
Di sebuah kamar yang bernuansa ungu, dengan hiasan kupu-kupu di setiap dindingnya, tepatnya di kamar Maya, Maya sedang sibuk dengan Laptop Silvernya, Ia sibuk mencari tahu tentang Arga si anak baru, di Website sekolah, yang kebetulan Ia sebagai Ketua OSIS, memiliki Password Website SMA Tunas Bangsa tersebut.
Ia mencatat hal-hal penting tentang Arga, mulai dari nama lengkap, golongan darah, tanggal lahir… dan…
“Wah, Besok Lusa Arga ulang tahun!” Seru gadis bermata sipit tersebut, dengan sorot mata yang berbinar.
₩₩₩₩₩
Sementara itu di kamar sebelah, tepatnya kamar yang bersebelahan dengan kamar Maya…
“Pah…” Panggil Mama Maya, sambil membantu Papa Maya melepaskan Jas Kantornya, kebetulan Papa Maya baru selesai bekerja dan baru saja sampai ke rumah.
“Haiya, ada apa Mamahku sayang?” Tanya pria bermata sipit tersebut, dengan logat chinanya yang masih kental.
“Mama baru punya teman baru Pah…”
“Siapa Mah?”
“Bu Siska (Ibu Niko) tetangga sebelah Pak.” Jelas Mama Maya sambil menaruh jas kerja suaminya tersebut ke tempat khusus baju kotor, yang berada tepat di samping pintu toilet kamar mereka.
“Haiya, alhmdulillah mama sekaLang udah nggak kesepian lagi di Lumah!” Sehut Papa Maya, yang kebetulan kesulitan mengucapkan huruf R. Mengingat Ia (bekerja) dan kedua anaknya (sekolah) tidak berada di rumah pada waktu pagi dan siang.
“Eh Pah, nggak nyangka meski rumahnya terlihat sederhana, ternyata Bu Siska itu kerjaan suaminya enak banget, suaminya kerja di perusahaan perminyakan di Arab Saudi…” Jelas Mama Maya.
“Waw…!” Seru Papa Maya yang takjub.
“Dan hebatnya lagi, Dia punya Bisnis Kuliner yang memiliki beberapa cabang di Indonesia…Pah!”
“Waw…!”
“Dia juga punya Bisnis Fashion yang besar di Bogor…”
“Waw…!”
“Punya anak laki-laki seumuran Maya.”
“Waw…!” Papa Maya pun langsung berfikir, dan segera Mengerutkan dahinya. “Eeeehhh?” Pekiknya, bingung. “Haiya, Mamah ini ada-ada saja! Apa hubungannya kesuksesan oLang sebelah dengan anak laki-laki seumuLan Maya? Hah!”
“Yah maksudnya, kita bisa kecipratan lah Pah!”
__ADS_1
“Maksud Mamah?” Tanya Papa Maya, masih tak mengerti.
“Kalau kita bisa jodohkan Maya dengan anaknya Bu Siska… otomatis kita bisa ikut kecipratan KAYA-nya lah Pah!”
“Wah isLiku ini udah cantik wajahnya....” Puji Papa Maya, sambil menarik tubuh Istrinya ke dalam pangkuannya. “…Otaknya PintaL pula.” Sambungnya lagi, sambil memeluk tubuh istrinya dari arah belakang dengan kuat.
₩₩₩₩₩
Saat ini Arya dan Arga sedang berada di kamar bernuansa Biru Tua, yakni kamar Arya…
Arya dan Arga saat ini sedang sibuk dengan Laptop mereka masing-masing…
Arya yang sibuk dengan Proposalnya yang belum selesai, kebetulan Doi mengerjakan Proposal tersebut dalam Bahasa Inggris.
Sedangkan Arga, sibuk membantu Arya dengan cara mengedit-edit Video Arya, untuk Pria Ekstrovert tersebut masukan ke dalam konten Vloger-nya.
Arga yang duduk di atas kursi belajar, sambil menaruh Laptop merahnya di atas meja belajar tersebut.
Sedangkan Arya yang duduk lesehan di lantai dengan Meja Mini yang menopang Laptop hitamnya.
“Selesai~” Erang Arga sambil melemaskan otot-ototnya, Ia pun langsung melirik ke belakang, ke arah Laptop Arya, yang belum selesai mengerjakan Proposalnya.
“Wah… Rumah sakit kecil di Bogor?” Gumam Arga sambil mengerutkan alisnya, membaca sedikit Proposal Arya, dengan kemampuan Bahasa Inggrisnya yang hampir sempurna, Ia hampir tak percaya bahwa Kakaknya yang memiliki selera tinggi tersebut, mau untuk mengabdikan penelitian tugas akhirnya di Rumah Sakit kecil.
“Iya, penelitianku cukup di Rumah Sakit kecil saja, baik kan Aku?” Jawab Arya seadanya, tanpa menatap Arga, matanya masih sibuk memandang layar Laptopnya, dan kedua tangannya tersebut masih sibuk mengetik proposal berbahasa Inggris tersebut dengan Ritme yang cepat.
Apalagi tema yang diangkatnya tentang Kanker Serviks, yang merupakan kanker yang menyerang leher Rahim, yang notabennya di derita oleh kaum wanita.
Arga sangat tahu, kalau kakaknya yang Fashionable tersebut sangat mencintai uang, dan Ia tahu betul kakaknya yang sangat mencintai uang tersebut, sengaja bercita-cita menjadi dokter spesialis Ahli Bedah, agar dapat menghasilkan uang yang sangat banyak. Melebihi gaji Dokter Spesialis lainnya.
“Hahahahaaa… kamu tahu kan setiap orang suka berubah-ubah pikiran sesuai perjalanan usianya.” Jawab Arya seadanya, untuk menjawab pertanyaan adik pendiam satu-satunya tersebut, yang Ia rasa malam ini benar-benar terlalu kepo dengan urusannya.
₩₩₩₩₩
Di Gedung Dorm…
“Latihan kita selesai!” Ucap Suhu mengakhiri Pembelajaran latihan silatnya, malam ini. “Sebelum kita mengakhiri latihan malam ini, mari kita berdoa menurut agama dan kepercayaan kita masing-masing, berdoa mulai…!” Perintah Suhu, memimpin doa, sambil menundukan kepalanya.
Yang diikuti oleh peserta latihan silat yang lain, yang ikut menundukan kepala mereka. Termasuk Gladish dan Niko. Niko yang saat ini menjadi anggota terbaru olahraga Bela Diri tersebut, dan saat ini Ia memakai sabuk berwarna putih, yang pertanda sebagai pemula di dalam kegiatan bela diri tersebut.
“Berdoa selesai!”
…………………………………………………….…………………………………………………….
“Kita setiap hari harus pulang jam segini yah Dhis?” Tanya Niko, yang melirik Jam Tangan bermerk miliknya, yang menunjukan pukul 11.30 WIB atau jam setengah 12 malam. Saat ini Niko sedang mengikuti langkah Gladish yang hendak keluar dari Dorm tersebut.
“Tergantung, biasanya kalau mau ada turnamen, latihannya bisa sampai jam 1 atau 2 malam.” Jelas Gladish, sambil sesekali melirik kearah Niko, yang saat ini sedang berusaha mensejajarkan langkahnya dengan gadis tomboy tersebut.
__ADS_1
“Ka… Kamu biasanya pulang sama siapa?” Tanya Niko, dengan wajah yang tiba-tiba saja memerah dan nada yang sedikit gugup. Niatnya sih ingin menawarkan tebengan motor untuk Gladish, apalagi malam sudah hampir larut seperti ini.
Sebenarnya sudah lama Niko ingin memberikan tumpangan untuk Gladish, selama di sekolah, cuma dia terlalu malu, terlalu gengsi… apalagi dia di kenal satu sekolahan selalu berkelahi dengan Gladish, nggak lucu dong kalau tiba-tiba saja teman-teman satu sekolah melihat mereka akur. Apa kata dunia?
“Sama abang-abang…” Jawab Gladish seadanya.
“WHAAAATTTT?! ABANG-ABANG SIAPA? PACAR LOE?!” Teriak Niko histeris, dengan wajah yang merah padam.
Gladish pun memutar bola matanya, melihat reaksi Niko yang berlebihan. “Abang Ojek Online.” Lirih Gladish, akhirnya.
Niko pun menghirup nafas dalam-dalam, dan mengeluarkannya. “Huuuuffffttt!” Lega banget perasaannya saat ini.
Gladish pun langsung menggeledah tas selempangnya, dan membuka Aplikasi Ojek Onlinenya.
Niko pun melirik layar Handphone Gladish, dan… “TUNGGU!.” Teriaknya, sambil menghentikan kegiatan tangan Gladish, dengan tangan kanannya.
“Apaan sih!” Pekik Gladish, sambil mengeser tangan Niko dari Handphonenya.
“Loe ikut Gua aja!”
“Maksudnya?!”
“Loe nebeng gua aja!”
Gladish pun melirik datar, ke arah Cowok Arab yang saat ini sedang berdiri di sebelahnya… “Ogah!” Tolak Gladish, dengan suara yang tegas dan singkat.
“Yak!” Protes Niko. “Kenapa?”
“Siapa yang mau di bonceng sama cowok yang ngendarain motor macam orang kesetanan, kayak Loe!” Protes Gladish sambil menunjuk-nunjuk tangan kanannya ke arah Niko.
Gladish belum bisa melupakan kejadian barusan, tentang Niko yang membawa motor biru metaliknya selaju itu dan hampir saja motor berukuran besar tersebut menabrak dirinya.
“Kan Gua bisa Bonceng Loe, pelan-pelan?!”
“Ogah!”
Tangan kanan Niko pun menggenggam kuat tangan kiri Gladish, dan menariknya, agar gadis yang sedari tadi Ia ikuti langkahnya tersebut, juga mengikuti langkahnya…
“Yak!” Protes Gladish, sontak saja tangan kanan Gladish memukuli pundak Niko dari arah belakang…
Tapi Niko nggak peduli, Ia nggak peduli betapa sakitnya pukulan-pukulan Gladish di arah pundaknya tersebut…
Ia nggak peduli beberapa pasang mata yang kini sedang memerhatikan mereka,
Ia nggak peduli beberapa mulut sedang berbisik ke arah mereka,
Ia kini masih setia menggenggam tangan Gladish dengan sangat erat...
__ADS_1
#To Be Continued