Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 102 : Surat Beramplop Putih


__ADS_3

Keesokan harinya, di sekolah…


“Mayaaaaaaaaaaaaaa~” Teriak Lala, saat hendak masuk ke dalam gerbang sekolah.


“Eh Lala~ Ada apa?”


“Taraaaa~” Ucap Lala, sambil memamerkan sepucuk amplop surat berwarna putih.


“Surat? Buat siapa?” Tanya Maya, sambil mengerutkan alisnya.


“Buat Pak Damar lah…” Jawab Lala santai.


“Surat izin?” Tanya Maya lagi, masih mengerutkan alisnya.


“Enak aja, surat cinta lah!”


“What?!" Teriak Maya. "Surat cinta buat Pak Damar, GILA LOE LA?!”


“Sssssssssssstttt~ jangan kenceng-kenceng!” Bisik Lala, sambil mendekap mulut Maya dengan tangannya.


Maya pun sekuat tenaga melepaskan tangan Lala dari mulutnya, dan tangan Lala pun terlepas dari arah mulutnya. “Loe O’on atau apa? Mana ada surat cinta amplopnya berwarna putih?!” Ucap Maya, sambil mengacak pinggangnya.


"Putih itu melambangkan kepolosan May, sepolos cinta Gua ke Pak Damar." Alibi Lala, yang malas beli amplop lagi, dan menyolong amplop kondangan milik emaknya di rumah.


“Loe pasti mau ngeprank Gua yah?!” Tanya Maya lagi, masih nggak percaya.


“Serius aku tuh May, aku suka sama Pak Damar baru-baru ini, saat dia jadi pendamping gua saat lomba olimpiade IPA!” Ucap Lala dengan mata yang berbinar. “Dia setia menemani Gua, selalu neraktir Gua, sabar nunggu Gua tanding.”


Maya pun langsung memutar bola matanya mendengar pernyataan Lala. “Ya iyalah, tugasnya guru pendamping tuh yah gitu!”


Lala pun menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pernyataan Maya, seakan tidak peduli dengan omongan Maya. “Gua harap, Gua bisa jadian sama Pak Damar!”


Maya pun terkekeh mendengar harapan Lala. “Kalau Loe jadian sama Pak Damar, Loe kayak keponakan sama Om-Om tau nggak?!”


“Maya asal tahu aja yah, cinta itu nggak mandang usia…!”


Tiba-tiba saja, Arga lewat di antara mereka, dengan tas merah maroon nya.


“Ssssttttt~ diem ada Arga lewat~”


“Asem Loe May, mau cuekin Gua, Loe yah?!”


Tanpa mempedulikan Lala, Maya pun berjalan mengikuti langkah Arga.


“Mayaaaaa!! Tungguin gua~ Dasar Bucin?!”


*****


Ketika Bel Masukan berbunyi…

__ADS_1


Geng Teletubies mamancarkan aura panas di antara mereka.


Terutama Bambang dan juga Niko.


Bambang kini memilih duduk bersama dengan Rafi, dan terpaksa Niko pun duduk di samping Arga.


Bekas memar biru karena tonjokan terpampang jelas di pipi mereka bertiga, Niko, Bambang dan Rafi.


Terutama bekas memar tonjokan di pipi Niko yang paling parah.


Sedangkan Prisil kini duduk sendirian, karena Gladish belum juga terlihat batang hidungnya. “Kenapa Gladish belum juga datang yah, Gua mau curhat~” Batin Prisil sambil melirik lirih bangku kosong yang ada di sebelahnya.


“Gua duduk sini yah Sil~” Izin Becca, sambil melirik bangku Gladish yang saat ini sedang kosong.


Prisil pun menjawabnya dengan anggukan.


Mendapat Izin Becca pun, akhirnya mengambil tasnya, dan duduk di sebelah Prisil.


“Sil, Pipi loe kok dari dekat gini tampak terlihat biru” Tanya Becca, sambil mencolek pipi Prisil dengan jari telunjuknya.


“Auuuuwwww~ Becca Perih!” Aduh Prisil, dia tidak menyangka bekas tonjokan di pipinya masih terpampang jelas di mata Becca, padahal pagi tadi sebelum berangkat sekolah dia mengoleskan Foundation bedak yang lumayan tebal, untuk menutupi bekas kebiruan yang ada di pipinya yang mulus.


Pelajaran pertama pun di pegang oleh Bu Ratih.


Ketua kelas, yakni si Bambang pun memimpin guna memberikan salam kepada sang guru.


Bu Ratih merasakan murid-muridnya seperti habis berkelahi, karena ada bekas kebiru-biruan di wajah mereka.


Pertanyaan Bu Ratih sukses mewakili pertanyaan siswa dan siswi yang lain yang sebenarnya penasaran dengan… ‘Apa yang terjadi dengan geng Teletubis tersebut?’ akan tetapi mereka semua tidak ada yang berani bertanya lebih jauh.


Jangankan mereka, Arga pun yang dekat dengan mereka bertiga, masih segan bertanya tentang ‘Apa yang terjadi di antara mereka bertiga?’


“Tidak Bu, kami bertiga habis terjatuh dari motor.” Jawab Rafi polos.


Dan…


“Hahahahahahahhahahhaaa~ hahahhahahaaa~ hahhahahahhaaa~” Pernyataan sukses mengundang tawa seisi kelas tersebut.


Apa ada yang percaya, bekas bonyok di sebabkan karena jatuh dari motor?”


*****


Sebelum memulai pelajaran seperti biasa Bu Ratih membacakan nama-nama absensi dari anak-anak kelas yang di pegangnya.


“Gladish… Gladish…?” Panggil Bu Ratih saat membacakan nama absensi siswa kelasnya.


“Gladish izin bu!” Jawab Arga, sambil berdiri dan mengambil sepucuk amplop surat berwarna putih dari tas berwarna merah maroon nya, Ia pun datang menghampiri meja Guru, dan menyerahkan surat tersebut kepada Bu Ratih.


“Apa, Gladish izin lagi?!” Ucap Bu Ratih. Sambil membolak balikkan surat yang baru saja sampai di tangannya.

__ADS_1


Arga hanya menjawab dengan anggukan apa yang di tanyakan oleh Bu Ratih, dan segera duduk kembali.


“Sebentar yah, anak-anak ibu ke toilet dulu!” Izin Bu Ratih, sambil berlalu dari kelas 2 IPA 6 tersebut, tak sengaja surat Gladish yang baru saja di serahkan Arga, masih di pegang oleh tangannya.


Ketika Bu Ratih berjalan keluar dari pintu kelas 2 IPA 6, tiba-tiba saja…


“Bruuuuukkkk~” Tubuh Bu Ratih tertabrak oleh tubuh seorang Siswi yang tak sengaja, berpapasan dengan tubuhnya. Dua buah amplop surat berwarna putih pun, terjatuh bersamaan, dari tangan mereka berdua.


Rupanya siswi yang baru saja menabrak tubuh Bu Ratih tersebut, merupakan sesosok Lala anak kelas 2 IPA 1.


Yap~ Lala merupakan teman Maya!!!


“Maaf Bu Ratih, saya tidak sengaja.” Ucap Lala dengan nada yang sopan, sambil menundukkan tubuhnya ke arah Bu Ratih.


“Ah~ tidak apa-apa Lala!” Ucap Bu Ratih dengan senyuman yang manis, sambil mengelus lembut rambut siswi terpintar kelas 2 jurusan IPA, seentero Tunas Bangsa tersebut.


Lala pun melihat dua surat yang terjatuh di sekitar mereka, dan mengambil salah satu yang paling dekat dengan dirinya.


Sedangkan, Bu Ratih yang melihat Lala mengambil sebuah surat, dan menyisahkan satu buah surat, Ia teringat kembali Gladish yang baru saja terbawa olehnya.


Bu Ratih pun akhirnya mengambil satu surat yang tersisa tersebut, dan terpaksa membawanya di Toilet.


Ketika Ia hendak menuju ke arah toilet guru, tak sengaja Ia melewati salah satu kelas yang saat ini di ajari oleh Damar.


Ia pun menghentikan langkah High Heels-nya, dan…


“Tap… tap… tap~” Memundur-mundurkan langkah High Heels-nya.


Ratih pun mengintip kelas tersebut.


Terlihat sesosok Damar yang sedang tertawa lebar, saat siswi-siswi cantik mendekat ke arah mejanya, guna bertanya.


Atau pura-pura bertanya?


Ratih pun terlihat kesal, dengan tingkah Damar, yang saat ini di matanya bagaikan sesosok seorang Playboy.


“Ehemmm~ eheeeemmm~” Dehem Ratih, ke arah Damar.


Mendengar deheman tersebut, Damar pun menoleh ke arah asal suara tersebut, terlihat sosok seorang Ratih, sosok seorang wanita yang masih Ia cintai sampai detik ini… sosok wanita itu terlihat tampak kesal, seakan cemburu, saat dia di dekati oleh beberapa siswi cantik saat ini.


Tapi Damar mencoba untuk professional, Ia menundukkan sedikit kepalanya ke arah Ratih dan mencoba untuk tersenyum.


Akan tetapi, kejadian itu hanya sekilas saja. Damar pun segera memalingkan wajahnya kembali dari arah Ratih, dan kembali tersenyum dengan para siswi-siswi.


“Dasar laki-laki Bre*ngsek, tidak semudah itu kau mencampakkan aku!” Batin Ratih, dan berlalu dari hadapan kelas tersebut. “Aku masih mencintaimu, BODOH!” Gumam Ratih, dengan sorot mata yang berkaca-kaca.


#To Be Continued


__ADS_1




__ADS_2