
Di Ancol, Arya menaiki salah satu wahana yang bernama Gondola… Gondola Ancol merupakan sarana rekreasi kereta gantung pertama di Indonesia yang menggunakan komputerisasi tekhnologi tinggi dengan system control keamanan tercanggih, yang sengaja diciptakan untuk melihat keindahan pemandangan di sekitar daerah Ancol dari arah ketinggian…
Wahana itu merupakan wahana yang pernah ia mainkan berdua dengan gadis cantik berambut panjang bernama Melanie.
#Flashback
“Ayo Arya cepat masuk kesini!” Ajak Melanie sambil menarik tangan pria bertubuh buntal tersebut, untuk masuk ke dalam wahana Gondola bersamanya.
“Tidak Melanie aku takut.” Tolak Arya sambil berusaha melepaskan tangan Melanie yang kini menggenggamnya.
“Lah, kenapa takut?” Tanya Melanie sambil mengerutkan alisnya. “Kamu takut ketinggian?”
Arya pun mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Jadi?” Tanya Melanie lagi.
“Karena aku terlalu gendut, aku takut Gondola ini tidak bisa menampung tubuhku yang berat ini.” Jelas Arya, sambil menundukan wajahnya. Entah mengapa cowok bertubuh buntal itu selalu minder dengan bentuk fisiknya.
“Hahahaaa…” Melanie pun tertawa renyah, dia pun lalu berpindah posisi di belakang Arya, dan mendorong tubuh pria bertubuh buntal tersebut untuk masuk kedalam wahana berwarna merah tersebut. “Ayo masuuukkk!!!”
₩₩₩₩₩
Saat ini Melanie dan Arya duduk di dalam Gondola dengan posisi saling berhadapan, akan tetapi mata mereka satu sama lain sama-sama menghadap ke arah jendela… sama-sama melihat pemandangan indah di sekitar Ancol. Lebih tepatnya tak berani saling menatap satu sama lain.
“Wah indah sekali, ini baru pertama kalinya aku naik wahana setinggi ini Hahahaaa…” Gumam Melanie, menikmati pemandangan sekitar dan bangga dengan dirinya sendiri. Tak lupa Melanie menghidupkan kameranya untuk merekam pemandangan tersebut.
“Melanie.”
“Yap?”
“Kenapa kamu mau berteman denganku?” Tanya Arya, sambil menatap lirih pemandangan indah dari arah jendela sebelah kanannya.
“Memang kenapa kalau aku mau berteman denganmu?” Tanya Melanie balik. Sambil sibuk merekam pemandangan di sekitarnya dengan kamera bertongsis nya.
“Aku loh gendut, dan teman-teman yang lain ILFEEL dan enggan berteman denganku.”
Melanie pun lalu menatap lelaki bertubuh tambun dihadapannya. “Jadi, kamu mau aku nggak berteman denganmu?” Tanya Melanie sambil mengerutkan alisnya.
“Enggak juga sih, tapi yah, terserah kamu!” Ucap Arya seadanya sambil menatap kosong pemandangan disekitarnya.
Ada sedikit perasaan takut di batin mereka masing-masing, mengingat mereka saat ini berada di atas ketinggian dan di bawah mereka saat ini merupakan lautan Ancol.
Melanie pun mengalihkan matanya ke arah kirinya. “Ya udah terserah aku, aku mau kok berteman sama kamu…” Ucap Melanie dengan nada yang tegas, tanpa berani menatap Arya yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Melanie barusan, semburat rona kemerahan menghiasi pipi Arya. “Eh?”
“Toh aku bukan mereka, dan mereka bukan urusanku!” Lanjut Melanie.
Langsung saja Arya menarik tangan gadis bertubuh kurus tersebut kearahnya… dan memeluknya.
“Eh.” Pipi Melanie pun memerah, mendapat pelukan tiba-tiba tersebut.
#Flashback End.
Tak terasa air mata Arya menetes di sekitar pipinya. “Bodoh, dasar bodoh, kenapa kamu menangis, dasar Arya bodoh!” Pekik Arya, menyindir dirinya sendiri. Sambil sibuk menghapus air bening yang berlinang tanpa henti di pipinya tersebut.
Saat ini Arya masih berada di atas wahana gondola, tanpa sedetik pun menikmati pemandangan yang disajikan oleh wahana tersebut. Tanpa takut sensasi ketinggian yang disajikan di wahana tersebut. Pikirannya saat ini di penuhi oleh seorang gadis yang bernama Melanie, Melanie dan Melanie.
₩₩₩₩₩
“Pak…” Panggil Gladish kepada Bapaknya yang sedang menikmati kegiatan Weekend yakni bersantai di ruang TV, Pak Hendra saat ini sedang asik menonton Sinetron Pelakor di salah satu channel di TV Swasta. “Bapak….”
Akan tetapi Pak Hendra tak menghiraukan panggilan dari anak semata wayangnya tersebut, Ia masih sibuk dengan TV dan Snack-nya. “Rasain kamu! Kena karmanya sekarang kamu kan!” Teriak Pak Hendra mengomentari isi sinetron tersebut, sambil menunjuk-nunjuk layar TV yang Ia tonton. “Rasain! Mamp*s Lo!”
“BAPAK!” Teriak Gladish.
Pak Hendra pun akhirnya mengarahkan pandangannya ke arah Gladish. “Ini anak Bucu, tak sopan betul sama Bapak teriak-teriak seperti itu!”
Gladish pun menggembungkan pipinya. “Ada sesuatu yang penting yang harus Gladish sampaikan ke Bapak!”
“Ada apa lagi, kali ini kamu dipanggil sama Kepsek (Kepala Sekolah)?” Tanya Pak Hendra, masih kesal dirinya di panggil oleh guru BK.
“What…! Bapak nggak punya uang!” Jawab Pak Hendra dengan cepat.
“Bapak~” Rengek Gladish. “Paaaaaaakkk~” Gladish pun mengeluarkan jurus andalannya, yakni menangis “Huhuhuuuuu~”
“Baiklah, baiklah.” Jawab Pak Hendra mengiyakan. “Kamu butuh uangnya berapa?”
“Nggak banyak kok Pak, Gladish cuma butuh 500 ribu rupiah saja, tapi kalau dikasih lebih juga boleh”
“Baiklah.”
Wajah Gladish yang sedari tadi kusut pun, langsung berubah menjadi sumringah…
“Tapi uangnya potong uang THR lebarannya Gladish yah?”
“Aiiiiisss~ Pak, jangan pelit-pelit napa?!” Rengek Gladish lagi.
“Kalau nggak mau. Yah, nggak papa. Berarti nggak usah!”
“Iya, Gladish mau. Potong saja uang lebarannya Gladish.” Jawab Gladish pasrah.
__ADS_1
₩₩₩₩₩
“Semuanya total 700 ribu rupiah.” Ucap penjaga kasir cantik yang kini ada di hadapan Gladish dan juga Prisil.
Prisil?
Yah, saat ini Gladish dan Prisil sedang berada di sebuah Mall besar di kota Bogor. Untuk mencari sebuah pakaian gadis remaja yang cantik untuk Gladish. Tentunya Gladish meminta bantuan sahabatnya Prisil untuk memilihkan pakaian yang pantas untuknya, karena seperti kita ketahui selera Gladish sangat kecowokan.
Gladish pun langsung meneguk air liurnya mendengar kalimat tujuh ratus ribu rupiah dari si Mba kasir. Tujuh ratus ribu rupiah menurutnya budget yang sangat besar mengingat Ia baru saja diberi asupan dana oleh Bapak-nya yang hanya sebesar lima ratus ribu rupiah. Dia pun segera memundurkan langkahnya perlahan. “Tap, Tap, Tap…”
“Dhis Dhis… kenapa tubuhmu mundur-mundur gini!" Protes Prisil, yang tepat berdiri di belakang Gladish. Doi takut tubuh Gladish yang lumayan berisi, akan menabrak tubuhnya yang super slim.
Gladish pun menarik tangan Prisil, dan menariknya keluar dari zona antrian kasir. Sementara Mba kasir yang barusan di tinggal Gladish hanya bengong, dan menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal. “Jadi nggak tuh anak dua bayar barangnya?” Gumam Mba Cantik itu, dalam hati.
“Eh Sil, Elu pilihin gua pakaian yang sesuai budget Gua donk!” Protes Gladish ke arah Prisil.
“Lah, Elu nggak bilang.” Bela Prisil. “Memang budget Lu berapa?”
“Cuma lima ratus ribu.”
Prisil pun langsung memutar bola matanya. “Lah Gladish sayang, kenapa juga kamu ajak aku-nya cari baju di Mall?” Tanya Prisil, sambil mengacak pinggangnya. “Yah jelas lah baju di Mall mehong-mehong semua.” Jelas Prisil.
“Rencananya, sekalian aku mau traktir kamu makan gitu.” Jawab Gladish seadanya.
“Umm So Sweet.” Pekik Prisil terharu, sambil memeluk sahabat ternistanya tersebut.
Gladish pun merinding dengan perlakuan Prisil padanya, “Kamu kan dari tadi ngeluh, jiwa jomblomu meronta-ronta, saat mendengar aku akan dinner dengan Arga…” Ucap Gladish, mengungkit kata-kata Prisil di telepon barusan. “Aku kasian, mungkin jiwa jomblomu perlu dikasih makan, Bwahahahaa~ ” Ledek Gladish, sambil tertawa terbahak-bahak.
Prisil pun menyipitkan matanya, dan melepaskan pelukannya dari arah tubuh Gladish. “Cari baju sendiri, gih! Aku nggak mau bantu kamu lagi!” Pekik Prisil kesal, sambil berlalu dari hadapan Gladish.”
“Yak! Aku bercanda atuh!” Seru Gladish, sambil mengejar langkah Prisil, yang sedang ngambek dan berlalu pergi meninggalkannya.
#To Be Continued
.
.
.
Mohon dukungannnya y, baik vote, ratting, komen, like n shared...
terutama komentar deh, biar author bisa semangat lagi up eps selanjutnya🤗🤗🤗...
author jg mohon kritik n sarannya untuk lebih baik lagi kedepannya...😅🔫
terimakasih udh membaca, assalamuallaikum
__ADS_1
🙏🙏🙏