
“Hei Arga, kamu Arga kan?” Tanya seorang gadis memastikan, sambil menepuk pundak kiri Arga dari belakang.
“Iya benar dia Arga.” Gumam gadis yang lainya. Takjub melihat keberadaan Arga, secara langsung di hadapannya.
Arga pun membalikan tubuhnya dan mendapati, ternyata ada dua orang gadis yang wajahnya tampak serasa tidak asing lagi untuknya, satu gadis bertubuh gendut dan berjerawat di area sekitar pipinya, sedangkan gadis satunya lagi bertubuh kurus kerempeng dan tinggi badannya kira-kira sekitar 185 cm, bisa di bilang cukup tinggi untuk seukuran postur tubuh gadis yang ada di Indonesia.
“Kalian…” Seru Arga, sambil berusaha mengingat nama kedua gadis yang pernah menjadi teman sekelasnya saat dia duduk di bangku SMP.
“Kamu pasti lupa sama kami?” Duga Nadia, si pemilik tubuh kerempeng dan tinggi yang menjulang.
Dan sialnya, dugaan gadis itu memang benar.
“Kami Nadia sama Reva sahabat si Gladish, cewek yang dulu pernah nembak kamu itu loh saat kelas 2 SMP!” Jelas Reva, si pemilik tubuh gemuk dan berjerawatan di area wajahnya.
“Ah~” Arga pun kini mulai mengingat.
“Kenapa kamu malam-malam ke Ancol sendirian?” Tanya Reva ke arah Arga.
“Ah itu…” Arga pun bingung harus berkata apa. “Bisakah aku meminta tolong kepada kalian?”
“Eh?” Pekik Nadia dan Reva berbarengan
₩₩₩₩₩
Arga pun meminjam Handphone dari salah satu di antara mereka, yakni Nadia. Dan mulai mengingat-ingat nomor Handphone kakaknya.
Meski sudah empat kali salah sambung, pada akhirnya pada panggilan ke lima, Arga berhasil menghubungi kakaknya, Arya tersebut.
“Halo ini siapa?” Tanya orang diseberang. Dengan nomor yang tampak asing bagi si penerima telepon.
“Halo, apa ini dengan Saudara Arya?” Tanya Arga, memastikan.
“Iya saya sendiri, ini siapa?”
“Kak…!” Seru Arga, senang akhirnya panggilannya menuju ke orang yang tepat sasaran. “Ini Arga, kakak sekarang ada dimana?”
“Aku ada di depan Musolah, baru selesai sholat Magrib.” Jelas Arya. “Nomormu ganti kah, Ga?"
“Lain, Handphoneku tertinggal di rumah, ini lagi nebeng Handphone kenalan.” Jelas Arga, sambil melirik dua orang gadis yang sedang berdiri disebelahnya. “Kakak tunggu di sana saja yah, aku akan menyusul ke Musolah sekarang!” Pinta Arga.
__ADS_1
Arga pun menutup panggilannya, dan menyerahkan Handphone itu kembali ke tangan Nadia.
Arga pun mengeluarkan dompetnya, dan menyerahkan dua lembar uang ratusan ribu kepada Nadia. “Kalian terima kasih yah, sudah membantuku!” Ucap Arga, tulus.
Nadia pun menolak dua lembar uang berwarna merah tersebut, “Tidak usah, Ga…”
“Kenapa?” Tanya Arga, sambil mengerutkan alisnya.
“Kurang banyak.” Jawab Nadia, sambil tertawa renyah.
“Ohh gitu, ini aku tambah.” Jawab Arga, sambil menambah selembar lagi, uang ratusan ribu, totalnya menjadi tiga ratus ribu. “Maaf hanya segini, maklum aku masih pelajar.” Jelas Arga, dengan ekspresi kaku.
Nadia pun mengambil uang tiga ratus ribu itu, dan… “Hahahahhaaaaaa… Bercanda Ga, bercanda… gua tulus kok, bantu Elu!” Jawab Nadia lagi, sambil menyelipkan uang tersebut ke kantong kemeja Arga, guna mengembalikan uang tersebut.
“Terima kasih yah.” Ucap Arga, sambil menundukan setengah badannya, “Aku pergi dulu.” Pamitnya, hendak berlalu dari Nadia dan Reva.
“Tunggu…!” Seru Reva, sambil menahan Bahu Arga dengan telapak tangannya.
₩₩₩₩₩
Gladish pun memilih tempat duduk, dan pilihannya jatuh di meja pojok yang letaknya bersebelahan dengan jendela.
Ia pun memesan segelas Milk Shake Chocolate sebagai teman untuk menemaninya saat menunggu Arga.
Setelah mendapatkan minumannya, Gladish pun merogok tas selempangnya yang berwarna Mustard dan mengambil Handphonenya.
“Kamu dimana?” Ketik Gladish, mengirim pesan di kontak WhatsApp Arga. “Sudah OTW?” Ketiknya lagi.
₩₩₩₩₩
“Tunggu…!” Seru Reva, sambil menahan Bahu Arga dengan telapak tangannya.
Arga pun menghentikan langkahnya dan Ia pun berbalik. “Yah?”
“Arga mungkin ini sudah lama sekali, cuma aku ingin menjelaskan sesuatu…” Ucap Reva, dengan mimik wajah yang canggung.
“Kamu ingin menjelaskan sesuatu, tentang apa?” Tanya Arga, kepada cewek berpostur gendut tersebut.
__ADS_1
“Kamu jangan Ge’er!” Seru Reva.
“Ge’er?” Tanya Arga.
“Iya Ge’er, sebenarnya Gladish dulu nembak kamu bukan karena Ia suka sama kamu, BUKAN.” Sambung Reva lagi, guna menyelamatkan harga diri, sahabat lamanya tersebut, Gladish.
“Bukan?” Tanya Arga lagi, tak mengerti.
“Iya betul sekali, sebenarnya Gladish, Aku dan Reva dulunya taruhan.” Sambung Nadia, ikut ingin menyelamatkan harga diri sahabat lamanya tersebut. “Jadi isi taruhan kami, kalau Gladish bisa nembak Elo, dan Elo terima, kita bakal kasih Gladish uang.”
Hawa dingin malam, lautan pantai Ancol pun serasa berhembus dengan kencangnya di sekitar Arga. “A… Apa!” Pekik Arga kaget, matanya pun membulat dengan sempurna. “Ta, taruhan?!”
“Tapi kan Elu tolak!” Seru Reva lagi. “Jadi jangan Ge’er deh kalau dulunya Gladish naksir kamu!”
Seketika saja tubuh Arga pun bergetar, badannya pun mulai melemah, kaki yang memijak tubuhnya pun seakan ingin oleng dari pijakannya, akan tetapi lelaki Introvert Melankolis itu mencoba untuk tetap bertahan… dan tanpa Ia sadari, kedua matanya pun langsung memerah sempurna.
“Jadi semua ini hanya sandiwara?” Simpul Arga, dengan suara yang berubah menjadi serak. Ia pun memalingkan wajahnya, untuk menutupi matanya yang mulai bekaca-kaca. Berusaha sekuat tenaga agar terlihat seakan tidak terjadi apa-apa terhadap dirinya.
“Iya, jadi tolong lupakan Gladish dengan segala kenangan buruk yang pernah Ia terima karena Elu!” Pinta Nadia, dengan nada memohon.
“Betul itu!” Lanjut Reva, membenarkan.
Air mata Arga pun seketika jatuh di pipi kirinya, “Aku pergi dulu!” Pamit Arga, langsung berlalu tanpa persetujuan mereka. Berlari meninggalkan, Reva dan Nadia.
“Yah dianya kabur!” Pekik Reva.
“Udahlah, yang penting kita sudah mengembalikan harga diri seorang Gladish yang pernah lelaki jahat itu hancurkan.” Jelas Nadia, sambil melemaskan otot-ototnya. “Ah~ Sepertinya Gladish harus berterima kasih kepada kita, karena sudah menyelamatkan harga dirinya yang pernah kita hancurkan, heheheee.” Tawa Nadia, mengingat mereka berdua (Nadia dan Reva) juga turut berperan dalam taruhan tersebut, sambil mengadahkan wajahnya ke arah langit malam yang penuh dengan bintang. “Kira-kira Gladish sekarang, sedang apa yah?”
“Iya, aku kangen dia…” Ucap Reva sambil mengembungkan pipinya yang chubby… dan ikut mengadahkan wajahnya ke arah langit. “Kangen, pengen main bareng Gladish lagi.”
Reva dan Nadia merupakan sahabat terdekat Gladish semasa SMP, semasa Gladish masih tinggal di Jakarta. Saat ini mereka berdua merupakan teman sekelas, di SMA yang sama di salah satu SMA Negeri di Jakarta, dan berdua sedang menghabiskan Weekend mereka di Taman Impian Jaya Ancol, guna menaiki wahana-wahana favorit mereka, sambil mengisi kegabutan mereka pasca jomblo... Hehehe…
₩₩₩₩₩
“TUUUUUUUUUUTTTT… TUUUUUUUUUUTTTT… TUUUUUUUUUUTTTT… Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan…” Suara dari nada telepon yang tak terjawab, menggema dari arah ponsel Gladish.
“Kenapa teleponku nggak diangkat? Gumam Gladish, dalam hati, sambil menghantup-hantupkan kedua kakinya di lantai, dan mengaduk-aduk lemah sedotan gelas milk shakenya, gelisah. “Kenapa pesanku juga tak dibaca?” Lanjutnya, sambil melirik pilu pesan WA di Handphone-nya yang masih bercentang satu. “Dan, kenapa batang hidungnya juga belum tampak?” Lanjutnya lagi, sambil melirik sedih ke arah pintu Cibogy Caffe.
#To Be Continued
__ADS_1