
“Berhenti memasang wajah menggemaskan seperti itu!” Teriak Niko tiba-tiba, ke arah Gladish. Yang langsung saja membuat ke lima orang sahabat, disekitar mereka, langsung mengarahkan wajah mereka ke arah Niko.
“Maksudnya?” Teriak Gladish, sambil memicingkan matanya ke arah Niko.
“Berhenti menggodaku seperti itu, dasar tunangannya orang!!!” Teriak Niko ke arah Gladish, sontak saja, kelima sahabat yang ada di sana, mengarahkan lagi wajah mereka ke arah Niko, kali ini dengan ekspresi mulut yang terbuka lebar.
“Tunangan orang?” Tanya Gladish lagi.
Niko pun langsung melirik Arga.
Mata Gladish pun langsung mengikuti arah mata Niko berada.
“Arga?” Tebak Gladish, ragu.
Disertai dengan anggukan Niko.
Arga pun langsung berdiri dari kursi kantin yang dari tadi di duduki-nya.
“Yak! Kan sudah ku jelaskan, aku sama Arga…”
“Aku duluan yah, aku mau mengembalikan buku di Perpus dulu.” Ucap Arga, memotong kata-kata Gladish.
“Hei Arga, Bakso Lo, belum habis!” Teriak Rafi.
Tanpa mempedulikan teriakan Rafi. Arga pun berlalu dari mereka.
“Kata Arga kemarin, kalian itu beneran tunangan.” Sambung Rafi, ke arah Gladish.
“Hei, aku dan Arga hanya akan menjadi Saudara Tiri, nggak lebih!” Jelas Gladish apa adanya. Tanpa berfikir, kenapa seorang Arga bisa berkata seperti itu.
Prisil yang mendengar hal tersebut, langsung meneguk air liurnya. Mengingat kebohongan Arga merupakan bagian dari rencananya.
Niko teringat kembali ketika Arga mengatakan…
……………………
………………
“Sebenarnya kata-kata Bundaku semalam merupakan kebenaran.” Ucap Arga, sambil menundukkan kepalanya.
“Maksudnya?” Tanya Bambang, Rafi dan Niko berbarengan, tak mengerti apa yang baru saja di ucapkan oleh Arga.
“Aku dan Gladish selama ini sudah ditunangkan.” Ucap Arga, masih sambil menundukkan kepala.
………………
………………………
“Pantesan perasaanku biasa saja, ternyata saat itu Arga kebanyakan menunduk.” Batin Niko dalam hati.
“Wah… pasti seru banget yah punya saudara tiri sekeren Arga!” Seru Becca, sambil menaruh kedua tangannya di pipinya.
“Seru apanya? Paling Gladish sama Arga hanya diem-diem'an di rumah. Arga loh tabiatnya seperti orang Bisu.” Ucap Rafi, dengan nada kesal. Entahlah~ dia kesal saja, karena Becca barusan bilang kalau Arga itu keren.
“Alhmdulillah, kalau kalian kelak cuma menjadi saudara tiri saja, perasaan Gua lega.” Ucap Niko lega, sambil mengelus dadanya.
Mendengar ucapan Niko, Prisil pun langsung mencibirkan bibirnya. “Dalam Islam, saudara tiri boleh menikah kan Gladish?” Tanya Prisil, ke arah Gladish dengan nada polos.
__ADS_1
Niko yang baru saja memasang tampang lega, langsung saja memelototkan matanya mendengar pertanyaan Prisil tersebut.
“Tentu saja, aku sudah Browsing tentang hal ini di internet. Hehehehe~” Jawab Gladish sambil terkekeh.
“Kalau gitu aku doain ya Dhis, semoga… AAAAGGGGHHHH~”
Belum saja Prisil selesai berbicara, Niko sudah menginjak kaki kanan Prisil yang ada di hadapannya.
“Sorry, Gua nggak sengaja.” Ucap Niko ke arah Prisil, dengan nada tak kalah polos juga.
₩₩₩₩₩
“Maya, kamu mau nggak jadi pacar aku?” Tanya seorang Pria, dari balik rak buku Perpustakaan.
Maya pun menatap Pria tersebut, secara intens, dari arah atas, ke arah bawah.
Yah~ saat ini Maya sedang ada di perpustakaan, seperti biasa, doi lebih senang menghabiskan waktu istirahatnya di perpus dari pada harus berkerumun di kantin sekolah yang padat pengunjung.
Ketika Ia sedang mengambil sebuah buku, di rak buku perpus. Tiba-tiba saja ada seorang pria yang menyatakan cinta kepadanya.
Maya kebingungan saat itu, karena pria itu bukan tipe idealnya.
Ketika itu, Ia melirik sosok seorang Arga, yang baru saja masuk dari balik pintu perpus.
Maya pun tersenyum…
“Aku sudah punya pacar.” Gumam Maya, sambil menatap sosok Arga, yang berjalan mencari buku, yang pas sesuai hatinya, di perpus tersebut.
“Pacar?” Tanya pria tersebut sambil mengerutkan alisnya.
Maya pun berlari ke arah Arga.
“Ini pacar aku!” Seru Maya sambil menggandeng tangan Arga.
Pria yang baru saja menembak Maya pun merasa minder, melihat sosok yang Ia kira pacar Maya tersebut, visualnya sangat jauh dari dirinya.
“Maaf…” Ucap Pria tersebut, sambil menahan kekecewaan di dadanya.
₩₩₩₩₩
“Maya, kenapa sih kamu berbohong seperti itu?” Tanya Arga, sambil melepaskan gandengan tangan Maya dari tangannya.
“Habis aku nggak suka sama dia!” Jawab Maya, lantang.
Arga pun hanya terdiam menanggapi jawaban Maya. Dan melanjutkan aktifitas pencarian bukunya.
Ketika Arga mendapatkan buku yang Ia mau, Arga pun mengambil buku tersebut dengan tangannya, tangan Maya pun ikutan memegang tangan Arga yang sedang mengambil buku berukuran tebal tersebut.
“Kamu mau baca buku ini juga?” Tanya Arga, ke arah Maya, sambil memicingkan matanya.
“Aku maunya kamu Arga.” Ucap Maya, masih memegang tangan Arga.
“Maya… wanita itu kodratnya dicinta, bukan mencintai.” Jelas Arga, dengan nada yang santai, akan tetapi sukses membuat tubuh Maya melemah.
Dari kalimat yang barusan di ucapkan oleh Arga tersebut, tampak jelas, kalau wanita yang di cintai oleh Arga tersebut, bukanlah dirinya.
Maya pun mengendurkan tangannya, sehingga Arga bisa melepaskan tangan Maya yang menempel di tangannya.
Dan Arga pun langsung duduk, di bangku terdekat disana.
Maya pun berdiri di depan meja Arga, dan memegangi meja tempat Arga duduk, dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“Kalau begitu… aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku, Arga!” Ucap Maya sambil menatap mata Arga dalam-dalam. “Ingat itu baik-baik!” Ancam Maya, sambil pergi berlalu, meninggalkan Arga.
₩₩₩₩₩
Tidak begitu sulit bagi Arya untuk mendapatkan tanda tangan dari dosen-dosen pembimbingnya, karena dosen tempatnya berkuliah selalu stand by di kampus.
Siang itu…
Karena kecape’an, Arya pun kini sedang beristirahat dan tertidur di kamar Apartement-nya yang bernuansa abu-abu tersebut…
Dan Kevin pun sibuk…
Sibuk menatap wajah Arya dalam-dalam.
Kevin begitu takjub dengan wajah Arya yang begitu putih, bersih, mulus dan menawan. Tentunya dengan aksen wajah tirusnya, yang semakin membuat Kevin terpana.
“Wajahmu bening banget ya, Ya.” Kagum Kevin, melihat pemandangan indah di depannya, bagaikan magnet, perlahan Kevin pun mendaratkan telapak tangannya ke arah pipi Arya dengan penuh kehati-hatian, takut si pemilik pipi terbangun dari tak sadar-nya, “Hidungmu mancung banget,” Gumamnya, tanpa sadar, tangan Kevin mulai meraba hidung Arya, yang terlihat mancung nan indah…
Matanya lalu tertuju pada alis Arya yang lumayan lebat, bagaikan semut beriringan, bulu matanya yang lentik-cantik sekali.
Kevin pun hanya tersenyum simpul melihat keindahan itu… akan tetapi kini matanya tertuju di bibir Arya yang terlihat tebal dan tipis. Ingin sekali Ia merasakan keindahan tersebut, merasakan kelembutan bibir tersebut.
Perlahan-lahan Ia dekatkan wajahnya ke arah wajah Arya…
Semakin dekat…
Dag dig dug… (Suara Soundtrack dentuman jantung Kevin saat ini)
Semakin dekat…
Dag dig dug…
Semakin dekat…
Dag dig dug…
“Sedikit lagi…” Girang Kevin dalam hati. Ketika menyadari hidung mereka kini bersentuhan.
Dan….
#To Be Continued
.
.
.
.
Hai hai pembaca kesayangan INTROVERT MELANKOLIS💜💜💜😍😍😍
Jangan lupa yah LIKE, KOMEN, SHARE, RATTING 5, VOTE-nya.
Jangan lupa tinggalkan VOTE biar INTROVERT MEKANKOLIS Biar Author Nya tetap semangat dan Nggak Pensiun Dini 🤣🤣🤣
Contohnya seperti di bawah ini 👇👇👇👇
Bye-Bye 💃💃💃
__ADS_1
Makasih yah semuanya, sudah membaca dan mendukung INTROVERT MELANKOLIS selama ini.... Chalanghae 😍😘 assalamuallaikum🙋♀️🙋♀️🙋♀️