
“Anak-anak, kali ini Bapak minta kalian untuk membentuk sebuah kelompok, dan dalam satu kelompok terdiri dari enam atau tujuh orang!” Kudengar samar-samar suara Pak Damar, guru Biologi kami, yang kebetulan memiliki paras tertampan di antara guru-guru pria lain, di SMA Tunas Bangsa.
Meninggal Gua, ngantuk nya Gua dari semalam karena latihan silat, untung wajah Pak Damar yang tampan bisa menyelamatkan, jadi Gua masih betah membuka mata, meski rasa kantuk tak bisa untuk di ajak kompromi. Yah meski mata Gua saat ini sudah hampir 5 Watt.
“HOOOOAAAAAMM~” Gua pun akhirnya menguap dengan anggun, menguap sambil menutupi mulut gua dengan tangan maksudnya.
“SYUUUUUUUUUUUUUTTTTT~” Tiba-tiba suatu benda berbentuk persegi panjang berukuran sedang, terlihat sedang melayang dengan cantiknya di udara.
“Apa itu?” Pekik ku, dengan mata yang sudah menyipit. “Apakah segepok uang?” Tanyaku asal, karena setengah sadar, dan mengikuti kemana arah benda itu akan berlabuh.
“PLAAAAAAAAAAKKKK~” Ku lirik benda aneh, berbentuk seperti penghapus papan tulis itu, mendarat ke arah belakang, tepatnya ke arah kepala Niko, yang sedang asik pulas tertidur, di atas meja tempat duduknya.
“WADDDDDDDDDDDDOOOOOHH~” Teriak Niko histeris, sambil memegangi kepalanya yang kesakitan karena lemparan penghapus yang mendarat tiba-tiba di kepalanya tersebut.
“BWAHAHAHAHHAHAHAHA~” Tawaku kencang banget, melihat reaksi Niko, puas banget Gua lihatnya, puas banget Gua kalau melihat Niko menderita.
“BWAHAHAHAHAHHAAHA~ BWAHAHAHAHAHHAA~” Suara tawa siswa-siswi yang lain juga ikut menggema di seisi ruangan, melihat pipi kiri Niko yang menjadi hitam karena penghapus White Board tersebut.
“Kasihannya Niko!” Pekik Prisil, yang tempat duduknya berada di sebelah Gua. Dengan nada khawatir.
HAH…?! Khawatir?
₩₩₩₩₩
#Author POV
Beberapa siswa mulai mencari kelompoknya…
Tentu saja Bambang, Niko, Rafi dan Arga membentuk satu kelompok, mereka pun kini duduk bersama…
“Sisanya siapa lagi yah kira-kira?” Tanya Bambang.
“Kita cari teman-teman cowok lagi kah?” Tanya Rafi.
Sementara Arga hanya diam, di pikirannya masih sibuk untuk mengundang siapa saja gadis yang akan Ia ajak di pesta ulang tahunnya, besok malam.
Niko pun melirik ke arah Gladish. “Gladdddddiiiiiiiiiiisssssssssshhhhh!!!” Teriak Niko.
Arga pun langsung membelalakkan matanya mendengar nama Gladish yang diteriakin Niko.
Sementara itu, Gladish pun mencari keberadaan asal suara yang meneriakinya tersebut, suara yang tak asing baginya, yakni suara cempreng ala-ala Niko. “Perasaan Gua nggak enak nih!” Gumam Gladish dalam hati.
Niko pun menghampiri Gladish. “Gladoooooosh! Kita sekelompok yuk!” Ajak Niko, dengan nada sok akrab.
Gladish pun menyipitkan matanya… ide yang buruk kalau Niko dan dia berada dalam satu kelompok yang sama, mengingat Niko merupakan ranking terakhir di kelas dan jahilnya luar biasa terhadapnya.
Apalagi pasti ada Arga yang masuk di kelompok tersebut (Mengingat mereka berempat sudah membentuk suatu kesatuan kelompok yang utuh, seperti Teletubbies), tambah males lagi Gladish, Ia sampai teringat kembali perlakuan kasar dan tak berperasaan yang pernah Arga perbuat kepadanya. Yakni mengingkari janji Dinner berdua dan mengibas tangannya dengan kasar.
“Maleeeeessss…!” Jawab Gladish, akhirnya.
“Aku mau, aku mau!” Seru Prisil antusias, yang kebetulan duduk di sebelah Gladish dan ikut mendengar pembicaraan mereka.
“Yak… Penghianat!” Pekik Gladish, sambil membelalakkan matanya ke arah Prisil.
Bambang pun mendekat ke arah mereka, mendengar suara Prisil yang bersedia ikut nimbrung dengan kelompok mereka. Langkah Bambang pun diikuti oleh Rafi dan Arga.
“Aku juga mau masuk ke kelompok kalian?!” Seru Becca, ikutan nimbrung di antara mereka.
__ADS_1
“Oke, jadi kelompok kita sudah pas yah… Prisil, Becca, Rafi, Arga, Bambang dan Aku…” Gumam Niko sambil menghitung jumlah kelompok mereka dengan jari tangannya.
“Hei, aku…?!” Gumam Gladish, sambil menunjuk dirinya sendiri.
“… Tanpa Gladish.” Sambung Niko.
“Yak!!!” Protes Gladish, tak terima.
₩₩₩₩₩
Akhirnya mereka bertujuh pun berkumpul, untuk berdiskusi, tentang rumah siapa yang akan dipakai untuk mengerjakan tugas makalah kelompok Biologi, tentang 'Sistem Reproduksi Pada Hewan' tersebut.
Mereka pun berencana menentukan pengundian tersebut dengan cara HOM PIM PA, biar adil. Dan siapa yang MENANG, harus bersedia RUMAHNYA dipakai untuk pelaksanaan KERJA KELOMPOK tersebut.
Yang dipimpin oleh Bambang, sebagai Bos Geng, sekaligus ketua pelaksana permainan tersebut… “Ayo kita mulai!” Seru Bambang.
Mereka pun membuat lingkaran… dan mengulurkan tangan mereka, berbarengan…
Sebelum undian HOM PIM PA dimulai...
Gladish berdoa, supaya dia kalah, karena dia nggak mau rumahnya di datangin oleh teman-temannya karena rumahnya saat ini, berada dalam kondisi yang sangat berantakan, dan dia malu akan hal itu.
Arga berdoa, semoga dia menang, karena Ia ingin menunjukan pada Kak Arya dan Bundanya kalau dia punya teman laki-laki dan perempuan yang banyak. Sekaligus biar Bundanya sendiri yang nanti mengundang teman-temannya, untuk datang ke pesta ulang tahunnya besok malam. Karena, dia terlalu malu akan hal itu... Dia terlalu malu untuk mengundang teman-temannya ke pesta ulang tahunnya, dengan mulutnya sendiri.
Prisil berdoa, semoga Niko yang menang, Ia ingin sekali menginjakan kakinya di rumah seseorang yang kini dinilainya Spesial (?) dalam kehidupannya tersebut.
Niko berdoa, semoga Gladish yang menang, soalnya Ia ingin sekali memporak-porandakan rumah Gladish, mem-bully--nya, menghabiskan jatah makanannya dan mencuri selendang di rumah gebetannya tersebut. Siapa tahu nasibnya bisa seperti Jaka Tarub yang menikahi Nawang Wulan gara-gara mencuri selendang.
Sementara Rafi nggak masalah siapa pun yang menang, yang penting kerja kelompok ini bisa selesai tepat waktu… EHM~ anak yang cerdas.
Begitu juga dengan Becca, dia nggak peduli rumah siapa yang akan dia kunjungi, yang penting rumah tersebut banyak makanannya. Tapi asal jangan rumahnya saja!
“HOM PIM PA ALAIUM GAMBREEEEEEEEEEENNNGGGGG~” Seru mereka kompak, sambil menggoyang-goyangkan tangan mereka ke kiri dan ke kanan, seperti gerakan mengipas. “MPOK IPAH PAKAI BAJU ROMBENG!!!”
Keenam tangan kanan pun, secara kompak menadahkan tangannya ke arah atas, yakni terbuka. Hanya satu tangan kanan yang menadahkan tangannya ke arah bawah, yakni tertutup.
Keenam pasang mata pun tertuju ke arah seseorang, yang dianggap sebagai sang pemenang dari permainan tersebut.
“A… Aku?!” Pekik Niko, sambil menunjuk dirinya sendiri, Ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi terhadapnya.
₩₩₩₩₩
Sepulang sekolah…
Ketujuh orang yang berada di kelompok tersebut, ramai-ramai menuju ke rumah Niko.
Niko berboncengan dengan Arga, sementara Bambang berboncengan dengan Rafi, kebetulan hanya Bambang dan Niko di antara kelompok tersebut, yang berani membawa kendaraan sendiri, yakni motor besar.
Sementara Gladish, Becca dan Prisil memilih untuk menunggu angkot, untuk bisa berbarengan menuju ke rumah Niko.
Karena Bambang dan Niko mengendarai motor dengan sangat laju, seperti orang kesetanan, maka keempat pria tampan tersebut, kini duluan sampai di depan rumah Niko.
__ADS_1
Mereka pun menunggu kedatangan ketiga orang gadis cantik tersebut, di teras rumah Niko.
Arga pun diam-diam mengagumi rumah Niko yang terlihat besar, mewah dan berdesain artistik, dibandingkan rumah-rumah lainnya di perumahan kompleks tersebut. Akan tetapi, bagi Bambang dan Rafi hal itu sudah biasa, karena mereka sebelumnya, sudah sering berkunjung di rumah Niko
“Kalian mau minum apa?” Tawar Niko, kepada ketiga sahabat Teletubbies Nya tersebut.
“Udah, nggak usah ngerepotin.” Tolak Rafi.
“Iya, nggak usah ngerepotin.” Ujar Bambang, membenarkan jawaban Rafi. “Cukup Ice Milk Coffe saja!” Sambungnya.
Niko pun memutar bola matanya, mendengar jawaban Bambang.
“Air putih saja.”Jawab Arga, singkat.
……
Sementara itu dari arah kejauhan, sebuah mobil Sedan Hitam, melintas melewati rumah besar Niko.
“Eh kok di rumah Niko, banyak cowoknya yah?” Gumam Maya, yang kebetulan matanya tak sengaja melihat penampakan keempat siswa cowok yang sedang berkumpul di teras rumah Niko.
Maya pun membelalakkan matanya, dan menutupi mulutnya yang baru saja terbuka lebar, karena sangat terkejut, dengan penampakan yang ada di depan matanya tersebut.
“Astaga! Disana ada Arga?!” Seru Maya, dengan rona kemerahan di pipinya dan ekspresi girang yang tak tertahankan di wajahnya. Mengingat ada pujaan hatinya yang kini sedang berkunjung di rumah tetangga sebelah rumahnya, yakni rumah Niko. "KYAAAAAA~ ada Argaaaaa!!!!" Teriaknya.
#To Be Continued
.
.
.
kemarin nggak ada yang request visual TOKOH, tapi request visual AUTHOR😭😭😭
Yang mau lihat visual Author yang ngegas ini.
Silahkan cek di Instagram author saja yah 👉👉👉 yanstagram143v
Karena auhor nggak PD majang foto disini😅😅😅
(Padahal diatas fotonya ada, meski kecil👆🙄)
.
.
.
BTW Gladish dan Arya sudah ada projects dramanya, haruskah Author yang imut tapi amit-amit ini menjodohkan mereka juga di Novel ini??? 😱😱😱
terimakasih udah membaca, jangan lupa like, share, komen, like dan share... biar tokoh-tokoh dalam Novel ini makin menderita, dan author tambah bahagia, Bwahahaha #ketawa evil😈
AYO VOTING MAU VISUALNYA SIAPA UNTUK CHAPTER SELANJUTNYA? 🤷♀️🤷♀️🤷♀️
A. Maya
B. Bambang
__ADS_1