
Aku pun langsung menarik tangan Jennie ke tubuhku, dan Jennie pun terjatuh di pangkuanku. Aku pun menatap matanya dalam-dalam, dan Jennie pun nggak mau kalah, Ia saat ini juga membalas tatapan mataku dalam-dalam, bagaikan magnet… wajah kami pun kini semakin dekat… semakin mendekat… aku pun memiringkan wajahku… sementara Jennie mulai menutupi matanya, untuk menerimaku… dan…
“Wake up in your bedroom and there's nothing left to say
When I try to talk you're always playing board games
I wish I had monopoly over your mind
I wish I didn't care all the time”
Tiba-tiba saja suara deringan Handphoneku bersuara dengan kencang. “Asyeeeemmm!!!” Pekik Ku dalam hati. Sambil sedikit memundurkan wajahku.
Tapi aku nggak mau menggubrisnya, aku kembali mendekatkan wajahku ke arah Jennie.
Kedua tangan Jennie, memegangi dadaku, seakan ingin menghentikan aktivitasku.
“Angkat dulu teleponnya!” Pinta Jennie, kepadaku.
Aku pun menghembuskan nafasku dengan kencang, dan mulai mencari keberadaan Handphoneku. Suara keras dengan getaran itu, sepertinya terdengar dari arah saku Blazer Ku, yang berada di dalam lemari rumah sakit, bersamaan dengan sepasang pakaianku yang lain.
Yah~ saat ini aku sedang memakai piyama yang sudah di sediakan oleh rumah sakit. Sedikit lebay sih, mengingat aku disini cuma numpang pingsan saja.
Cuma aku memang paham betul tentang Jennie, dia selalu ingin memberikan fasilitas yang terbaik, untukku.
Pernah waktu pertama kali aku mengajak Ia masuk ke dalam apartemenku. Dia sudah mewanti-wanti untuk aku segera pindah ke apartemen milik keluarganya yang mewah.
Cuma aku menolak, karena Kevin pada saat itu merengek-rengek seperti anak kecil, agar aku tidak meninggalkannya, sendirian.
“KEVIN CALL.”
Akh~ barusan saja aku teringat sama Kevin, aku nggak menyangka bahwa sekarang yang meneleponku merupakan sosok dari seorang Kevin.
“Halo Kevin?”
“Arya kamu lagi dimana? Kenapa kamu belum pulang juga?” Tanya suara dari arah seberang sana, dari warna nadanya terdengar sangat khawatir kepadaku. Sekarang aku dan Kevin sedang menggunakan Bahasa Indonesia, karena kami memang berasal dari negara yang sama, yakni Indonesia.
“Akh~ Aku lagi di rumah sakit.” Jawabku, sambil melemaskan otot-otot leherku.
“Kamu kenapa ada di rumah sakit? Kamu habis kecelakaan, tabrakan… atau…”
“Kevin nggak usah lebay deh!" Potongku, memotong kalimat Kevin. “Aku di rumah sakit cuma pingsan!” Jelas Ku kepadanya.
“Kok bisa...? Mau ku jenguk?” Tanyanya khawatir.
“Tidak usah!” Tolak Ku.
“Kapan kamu pulang?” Tanyanya lagi.
“Mungkin besok.” Jawabku.
“Yak!” Pekiknya, dengan nada kesal, seakan frustasi. “Kamu sekarang ada di rumah sakit mana?”
Aku tidak menjawab, aku langsung mematikan panggilan tersebut. Aku terlalu malas meladeni Kevin yang seolah-olah terlalu over padaku. Emang aku anaknya? Bundaku sendiri saja tidak terlalu over seperti itu kepadaku!
“Sudah teleponnya?” Tanya Jennie kepadaku.
Aku pun mengangguk…
Jennie pun mengikat dan menggulung rambutnya yang panjang, dan memamerkan leher indahnya yang jenjang. Seakan memberikan kode padaku, pada bagian mana yang harus ku cicipi terlebih dahulu dari tubuhnya.
Aku pun mendekatkan tubuhku kembali pada Jennie, mengarahkan bibirku ke arah leher jenjang milik Jennie…
Dan Akh~
__ADS_1
Kalian pasti tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya, bukan?
#Arya POV End
₩₩₩₩₩
Malam harinya di kediaman Maya.
Meski mobil Sedan BMW keluarga Maya, sudah di transfer sebagian, biaya perbaikannya oleh keluarga Arya…
Tetap saja Papa-nya Maya masih mengomeli Maya, apalagi Papa Maya dua harian ini lembur, baru bisa memarahi anaknya pada saat ini.
“Haiya~ Kamu yah May, benaL-benaL nggak bisa di bilangin!” Omel Papa Maya, sambil berkacak pinggang, sedang berdiri di depan Maya, dengan ekspresi wajah yang sangar.
“Maaf yah Pah!” Ucap Maya dengan ekspresi wajah yang bersalah.
Sementara kedua adik Maya, hanya tertawa cekikikan melihat kakaknya tercinta, di marahi oleh Papanya.
Maya memiliki dua orang adik, dan berjenis kelamin yang berbeda pula. Adiknya yang cowok, bernama Yongki, baru menginjak kelas 1 SMP, dan berumur 12 tahun. Sedangkan, adiknya yang cewek, bernama Memey baru menginjak kelas 2 SD, dan berumur 7 tahun.
“Kamu kan bisa saja memakai mobil Papa yang biasa, kenapa haLus memakai mobil Papa yang mahal coba, HAH?!” Bentak Papa Maya, ke arah Maya.
“Ha habisnya, Maya mau me menarik perhatian seorang pria di pesta tersebut.” Ucap Maya seadanya, dengan nada yang bergetar.
“Udah Pah, jangan dimarahi lagi anak kita!” Bela Mama Maya, kepada anak sulungnya tersebut. “Dia kan berprilaku seperti itu, hanya ingin menarik perhatiannya si Niko, anak tetangga sebelah rumah kita!”
Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Mama-nya tersebut, Maya pun langsung membulatkan matanya bulat-bulat, dan membuka mulutnya lebar-lebar. “What!!! Si Niko?!” Pekik Maya, kaget.
“Iya, si Niko, dia kan cowok incaran kamu selama ini?” Tanya Mama Maya lagi, dengan argument seolah-olah tebakannya itu sudah 100% benar.
“What?!” Pekik Mama Maya kaget, dia teringat kembali Pizza yang beberapa hari yang lalu, yang dia belikan untuk Maya. “Jadi Pizza itu bukan buat menarik perhatian Niko?” Gumamnya dalam hati.
“Terus gimana silsilah keluarganya Arga?” Tanya Mama Maya lagi, yang was-was dengan gambaran calon menantunya di masa depan tersebut.
“Setahu Maya, Bundanya kini berstatus Janda, dan semenjak perceraian tersebut, Arga dan keluarganya memutuskan untuk pindah di Bogor. Dan, dia sekarang tinggal bertiga saja dengan Bunda dan Kakak Kandungnya.” Jelas Maya, yang sudah mempelajari Biodata Arga, hingga hafal di luar kepala.
Mama Maya pun menarik nafasnya dalam-dalam, dan mengeluarkannya dengan keras. “Janda...? Masih nyewa rumah?" Sepertinya cowok yang di taksir oleh Maya saat ini. Termasuk dari kalangan B aja (alias~ Miss Queen)." Batin Mama Maya.
Tentu saja, Mama Maya, tidak akan memarahi Maya pada saat ini, karena dia tahu betul sifat Maya yang keras kepala-nya seperti apa. Dia tahu betul pikiran anak gadisnya masih seperti seorang bocah, hanya melihat pria dari sisi tampangnya saja, bukan dari sisi dompet (seperti dirinya).
Pikiran-pikiran Mama Maya pun, mulai bergejolak dari dalam otaknya. Akan tetapi, langsung segera di tepis olehnya. “Naksir belum tentu jodoh bukan? Selama janur kuning belum melengkung, tentu saja masih bisa ku ubah. Toh, dari cerita Maya, sepertinya mereka juga belum jadian!” Pekiknya dalam hati.
Buah yang jatuh, selalu tak jauh dari pohonnya, bukan?
Tentu saja kepintaran Maya yang selama ini di tunjukan olehnya, menurun dari sosok Mama-nya. Mama Maya termasuk wanita yang sangat cerdas. Dan penuh perencanaan yang tinggi dalam kehidupannya.
₩₩₩₩₩
#Niko POV
Di dalam kamarku, yang bernuansa hijau, lagi-lagi aku tidak bisa tidur. Teringat kembali dalam ingatanku, kalimat apa yang tadi siang telah di lontarkan oleh Arga, kepadaku.
………………
“Sebenarnya kata-kata Bundaku semalam merupakan kebenaran.” Ucap Arga, sambil menundukkan kepalanya.
“Maksudnya?” Tanya Bambang, Rafi dan Niko berbarengan, tak mengerti apa yang baru saja di ucapkan oleh Arga.
“Aku dan Gladish selama ini sudah ditunangkan.” Ucap Arga, masih sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
…………………
“SIAL!” Pekik ku, sambil mengacak-acak rambutku, frustasi.
“Akh~ Persetan dengan yang namanya perjodohan, selama di antara mereka belum ada janur kuning yang melengkung, kesempatanku untuk mendekati Gladish masih terbuka dengan lebar bukan?” Tenang Ku, kepada diriku sendiri.
Aku pun mencari-cari keberadaan Handphone-ku, yang ada di sekitarku. Ketika dapat, aku langsung mencari-cari video-video pendek yang memicu adrenalin, senam jantung.
Pilihanku, langsung ku jatuhkan kepada video yang berdurasi satu menit, dengan tema horor tentunya.
Video yang menggambarkan 3 orang pemuda mabuk, yang sedang menggoda seorang wanita cantik dan seksi yang berjalan di depan mereka.
Mengikuti panggilan pemuda-pemuda tersebut, wanita yang berjalan dengan pakaian seksi tersebut pun, segera membalikan tubuhnya, betapa kagetnya diriku ketika wanita tersebut berbalik dan menampakan wajah seram dan menakutkan, wajah hancur dan penampakan belatung memenuhi area wajahnya.
Aku pun segera mendownload Video tersebut… membuka kontak WhatsApp, dan mencari-cari nama Mak Lampir (nama kontaknya Galdish, di HandPhone Niko).
Dan, segera mengirimkan Video tersebut untuknya…
“BWAHAHAHAHHAHAHAHA~ hahahahahahahaha~” Kekeh ku, dengan menunjukan ekspresi wajah yang seseram mungkin. “Mampus Loe Dhis! Loe pasti bakal kaget terkencing-kencing melihat Video ini!” Pekik ku dalam hati, aku tahu betul, seorang Gladish yang mempunyai wajah sangar dan garang tersebut, akan tetapi sebenarnya sangat takut dengan yang namanya penampakan sesosok hantu.
Aku pun membayangkan, Gladish akan membanting Handphonenya, memaki-makiku dan menyumpahi ku melalui pesan ketikan WhatsApp.
Akh~ Bagaimana ini?
Membayangkannya saja, sudah membuat jantungku berdebar tak karuan.
Hal ini benar-benar sangat menyenangkan… aku benar-benar sangaaaat menyukainya~~
#To Be Continued
.
.
.
.
Hai hai pembaca kesayangan INTROVERT MELANKOLIS💜💜💜😍😍😍
Jangan lupa yah LIKE, KOMEN, SHARE, RATTING 5, VOTE-nya.
Jangan lupa tinggalkan VOTE biar INTROVERT MELANKOLIS yang Badung ini,, masuk ranking kelas🤣🤣🤣
Contohnya seperti di bawah ini 👇👇👇👇
BTW KALIAN NGEFANS SAMA COUPLE APA DI "INTROVERT MELANKOLIS" INI???
KOMENG YA DI KOLOM KOMENTAR😎😎😎👇👇👇
NANTI CHAPTER SELANJUTNYA, AUTHOR BAKAL EDIT KAN FOTO MEREKA BERDUA MENJADI SATU 👫💏
(COUPLE REQUEST TERBANYAK DULUAN YANG AUTHOR EDITIN)
Bye-Bye
💃💃💃
Makasih yah semuanya, sudah membaca dan mendukung INTROVERT MELANKOLIS selama ini.... Chalanghae 😍😘 assalamuallaikum🙋♀️🙋♀️🙋♀️
__ADS_1