
#Gladish POV
Siang itu, Arga sedang mengemudikan kendaraannya, dengan tujuan restoran cepat saji Ayam Goreng KFC, untuk makan siang kami kali ini.
Akan tetapi, Aku menolaknya dengan keras, untuk kami makan di restoran cepat saji tersebut, Aku malah meminta Arga untuk menghentikan mobilnya di warung nasi campur area pinggir jalan, yang terlihat sederhana, yang letaknya nggak jauh dari letak restoran Ayam Goreng KFC tersebut.
“Yakin kamu mau makan disini, Dhis?” Tanya Arga sambil mengerutkan alisnya. Seakan-akan, dirinya nggak level makan di pinggir jalan. Ais~ padahal kan makanan di kantin sekolah 11 12 saja, sama makanan yang ada di tempat ini!
“Iya, di KFC kan nggak ada sayurnya, disini kan ada!” Jawabku, yang meski suka makanan enak. Akan tetapi, aku tetap memikirkan kesehatan, aku sangat suka dengan sayur. “Disini juga murah meriah, dan porsinya banyak.”
“Oh~” Gumam Arga, singkat, menanggapi pernyataan Ku.
“Beruntung banget yah, Ga, yang jadi suamiku di masa depan kelak, istrinya aja hemat gini!” Ucap Ku, padanya, sambil sedikit memberikan kode ke dia. “Peka donk Ga, Peka!” Jerit Ku, dalam hati.
Tanpa menanggapi ucapan ku, Arga langsung berinisiatif memesan dua piring nasi campur, tentunya satu untukku dan satu lagi untuknya.
“Kamu mau minum apa, Dhis?” Tanyanya, padaku.
“Aku mau es kelapa aja, Ga.” Jawabku, padanya.
Kami pun memilih tempat duduk yang letaknya ada di pojokan, kami pun duduk dengan posisi yang saling berhadap-hadapan.
Beberapa menit kemudian pesanan kami pun datang. Dan kami pun mulai menikmati makanan yang disajikan oleh ibu pemilik warung tersebut.
“Ga!” Panggilku, kepadanya. Sambil menyendok dan melahap nasi campur ku.
“Yah?” Jawabnya, sambil mengiris ikan goreng yang teksturnya lumayan kering, dengan sendoknya.
“Kencan perdana kita kok gini amat, masa iya, kita kencan perdananya di pasar?!” Protes Ku kepadanya.
“Kencan?” Tanyanya, sambil mengerutkan alisnya. “Memang status kita apa?” Tambahnya lagi.
“JLEEEEBBB~ JLEEEEBBB~ JLEEEEBBB~ JLEEEEBBB~” Seketika saja, beberapa anak panah dari arah langit, berjatuhan, langsung mendarat dan menusuk-nusuk ke dalam hatiku. “Bener kata dia! Memang status kami apaan?” Batinku, sambil meringis.
“Iya yah, memang status kita apaan?” Lirihku akhirnya, mengulang pertanyaannya lagi, sepertinya mata ku, kini mulai berkaca-kaca.
“Makannya yang cepat yah!” Pintanya padaku, tanpa menjawab pertanyaan ku, yang barusan ku tanyakan ke dia.
“Kenapa cepat-cepat, nggak betah yah lama-lama sama aku, jadi pengennya pulang secepat mungkin?” Protes Ku, sambil cemberut, aku benar-benar nggak bisa menyembunyikan ekspresi kecewaku saat ini.
Ternyata hanya aku sendirian yang menganggap ini kencan… dan dia nggak!
Ternyata hanya aku sendirian yang jantungnya berdebar dengan kencang… dan dia nggak!
Dan…
Ternyata hanya aku sendirian yang menyimpan rasa ini di dada… dan dia nggak!
Lagi-lagi hanya aku yang sendirian…!!!
__ADS_1
Sama seperti peristiwa dua tahun yang lalu, saat dia menolak pernyataan cintaku… Saat itu, hanya aku sendirian yang menanggung malu.
Dan, dia?
Mana peduli…!!!
Dan seketika saja, rasanya aku ingin sekali menangis.
Air mataku juga sudah berontak ingin keluar…
Tapi aku berusaha untuk menahannya… aku tidak ingin terlihat lemah di matanya.
Aku pun mengambil tisu yang ada di depanku, yang sedari tadi memang sudah tersedia di warung tersebut.
Aku pun mengelap mataku yang kini sudah berair… aku nggak ingin dia tahu, kalau aku sudah ingin menangis.
“Cepat habiskan makananmu!” Ucapnya lagi.
Kali ini aku benar-benar geram.
Tanganku yang sedang memegang sendok pun bergetar, dan langsung saja… “Plaaaakkk!” Ku banting sendok yang sedari tadi ku pegang, ke arah meja.
“Kau sebegitu nya benci aku! kau sebegitu nya nggak suka sama aku! salahku apa sama kamu!” Teriakku akhirnya, dengan nada terisak.
Sial sekarang air mataku sudah tumpah~
Aku pun akhirnya menangis…
Pria yang berhati dingin, layaknya es batu!
“Cepat makannya, biar kita bisa kencan!” Ucapnya, akhirnya. Sambil menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
“A Apa?” Pekik ku, seketika saja perasaan kecewa yang sedari tadi bertumpuk di dalam dadaku, melayang terbang bagaikan secarik kertas yang di tiup angin.
“Ka Kau mau kemana?” Tanya nya, sambil tergagap.
“Pantai? Hutan? Kuburan? Atau tempat sepi buat mesum?” Tanya nya lagi, sambil memberikan beberapa pilihan tempat alternatif, buat kencan.
Astaga dia benar-benar ingat tempat-tempat receh yang sudah ku sebutkan tadi pagi, di mobil, sebelum kami berangkat ke pasar.
“Tempat sepi buat mesum.” Jawabku dengan tegas dan cepat, sambil tersenyum evil ke arahnya.
“A Apa?” Seketika saja Arga langsung menyilang kan tangannya pada ke dua dadanya.
Hei tenang, aku tidak akan memperkosa mu!!!
#Gladish POV END
♡♡♡♡
#Prisil POV End
“Tok…Tok…Tok!” Aku pun mengetuk pintu Lobi Toilet Pria, tempat dimana Niko membasuh wajahnya berkali-kali pada air keran yang mengalir deras di Lobi Toilet.
__ADS_1
Cih~ sebegitu najisnya kah, bibirku di pikirannya?
“Ada apa, Sil?” Tanya nya, tanpa menghampiriku.
“Kita bolos yuk!” Ajak Ku padanya.
“A Apa?” Pekiknya, sambil mengerutkan alisnya pada bayangan Ku yang ada di pantulan kaca, tempat dia berkaca saat ini.
“Memang kamu Pede, masuk ke dalam kelas, dengan keadaan bibir bengkak seperti ini?”
Niko pun langsung menutupi wajahnya, dengan kedua tangannya, seakan menyesali apa yang baru saja dia perbuat dengan ku.
♡♡♡♡
Kami pun akhirnya berboncengan di motornya, karena aku memakai rok, aku pun duduk dalam posisi miring di motor besar miliknya tersebut.
“Kalian mau kemana?” Tanya Pak Satpam, yang sedang sibuk menjaga gerbang sekolah, ke arah kami.
“Kami mau keluar sebentar Pak, mau ambil FotoCopy-an buku tugas.” Jawabku, menanggapi pertanyaan Pak Satpam tersebut.
Wajah kami tak tampak sebagian, karena wajah kami tertutup dengan Helm.
“Yakin kalian nggak akan membolos?” Tebak Pak Satpam, yang memang, tebakan-nya tentang kami itu benar, kami ingin membolos siang ini.
“Nggak lah Pak.” Jawab Niko. “Lihat saja, kami berdua nggak membawa tas sama sekali.” Jelasnya.
Yah~ benar kata Niko, tas kami berdua, saat ini masih tergeletak di atas kursi kelas kami, kami nggak terlalu khawatir sih… karena sekolah kami SMA Tunas Bangsa merupakan Sekolah Elite Favorite, dengan biaya SPP perbulannya yang mahal.
Jadi setiap kelas di dalamnya selalu di lengkapi dengan kamera CCTV.
Toh, juga kami nanti kembali lagi, pada saat bibir kami berdua sudah kembali Normal.
Yah, kalau nggak normal-normal juga, mungkin pada saat pulang-an sekolah saja, baru kami kembali lagi. Tentunya untuk mengambil tas kami.
Pak Satpam pun akhirnya membukakan pintu gerbang sekolah untuk kami, dan Niko pun segera melajukan motornya, bagai orang kesetanan.
Aku yang takut jatuh karena kecepatan motor Niko pun, kini menyendok kan tangan kanan ku, ke arah perut Niko.
Niko pun menunduk sekilas, melihat tanganku yang sedang memeluk bagian perutnya.
“Kita mau kemana?” Tanya Ku, kepadanya.
“APA?!” Tanya nya, yang kurang jelas mendengar suara ku, karena suara laju motornya.
“KITA MAU KEMANA?” Teriak ku lagi, padanya.
“AKU NGGAK ADA UANG BUAT KEMANA-MANA!” Ucapnya jujur. “UANGKU DI TAS!!!” Teriaknya lagi.
“BAGAIMANA KALAU KITA KE PANTAI SAJA!!!” Usul Ku padanya, dan dia pun hanya diam saja, sambil menambah Volume kecepatan pada motornya.
Dan… Kami pun melesat laju, menembus angin…
#To Be Continued
__ADS_1