Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 86 : Bapak ku tetaplah Bapak ku


__ADS_3

“Niko kamu tidak apa-apa?” Ucap Maya, sambil berlari menghampiri Niko.


“Tidak, aku tidak apa-apa!” Ucap Niko…


Tanpa membalas perkataanku lagi, langsung saja tubuh Maya memeluk tubuhku dengan erat…


“Ma… Maya?” Gumamku, sangat terkejut menerima pelukan secara tiba-tiba tersebut, dari arah tubuh cantik Maya.


Maya pun melepaskan pelukannya, dan kini…


“Cuuupppp~” Mencium pipi bagian kiriku, dengan lembut. Dan ciuman tiba-tiba Maya, yang Ia daratkan ke arah pipiku, sukses membuat tubuhku yang polos ini menjadi bergetar.


“Terima kasih yah, Niko. Kamu sudah menyelamatkan aku!” Ucap Maya, sambil tersenyum simpul.


Senyumnya manis sekali, pipiku sukses di buat merah merona karenanya.


“Iya, sama-sama May...” Gumamku, sambil memegangi pipi kiriku, yang masih syok karena habis di cium olehnya.


#Niko Pov End


♡♡♡♡


#Gladish POV


“GLADDDIIIIIIIISSSHHHH!!!” Seru mereka, tante-tante yang sedang bergosip tersebut, dengan tampang yang Syok, Syok karena TerCyduk oleh Ku, sedang mengibahi rumah tangga orang tuaku, yang gagal dan sekarang salah satunya mau menikah lagi.


“Ini pesanan kalian tante-tente ku tersayang~” Ucapku sambil tersenyum simpul dan melempar plastik belanjaan yang baru saja ku beli, dari peralatan ATK kepada tante-tanteku tersebut.


“Kalian ini yah, terutama tante Ajeng!” Ucapku sambil mendekat ke arah tante-tante yang sedang ber-GHIBAH tersebut. “Kalau mau ngomongin Bapak Ku, alangkah indahnya kalau langsung di depan orangnya sendiri, jangan bisanya Gibahin di belakangnya!” Marahku, sambil membela Bapakku, yang aslinya Bapakku tersebut sudah sangat, sangaaaaaaaaatt mengecewakanku.


Bapakku tetaplah Bapakku, mau seburuk apapun dia tetaplah Bapak kandungku… karena ada darahnya yang mengalir dalam darahku.


Kalau bukan aku yang membela dirinya, siapa lagi?


Tapi masalahnya, apa dia pantas di bela?


Bahkan dia sudah mencampakkan ibu kandungku sendiri!


Akhirnya, mataku pun sudah mulai berkaca-kaca, aku pun akhirnya keluar dari ruangan tersebut.


Dan…


“BRRRRRRRUUUUKKKKKKK!!!!” Membanting pintu kamarku dengan kencang.


Aku pun menuruni tangga, dan ingin masuk ke kamar Bapakku.


Ku melihat dari arah luar, pintu yang terbuka… Bapakku sedang mencoba Jas hitamnya. Dan sibuk berkaca dari arah kaca kamarnya.

__ADS_1


Pada pantulan kaca, Bapak melihat pantulan diriku yang mengintip dari balik pintu.


“Bagaimana Gladish, Bapak Ganteng kan?” Ucapnya, meminta pendapatku, sambil berusaha untuk memasang dasi berwarna birunya.


Aku pun masuk ke dalam kamar tersebut, dan tanpa bersuara, aku pun membantunya dalam memakai dasi tersebut.


“Uhuk~ Uhuuuuuukkk~ Uhuuuuuukkk~ Ge Ge Ge Gladish, le le leher Bapak mau terrrr~ cekiiikkkk~” Ucap Bapakku setengah mati, dalam mengeluarkan suara.


Dia berusaha melepaskan tanganku yang menarik lehernya kuat-kuat, dengan dasi tersebut.


Yah~ saat ini aku membantu ayahku memasang dasi, akan tetapi dengan tatapan mata yang santai, dan senyuman simpul...


Kini aku menarik lehernya Bapakku dengan kuat, menggunakan dasi biru tersebut, seakan ingin mematahkan lehernya dengan dasi tersebut.


Bapakku pun langsung mendorongku, dan tubuhku pun akhirnya oleng, dan jatuh di kasur ayahku.


“Uhuk~ uhuk~ uhuk~” Suara batuk Bapakku, berusaha untuk bernafas dengan normal kembali. “Gladish kamu kenapa sih?” Tanya Bapakku, sambil menatap tajam ke arahku.


“Aku butuh kepastian~


Kejelasan~ Hubungan kita.


Aku mau~ Semestinya…


Kau dan aku…”


Bunyi suara nada dering Handphone ku, tiba-tiba saja… bergetar dengan kencang.


Aku pun merogoh kantong celana Jeans Ku, dan melihat nama kontak pada layar Handphoneku tersebut… “Arga Calling~”


Aku pun segera mematikan panggilan dari Handphone ku, tersebut. Aku saat ini sedang malas menjawab panggilan itu, panggilan dari anak SANG PELAKOR tersebut.


“Nggak apa-apa... Gladish nggak apa-apa kok, Pak!” Jawabku menanggapi pertanyaan Bapakku tersebut, sambil tersenyum simpul, dan berlalu dari arah kamar Bapakku.


#Gladish POV END


♡♡♡♡


Di belakang Pabrik Teh di Puncak Argowisata Gunung Mas, terdapat Mama Maya, yang sedang melihat ke kanan dan ke kiri, melihat sekeliling di daerah pabrik tersebut.


Sementara Mama Maya, sedang berjaga, dan memantau keadaan.


Ibu Niko, sedang duduk di kursi dengan meja, sibuk menghitung-hitung nominal uang, guna membagi-bagikan beberapa lembaran uang tersebut, secara adil, kepada keenam Preman Gondrong Bertatto, yang barusan saja mereka mengganggu ketenangan Niko dan Maya.


“Gimana, anakku si ganteng Arab, nggak ada terluka sama sekali kan?” Tanya Ibu Niko, sebelum menyerahkan uang tersebut kepada mereka.


“Tidak ada sama sekali tante, malahan kita terkena cidera-cidera ringan karena tubuh kami pasrah di pukul, di tendang, dan di dorong oleh anak tante yang ganteng dan jago silat tersebut.” Ujar, si gondrong yang bergigi tonggos, sambil melihat beberapa luka cidera kecil-kecilan mereka.

__ADS_1


Maklum meski pun tenaga Silat Niko, sangat lembek dan tak terasa bagi tubuh-tubuh kekar mereka.


tetap saja, hasil pukulan-pukulan tersebut, meninggalkan bekas bagi warna kulit mereka.


“Gimana dengan anakku, Si Cantik Mayat ~eh, Maya. Gimana keadaannya, kalian nggak macam-macam kan sama anak gadisku yang cantik itu?” Tanya Mama Maya, tanpa menatap wajah preman-preman tersebut, dia sibuk melihat keadaan kondisi sekitar mereka. Buat jaga-jaga saja, biar tidak Trycduk, oleh Maya dan Niko.


“Tenang Tante, anak tante yang cewek, masih cantik, masih hidup, masih putih, masih perawan.” Ucap Preman Gondrong, yang kulit tubuhnya paling hitam, di antara yang lain.


“Awas kalau kalian bohong, kalian berenam akan ku cebloskan dalam penjara!” Ancam Ibu Niko, sambil menyerahkan beberapa lembaran uang kertas merah, kepada masing-masing preman tersebut, sesuai kesepakatan mereka sebelumnya.


“Wah… jumlahnya banyak sekali Bu, terima kasih uangnya yah Bu, semoga berkah!” Ucap salah satu preman tersebut, sambil menciumi uang kertas yang baru mereka terima dari Ibu Niko tersebut.


“Senang bisa bekerja sama dengan kalian!” Ucap Ibu Niko, sambil tersenyum simpul.


♡♡♡♡


Saat ini Gladish sedang termenung…


Gladish saat ini sedang termenung sendirian di ayunan, taman bermain kecil di kompleks perumahan rumahnya.


“Aku butuh kepastian~


Kejelasan~ Hubungan kita.


Aku mau~ Semestinya…


Kau dan aku…”


Tiba-tiba Handphone Gladish bergetar kembali. Terlihat di layar Handphone-nya, “Arga Calling~”


“Arga menelpon lagi.” Batin Gladish, sambil menerima panggilan Arga tersebut.


“Hallo…” Sapa Arga, dari arah seberang sana.


“Tumben kamu telepon Ga, ada apa?” Tanya Gladish, dengan nada yang dia usahakan, seperti tak terjadi apa-apa pada dirinya.


“Boleh aku buat pengakuan?” Ucap Arga, yang sukses membuat tubuh Gladish membatu sejenak.


“Pe pengakuan apa?” Tanya Gladish dengan nada bergetar.


“Nggak terasa yah… sebentar lagi kita akan menjadi saudara tiri.”


“Iya, nggak terasa.” Ucap Gladish dengan nada yang datar, dia sangat bingung, dia harus marah, ngamuk, sedih, atau bahagia… saat ini.


#To Be Continued


Oh Iya, Author akan hapus editan-editan foto author,, author cuma kreasi aja, belajar buat-buat cover saja...

__ADS_1


author takut saja foto-foto yang author edit kena hak cipta,, terimakasih semuanya telah membaca, semoga terhibur❤❤❤



__ADS_2