
Di ruang BK…
“Jadi kenapa kalian berkelahi di gudang?” Tanya Pak Bagas, sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kantor berodanya.
“Anu Pak, Maya duluan yang mulai.” Adu Gladish sambil melirik Maya yang duduk di sebelahnya.
“Enak saja, kalau Elo nggak nendang Arga, pasti Gua nggak akan lakuin hal itu ke Elu.” Sanggah Maya, sambil melirik Gladish yang duduk di sebelahnya.
“Jadi awal mula perkelahian ini karena cowok?” Duga Pak Bagas sambil mengelus-elus lembut kumisnya.
₩₩₩₩₩
Di Singapore…
Arya menekan password kunci Apartement sewaannya dan membuka pintu Apartemen tersebut. “Cekreeeeeeeekkk~”
“Kamu baru pulang?” Tanya Kevin, teman satu Apartemen Arya.
“Iya.” Jawab Arya singkat.
“Kali ini gadis mana lagi yang kamu tiduri?” Tanya Kevin santai, sepertinya dia sudah tahu tabiat dari teman satu apartemennya tersebut.
Kevin dan Arya adalah teman satu Negara yakni Indonesia, mereka bertemu saat pendaftaran masuk National University of Singapore (NUS) dan kebetulan sama-sama mengambil jurusan Kedokteran. Karena mereka merasa sama-sama dari Negara yang sama, dan sama-sama berasal dari keluarga yang tidak terlalu berada, mereka pun memutuskan untuk menyewa salah satu Apartement kecil bersama-sama, guna menghemat pengeluaran.
Arya pun tersenyum dan mendekatkan tubuhnya ke arah Kevin, dan hal kecil tersebut itu sukses membuat roda di wajah Kevin memerah.
Memerah?
Arya pun membisikan sesuatu pada Kevin, “Rahasia.”
“Aissss~” Desah Kevin, kecewa.
“Sudah yah, Aku mau lanjutin tidur dulu, kemarin malam benar-benar malam yang panjang dan melelahkan… Aaaaagghhh.” Ucap Arya dengan erangan, sambil melemaskan otot-otot lengannya.
“Jadi benar semalam kamu tidur dengan wanita lagi?” Tanya Kevin, memastikan.
Tapi Arya tak menjawab, dia langsung berjalan menuju arah kamarnya, untuk beristirahat.
Sementara itu Kevin hanya memandang sendu punggung Arya dari arah kejauhan, sampai tubuh pria jenjang berotot itu menghilang, menghilang dari balik pintu kamar yang menutup…
₩₩₩₩₩
Sehabis Istirahat, kebetulan Guru Agama, yakni Bu Ajeng sedang cuti melahirkan, jadi anak-anak kelas 2 IPA 6 hanya diberi tugas soal tambahan dari buku cetak.
“Prisil.” Panggil Niko, sambil menghampiri gadis itu.
Spontan saja Prisil kaget dan salah tingkah, dia kembali mengingat kejadian itu, kejadian saat Niko tak sengaja mengecup bibirnya.
“CUUPPPP!!!” Pikir Prisil, akan tetapi dengan cepat Prisil langsung mengeleng-gelengkan kepalanya, menghempaskan pikiran mesum tentang Niko dari arah kepalanya.
“A, Apa?” Pekik Prisil dengan nada gugup, sambil menahan debaran jantungnya yang berdebar dengan kencang.
“Gladish mana?” Tanya Niko.
Seketika saja, wajah salah tingkahnya Prisil berubah menjadi kecut, jelas sekali ada raut kecewa di wajahnya. Mengingat lelaki di depannya ini mendatanginya bukan karena dia, akan tetapi untuk mencari keberadaan gadis yang lain.
“Dia dan Maya di bawa ke ruang BK.” Jawab Prisil, seadanya.
__ADS_1
“Ke ruang BK?!” Pekik Niko, kaget, dengan suara toaknya yang lumayan nyaring.
Mendengar hal itu, langsung saja Bambang ikut mendekat ke arah mereka. “Kenapa Gladish dan Maya di bawah ke ruang BK?”
“Yah karena Arga.” Ucap Prisil sambil, menunjuk ke arah Arga.
Arga yang mendengar hal tersebut, langsung menunjuk heran ke arah dirinya sendiri. “Aku?”
₩₩₩₩₩
“Bapak sudah mengambil keputusan!”
Gladish dan Maya pun sama-sama meneguk air liurnya. “Keputusan apa Pak?” Tanya mereka berdua berberengan.
“Senin depan orang tua kalian harus datang ke sekolah, Bapak mau bicara tentang kelakuan kalian ke mereka!” Jelas Pak Bagas.
(Kenapa harus Senin depan, karena hari ini hari Jumat, dan besok sekolah libur. Karena sekolah Gladish CS merupakan sekolah Full Day School)
“Yak!” Pekik Maya, frustasi.
“Ini nggak adil Pak, Maya duluan yang mulai!” Protes Galdish, tak terima. “Orang tuanya saja yang datang!”
“Enak saja, orang tuamu juga harus datang, pokoknya kamu duluan, kamu duluan yang tendang Arga!” Bela Maya.
Gladish pun mengangkat alisnya ke arah Maya. “Iya, tapi masalahnya Arga itu siapa kamu?”
Maya pun terdiam, mendengar pertanyaan itu dari Galdish, seakan tepat menyusuk jantungnya. “Aku menyukainya.” Gumam Maya lemah.
“Kasihan, cuma bertepuk sebelah tangan.” Cibir Gladish, padahal posisi dirinya juga sama seperti Maya.
“Sudah-sudah kalian, berhenti membuat kehebohan di kantor saya!” Ucap Pak Bagas, berusaha menenangkan suasana.
₩₩₩₩₩
Malamnya…
Handphone Arga bergetar dengan kencang, nada dering pria Introvert itu hanya memakai suara getaran, karena dia lebih suka kesunyian, lebih dari apapun, di lihatnya dari layar Handphonenya bertuliskan nama “Kak Arya, Calling.” Dari kontak WAnya, Ia pun dengan segera mengangkat panggilan itu.
“Hallo Ga!”
“Iya kak?”
“Apa kabar?” Basa-basi Arya, menanyakan kabar adik satu-satunya tersebut.
“Alhamdulillah baik Kak. Kakak gimana kabarnya?”
“Iya, Alhamdulillah baik juga.”
“Ada apa yah kak?” Tanya Arga tanpa basa-basi lagi, dia sudah hafal benar, kakaknya yang satu ini meneleponnya, pasti ada maksud dan tujuan tertentu, bukan hanya mau tahu keadaan adiknya saja.
“Bisakah besok kamu menjemputku di Bandara?”
Arga pun meneguk liurnya, karena Bandara yang di maksud Arya merupakan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, dan jarak Bogor-Jakarta memakan waktu hampir 2 jam perjalanan, Arga pun menggesr tubuhnya, diliriknya tanggalan yang ada di meja kamarnya, dan besok merupakan hari weekend. “Yah, aku akan menjemputmu!”
__ADS_1
₩₩₩₩₩
“Jadi besok kamu akan pulang ke Indonesia.” Tanya Kevin, melhat teman satu kamarnya tersebut sedang asik mengemas-ngemas barangnya ke dalam koper hitamnya.
“Yah, Ibuku akan menikah.”
“Penelitianmu bagaimana, bukannya besok hari pertama kita akan mengadakan penelitian di Rumah Sakit Universitas Nasional, untuk tugas akhir kita?”
“Tidak jadi, aku memutuskan untuk pulang, dan mengambil praktik penelitian Skripsi di Rumah Sakit di Indonesia.”
“What!” Pekik Kevin. “Pasti itu membutuhkan waktu yang lama.”
“Yap, lagipula aku sudah bosan berkencan dengan dengan gadis-gadis di Negara maju ini!” Arya pun membisikan sesuatu ke arah Kevin, dan wajah Kevin pun tiba-tiba berubah menjadi merah kembali, karena jarak wajah Arya begitu dekat dengannya. “Gadis-gadis disini tak ada satupun yang perawan.” Bisik Arya, dengan senyuman simpul.
Yang seketika disambut kecut oleh mimik wajah Kevin. Lagi-lagi cowok Ekstrovert itu nggak berubah, pikirannya selalu nggak jauh-jauh dari kata wanita, dan jauh di dalam lubuk hati Kevin lagi-lagi harus merasakan pedihnya rasa sakit.
Sakit?
Yah… diam-diam teman satu kamarnya yang terkenal pintar tersebut, menyimpan perasaan lain ke Arya, bukan perasaan teman ke teman lelaki pada umumnya, bukan!
Bukan juga perasaan persahabatan.
Akan tetapi perasaan spesial, layaknya kekasih.
Mungkin, kamu mengira ini aneh?
Yah ini memang aneh!
Yah awalnya Kevin juga berfikir demikian, akan tetapi seiring berjalannya waktu, perasaan aneh itulah yang sekarang ini membuat Kevin nyaman…
“Jadi, Apartement ini bagaimana?”
“Tenang aku tetap bayar penuh bagianku, meski aku tidak tinggal disini.” Jawab Arya, tanpa menatap Kevin, masih sibuk melipat dan menyusun lipatan baju ke dalam koper hitamnya.
“Terus aku bagaimana?”
“Maksudmu?” Tanya Arya sambil menyipitkan matanya. “Kamu takut sendirian?”
“Iya.”
“Tenang, aku akan pulang ke sini lagi, kalau penelitianku selesai.” Jawab Arya. Sambil mengelus-elus rambut Kevin, bagi Arya, Kevin sudah Ia anggap sebagai saudara sendiri, menggantikan Arga.
Arya termasuk beruntung bisa satu kamar dengan Kevin, anak yang pendiam, pintar dan tidak terlalu suka keluar rumah, sifat Kevin yang Introvert ini sekali mirip seperti Arga, adik kandungnya
Apalagi Kevin ini termasuk teman yang rajin memasak, bersih-bersih dan suka menghias Apartement… itu merupakan suatu point penting bagi Arya, karena dirinya sangat malas, dan tidak peduli dengan itu semua… yang di pikirannya hanya. “Besok siapa lagi gadis yang akan aku jadikan korban?”
Sementara Kevin merasakan ketenangan tersendiri, saat Arya mengelus-elus rambutnya, menikmati setiap sentuhan-sentuhan tangan Arya saat menyentuh rambutnya.
Dan saat ini, Kevin sedang memutar otak, bagaimana caranya Ia akan mengirim dirinya sendiri untuk mengadakan penelitian di Indonesia juga, dia ingin selalu di dekat Arya.
__ADS_1
#To Be Continued.