Introvert Melankolis

Introvert Melankolis
Chapter 77 : Berkencan dengan Gadis Mesum


__ADS_3

Di mobil…


“Kita ke pantai saja!” Seru Gladish, kepada Arga. Gladish sengaja memilih pantai, karena jam segini suasana pantai, pasti sepi… dan kebetulan tempat kencan pilihan Gladish tadi ialah “Tempat sepi buat mesum?”


Dan, semboyan Gladish kali ini Ialah:


Pantai sepi, mesum pun jadi!


Gladish pun mulai tersenyum evil, membayangkan hal-hal mesum apa yang akan di lakukan Gladish kepada Arga.


“Nggak mau!” Seru Arga, akhirnya. Dia bisa membayangkan, pada jam kerja seperti ini, suasana di pantai pasti akan sepi, dan dia takut akan hal itu!


Dia takut, Gladish akan melakukan tindakan macam-macam kepadanya.


Dan, dia nggak mau hal seperti itu, terjadi…


Memang dia cowok apaan?!


“Aku ingin ke Bioskop saja!” Jawab Arga, kebetulan ada sebuah film baru, yang ingin sekali dia tonton, yang baru saja tayang di Bioskop.


“Baiklah! Nanti kita akan mesum di Bioskop!” Timpal Gladish lagi.


“A Apa???” Pekik Arga kaget, sambil membelalakkan matanya lebar-lebar, kepada gadis yang kini duduk di sebelahnya tersebut.


Ia nggak menyangka, gadis tomboy yang saat ini sedang duduk di sebelahnya tersebut, isi pikirannya tentang hal mesum melulu.


Menurut Arga, hal ini sungguh berbanding terbalik, dengan kodrat jenis kelamin yang ada di muka bumi ini.


Seharusnya kaum laki-laki lah yang selalu terkesan mesum, bukan kaum perempuan!!


Agh~ Dasar Si Gladish, si cewek jadi-jadian!!!


 


Tiba-tiba saja, mata Arga di kaget kan oleh sebuah motor metalik Biru, yang sedang menikung mobil merahnya dengan tajam, dan melaju menuju belokan ke arah pantai, yang menjadi tujuan Gladish saat ini… yakni pantai sepi.


 


“Motor itu… seperti motor Niko, tapi siapa seorang gadis, yang sedang di bonceng nya?” Batin Arga. “Setahuku, Niko Jomblo… apa mungkin salah orang… Iya, sepertinya hanya salah orang, ini kan masih jam pelajaran sekolah, mana mungkin dia…” Batin Arga kembali, sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri.


Akan tetapi, tiba-tiba saja, Arga pun langsung kembali membulatkan matanya lebar-lebar. “Tunggu! Bukankah tadi kedua remaja tersebut memakai Setelan putih abu-abu?” Batinnya kembali, menduga kalau orang yang ada di atas motor metalik biru tersebut, memang benar merupakan seorang Niko.


“Hei yang tadi itu Prisil kan?” Ucap Galdish tiba-tiba, karena Prisil merupakan sahabat terdekat Gladish, jadi dia hafal sekali, seperti apa, bentuk tubuh teman sebangkunya tersebut. “Dan… orang yang memboncengnya itu pasti Niko, lihat aja motor biru metalik berwarna norak itu, dan cara ngendarai motor tersebut, sudah kayak orang kesetanan saja!”

__ADS_1


“Tapi kan ini masih jam pelajaran?” Tanya Arga, kepada Gladish.


“Yah, mereka bolos lah!” Seru Gladish, menjawab pertanyaan Arga. “Ayo kita ikuti mereka!” Ajak Gladish kepada Arga.


“Buat apa?” Ucap Arga, sambil sibuk mengendalikan stir mobilnya.


“Yah~ memastikan aja, mereka itu jadian atau nggak!” Jelas Gladish. “Siapa tau aja mereka membolos sekolah, untuk kencan!"


Akan tetapi, Arga nggak mempedulikan perkataan Gladish, Ia terus sibuk mengendarai lurus kendaraannya, tidak berbelok ke arah Kiri, mengikuti arah motor biru metalik, yang barusan berbelok ke arah Kiri jalan, tersebut.


“Argaaaaa!!!” Teriak Gladish, dengan nada yang kecewa. “Kenapa kamu lurus? Kenapa nggak belok saja sih?!” Tanya Gladish, dengan mimik wajah yang terlihat kesal. “Aku yakin pasti mereka juga mau pergi ke pantai, seperti arah tujuan kita yang tadi!”


“Gila Loe Dhis, kita loh lagi izin sekolah, karena acara pesta pertunangan orang tua kita!” Jawab Arga, menanggapi pertanyaan Gladish barusan, kepadanya. “Kamu mau, kita di tuduh membolos sekolah, Kalau ketahuan mereka kita juga ada disana?” Alasan Arga dengan argument-argument yang masuk akal.


“Nggak…” Jawab Gladish dengan nada lemah, sambil menggelengkan kepalanya. “Bener juga sih kata kamu. Maaf yah Ga, hampir saja aku menel*njangi diri kita sendiri, demi mengikuti mereka.”


 


Arga diam saja, padahal kata-kata yang tadi hanya alasannya saja, toh dia yakin sekali dia dan Niko sekarang ini dalam posisi yang sama, sama-sama membolos, sama-sama kencan… kalau ketahuan pun, pasti nggak jadi masalah.


 


Tapi…


Dia hanya takut… dia tentu nggak mau kan… ketahuan sama Niko, sedang menikung Niko, dengan jalan bersama gadis inceran sahabatnya tersebut.


♡♡♡♡


Di sebuah pantai, yang lokasinya lumayan jauh, dari pusat kota Bogor… Maklum saja, karena lokasi Bogor merupakan kota daratan tinggi…


Terdengar suara ombak yang berkejar-kejaran, dan ribuan pasir putih yang terhampar di sekeliling langkah mereka.


Mereka pun duduk di bibir pantai, menikmati deruan ombak, dan seburat angin sepoi-sepoi.


“Kamu tau nggak Ko, ini untuk bertama kalinya aku membolos ke sekolah.” Ucap Prisil, memecah keheningan.


“Iya, sudah kuduga, kamu kan anak berprestasi di kelas kita, mana mungkin kamu membolos di sekolah, apalagi ajakin siswa lain membolos.” Ucap Niko, menanggapi kalimat yang baru saja di lontarkan oleh Prisil tersebut. “Kira-kira siapa yah yang tadi ajakin aku membolos di sekolah?”


“Hei, kamu menyindirku?” Tanya Prisil, sambil mengerutkan alisnya.


“Fakta, bukan?” Tanya Niko balik.


Prisil pun hanya tersenyum kecut, menanggapi pertanyaan Niko tersebut.

__ADS_1


“Di sini sepi yah?” Tanya Niko, sambil melihat ke arah sekeliling pantai yang tenang, dengan hamparan laut biru yang indah tersebut.


“Kenapa? Kamu mau kasih kode?” Tanya Prisil, sambil tersenyum meremehkan ke arah Niko.


Bagaimana tidak, Prisil masih mengingat kejadian yang tadi saat mereka berdua ada di belakang toilet.


Niko yang paling ribut menolak keberadaan Prisil yang menyukainya, dan… Niko pula juga, yang paling sanggar, dalam hal berciuman dengannya.


“Kode?” Tanya Niko, sambil mengerutkan alisnya, pura-pura nggak mengerti dengan maksud Prisil.


“Iya, siapa tahu saja kamu mau menyedot bibirku lagi?! Hahahahahaa~” Sindir Prisil dengan nada enteng, sambil terkekeh.


Mendengar hal itu wajah Niko pun langsung saja memerah, dia begitu malu dengan hal biadab, yang baru saja Ia lakukan terhadap gadis feminim dengan image polos, yang aslinya centil dan mesum tersebut.


“Kau mau lagi?” Tawar Prisil, tiba-tiba.


“A Apa?” Pekik Niko, kaget.


“Ayo!” Ajak Prisil lagi, dengan nada nakal. Sambil menutup matanya kembali, dan memonyong-monyong kan bibirnya ke arah Niko.


Berharap lelaki berdarah campuran Arab tersebut, mendaratkan bibir lembutnya ke arah bibir Prisil, dan memiliki inisiatif duluan untuk memulai permainan tersebut.


Seketika saja Niko pun memicingkan matanya, mengeleng-gelengkan kepalanya, lalu tersenyum evil.


Ia pun lalu membentuk tangannya dengan mode kuncup. Dan…


“Cuuuuuuupp…” menciumkan nya ke arah bibir Prisil, yang sedang memonyong-monyongkan bibirnya.


Prisil pun mengerutkan keningnya, merasakan bibirnya bukan seperti di cium oleh bibir lembut Niko, akan tetapi seperti di patuk oleh ular.


“Hahahahahaa~ Hahahaha~” Tawa Niko melihat Ekspresi Prisil yang terlihat menggelikan tersebut.


Mendengar suara tawa tersebut, Prisil pun lalu membuka matanya.


Melihat yang mendarat di bibirnya, bukan bibir Niko, akan tetapi merupakan ujung tangan Niko, yang sedang membentuk kuncup.


Ia kecewa, karena merasa di permainkan oleh Niko, dan segera menepis tangan Niko dari arah bibirnya.


“Hei, otak mesum! Inget tuh bibir masih bengkak, udah mau main nyosor lagi aja!!! Hahahaa~” Ujar Niko, sambil terkekeh.


Ia puas banget, habis mempermainkan si mesum Prisil, yang kini sedang berada, duduk di sampingnya dengan tampang cemberut.


#To Be Continued

__ADS_1




__ADS_2