Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 98 : Kalah Taruhan


__ADS_3

Ketika Arga dan Gladish memasuki area taman bermain Jungle Land Sentul Bogor.


“Aku mau main itu!” Rengek Gladish, sambil menunjuk wahana Harvest Time, sejenis wahana Roller Coaster.


Arga pun langsung meneguk air liurnya, apalagi melihat orang-orang yang berteriak kencang dari arah kejauhan ketika menaiki wahana tersebut.


Sebenarnya, Arga nggak pernah mencoba bermain ke area bermain sebelumnya, Gladish lah yang mengajaknya ke sini.


Karena sebelumnya Arga merasa harga dirinya terluka saat mereka bermain di taman bermain kecil yang GRATIS.


Di Jakarta pun sebelumnya, kalau ada darma wisata sekolah, berjalan-jalan ke taman bermain, paling biasanya Arga hanya numpang makan di stand penjual makanan atau ikutan jalan-jalan masuk ke wahana, seperti wisata satwa atau wisata laut.


Dia tidak begitu suka, sesuatu yang membuat ekspresinya terlihat tertawa, gembira, penasaran atau ketakutan seperti anak-anak.


“Kamu naik sendiri saja, aku tunggu disini!” Ucap Arga akhirnya, sambil melirik ke arah Stand Penjual Makanan terdekat.


Gladish pun memicingkan matanya, melihat apa yang telah di lirik oleh Arga. “Jadi aku harus main sendirian?” Tanya Gladish, dengan nada kecewa.


Dan hanya di jawab dengan anggukan oleh Arga.


Arga pun hendak berlalu, sebelum berlalu, tangan Gladish pun berhasil menahan tangan Arga.


“Tidak semudah itu Ferguso!”


♡♡♡♡


Prisil pun dengan cepat menangkap lengan Niko, yang hendak berlalu darinya.


“Bagaimana kalau kita mengadakan sebuah taruhan!” Tawar Prisil, sambil tersenyum simpul.


“Eh?” Pekik Niko, sambil mengerutkan alisnya. “Memang kita mau taruhan apa, Sil? Tanya Niko, sambil melepaskan tangan Prisil yang menggantung di lengannya. “Taruhan itu dosa loh!”


“Kalau aku yang menang, kamu jadi pacar aku!” Tawar Prisil.


“What?! Ogah~” Pekik Niko, tegas. Dan hendak berlalu lagi dari arah Prisil.


“Tapi… Jika kamu yang menang aku akan menjauhi kamu!” Ucap Prisil kembali.


Mendengar hal tersebut, langkah Niko Pun langsung terhenti.


♡♡♡♡


Kini Niko dan Prisil sedang menari, mengikuti arah panah yang terdapat di layar mesin permainan Pump It Up.



Dengan iringan musik milik Blackpink - Kill This Love.


Niko yang di sekolah di kenal memiliki gerakan lincah pun sangat percaya diri, dia yakin bakal menang dari Prisil dalam memainkan permainan Dance tersebut.


Let's kill this love!


Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah


Rum, pum, pum, pum, pum, pum, pum


Let's kill this love!


Rum, pum, pum, pum, pum, pum, pum

__ADS_1


Meski pun demikian Prisil juga nggak mau kalah, dia juga bergerak dengan lincah, lagipula Prisil sudah sering memainkan permainan dance seperti ini.


Akan tetapi…


“Bruuukkk…” Kaki kiri Prisil pun terpelecok, karena salah gerak.


"Aaawwwww~" Pekik Prisil kesakitan.


Prisil pun menjongkokkan tubuhnya, menahan rasa sakit di kaki kirinya.


Prisil pun mendongakan dagunya ke atas, masih melihat Niko yang asik menari dengan lincah. Sepertinya lelaki berparas arab tersebut terlalu sibuk menari, hingga Ia tidak tahu kalau Prisil mengalami cidera.


Prisil pun mencoba berdiri kembali dan berusaha keras untuk menari kembali, meski pun harus menahan sakit.


Feelin' like a sinner


It's so fire with him I go boo, ooh


He said you look crazy


Thank you, baby


I owe it all to you


Got me all messed up…


Lagu pun berakhir, dan Permainan pun berakhir…


“Yeeehhh… Gua menang~ yeeeee!!!” Teriak Niko, sambil meloncat-loncatkan tubuhnya, saat melihat Skore akhirnya lebih tinggi dari pada Prisil, dengan total skore 3157300 dan skore Prisil 2312400.


Prisil pun melemaskan badannya dan mengatur nafasnya, karena kelelahan dan kalah dari Niko.


Melihat hal tersebut mata Prisil pun memerah…


Dadanya pun terasa sesak, karena lelaki yang selama ini di sukainya tersebut, merasa bahagia karena menang ~ah bukan ~bukan, maksudnya lelaki yang di sukainya selama ini sangat bahagia karena Ia, seorang Prisil akan menjauh dari kehidupan lelaki tersebut.


Prisil pun menatap Niko dengan tatapan yang lirih, tak terasa air matanya pun kini tumpah.


Niko yang dari tadi memasang ekspresi tersenyum pun, spontan saja mengerutkan alisnya melihat air mata yang bertumpahan dari arah pipi Prisil. “Prisil kamu kenapa?” Tanya Niko khawatir.


“Hiks~ Hiks~” Prisil pun dengan cepat langsung mengusap air matanya, dengan ujung Kaos lengan panjang berwarna merah mudanya.


“Selamat tinggal…” Ucap Prisil, sambil berlalu dari arah Niko. Prisil mencoba berlalu dengan langkah kaki terpincang, sambil menahan sakit di kaki kirinya.


Niko pun langsung membelalakan matanya melihat langkah kaki Prisil yang kini terpincang meninggalkannya.


“Prisil, Prisil, kakimu kenapa?!” Teriak Niko, sambil mengejar langkah kecil Prisil yang terpincang.


“Bukan apa-apa~” Jawab Prisil dengan nada yang dingin.


“Kaki kamu terpelecok yah?” Tanya Niko lagi.


Tapi Prisil hanya diam tak menjawab, dan terus berjalan lurus, dengan langkah terpincang.


“Sini ku bantu!” Tawar Niko, sambil berusaha menggandeng bahu Prisil untuk membantunya berjalan.


“Lepas~” Teriak Prisil dengan nada yang sinis, sambil melepaskan gandengan Niko dari arah bahunya. “Gua bisa jalan sendiri kok!”


“Tapi…”

__ADS_1


“Pergi!” Usir Prisil.


“Tapi…”


“Dan, jangan lagi muncul di hadapanku!” Ucap Prisil dengan tatapan yang sangat tajam ke arah Niko, dan berlalu dari hadapan lelaki berparas Arab tersebut.


Niko pun memegangi dadanya.


“Perasaan sakit apa ini?” Gumam Niko dalam hati, sambil menatap lirih punggung Prisil, yang kini lumayan jauh meninggalkannya.


Tiba-tiba saja dari arah kejauhan ada dua orang Remaja Pria berwajah lumayan ganteng, seumuran mereka. Yang menghampiri tubuh Prisil.


Melihat hal tersebut Niko langsung mengepalkan kedua tangannya, dan berlari mengejar langkah Prisil kembali.


“Permisi, gadis cantik… apa kamu perlu bantuan?” Tanya seorang pemuda ganteng berambut jabrik, menawarkan bantuan.


“Tidak usah.” Tolak Prisil dengan nada halus.


“Tidak apa-apa, jangan sungkan~ kami akan membantumu!” Sambung lelaki ganteng dengan rambut poni kedepan.


Mereka berdua pun kini hendak merangkul kedua lengan tangan Prisil.


“Hei apa-apaan kalian?!” Teriak Niko, dengan langkah cepat, berlari ke arah mereka, dan berusaha menghalangi kedua pemuda tersebut yang hendak menyentuh lengan Prisil.


“Kamu siapa?” Tanya lelaki berambut jabrik, tak terima dengan perlakuan Niko tersebut.


“A Aku… aku…” Ucap Niko gugup, bingung harus menjawab apa.


“Kamu yang pergi sana!” Ucap lelaki berambut poni, sambil mendorong pelan dada Niko.


“Hentikan!” Seru Prisil tiba-tiba. “Jangan ganggu PACARKU!” Ucap Prisil sinis, sambil memberi penekanan pada kata pacarku.


Kedua lelaki tersebut pun, membelalakan mata mereka, terkejut dengan ucapan Prisil barusan.


“Ah maaf~” Ucap mereka berbarengan, sambil berlalu dari arah Niko dan Prisil.


Niko pun langsung merangkul bahu Prisil kembali.


“Lepas!” Teriak Prisil.


“Kenapa?” Tanya Niko sambil mengerutkan alisnya. “Kamu lebih nyaman di bantu sama mereka pemuda-pemuda ingusan jelek, nggak tahu diri, yang nggak jelas, di bandingkan di bantu olehku?”


“Kan, aku kalah taruhan.” Jawab Prisil, tanpa menatap Niko. “Lepas!”


“Nggak mau.”


“Kenapa?”


“Kamu barusan bilang aku pacarmu kan, kepada mereka!” Ucap Niko dengan pipi yang memerah.


“Eh?!” Pekik Prisil dengan wajah yang juga memerah.


Niko dan Prisil pun kininsaling bertatapan dengan tatapan mata yang intens, dan rona wajah yang memerah satu sama lain...


“Niko… Prisil…?” Pekik dua orang pemuda, yang kebetulan nggak terduga, baru saja berlari menuju tepat di hadapan mereka. Dan sialnya~ suara dua orang pemuda tersebut sudah tidak asing lagi bagi seorang Niko.


“Bambang… Rafi…?”


#To Be Continued

__ADS_1



__ADS_2