
Arya saat ini sedang bertugas di rumah sakit kecil Permata di daerah Bogor.
Setelah memberikan suntikan obat bius kepada pasien di ruang ICU, Arya pun kembali ke ruang khusus dokter magang, ketika dia ingin kembali, tak sengaja dia melewati kamar Melanie.
Karena merasa nanggung, sekaligus rindu, Arya pun mencoba membuka sedikit pintu ruangan kamar Melanie…
Untuk mengintip bagaimana kondisi Melanie, sekaligus ingin tahu apa yang sedang di lakukan oleh Melanie saat ini.
Arya membuka dengan sangat pelan, pintu yang saat ini ada di hadapannya, sangking pelannya, suara pintu tersebut pun sama sekali tak terdengar di buatnya.
Dia pun mencoba mengintip, dan sedikit kaget… ternyata Melanie saat ini, sedang duduk di ranjangnya, dan kebetulan sedang mengarahkan pandangannya di area pintu.
“Ngapain kamu kesini?” Ucap Melanie sinis, saat mendapati sosok Arya sedang mengintip dirinya, dari arah kejauhan.
Karena ketahuan tercyduk sedang mengintip Melanie, Arya pun segera menampakan dirinya, masuk kedalam ruangan tersebut, dengan nampan obat yang sedari tadi sedang di bawanya.
Arya tentu saja malu donk, kalau ketahuan ngintip Melanie langsung berlari begitu saja. Mau di bawa kemana harga dirinya?
“Kamu pasti mau ngintip aku yah?” Tanya Melanie kembali, sambil memicingkan matanya.
“Wiiiihhh, pede banget sih kamu, Mel...” Ucap Arya untuk menutupi modusnya, karena apa yang di tanyakan Melanie barusan, benar adanya. “Aku kesini cuma mau memberikan obat ke kamu!” Arya pun melirik obat yang dibawanya di nampan.
Sial baginya, karena obat yang di bawanya saat ini, merupakan obat untuk bius semua.
Arya pun menarik nafasnya dalam-dalam, dan mengeluarkannya.
“Kok masih kamu sih yang rawat aku? Padahal aku sudah request sama Teddy Priady, aku nggak mau di rawat sedikit pun sama kamu!” Ucap Melanie dengan nada yang jutek.
“Yeehh~ kalo nggak karena tugas saja, aku ngapain capek-capek harus masuk ke kamar kamu ini, Mel!” Ucap Arya berdusta. Arya pun langsung menaruh nampan obatnya di meja, di samping ranjang Melanie. “Di kamar lain loh pasiennya cantik-cantik semua, nggak seperti kamu nyaris botak! Hahahaha~” Hina Arya, sambil sedikit mengelus rambut Melanie yang sudah semakin tipis, alias HAMPIR BOTAK.
Melanie pun segera menyingkirkan tangan Arya yang menyentuh rambutnya dengan kebasan tangannya. “Udah nggak usah pegang-pegang! Jijik tahu!”
“Kok kesel yah!” Pekik Arya, sambil mengerutkan alisnya. Arya pun mengambil nampan obat yang barusan di taruh nya, dan hendak pergi berlalu dari kamar Melanie.
“Tunggu!” Seru Melanie, menghentikan langkah Arya.
Arya pun menghentikan langkahnya. “Apa lagi?” Tanya Arya, sambil menengok sedikit ke arah Melanie.
“Bukannya obat yang kamu bawa itu untuk aku?” Tanya Melanie kembali, sambil menunjuk nampan yang dibawa oleh Arya di tangannya.
M*mpus Arya!!!
Bagaimana ini, bukankah cairan obat yang ada di nampan, tangan Arya saat ini merupakan cairan obat bius?
__ADS_1
Apa yang harus Arya lakukan?
“Iya~ ini obat buat bunuh kamu, kamu pasti nggak akan lupa kan, kalimat terakhir yang sudah ku katakan buat kamu, kalau aku ingin melihat kamu mati!” Jelas Arya kepada Melanie, dengan nada terkekeh.
“Aku ingin mati!” Ucap Melanie, akhirnya. Dengan sorot mata yang kosong.
“Glek~” Arya pun menelan air liurnya sendiri, mendengar kalimat yang telah di ucapkan oleh Melanie tersebut.
“Ayo bunuh aku!” Ucap Melanie, sambil mengulurkan lengan tangannya. Berharap, cairan obat itu di suntikkan Arya, ke dalam tubuhnya. “Aku berharap cairan obat mati itu, tertusuk dan menembus urat nadiku, menjalar ke aliran darahku, dan lama-lama mencekik tubuhku, agar aku bisa segera mati mengenaskan, dan datang setiap malam ke rumahmu, untuk menghantuimu!!!”
Mendengar kicauan dari arah mulut Melanie tersebut, Arya pun kembali terkekeh. “Baiklah, aku akan membunuhmu, dan setelahnya… tolong hantui aku yah!” Ucap Arya, sambil menatap tajam ke arah Melanie.
Dan Melanie pun nggak mau kalah, Ia juga membalas tatapan tajam, yang barusan saja di tujukan oleh Arya kepadanya.
Arya pun menaruh nampan yang di bawanya tersebut kembali di atas meja, yang letaknya berada di sebelah ranjang Melanie.
Arya pun menaruh jarum suntik ke ke dalam alat suntikan, menyedot botol infus tersebut dengan alat suntikan yang telah di pasang jarum suntik tersebut.
Setelah Ia merasa cairan obat bius tersebut sudah memenuhi di dalam ruang tabung suntiknya. Arya pun mengusapkan cairan alkohol dengan Tisu dan menekan-nekannya di area lengan atas tangan kiri, yang akan Ia suntikan kepada Melanie.
Dan mengarahkan suntikan tersebut ke arah lengan atas Melanie, dan menyucukkan jarum tersebut di sana…
Melihat hal tersebut, Melanie spontan membelalakkan matanya, mencoba menahan sedikit rasa perih, dari arah jarum yang kini menancap di area tubuhnya.
“Agggghhhhh~” Erangnya lemah.
Melihat hal tersebut, Arya pun langsung merapikan letak arah tidur Melanie.
Arya pun langsung duduk berlutut di samping ranjang seorang Melanie, dan menatap dalam-dalam ke arah wajah wanita berkulit putih pucat, akan tetapi masih terlihat sangat cantik tersebut.
Arya begitu takjub dengan wajah Melanie yang begitu putih, bersih, mulus dan menawan. Tentunya dengan aksen wajah oval nya, yang semakin membuat Arya terpana.
“Wajahmu manis banget ya Mel!” Kagum Arya, melihat pemandangan indah di depannya-bagaikan magnet, perlahan Arya pun mendaratkan telapak tangannya kearah pipi Melanie dengan penuh kehati-hatian, takut si pemilik pipi terbangun dari lelap nya.
Dia menatap bulu mata Melanie yang lentik, hidung yang mancung, bibir yang mungil dengan garis lesung pipi yang ada di area kiri, dekat bibirnya…
Arya pun hanya tersenyum melihat keindahan itu… akan tetapi kini matanya fokus di bibir Melanie yang terlihat tipis nan mungil. Ingin sekali Ia merasakan keindahan tersebut, merasakan kelembutan bibir tersebut....
Perlahan-lahan Ia dekatkan wajahnya ke arah wajah Melanie…
__ADS_1
Semakin dekat…
Dag dig dug…(Suara Soundtrack dentuman jantung arya saat ini)
Semakin dekat…
Dag dig dug…
Semakin dekat…
Dag dig dug…
“Sedikit lagi…” Gumam Arya dalam hati. Ketika menyadari hidung mereka kini bersentuhan…
Dan…
“CUUUUUUPPP” Bibir Arya pun mendarat tepat di atas bibir Melanie.
Arya pun tersenyum melihat pencapaian yang baru saja dia lakukan kepada pasien yang sedang tertidur pulas karena obat bius tersebut, yang baru saja di lakukan olehnya.
Rupanya… Ia tak puas hanya mengecup bibir Melanie saja, Ia pun mencoba memperdalam ciumannya…
Mencoba memasukan lidahnya sendiri ke arah bibir wanita yang sedang tertidur pulas tersebut.
Meski demikian, Arya merasa sedang mencium orang mati… karena Melanie tak bereaksi apapun kepada hal-hal ganas yang dilakukan oleh pria tersebut, kepada dirinya…
Ketika itu… Arya mulai ketagihan dengan kenakalannya, Ia nggak cukup puas di area bibir saja.
Kini tangan lelaki Playboy Cap Kodok Loncat tersebut, sudah mulai menjalar kemana-mana…
Akan tetapi Arya lagi-lagi, merasa sedang meraba-raba tubuh orang mati, tidak ada erangan dan juga nggak ada tindakan timbal-balik.
Dasar Arya!!!
Belum merasa puas juga, tangan Arya pun kini berada tepat di atas kancing baju Melanie, mencoba membuka kancing baju bagian atas wanita tersebut.
“Permisi Nona, saya… AGGGGGGGGGGHHHHHHHHHH…” Teriak seorang perawat wanita, yang kini sedang mendapati Arya melakukan tindakan-tindakan tak senonoh kepada tubuh pasiennya yang sedang tertidur dengan pulas tersebut.
Arya pun kaget, dan spontan membalikkan tubuhnya ke arah asal suara teriakan tersebut, dan… “AGGGGGGGGHHHHHHHHHH!!!”
#To Be Continued
__ADS_1