
Ketika Arga, berniat untuk pergi, aku pun langsung segera menahan lengan tangannya…
“Hai kau!” Panggil ku ke arahnya, sambil terus memelototkan mataku ke arah wajahnya.
Ayahku yang peka dengan kebucinanku tersebut pun, langsung berdehem… “Ehm, ehmmm… Arga bisakah kamu pergi bareng Gladish saja, ke sekolahnya pagi ini?”
Arga pun tampak berfikir…
“Dasar pembualan! Dia yang ajak, dia yang sok iyes!!!” Pekik ku dalam hati.
“Baik paman!” Ujarnya dengan senyum yang ramah.
₩₩₩₩₩
Ketika Bapakku telah menutup pintu rumahku…
“Hei pembualan!” Seru ku padanya sambil menginjak sepatunya dengan keras.
“AUUUUWWWWW~” Rintihnya, dengan ekspresi menahan sakit, sambil memegangi ujung sepatunya.
Asli ganteng banget~ heran sama orang yang satu ini, sakit saja, kok tetap terlihat ganteng yah?
Akan tetapi dia nggak membalas… dia terus melanjutkan langkah untuk keluar dari pagar rumahku, dan disusul oleh langkah ku dari belakang.
Posisi kami sekarang sudah keluar dari luar pagar rumahku.
Kenapa dia nggak membalas perbuatanku yang barusan menginjak kakinya?
Apakah ini yang dinamakan sosok seorang pria sejati?
Dag dig dug~
Dag dig dug~
Gimana ini aku deg-degan…?
Apa jalan kaki aja yah biar lama?
Kan lumayan, bisa lama-lama bersama di dekat Arga.
Yah meski terlambat datang ke sekolah, dan di hukum guru… yang penting kan kebersamaannya.
“Arga, serius kah kita jalan kaki?” Tanyaku ke padanya.
“Nggak.” Jawabnya singkat.
Tiba-tiba saja ada angkot biru yang melewati rumahku.
“Stop Pir!” Seruku sambil melambaikan tangan ke arah mobil angkot tersebut. Dan angkot biru pun berhenti.
Tapi…
“Tiiiittt Tiiittt…” Arga pun juga menyalakan remote alarm sebuah kunci mobil, yang barusan Ia keluarkan dari arah saku celananya.
Dan lampu mobil merah bermerk Honda Jazz, menyala-nyala, di sebelah kiri samping pagar rumahku.
__ADS_1
“Kita naik mobil?” Tanya ku ke arahnya, sambil menyipitkan mataku. Jujur aku merasa berdosa baru saja memanggil angkot biru yang barusan lewat di rumahku.
Arga pun nggak menjawab. Dia langsung membuka pintu mobil bagian depan, dan masuk ke dalamnya.
“Maaf Pir, saja nggak jadi! Maaf yah Pir!” Ucapku kepada sopir angkot tersebut, sambil menundukkan kepalaku.
“Ye’elaah~ si Eneng mah PHP!” Ucap sopir tersebut dan berlalu dari hadapanku.
Mobil Arga masih belum berjalan, seakan menungguku. Aku pun mempercepat langkahku ke arah mobil merah tersebut, dan membuka pintu mobil bagian belakangnya.
Arga pun membalikkan tubuhnya ke belakang, yakni ke arahku. “Hei, memangnya aku sopir mu?” Tanyanya, dengan nada protes.
“Maksudnya?” Pekik ku nggak mengerti, sambil mengerutkan alisku.
Arga pun mengarahkan pandangannya, ke arah tempat duduk sebelahnya.
Dan aku paham akan maksudnya.
Aku pun segera, membuka pintu mobil Arga bagian depan dan duduk di sebelahnya.
Bener-bener yah! Kalau komunikasi sama Arga itu harus punya insting detektif yang tinggi, karena dia lebih banyak menggunakan kode-kode dari pada suara.
Apa susahnya sih ngomong doank?!”
Emangnya suaranya bakal habis yah, kalau dia cuma ngomong doank!!!
Menyebalkan!!!
Untung ganteng…
₩₩₩₩₩
KRIIIIIIIKKKKKKK
KRIIIIIIIKKKKKKK
KRIIIIIIIKKKKKKK
Entahlah yah, kenapa kalau aku dekat sama Arga, selalu saja ada suara bunyi jangkrik yang berjalan, sangking sunyi nya. Sudah satu Kilo Meter lebih perjalanan, kita di dalam mobil seperti ini, masih dalam keadaan mengheningkan cipta.
Menjadi satu… ngalah-ngalahin suasananya kuburan…
“Tumben pakai mobil, biasanya pakai angkot?” Tanyaku, untuk mencairkan suasana. Bisa-bisa, aku gila kalau diam seperti ini terus. Bisu, nggak! Gila, iya…!!!
“Kak Arya, udah nggak ada.” Jawabnya, seakan-akan Arya sudah tidak ada di dunia ini lagi. Dasar Ade Luchnut!!! (Laknat)
“Lah? Kak Arya kemana?” Tanyaku, ke arahnya.
“Kak Arya udah ke Singapore lagi.” Jawabnya.
“Wah, cepat sekali.” Ucapku, menanggapi jawabannya.
Diam…
Hening…
Mengheningkan cipta mulai…
Dengaaan seluruuuuhhh… STOP! STOP! Jangan nyanyi!!!
Dasar hati… bisa-bisanya nyanyi lagu kebangsaan, di suasana yang seharusnya romantis ini!!!
“Oh iya Arga, Jum’at nanti masa aku di suruh bolos ke sekolah sama Bapak, alasannya Izin, hahhahaaa.” Ucapku, sambil terkekeh, lagi-lagi untuk mencairkan suasana yang dingin. “Oh~ aku tidak bisa!!! Aku tuh biar bodoh-bodoh kayak gini, harus tetap rajin dong datang ke sekolah.” Ucapku, sambil membanggakan diriku yang rajin ini kepadanya, itung-itung bisa jadi nilai plus baginya untuk memilihku, sebagai calonnya di masa depan… aseeekk!
“Aku bolos.” Jawab Arga, singkat.
Dan, lagi-lagi jawaban Arga, sukses membuat mataku memelotot ke arahnya.
“Hei, bukannya kamu si anak rajin yah?” Protes Ku, mengingat Arga yang kemana-mana, selalu membawa buku tebal di tangannya.
__ADS_1
“Aku cuma jenuh, aku butuh liburan.” Gumamnya seakan sekolah kita itu tidak ada masa liburannya, padahal sekolah kita Full Days School (masuk lima hari saja).
“Kalau kamu libur, aku tetap turun.” Ucapku dengan nada yang lemas. Agak nyesel memang, udah membanggakan diri sendiri sebagai anak yang rajin sekolah, di depan Nya..
“Wah sayang sekali, padahal aku mau mengajakmu jalan besok.” Ucapnya, dengan suara yang datar.
“Be Benarkah?” Tanya ku kepadanya, dengan mata yang berbinar.
Akan tetapi dia diam, nggak merespon.
“Baiklah aku akan bolos juga kalau gitu.” Ucapku dengan senyuman simpul, membayangkan kalau besok merupakan hari yang sangat menyenangkan bersama Arga.
“Kita besok mau ke mana?” Tanyaku lagi ke arahnya. “Ke mall? Bioskop? Restoran? Pantai? Kuburan?” Tanyaku bertubi-tubi kepadanya.
Akan tetapi dia nggak menjawab, dia masih memasang ekspresi datar, sambil sibuk mengendalikan stir mobilnya.
₩₩₩₩₩
#Author POV
Niko mencari tempat parkir yang pas buat motor biru metalik nya, karena di tempat parkir sekolah tersebut, rata-rata sudah diisi oleh puluhan motor-motor siswa dan siswi yang lain.
Ketika dia membuka helmnya…
Betapa kagetnya dia melihat penampakan Gladish dan Arga yang keluar dari mobil merah yang sama, secara berbarengan.
“GLEGAAAAAAAAARRRRRR…!!!” Hatinya bagaikan tersambar petir, seketika saja kaki Niko langsung terasa lemas, dia nggak berdaya.
Niko bingung mau ngapain, mau negur, hatinya masih sakit. Apalagi liat senyumnya Gladish memandangi wajahnya Arga, yang terlihat datar.
Di cuaca pagi hari, di kota hujan Bogor, yang langitnya terlihat mendung seperti ini. Sangat mewakili suasana hati Niko yang saat ini juga ikutan mendung…
Niko pun berlari, menuju ke arah lobi sekolah, dan berdoa agar penampakannya di parkiran tadi, tak terlihat oleh Arga dan juga Gladish.
“Aduuuuhhh!!!~” Suara aduh seorang gadis yang tertabrak oleh tubuh Niko yang sedang berlari kencang tersebut. Dan Niko pun langsung menahan tubuh gadis yang ada di depannya tersebut, agar nggak terjatuh.
“Maaf~” Gumam Niko, sambil menundukan kepala.
“Niko, kamu kenapa?” Tanya seseorang yang barusan di tabrak, oleh Niko tersebut.
“Aku nggak apa-apa Sil!” Jawab Niko yang menyadari seseorang yang barusan di tabraknya tersebut merupakan sosok seorang Prisil.
“Kenapa matamu berkaca-kaca?” Tanya Prisil lagi, sambil mengarahkan tangan kanannya, ke arah pipi kiri Niko.
#To Be Continued
.
.
.
.
Hai hai pembaca kesayangan INTROVERT MELANKOLIS💜💜💜😍😍😍
Jangan lupa yah LIKE, KOMEN, SHARE, RATTING 5, VOTE-nya.
Jangan lupa tinggalkan VOTE biar INTROVERT MELANKOLIS yang Badung ini,, masuk ranking kelas🤣🤣🤣
Contohnya seperti di bawah ini 👇👇👇👇
Bye-Bye
__ADS_1
💃💃💃
Makasih cinta-cintaku semuanya, sudah membaca dan mendukung INTROVERT MELANKOLIS selama ini.... Chalanghae 😍😘 assalamuallaikum🙋♀️🙋♀️🙋♀️