Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 85 : Gosip


__ADS_3

“Karena tempat ini adalah tempat untuk pertama kalinya kita pergi berkencan… bisakah tempat ini, juga menjadi tempat untuk terakhir kalinya… untuk mengakhiri hubungan kita, Ratih?” Tanya Damar dengan suara terisak, dan dia pun mengambil beberapa Tisu restoran tersebut, untuk menghapus air matanya.


“A Apaa???” Pekik Ratih, Syok, dengan apa kalimat yang baru saja dia dengarkan dari mulut, kekasihnya Damar tersebut.


“Maafkan aku Ratih…” Ucap Damar, malu dengan isakan tangisnya, dan Damar pun akhirnya berlalu, pergi dari hadapan Ratih.


Meninggalkan Ratih seorang diri… di Restoran tersebut.


#Gladish POV


Saat ini rumahku penuh dengan para keluarga, dari sanak saudara Bapak ku yang berdatangan dari arah luar kota, yakni Jakarta.


Aku senang sekali, biasanya rumahku yang selalu terlihat sepi, menjadi lebih ramai dengan kedatangan mereka semua. Mereka semua keluarga-keluargaku, yang SANGAAAATT ku cintai…


Saat ini aku habis dari berbelanja di toko peralatan ATK (Alat Tulis Kantor) yang jaraknya tak terlalu jauh dari arah rumahku.


Aku membeli beberapa peralatan untuk membungkus hantaran ayahku, seperti plastik bening, hiasan bunga dan pita, beberapa gunting, lem, selotip dan lain-lain.


Setelah sampai rumah, aku pun beranjak menuju ke arah loteng rumahku, guna memasuki ruangan kamarku, dimana para tante, kakak, adik dan juga ipar dari Bapakku. Sedang sibuk menata hantaran seserahan Bapak ku, untuk di serahkan kepada keluarga besar Tante Lia.


Ketika aku hendak membuka pintu kamarku, tiba-tiba saja…


“Apa?! Selama ini Hendra cerai istrinya, demi CLBK (Cinta Lama Belum Kelar) lagi sama Si Lia, mantan pacarnya?”


Seketika saja mataku membulat mendengar suara dari Tante Ajeng tersebut. Langkahku pun tertahan saat hendak masuk ke kamar tersebut.


“Iya… jadi Kak, Mama-nya Gladish seminggu yang datang ke rumah saya, untuk menceritakan masalah ini!”


“Mama?!” Pekik ku lagi dengan mata yang berkaca-kaca.


“Mereka tenyata ketemu lagi pas acara reonian sekolah, tiga tahun yang lalu.” Jelas Tante Ajeng, panjang kali lebar.


Entahlah, saat ini aku bingung mau ada di posisi yang mana… marah, kecewa, atau sedih?


Semua tercampur aduk, menjadi satu…


Marah?


Karena menurut Ku, Bapak saat ini adalah seorang PENGHIANAT!


Dimana seorang Hendra Adji Bramantyo, tega mencampakkan istrinya sendiri, menghancurkan keluarganya sendiri, demi berselingkuh dengan cinta pertamanya sendiri.


“Kecewa?

__ADS_1


Iya lah kecewa, Bapak yang sikapnya aneh bin ajaib, akan tetapi selalu Aku hormati, Tante Lia yang anggun, penyayang dan penyabar, yang selalu Aku hormati. Tapi nyatanya…


Wajah mereka terlihat baik, tanpa dosa… tapi nyatanya… Munafik!!!


Sedih?


Bagaimana tidak? Tahu Bapak dan Ibuku bercerai, tentu saja melukai mental Aku secara Psycologis…


Saat itu Aku menjadi anak yang Broken Home…


Apalagi Arga saat itu juga menolak cintaku, tambah terpuruk lah kejiwaan ku, saat itu.


Aku bahkan sering di olok-olok sama teman-temanku karena orang tua Ku, bercerai. Bahkan, Aku pun melakukan kekerasan kepada teman-teman di kelasku, tentu saja sama teman-teman yang mengoloki ku saja. Sebagai bentuk kekecewaan diriku, akan kenyataan pahit yang saat itu sedang menimpa diriku saat itu.


Untung saja ada guru yang melihatnya, Aku yang memelintir tangan seorang anak laki-laki dengan kuat dan hampir mematahkan tulang tangannya.


Kalau saja… Guru itu terlambat sedikit saja, menyelamatkan anak itu… sudah pasti, bisa patah, tulang tangan anak itu di tangan Ku.


Saat itu, ketika masa SMP, Aku sempat di bawa ke Psikolog, guna di tenangkan pikiranku. Bahkan… Aku pun langsung di hipnotis, pada ingatan buruk ku, tentang keluargaku.


Makanya perasaanku sekarang biasa saja, nggak pernah lagi menyinggung masa laluku, bahkan nggak pernah satu kali pun, aku mengungkit-ngungkit tentang keberadaan Ibuku lagi.


Tapi saat ini… mendengarkan Tante Ajeng bercerita, membuatku terpaksa harus mengingat masa lalu Ku, yang kelam tersebut lagi, tentang ayah dan ibuku yang harus berpisah.


“Saat itu, Hendra mulai buat masalah sama Rossa (Mama-nya Gladish)… dan entah mengapa Si Pelakor itu juga membuat masalah sama suaminya, sehingga mereka cerai juga, deh.” Sambung Tante Ajeng lagi, yang memang hobinya sering sekali mengibah.


“GLADDDIIIIIIIISSSHHHH!!!” Seru mereka, tante-tante yang sedang bergosip tersebut, dengan tampang yang Syok, Syok karena TerCyduk oleh Ku, sedang mengibahi rumah tangga orang tuaku, yang gagal dan sekarang salah satunya mau menikah lagi.


#Gladish POV End


♡♡♡♡


#Niko POV


“Niko, kita harus bagaimana?” Ucap Maya, dengan tubuh yang bergetar. Sambil berdiri di belakangku, saat ini aku sedang sok-sokan berdiri membelakangi tubuh Maya, dengan tubuhku. Biasa, sok-sokan, Sok Gantle.


“Tenang May, aku akan melindungi mu!” Ucapku lagi, dengan nada tegas dan berani. Sok Gentle lagi~


Hajar mereka semua!” Seru ketua Geng, Preman gondrong bertatto, yang paling Gendut.


“HIIAAAAAATTT~” Teriakku, sambil berusaha mengingat-ingat jurus-jurus dasar silat apa, yang pernah aku pelajarin!!


Pusing juga ternyata, nggak ada satu jurus pun yang aku ingat…

__ADS_1


Yang aku ingat saat latihan adalah… suara Gladish yang berteriak keras, wajah Gladish yang memukul, wajah Gladish yang menendang… wajah Gladish yang dengan keringat-keringat kecil di pipinya, wajah Gladish yang sedang tersenyum ke arahku (Saat aku, melakukan kesalahan dalam latihan), wajah Gladish yang tertawa ke arahku (Saat aku di tegur oleh pelatih, karena sering tidak konsen dalam latihan.


Dan…


“Buk~” Sebuah pukulan dari tanganku dengan tenaga yang ala kadarnya, mendarat tepat di pipi salah satu si Gondrong, yang giginya paling tonggos…


Dan…


“Wuuusss…” Tanpa terduga, si Gondrong itu terjatuh ke tanah.


“Wah Niko, kamu hebat!!!” Teriak Maya ke arahku, sambil mengarahkan dua pasang jempol tangannya, ke arahku.


Aku pun mulai percaya diri… lagi-lagi, aku memukul, menendang, dan mendorong, preman-preman bertubuh besar tersebut…


Wah kayaknya kekuatanku saat ini bakal bisa mengalahkan Gladish deh, buktinya saja, para preman berbadan besar tersebut bisa ku kalahkan dengan kekuatanku yang ala kadarnya ini!


Atau… mereka saja yang terlalu lemah yah?


Dan Maya sendiri menonton pertunjukan itu, sambil melompat-lompatkan tubuhnya, kegirangan dan meneriak-teriakkan namaku… “Niko, Niko, Niko!!!” Teriak Maya.


Wah gini kali yah, rasanya punya seorang Fans?!


Satu persatu, penjahat-penjahat itu, dengan mudahnya tumbang di tanganku. Tanpa perlawanan balik tentunya.


“Dasar, ternyata kalian tuh hanya besar di badan saja! Kekuatan mah, Hello Kitty!!!” Timpal Ku, ke arah mereka.


Mereka berenam pun memasang ekspresi ketakutan.


“Ampun, Ampun…” Ucap mereka berbarengan, kepadaku.


“Masih mau???!!” Tawar ku lagi sambil memamerkan tanganku yang besarnya, biasa saja, tanpa otot.


Mereka berenam pun langsung memasang ekspresi ketakutan, dan berlari terbirit-birit dari arah kami.


“Niko kamu tidak apa-apa?” Ucap Maya, sambil berlari menghampiriku.


“Tidak, aku tidak apa-apa!” Ucapku…


Tanpa membalas perkataanku lagi, langsung saja tubuh Maya memeluk tubuhku dengan erat.



PRISIL : Niko apa yang kamu lakukan padaku tuh jahaaaaatt!!!

__ADS_1


#To Be Continued



__ADS_2