
Aku akhirnya pulang kerumah dalam keadaan selamat, aku pun berniat untuk segera mandi, membasuh seluruh badanku yang gerah habis berkelahi dan berbaring sambil tertidur dengan nyenyaknya di kasurku yang empuk.
Tapi apakah malam ini aku bisa tidur nyenyak?
Setelah apa yang di lakukan Cowok Alien jahat itu kepadaku?!
Aku masih penasaran dosa apa yang pernah aku perbuat padanya, sehingga cowok Alien itu bisa sejahat ini padaku?
“Gladish, dari mana kamu Nak?” Tanya Ayah yang menungguku di Sofa ruang tamu, dengan ditemani oleh secangkir kopi hitamnya, “Ini sudah jam 23.14 WIB!” Ucapnya, sambil melirik jam dinding yang menggantung di dinding ruang tamu.
“Aku habis makan malam di luar Pak.” Jawabku, sambil melepas sandal baruku dan menaruhnya di atas rak sepatu.
“Habis kencan ya?” Selidik Bapak, sambil menyipitkan matanya, “Siapa cowok nggak beruntung tersebut?” Tanya Bapak lagi, sambil tertawa renyah dan menyeruput kopi hitamnya.
Aku pun langsung memutar bola mataku.
Cowok nggak beruntung? Kau kira anakmu yang ini sejelek itu? Atau anakmu ini kelak akan membawa sial?
“Nggak sama siapa-siapa Pak, kan Gladish JOMBLO.” Jawabku sambil memberi penekanan di akhir kalimat (Jomblo), biar Bapak kesayangankku yang perutnya buncit tersebut bisa puas membullyku.
₩₩₩₩₩
Ketika aku selesai mandi, aku memeriksa Handphoneku kembali, yang masih tercharger di atas meja, sebelah lampu kamarku. Berharap Cowok Alien itu menghubungiku untuk sekedar, yah~ meminta maaf kepadaku…
Tapi lagi-lagi, harapan memang nggak pernah seindah kenyataan.
Handphone ku hanya di penuhi oleh pesan spam dari grub WhatsApp kelas 2 IPA 6, yang kebanyakan di spam oleh Niko.
Biasanya cowok Arab yang menyebalkan itu selalu Spam kata-kata bijak dan agamis, yang menurutku amit-amit nggak sesuai dengan tingkah lakunya. Dan sialnya~ Spam Niko tersebut selalu dibalas dan ditanggapi positif oleh cewek-cewek sekelas, yang bucin kepadanya...
Yah meski aku nggak mau mengakuinya, sering kali aku mendengar bisikan-bisikan dari sekumpulan cewek yang lagi Nge-Gibah, kalau Niko itu…
“Niko itu kalau dilihat-lihat dari dekat, anaknya manis juga ya?”
“Niko itu anaknya ganteng juga yah… Tinggi pula.”
“Wajah Niko itu loh... Uwuuu~ Bak pangeran Arab.”
“Liat Niko, kok rahimku jadi anget yah?”
“Niko itu anaknya asik juga yah!”
Seketika saja waktu aku mendengar kalimat-kalimat pujian untuk Niko tersebut, rasanya… Ukh~ aku ingin muntah.
Ah sudahlah~
Aku pun kembali mencharge Handphoneku dengan perasaan kecewa. Kecewa karena belum ada pesan permintaan maaf dari seseorang…
₩₩₩₩₩
#Author Pov
Setengah jam kemudian…
“Hareudang, hareudang, hareudang
Panas, panas, panas
__ADS_1
Selalu, selalu, selalu
Panas dan hareudang….”
Handphone Gladish pun berbunyi, entah mengapa gadis Tomboy itu ketagihan dengan lagu Hareudang, tembang yang dinyanyikan Happy Asmara yang sedang popular di kalangan anak muda di Aplikasi TikTok dan baru-baru ini Ia menjadikan tembang tersebut menjadi nada dering di Handphonenya.
Dia pun segera berlari mengapai Handphone itu kembali, berharap Arga yang menghubunginya untuk meminta maaf…
Tapi dia lagi-lagi harus menggubur dalam-dalam harapannya tersebut, karena di layar Handphonenya bertuliskan “Pensil Call.” Yang berarti sahabatnya Prisil yang meneleponnya.
“Halo, Dhis…” Sapa seseorang di seberang sana.
“Iya Sil ada apa?” Tanya Gladish, sambil menyipitkan matanya.
“Ciiieeee yang habis kencan.” Goda Prisil. “Gimana, gimana kencanmu dengan Arga?”
“Gagal.” Jawab Gladish, singkat.
“Lah kok?” Tanya Prisil heran.
“Doi nggak datang.” Jelas Gladish, dengan nada yang kecewa.
“Wah parah… setelah apa yang kita lakukan berjam-jam di pusat perbelanjaan…”
“Hiks…” Gladish pun tiba-tiba tak bisa lagi menyembunyikan rasa kekecewaannya… Akhirnya gadis tomboy tersebut, luluh juga… Ia pun menangis terisak… “Huhuuhuu~ Aku nggak nyangka Arga setega ini ke Gua, Sil.” Adu Gladish ke sahabat terdekatnya tersebut, untuk saat ini gadis tomboy tersebut memang sedang memerlukan teman curhat.
Gladish memang gadis yang tomboy, gadis yang kuat, dan gadis yang selalu terlihat tegar… Akan tetapi, tak bisa Ia pungkiri di balik tameng kuatnya tersebut, dia juga merupakan sosok seorang PEREMPUAN, yang pada dasarnya memiliki perasaan yang halus dan sensitive.
“Sudah Dhis~ Positif Thingking saja, mungkin dia lagi sibuk, Dhis, kamu yang sabar yah.” Tenang Prisil, kepada sahabatnya tersebut. Ingin rasanya Prisil datang dan memeluk sahabatnya, guna menenangkan sahabat terbaiknya yang sedang terluka tersebut. Akan tetapi sayang, saat ini waktu sudah menunjukan pukul tengah malam.
“Iya Dhis mungkin dia sibuk.” Jawab Gladish dengan nada sesegukan.
“Besok di sekolah, kamu harus nemuin Arga yah, kalian harus bicarakan tentang hal ini baik-baik.” Ucap Prisil, memberikan solusi.
₩₩₩₩₩
Sesuai saran Prisil, pagi-pagi sekali Gladish datang ke sekolah, guna meminta penjelasan ke pada Arga, biar masalah kesalahpahaman mereka, dapat segera terselesaikan.
Pagi itu setelah Ia sampai ke Sekolah, Ia langsung masuk ke dalam kelas, mencari keberadaan Arga. Akan tetapi nihil.
Ia pun segera menaruh tasnya dan keluar dari kelas tersebut, berniat menunggu Arga di depan pagar sekolah.
Belum langkahnya sampai menuju pagar depan sekolah, Ia sudah menemukan Arga.
Pria dengan tas ransel berwarna merah maroon tersebut (sepertinya Arga suka sekali dengan warna merah maroon) datang ke sekolah dengan wajah yang terlihat muram.
Muram?
Tumben Cowok Alien itu berwajah muram, biasanya Arga selalu memasang ekspresi datar, setiap kali datang ke sekolah.” Gumam Gladish dalam hati, sambil mengerutkan alisnya.
Gladish pun langsung berlari mendatangi jejak Arga. “Argaaaaa!” Panggilnya, kepada cowok yang sering Ia juluki ‘Alien’ tersebut.
Arga yang mendengar panggilan Gladish tersebut, langsung memalingkan wajahnya.
Pura-pura tak melihat keberadaan gadis yang tak jauh dari jangkauannya tersebut.
Pura-pura tidak mendengar suara gadis yang baru saja memanggil namanya tersebut.
“ARGAAAA, ARGAAAAA…!!! Teriak Gladish sekencang-kencangnya, menyadari cowok Introvert tersebut nggak melihat keberadaannya dan tidak mendengar suaranya. Ia pun langsung mengejar langkah Arga (yang sedang berjalan menuju kelas dari arah yang lain) dan menghampirinya.
₩₩₩₩₩
Mereka berdua pun kini berdiri berhadapan.
*Hening.*
__ADS_1
“Ada apa?” Tanya Arga, memecah keheningan, dengan sorot mata yang dingin.
“Kenapa semalam kau tak datang?” Tanya Gladish meminta penjelasan, dari cowok tampan yang saat ini sedang berdiri tepat di hadapannya tersebut.
“Maaf, aku lupa…” Jawab Arga dengan kata maaf, akan tetapi tak ada satupun raut penyesalan dari ekspresi wajahnya.
“Hah…! Lupa?!” Pekik Gladish dengan suara yang tertahan, kedua bola matanya pun kini memerah dan berkaca-kaca.
Arga mulai luluh saat melihat mata wanita pujaan hatinya tersebut, matanya terlihat memerah dan berkaca-kaca, seakan ingin menangis.
Akan tetapi, tiba-tiba saja kata-kata Reva dan Nadia terngiang lagi dalam kepalanya.
……
...
“Kamu jangan Ge’er…!” Seru Reva.
“Ge’er?” Tanya Arga.
“Iya Ge’er, sebenarnya Gladish dulu nembak kamu bukan karena Ia suka sama kamu… BUKAN…” Sambung Reva lagi… guna menyelamatkan harga diri, sahabat lamanya tersebut, Gladish.
“Bukan?” Tanya Arga lagi, tak mengerti.
“Iya betul sekali, sebenarnya Gladish, Aku dan Reva dulunya taruhan…” Sambung Nadia, ikut ingin menyelamatkan harga diri sahabat lamanya tersebut. “Jadi isi taruhan kami, kalau Gladish bisa nembak Elo, dan Elo terima, kita bakal kasih Gladish uang.”
…
……
Arga sadar mata Gladish berubah merah dan berkaca-kaca seakan ingin menangis, akan tetapi lelaki dingin itu tetap saja tak mengubah ekspresi wajahnya yang dingin menjadi peduli… wajahnya sampai saat ini tetap saja dingin, dia benar-benar nggak punya hati.
*Hening kembali*
Saat ini tangan kanan Gladish sudah mengepal dengan kuat, ingin rasanya Ia menonjok wajah tampan, dari pria yang ada saat ini berdiri di hadapannya tersebut. Akan tetapi Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukannya.
Kenapa?
Entahlah~ padahal kalau dengan pria lain, dia dengan mudahnya melayangkan kepalan tangannya itu ke arah pipi pria tersebut.
Tapi…
Kenapa terasa sulit baginya untuk menempelkan kepalan tangan itu ke arah wajah Arga?
Wajah pria yang saat ini terlihat sangat amat menyebalkan dan sombong di hadapannya tersebut.
“Sudah?” Tanya Arga, dengan ekspresi tanpa beban.
Gladish pun masih terdiam, sambil menatap wajah Arga dengan sorot mata penuh kebencian. Gadis itu masih sibuk menahan kepalan tangannya yang ingin Ia darat kan ke wajah Arga.
Tak mendapat jawaban, Arga pun hendak berlalu meninggalkan gadis yang saat ini sedang berdiri di hadapannya tersebut.
Gladish pun langsung menahan langkah Arga, dengan menahan lengan kanan Cowok Alien tersebut, dengan tangan kirinya. “Tunggu!” Tahan Gladish.
Gladish pun menatap kembali wajah Arga dalam-dalam. “Kalau kau lupa… kenapa… kenapa kau tidak membaca pesanku?” Tanya Gladish dengan suara serak dan bergetar, ah sial~ gadis tomboy tersebut rupanya sudah sangat ingin sekali menangis di hadapan cowok dingin tersebut. “Kenapa kau tidak mengangkat teleponku? KENAPA, HAH?!” Bentak Gladish akhirnya.
“Maaf…” Ucap Arga singkat, Arga pun langsung mengibaskan tangan Gladish dengan sekali hentakan. “Aku tidak terbiasa, aku tak terbiasa berkomunikasi secara intens dengan orang yang menurutku tidak terlalu penting.” Jawabnya dingin, dan berlalu dari hadapan Gladish.
#To Be Continued
__ADS_1