Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 80 : Perselingkuhan


__ADS_3

 


Iya Bu, Pak…” Jawab Arga, tiba-tiba. Yang sukses mengagetkan telinga Gladish. “Kami berjanji akan menutupi Aib kalian berdua.” Jawab Arga dengan nada yang tegas dan mantab.


Seketika saja, Gladish langsung menoleh ke arah Arga, dan memelototkan matanya bulat-bulan ke arah Arga.


 


“Astaga!!! Aku nggak percaya, pria berkepribadian dingin dan pendiam, yang ada di sebelahku ini, ternyata adalah seorang penjilat!” Jerit batin Gladish, masih setia memelototkan matanya yang bulat, ke arah Arga.


 


“Bagus Arga. Ibu tahu kalau kamu itu berbeda, kamu itu memang pintar!” Puji Bu Ratih kepada Arga, sambil menyedot Es Kopi Americano miliknya.


 


“Tapi, ada syaratnya.” Ucap Arga kemudian.


“Syarat? Syarat apa lagi?!” Tanya Pak Damar, sambil memicingkan matanya. “Kamu mau minta apa lagi selain nilai?”


 


Kedua tangan Arga pun meremas kuat jaket hitamnya, dari arah balik meja. “Bisakah... bisakah kalian berpisah untuk selama-lamanya?


“APAAAA?!” Pekik Pak Damar dan Bu Ratih secara bersamaan.


 


Gladish dengan cepat, segera mengatur deruan nafasnya, yang sempat tertahan, ketika mendengar jawaban Arga yang tadi.


Dia lagi-lagi, baru saja, su’uzon dengan Arga. Dia mengira Arga merupakan seorang penjilat....


“Betul Bu, Pak… Kami akan merahasiakan tentang hal itu. Asalkan hubungan kalian sudah end, sudah selesai!" Sambung Gladish kemudian, sambil tersenyum simpul


“Gladish, Arga... tidak ada yang salah dengan cinta… cinta bukanlah sebuah kesalahan, cinta bukanlah dosa!” Ucap Bu Ratih, dengan mata yang berkaca-kaca.


Gladish pun langsung emosi mendengar peryataan dari Bu Ratih. Adegan ini sangat pas dengan film Channel ikan terbang, Channel ikan lele dan Channel-Chanel ikan yang lainnya, yang mengangkat tema perselingkuhan, yang lagi Booming saat ini...

__ADS_1


“Tapi tetap saja, perselingkuhan tetaplah sebuah perselingkuhan, meski karena cinta sekali pun, perselingkuhan tetap lah sebuah kesalahan… bahkan jika di kemas dalam sampul semenarik mungkin pun, perselingkuhan tersebut tetaplah sebuah DOSA!” Ucap Gladish, mantab, sambil memberi penekanan dalam kata dosa. Gladish begitu tidak bisa mencerna perbuatan keji, yang baru saja di lihatnya dengan kedua matanya tersebut.


“Kalian akan mengerti, kalau kalian nanti sudah beranjak dewasa… dan takdir tak memihak pada kalian.” Ucap Pak Damar, dengan mata yang tak kalah berkaca-kaca, akan tetapi segera menatap ke arah lain, agar matanya yang berkaca-kaca tersebut, tak terlalu tampak kepada kedua muridnya tersebut.


Mata Arga pun juga ikut berkaca-kaca, melihat dua masang mata, orang yang selama ini selalu Ia hormati, orang yang selama ini mendidiknya di sekolah… sedang memancarkan kesedihan di mata mereka.


Arga pun berusaha mencoba untuk mengerti perasaan mereka saat ini, mencoba untuk memahami, meski pun terasa sulit… meski pun semua ini terasa SALAH…


♡♡♡♡


“Hei Penjilat!” Seru Gladish, kepada Arga yang saat ini sedang sibuk mengendarai mobil merahnya.


Saat ini kencan mereka yang gagal pun terpaksa harus berakhir, dan saat ini Arga sedang mengantar Gladish menuju ke arah rumahnya.


“Kenapa akhirnya kamu setuju-setuju saja, HAH!!!!” Bentak Gladish ke arah Arga. “....Ku kira kamu keren saat bilang, bisakah kalian berpisah untuk selama-lamanya… tapi semua itu hanyalah kata-kata Bulshit!!!" Umpat Gladish dengan nada menggebu-gebu. "...Kamu akhirnya lembek juga kayak Jelly! Dasar Banci!!!” Sambung Gladish, kesal, melihat sikap Arga yang mencela-mencele, tidak ada pendirian!


Tadi bilang A sekarang bilang B, terus bilang A lagi....


Tadi bilang dukung, terus nggak dukung, sekarang malah dukung lagi.


“Ayo jawab! Kenapa kamu setuju menutupi perselingkuhan Pak Damar dan Bu Ratih?” Tanya Gladish lagi menuntut jawaban dari arah mulut Arga. “Apakah kamu sangat pemuja nilai… si kutu buku, rajin belajar, akan tetapi sangat mendambakan nilai tambahan, meskipun hasil dari menjilat guru!”


“Tutup, mulutmu Gladish! Tutup!” Seru Arga, menuntut gadis yang ada di sebelahnya tersebut, untuk diam.


“Mengerikan dasar penjilat!” Umpat Gladish lagi. Tak menghiraukan tuntutan Arga.


Arga yang sedari tadi tenang pun, kini tampak emosi, Ia pun segera menepikan mobilnya ke arah kiri jalan.


“Saat ini… kamu hanya memikirkan emosimu sendiri saja Gladish, tapi apakah kau memikirkan akibatnya saat kau mengadukan hal tersebut dengan pihak sekolah?”


“Ma maksudnya?” Tanya Gladish, tak mengerti.... sekaligus sedikit terpana, karena pria dengan karakter seperti bisu tersebut. Kini ngomong panjang kali lebar kepadanya…


“Pasti kalau perselingkuhan Pak Damar dan Bu Ratih ketahuan, Pak Damar dan Bu Ratih akan di keluarkan dari sekolah ini… dan parahnya, Bu Ratih bakal bercerai dengan suaminya.” Jelas Arga. Panjang kali lebar kembali, yang sukses membuat Gladish saat ini mengedip-ngedipkan matanya, terpana.


Yah~ Ia benar-benar terpanah dengan jalan pikiran Arga yang selalu berfikir dulu sebelum bertindak, selalu berhati-hati dengan tindakan apa yang akan Ia lakukan, sebelum bertindak… nggak seperti dirinya, yang selalu meledak-ledak dan emosi dalam menanggapi sesuatu permasalahan.


Dia juga nggak siap sih, kalau guru ganteng idolanya tersebut, tepatnya guru idola anak-anak cewek, seperti Pak Damar di berhentikan dari sekolah.

__ADS_1


Lalu, guru yang sabar dan cantik seperti Bu Ratih, harus di keluarkan dari sekolah. Dan wali kelasnya bakal di gantikan sama bapak kejam berhati batu, yakni Pak Burhan.


“Kamu tega Dhis, mereka akan berakhir menyedihkan seperti itu?” Tanya Arga, kepada Gladish.


Dan, Gladish pun menjawabnya dengan gelengan kepala.


“Selama mereka nggak mengganggu kita dan mencampuri urusan kita, alangkah baiknya kalau kita tidak mengganggu mereka dan mencampuri urusan mereka.” Ucap Arga kembali, yang lagi-lagi suara Arga yang mengeluarkan banyak kata tersebut, membuatnya tambah terpana.


Hening...


Mereka pun diam sejenak...


KRIIK.... KRIIKK.... KRIIIIIIIKKKKKKK.... KRIIIIIIIKKKKKKK...


Mengheningkan cipta mulai...


Ketika Arga akan mulai menjalankan mobilnya kembali, Gladish pun menghentikannya, dan memegang tangan Arga, dengan erat.


Arga pun kaget dengan pegangan tangan tiba-tiba tersebut, dan segera menjatuhkan tangannya. Tangan Galdish pun akhirnya ikut terlepas dari tangannya.


“Hei Ga, kamu tahu nggak, salah satu tempat mesum selain di tempat sepi itu dimana?” Tanya Gladish, tiba-tiba.


Yang sukses membuat Arga, mengerutkan alisnya… mendengar pertanyaan Gladish saat ini, yang sudah keluar dari topik pembahasan yang tadi.


“Ayo jawab!” Seru, Gladish lagi, sambil mengguncang-guncang kan lengan Arga, memaksa lelaki dingin yang duduk di sebelahnya tersebut untuk menjawab pertanyaannya tersebut.


Mendapat perlakuan tersebut, wajah Arga pun tiba-tiba memerah. Akan tetapi, ia pun langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Nggak tahu, dan nggak mau tahu.” Jawab Arga, dengan nada yang cuek.


“Di sini, di dalam mobil.” Jawab Gladish akhirnya, dengan nada menggoda, menjawab pertanyaannya sendiri, tanpa menunggu jawaban dari arah bibir Arga.


“A Apa?” Pekik Arga lagi, sambil meneguk liurnya sendiri. Saat ini meski mobil yang ia naiki, udaranya terasa dingin karena pengaruh AC, akan tetapi dahi Arga tiba-tiba saja berkeringat, karena tubuhnya saat ini tiba-tiba saja terasa panas.


#To Be Continued


__ADS_1


__ADS_2