawa dorongan yang berisi minuman. “Anda mau minum apa?” Tanya Pramugari itu, tapi tak di hiraukan oleh Arya. Pramugari itu tidak menyadari kalau Arya sedang tertidur, karena Arya menggunakan kacamata hitam pada matanya. “Permisi tuan!” Sapa Pramugari itu lagi.
Arya pun akhirnya terbangun dari tidurnya, mengeser kacamata hitam di matanya dan mengucek-ngucek matanya.
“Maaf Tuan, saya tidak tahu kalau anda tadi sedang tidur.” Gumam Pramugari itu meminta maaf, sambil menundukan kepalanya. dan hendak berlalu dari Arya.
Arya pun segera pengenggam tangan pramugari cantik tersebut…
“Eh?” Pekik Pramugari cantik tersebut, kaget dengan genggaman tangan Arya, dan berusaha melepaskannya.
Arya pun menahan tubuh Pramugari itu, sebelum pramugari cantik itu berlalu dari hadapannya. Dia pun mendekatkan wajahnya ke Arah Pramugari tersebut. “Aku mau kamu...” Bisiknya lembut ke telinga pramugari cantik tersebut.
“A, Apa?” Pekik Pramugari tersebut dengan nada gugup, terpesona oleh ketampanan Arya.
“Aku mau kamu!” Ucapnya lagi, sambil melilitkan jemarinya di antara gulungan rambut pramugari cantik tersebut.
₩₩₩₩₩
“Ssssstttt, Tubuhnya bagus banget, model yah?”
“Sssstttt, Kayak fashion bandaranya orang Korea yah?”
“Sssstttt, cowok yang pakai kecamata itu so sexy…”
“Sssstttt, dia Artis bukan sih?”
Terdengar bisik–bisik para gadis melihat Fashion Arya, saat lelaki jangkung itu sedang berjalan lurus di bandara. Sambil menggeret koper hitam di tangannya.
Dengan menggunakan jaket kulit berwarna Navy, Sweater hitam yang melilit lehernya, kaos putih sebagai daleman, dengan celana Jeans Navy yang senada dengan jaketnya. Pakaian yang di pakainya saat ini sangat seirama dengan bentuk tubuhnya yang tinggi jenjang dan atletis.
“Kak, Kau mau Syuting dimana?” Sapa Arga, saat langkahnya perpapasan dengan langkah Arya.
“Hei Arga, Adikku!” Seru Arya, tanpa basa-basi langsung saja Ia memeluk tubuh adiknya erat-erat.
“Yak! Hentikan ini memalukan!” Pekik Arga risih, sambil berusaha melepaskan pelukan kakaknya yang menurutnya memuakan.
__ADS_1
₩₩₩₩₩
Sementara itu di kediaman Gladish, pagi itu Gladish menaruh surat di samping Bapaknya yang kini sibuk membaca Koran sambil menikmati kopi hitam hangatnya.
“Gladish.”
“Iya, Pak!"
“Surat apa itu?” sambil melirik amplop putih yang baru ditaruh anak gadis semata wayangnya tersebut.
“Aku di panggil guru BK.” Jawab Gladish sambil menunduk.
Pak Hendra pun segera menaruh korannya, dan mengambil surat tersebut. Surat tersebut berisi panggilan untuknya, bahwa beliau harus datang hari Senin depan, jam 09.00 WIB.
“Gladish kamu, bikin malu Bapak saja!” Bentak Pak Hendra, sambil menatap Gladish dengan sorot mata yang dingin.
“Gladish pun tertunduk. “Maafin Gladish, Pak.”
“KRRIIIIINGGG, KRIIINNNGGGGG” Tiba-tiba saja, Handphone Pak Hendra pun berdering.
Terlihat tulisan, “My Love Calling.” Di layar Handphone tersebut.
“Hallo, Sayang.” Sapa seseorang dari arah seberang.
“Eh, iya sayang ada apa?” Jawab Pak Hendra, seketika air wajahnya yang barusan marah, berubah menjadi sangat ramah.
“Sayang malam ini ada waktu nggak?” Tanya seseorang di seberang sana, yang tak lain dan tak bukan ialah Tante Lia (Mamanya Arga).
“Tentu saja ada, kalau buat kamu, waktuku selalu ada sayang…” mereka pun berbincang dengan mesranya.
Pak Hendra pun menjauhkan Handphonenya dari jangkauannya, dan melirik Gladish. “Gladish malam ini kamu ada waktu?” Tanya Pak Hendra, kepada anak semata wayangnya, yang barusan Ia marahi tersebut.
“Nggak ada waktu, aku sibuk latihan silat.” Jawab Gladish seadanya.
“Jadi kamu nggak ikut Bapak makan bareng di rumah Tante Lia dong?”
“Hah, makan malam di rumah Tante Lia?
Gladish pun mulai berpikir.
Makan malam di rumah Tante Lia\=Makan malam di rumah Arga.
Di sisi lain Gladish ingin mengikuti latihan silat, karena malam ini ada Ujian Praktik Silat, tapi di sisi lainnya, Gladish penasaran dengan rumah Arga. Bagaimana sih desain rumah lelaki ganteng tersebut, bagaimana sih gaya berpakaian sehari-hari lelaki yang Ia kenal pendiam tersebut.
Gladish pun dengan cepat menggenggam kedua tangan Bapaknya. “Pak, Please aku ikut!” Pinta Gladish, dengan nada yang lantang.
₩₩₩₩₩
“Ya ampun pakaianku, pakaianku kok semuanya, pakaian laki-laki sih? Aiiiissshhhh~” Pekik Gladish, saat menghambur semua isi lemarinya.
Isi lemari pakaian jalannya hanya ada baju kaos-kaos, jaket, rompi, celana jeans yang rata-rata sengaja di robek pada bagian lututnya, dan rata-rata baju isi lemarinya berwarna gelap.
Menurutnya tidak ada pakaian jalan yang mencerminkan bahwa Ia seorang gadis.
__ADS_1
Seorang gadis?
Yah Gladish paling tidak ingin menarik perhatian Arga dengan pakaian yang jauh lebih feminim.
Ia pun melirik celengan ayamnya yang tak berdosa, dan memecahkannya…
“PRAAAAAANNKKKK!!!"
Betapa terkejutnya Gladish, ternyata isi celengannya cuma sepuluh lembar uang Rp 2000an. “Ya Allah, aku nggak menyangka kalau aku sekere ini.” Gumam Gladish sambil meringis, mengingat Ia kalau berbelanja di kantin selalu makan sebanyak dua porsi, jadi tidak berkesempatan untuk menabung di celengan tersebut.
Dia pun berpikir keras, semua isi bayangannya terlihat hitam, sehitam masa depannya, tiba-tiba saja Ia membayangkan wajah si centil Prisil dalam banyangan hitamnya tersebut.
Ia pun dengan cepat menelepon seorang Prisil, sahabat ternistanya…
“TUUUTTT, TUUUUTTT…” Bunyi deringan telepon yang belum terangkat…
“Halo.” Sapa suara dari seberang.
“Halo Prisil!”
“Iya Dhis… Ada apa?” Tanya Prisil.
“….” Gladish pun terdiam, cukup memalukan baginya mengatakan hal ini.
“Halo Dhis, ada apa?” Tanya Prisil lagi, menanyakan maksud Gladish menelpon dirinya.
“Bi, bi… bisa minjem baju Loe?” Tanya Gladish dengan nada suara yang gugup. Dia benar-benar merasa seperti orang miskin yang tidak punya pakaian satu pun, saat ini.
“What?!”
“Gua lagi kere nih, mau beli baju nggak ada duit…”
“Tunggu, tunggu… Loe kan sering menghina gaya berpakaian Gua, yang Girly ala-ala Princess gitu? Kenapa Loe sekarang mau bergaya pakaian kayak Gua?”
“Nanti Gua, jelasin… intinya Gua mau ke rumah Elu dah!”
“Yakkk!” Protes Prisil.
Tapi sebelum Prisil bersuara, Gladish langsung mematikan handphonenya, dan Gladish segera bergegas ke rumah Prisil.
₩₩₩₩₩₩
“Apa, jadi kakak akan mengadakan penelitian tugas akhir di Indonesia?” Tanya Arga, sambil menyedot Bubble Tea pesannya.
Saat ini Arga dan Arya mampir di salah satu Coffe Shop terkenal yang ada di Bandara.
“Iya.” Jawab Arya sambil menyeruput kopi hitam hangatnya.
“Kenapa kau pulang, bukannya kau sangat suka kebebasan?” Tanya Arga lagi, yang tahu benar bagaimana watak kakaknya yang sangat gila dengan pergaulan bebas dan gila akan bermain wanita tersebut.
Arya pun tersenyum renyah, “Aku kangen kalian.” Jawabnya singkat, sambil mengaduk-aduk kopi hitamnya yang panas.
“Kau kira aku percaya?” Protes Arga, sambil menyipitkan matanya.
“Aku juga kangen dia…” Gumam Arya dalam hati, sambil mengingat-ingat wajah seseorang, yang pernah menjadi berarti dalam hidupnya.
__ADS_1
#To Be Continued