
Dan yang paling menyedihkan baginya saat ini adalah, ternyata teman-teman cewek yang di bawanya dari kelasnya tersebut, juga ikut menertawakannya. Mata Maya pun berkaca-kaca.
“Kamu nggak apa-apa?” Tanya Arga, yang terlihat khawatir. Sambil mengangkat kue Black Forest dari arah kepala Maya.
“Kamu tidak tertawa?” Tanya Maya ke arah Arga, dengan nada sesegukan, sambil menahan air matanya yang hendak keluar dari arah kelopak matanya.
“Untuk apa aku tertawa?” Tanya Arga lagi, sambil mengambil sebungkus tisu kecil yang ada di dalam tas merah maroon nya. “Mari kita membersihkan wajahmu!” Ucap Arga, sambil mengambil beberapa tisu tersebut, dari dalam bungkus plastiknya, dan membantu Maya membersihkan wajahnya.
Arga dengan telaten mengelap wajah Maya dengan beberapa tisu tersebut, Ia mengelap pada area mata, pipi, kening dan rambut Maya.
Sementara Maya yang menerima perlakuan manis tersebut, hanya bengong, dengan jantung yang bergetar hebat, jikalau mungkin wajahnya tidak sekotor ini, mungkin saja Arga dapat melihat rona kemerahan di pipinya.
Ia benar-benar tersentuh dengan perhatian Arga yang nyata. Ia benar-benar menikmati setiap sentuhan-sentuhan tangan Arga di sekitar wajah, mata dan rambutnya.
“Sumpah aku nggak menyesal, kejatuhan kue seperti ini!” Gumam Maya dalam hati, sambil bersyukur karena insident memalukan tersebut, Ia bisa mendapatkan perlakuan manis seperti ini dari seorang Arga, pria yang mempunyai sifat pendiam dan paras tertampan di SMA Tunas Bangsa. “AKU BAHAGIA TUHAAAAANNN!!!” Erangnya dalam hati.
“CIIIIIIIIIIIEEEEEEEEEEEEEEEEEEE~~~” Anak-anak lain pun akhirnya bersorak heboh, melihat pemandangan manis tersebut.
“ARGA, EEEUUUUUUUUYYYYYY~”
"Diam-diam, menghanyutkan~ CIIEEEE CIEEEEEE!!!!!~
“MANTAB JIWA DAN RAGA~”
“Jadiaaannn~ jadiaaaaannnn~ jadiaaaaaaannn!!!!”
Olok siswa siswi yang lain, yang masih ada di dalam kelas, yang melihat pemandangan manis dua sejoli yang memiliki julukan, terlalu tampan dan terlalu cantik di SMA Tunas bangsa tersebut.
Arga yang menyadari siswa dan siswi di kelas, pada heboh karena perlakuannya terhadap Maya (padahal niatnya Pure, hanya untuk membantu Maya). Ia pun segera menghentikan kegiatannya tersebut, yakni membantu Maya menghapus Butter Cream dan Dark Chocolate di wajahnya.
Ia pun langsung menyerahkan sisa bungkusan tisu kecil, yang baru saja Ia keluarkan dari dalam tasnya, kepada Maya. “Nih ambil!” Ucap Arga.
Maya pun tersenyum, mendapat sesuatu dari tangan Arga. Meski sesuatu tersebut tak bisa di artikan sebagai barang berharga. Tapi dia cukup bahagia menerima barang sederhana tersebut, barang yang pertama kali, Ia dapatkan dari seorang Arga.
Yakni, sebungkus Tisu.
Dia pun berjanji, tak akan pernah memakai dan membuang sebungkus tisu tersebut. Ia akan menyimpannya baik-baik sebungkus tisu tersebut.
Sementara Becca hanya bisa memandang sinis interaksi antara Maya dan Arga. Rencananya memang berhasil untuk mengerjai Maya, akan tetapi, kini… terasa gagal.
“Makasih.” Ucap Maya, dengan senyuman yang manis tergambar di wajahnya.
“Sama-sama.” Jawab Arga. “Terima kasih juga yah.” Sambung Arga.
Maya pun mengerutkan keningnya, bingung…
Arga lalu melirik kue Black Forest yang hancur, yang kini berada di atas mejanya.
Mata Maya pun mengikuti arah lirikan dari mata Arga. “Oh itu… Ah~ Iya sama-sama. Hehehe.” Jawab Maya sambil terkekeh, “Aku pergi dulu yah, mau cuci muka!” Pamit Maya, sambil mengajak beberapa teman sekelasnya, yang sedari tadi di bawa olehnya, untuk berlalu mengikuti langkah nya.
“Aishh~ kotor lagi kelas ini!” Keluh Bambang, sambil mengurut-urut kepalanya, melihat sekumpulan bercak Black Forest yang menempel di lantai kelasnya, kebetulan Doi yang mendapat tugas piket kebersihan, pada hari ini.
“Aishh~ Kuenya hancur, masih bisa dimakan nggak yah?” Tanya Rafi sedih, Ia sangat kecewa, karena sedari tadi dirinya sudah menahan lapar dan mengharapkan bisa memakan kue tersebut.
__ADS_1
“Makan saja Fi, rambutnya Maya ber-vitamin kok!” Seru Becca, sambil terkekeh, melihat tampang kecewanya Rafi.
Sementara Niko tanpa sengaja melihat salah satu Mencit putih kelompoknya yang terlepas (yang barusan menakuti Maya), kini sedang asik mencakar-cakar sebuah kaki meja, yakni tempat duduk Gladish.
Niko pun tersenyum.
Ia menolehkan wajahnya ke arah kiri dan ke kanan, diam-diam menundukan badannya, dan…
“Hap~”
Mengambil Mencit yang barusan terlepas tersebut. “Gladish pasti akan suka!” Gumamnya dalam hati, sambil tersenyum evil. Dan menyembunyikan Mencit putih tersebut, ke dalam kantong celananya.
₩₩₩₩₩
Di pelajaran Pak Damar, tiba-tiba saja para siswi kelas 2 IPA 6 mendadak berani, buktinya saja, banyak para siswi yang mengambil alih dalam proses membelah tubuh hewan kecil, yang telah di bawa oleh kelompok mereka masing-masing.
Contohnya saja Prisil, yang terkenal sebagai cewek feminim, yang tentu saja memiliki watak jijik-an, yang malah level kejijikan tersebut, melebihi level kejijikan Gladish yang tomboy.
Akan tetapi, kali ini, justru Ia yang memaksa untuk mengambil alih proses pembelahan tubuh Mencit tersebut.
Karena Pak Damar, guru lajang tertampan di SMA Tunas Bangsa, sudah berjanji akan membantu anak-anak didiknya, jikalau mengalami kesulitan dalam melakukan pembelahan hewan kecil yang di bawa oleh mereka.
“Jadi seperti ini yah, Dik!” Terdengar suara Pak Damar, dengan sabar memandu dan membantu seorang siswi cantik membelah seekor Hamster, yang di bawa oleh kelompok siswi tersebut.
“Kyaaaaaaaa~ aku iri!” Jerit siswi lain, melihat Pak Damar, memandu sambil memegangi tangan siswi cantik tersebut, yang saat itu tangannya sedang bergetar hebat.
“Lebay!” Pekik Gladish, melihat pemandangan tersebut.
“Dasar modus!” Sambung Niko, eneg dengan pemandangan tersebut.
“Yak kalian nyindir aku!” Teriak Prisil, tak terima, karena merasa ikut tersindir, sambil memegang pisau tajam di tangannya.
“Sil kamu yakin?” Tanya Bambang kepada Prisil, yang saat ini gemeteran memegangi sebuah pisau tajam di tangannya tersebut.
Prisil bukan gemeteran karena pisaunya, Ia sudah biasa memegang pisau tajam, untuk membantu Ibunya memasak di dapur. Akan tetapi, Ia saat ini gemeteran karena sebentar lagi, Ia bakal menyentuh tubuh mencit putih yang menurutnya sangat menjijikan tersebut.
“Iya, aku yakin.” Jawab Prisil, akhirnya. Akan tetapi air wajahnya kini seakan ingin menangis.
“Udahlah nggak usah mencari perhatian Pak Damar, nanti bagian penting dari system tubuh Mencit tersebut, malah rusak lagi kalau tidak berhati-hati dalam membelahnya!” Jelas Rafi, yang juga ikut bergetar ketakutan.
Mengingat saat ini Ia berada dalam satu ruangan dengan hewan-hewan kecil menjijikan yang di bawa oleh beberapa kelompok di ruang laboratorium IPA tersebut.
“Sudah, biar aku sama Niko saja yang mengerjakannya!” Ucap Bambang, sambil berusaha mengambil alih dalam memegang pisau tersebut, dari tangan Prisil.
“Udah aku saja!” Elak Prisil.
“Aku!” Paksa Bambang.
Dan…
“Akh~” Telapak tangan kanan Bambang pun tiba-tiba saja mengeluarkan darah segar, rupanya telapak tangan kanannya tersebut baru saja terluka, karena tergores pisau yang di pegang Prisil tersebut.
“Bambang!” Seru Prisil kaget, melihat darah di tangan kanan Bambang. “Kamu tidak apa-apa?” Tanya Prisil khawatir, sambil memegangi tangan Bambang, untuk memeriksa lukanya.
__ADS_1
Begitu juga lima anak yang lain dalam kelompok tersebut, ikut khawatir dan menanyakan keadaan Bambang.
“Aku tidak apa-apa.” Jawab Bambang, dengan berusaha menampakan raut wajah yang biasa saja, padahal aslinya menjerit karena menahan sakit, karena luka gores tersebut, terlihat lumayan dalam. “Kalian tidak usah khawatir.” Sambung Bambang lagi, untuk menenangkan teman-temannya.
Prisil pun lalu menggenggam tangan kiri Bambang, dan menariknya.
“Eh~” Pekik Bambang kaget, melihat seseorang yang menurutnya spesial tersebut, kini sedang menggenggam tangan kirinya dengan kuat.
“Ayo kita ke UKS!” Ajak Prisil, dengan nada lantang. Sambil menarik lelaki badung bertampang kharismatik tersebut, pergi ke arah pintu Laboratorium IPA, untuk menuju ke ruang UKS.
Wajah Bambang pun memerah di buatnya, jantungnya pun kini bergetar dengan kencang. Ajakan Prisil ke UKS tersebut memiliki arti lain dalam imajinasi Bambang.
Imajinasi Bambang:
“Ayo kita ke KUA!”Ajak Prisil, dengan nada lantang. Sambil menarik lelaki badung bertampang kharismatik tersebut, pergi ke arah gerbang menuju gedung KUA, dengan mengenakan Wedding dress putih panjang, mengenakan mahkota berlian indah di kepalanya, dengan menggenggam sebuket bunga mawar putih di tangan kirinya.
Prisil disana terlihat SANGAAAATT CANTIK.
“Ayo!” Jawab Bambang dengan lantang dan penuh dengan semangat. Dengan Tuxedo hitamnya.
#To Be Continued
.
.
.
Jangan lupa LIKE, KOMEN, VOTE, SHARE dan RATTING 5-nya yah... Biar Author-nya bersemangat dalam ngetik dan berimajinasi, dan update-nya bisa lebih sering-sering lagi😉
Kalau ada poin berlebih tolong sumbangkan kepada author yang Geulis ini, Eaaaakkk~ 🤣🤣🤣👇👇👇
BTW ini wajahnya Pak Damar yah, guru Biologi SMA TUNAS BANGSA yang terkenal tampan tersebut
👇😍👇😍👇
Pak Damar memiliki tampang Kharismatik, tampan, kulit yang hitam manis dan penyabar💁♀️💁♀️💁♀️
__ADS_1
Udah dulu yah gaes,, Terimkasih sudah membaca....Assalamuallaikum🤗