Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 17 : MANTAAAAAAAAANNNN!!!


__ADS_3

Tiba-tiba saja Arya menarik tangan Gladish, dan menjatuhkan tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


Gladish pun kaget dengan pelukan tiba-tiba tersebut. Dan mengadahkan wajahnya ke atas dengan posisi pipi yang sudah merah padam.


Arga yang sedang berjabat tangan dengan Pak Hendra pun segera mengakhiri salamannya… dan…


“HEI!!!” Teriak Arga dingin, sambil memisahkan pelukan Arya tersebut dari arah tubuh Gladish.


Arya pun langsung menatap wajah Arga dalam-dalam, Arga pun nggak mau kalah, Ia juga menatap tajam wajah Arya dalam-dalam.


Gladish yang merasakan aura tak menyenangkan di antara mereka pun, berusaha mencairkan suasana. “Hei Arga, dia kakakmu yah?”


Sapa Gladish ke arah Arga, tapi Arga tak merespon, masih sibuk menatap dingin ke arah Arya.


Arya pun menyudahi menatap Arga, dan mengalihkan pandangannya ke arah Gladish. “Iya aku kakaknya Arga, kenalin namaku Arya!” Sapa Arya, memperkenalkan dirinya, sambil tersenyum dengan ramah, dan Arya pun kembali mengulurkan tangannya ke arah Gladish.


Gladish pun tersenyum ramah, dan menerima uluran tangan tersebut.


Sementara itu, Arga yang melihat pemandangan tersebut, hanya bisa mengepalkan tangannya sendiri, dan berlalu dari arah mereka.


₩₩₩₩₩


“Arya bagaimana kuliahmu di Singapore?” Tanya Pak Hendra ke arah Arya.


“Alhmdulillah Om, tinggal menyusun tugas akhir saja.” Jawab Arya, sambil memotong-motong daging Steak Wagyu di piringnya.


Mereka kini sedang berada di meja makan, Pak Hendra dan Tante Lia duduk bersebelahan, di depan mereka, Arya dan Arga duduk bersebelahan, dan apesnya Gladish duduk sendirian, dan di hadapannya kosong.


 


Sebenarnya Arya tadi ingin duduk bersebelahan dengan Gladish, tapi Gladish yang merasa tak nyaman, apalagi dengan kejadian pelukan tiba-tiba Arya barusan, Ia juga tidak enak dengan keberadaan Arga yang takutnya Arga bisa salah paham, dan Ia pun langsung berpindah tempat ke arah sisi ujung meja.


Memilih untuk duduk menyendiri.


“Jadi Arya beneran mau ambil penelitian akhir di Indonesia?” Tanya Tante Lia, kepada anaknya yang paling dewasa tersebut.


“Iyalah Bunda, beneran, masa bohongan?” Jawab Arya lagi.


“Arya, kalau kamu ambil penelitian akhir di Indonesia, kamu harus bolak-balik Indonesia Singapore terus loh? Apa nggak ribet?” Tanya Pak Hendra kepada Arya.


“Iyah nih, Arya bikin bangkrut Bunda saja.” Gumam Tante Lia, dengan ekspresi pura-pura cemberut.


Arya pun tertawa renyah. “Malah Bunda bangkrut kalau Arya tinggal di Singapore terus.”


“Lah kenapa?” Tanya Bunda, pura-pura bingung.


“Gadis di Singapore loh jujurannya mahal-mahal, dan banyak gadis Singapore yang minta Arya untuk nikahin mereka. Kata mereka Arya ganteng." Jawab Arya dengan penuh percaya diri.


Gladish yang cuek dengan penampilan Arya, diam-diam mulai melirik Arya, gara-gara mendengar kata-kata yang mengandung unsur kepercayaan diri yang tinggi, dari mulut Arya tersebut. “Kak Arya ganteng juga.” Gumam Gladish dalam hati. “Malah sifatnya jauh lebih menyenangkan, dari pada sifat Arga yang terkesan dingin dan membosankan.”


Arga pun menyadari tatapan gadis yang duduk di sudut sisi sebelahnya tersebut, kini mulai memperhatikan kakaknya.


Wajah Arga pun kini menjadi kecut, Arga pun segera memutar otaknya, untuk menarik perhatian gadis yang kini duduk tak jauh dari jangkauannya tersebut. “UHUUUUKK, UHUUUUKKK, UHUUUUUUKKKK~” Bunyi suara Batuk Arga, terdengar sangat kencang.


“A, Arga…” Pekik Gladish khawatir, sambil menuangkan air mineral ke arah gelas Arga. “Kamu nggak apa-apa?” Tanya Gladish, sambil membantu Arga untuk meminum air mineral tersebut.


Wajah Arga pun memerah dibuatnya. Karena jarak gadis tomboy berkuncir dua tersebut semakin dekat dengannya.


Gladish pun refleks menepuk-nepuk dada cowok dingin tersebut. “Sudah enakkan?” Tanya Gladish dengan penuh perhatian.


“Dag dig dug, Dag dig dug…"


M*mpus!


Jantungnya Arga pun kian berdebar dengan kencang…


“UHHUUUUUKKK, UHUUUUUKKKK~” Arga pun masih melanjutkan aktingnya.


Gladish masih menepuk-nepuk dadanya.


“Dag dig dug, dag dig dug…”


“Dag dig dug, dag dig dug…”


 


“Hentikan, sakit!” Pekik Arga, akhirnya.

__ADS_1


Gladish pun menghentikan kegiatan menepuk dada Arga. “Maaf!” Gumamnya, sambil menjauhkan tubuhnya dari Arga.


 


Arga pun mengigit bibirnya, padahal dalam lubuk hati kecil Arga yang terdalam, Ia masih ingin Gladish memberikan perhatian lebih untuknya, tapi kenapa mulutnya yang setajam silet itu, tidak bisa diajak kompromi.


Sementara Arya yang ada di sebelah mereka, hanya bisa menyipitkan matanya melihat kejadian dihadapannya tersebut. “Bodoh!” Pekiknya dalam hati.


“Arga mau ibu ambilkan obat?” Tawar Bunda Khwatir, sambil menghapiri Arga dan menyentuh kening anak paling mudanya tersebut.


“Tidak usah Bunda, Arga tidak apa-apa.”


“Syukurlah kalau tidak apa-apa.” Gumam Pak Hendra sambil tersenyum ke arah Arga.


“Iya Om.” Jawab Arga, singkat.


Bunda pun kembali lagi ke tempat duduknya…


“Oh iya, denger-denger Gladish dan Arga satu sekolah yah?” Tanya Pak Hendra kembali, sambil sedikit meneguk Jus Jeruk dari arah gelasnya. “Arga…” Panggil Pak Hendra ke arah Arga.


“Iya, Paman?” Jawab Arga.


“Bagaimana keadaan Gladish sehari-harinya di kelas?”


“Alhmdulillah, keadaan Gladish selalu baik-baik saja di kelas Paman.” Ucap Arga, sambil tersenyum.


“Apanya yang baik, habis istirahat selalu masuk UKS, kalau nggak UKS pasti masuk BK.” Ucap Gladish jujur sambil mengigiti daging Steaknya dengan kedua tangannya. Rupanya gadis tomboy itu tak betah berlama-lama berakting menjadi gadis feminim, dan tanpa sadar memakan daging steak itu dengan kedua tangannya.


Dan…. Semua mata pun kini tertuju pada Gladish…


 


₩₩₩₩₩


 


Gladish dan Pak Hendra pun hendak pulang dari kediaman rumah Tante Lia. Tante Lia mengantar mereka sampai teras rumah.


Sedangkan Arya dan Arga mengintip mereka dari arah jendela rumah.


“Ternyata kamu benar-benar menyukainya yah?” Tanya Arya, sambil menahan Gorden Hijau jendela ruang tamu. Masih mengintip Gladish beserta Pak Hendra, yang sedang asik mengobrol dengan Bundanya di teras depan.


“Hahahahahahahhahahahahaa~" Tawa Arya menggema di seisi ruang tamu. “Kau masih sama seperti dulu, pura-pura bodoh, pura-pura polos.” Pekik Arya, sambil mengelus-elus rambut lurus Arga yang ada di hadapannya. “Dan pura-pura… BA~TUK…” Sambung Arya, sambil menaikan alis kanannya.


Arga pun langsung menepis tangan kakaknya tersebut, dan berlalu menuju arah kamarnya.


 


₩₩₩₩₩


 


Keesokan harinya…


Di suatu siang yang amat terik,


“Nona Melanie dan keluarga sudah lama pindah dari rumah ini Mas.” Jelas seorang tukang bangunan yang sedang merenovasi rumah, yang saat ini sedang di kunjungi Arya.


“Pindah?” Tanya Arya dengan nada lemas, ada tersirat rona kekecewaan dari raut wajah lelaki berparas tampan tersebut. “Kira-kira sudah berapa lama yah mas?” Tanya Arya lagi.


“Kalau tidak salah sudah sekitar enam bulan yang lalu Mas.” Jawab tukang tersebut, yang kebetulan juga tukang tersebut tinggal di sekitaran kompleks kecil tersebut.


“Huuuufffttttt~” Arya pun menghembuskan nafasnya dalam-dalam.


Iya pun berlalu dari kompleks tersebut dengan langkah lunglai, tubuhnya kini lemas tak bertenaga, raut wajahnya jelas tampak tersirat kesedihan dan kekecewaan.


Padahal Arya sudah jauh-jauh datang disekitar kompleks tersebut, sengaja memakai jas putih rapi ala-ala dokter, memakai tas jinjing untuk menunjang penampilan dokternya. Untuk memamerkan kepada gadis itu: Ini loh aku calon Dokter.


“Kenapa dia menghilang yah?” Gumam Arya dalam hati.


Sebenarnya dia datang ke Indonesia ini, karena mantannya.


Iya mantannya!


Bukan pacarnya, loh yah!


Mantan, MANTAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNN!!! (capslock jebol)

__ADS_1


Entah mengapa Arya selalu menganggap mantannya ‘Melanie’ ini adalah ‘role model’nya…


Sampai-sampai prisip Arya di sebagian sisa umurnya adalah… “Buatlah mantanmu menyesal dan menangis darah, dengan kesuksesanmu!”


Biasanya dia selalu memamerkan kebahagiannya, melalui social media, seperti memamerkan tubuhnya yang altetis habis nge-gym, hangout dan makan malam dengan beberapa wanita cantik, dapat hadiah-hadiah mewah dari pacar-pacarnya, kuliah di luar negeri, dan kuliah di luar negeri mengambil jurusan kedokteran.


Yang secara tidak langsung Ia tunjukan kepada Melanie, SANG MANTAN PACAR. Karena dia berteman dengan Melanie di beberapa akun media social, seperti Instagram, Facebook dan WhatsApp.


Akan tetapi selama enam bulan ini Melanie sudah tidak aktif di beranda media sosialnya.


Gadis itu tak pernah mengupload lagi kehidupan-kehidupan rakyat jelatanya (kehidupan hal sederhana).


Dan hal itu yang kini membuat Arya gelisah, risau, sekaligus panik, dia tidak di remove atau pun di blokir oleh Melanie. Akan tetapi, Melanie murni tidak aktif di media sosialnya.


 


Arya yang gelisah, risau dan panic pun mulai kehilangan semangat hidupnya, kehilangan jiwanya pamernya…


Bahkan untuk menginbox salah satu akun media social Melanie pun, "Untuk menanyakan kabar," Ia pun tidak mempunyai keberanian.


Ia pun memutar otak agar bisa tinggal menetap di Indonesia kembali.


Dan Bundanya ingin menikah lagi, plus dia tinggal menyusun Skripsi, menurutnya hal ini merupakan moment yang tepat, Ia ingin melihat langsung keadaan Melanie di Indonesia.


Serius hal ini benar-benar konyol, mengingat lelaki tampan, pintar, tinggi, atletis dan sangaaaaaaaaaat… mudah mempermaikan perasaan perempuan naik turun bagai roller coaster.


 


Tidak bisa move on dari mantan?


MANTAAAAAAAAAAANNNNN??!!!


Iya mantan.


Bahkan sudah tujuh tahun lamanya???


HeeeeoooooLL~


 


₩₩₩₩₩₩


“Bunda, foto-foto ini boleh dibuang kah?” Tanya Arga sambil menyerahkan beberapa foto ke arah bundanya.


“Eh itu kan foto-foto Arya yang lama. Kamu ketemu dimana?” Tanya Bunda sambil mengambil foto-foto tersebut.


“Bak sampah dapur.” Jawab Arga, seadanya.


“Kamu yang naruh di bak sampah?”


Arga pun menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sepertinya yang empunya foto yang mau buang.” Duga Arya.


“Jangan dong, ini kan waktu Arya masih lucu-lucunya, coba liat pipinya ngegemesin kan?” Tanya Bunda ke arah Arga, sambil memperlihatkan salah satu foto dari beberapa tumpukan foto tersebut… salah satu foto tersebut menggambarkan seorang anak lelaki dengan memakai pakaian SMA yang terlihat kancing-kancing di seragamnya hampir copot semua, karena kesulitan menahan lemak yang mengganjal di sekitar perutnya, dengan kacamata tebal membingkai di kedua matanya.


Lelaki berpipi tembem di foto tersebut, tak lupa mengembangkan senyum termanis di bibirnya, dan tangannya membentuk huruf V atau angka dua ke arah kamera.


 


“Lucu apanya? gendut banget begini!” Jawab Arga dingin, sambil memutar bola matanya.


#To Be Continued


Wah ga terasa udah eps 17 aje....


Terimakasih bagi pembaca yang udah nyempatin untuk membaca komik yg geje ini😂🙏


diharapkan apresiasinya yah 😗😗😗 seperti:


1.Like


2.Komen positifnya, kritik dan saran


3.Vote


4.Ratting


5.Chat (klo mau ngobrol n curcol meong sm authorx🤣 sapa tau kalian punya usul visual yg cocok buat karakter-karakter di Introvert Melankolis🤗)

__ADS_1


Agar Authornya makin semangat lagi nulisnya, lebih semangat lagi menghibur kalian... sampai jumpa semuanya, moga hari kalian menyenangkan...


Assalamuallaikum, wr. wb 😘😘😘


__ADS_2