
Aku pun memberanikan diri untuk mendekatkan diri ke arahnya.
“A A Arya, kamu mau apa?” Tanyanya gugup. Sambil memundurkan sandarannya, menjauhkan wajahnya dari wajahku. Tubuhnya pun bergetar seakan ketakutan.
Tapi aku nggak peduli…
Aku pun dengan cepat mendaratkan bibirku ke arah bibirnya dan…
“Cup…” Sebuah kecupan bibirku mendarat ke arah bibirnya, untuk pertama kalinya.
Matanya pun membulat, kerena terkejut dengan apa yang ku lakukan secara tiba-tiba padanya, dan…
“PLAAAAKKK~” Terdengar suara tamparan yang sangat keras mendarat di pipiku, yah~ Melanie kini sedang menamparku.
“Melanie, mengapa kau…?” Tanyaku dengan mata yang berkaca-kaca, sambil memegangi pipiku yang saat ini terasa perih akibat tamparan keras tersebut.
Aku tak percaya Melanie tega melakukan hal itu padaku, padahal aku hanya memberikan sebuah kecupan padanya.
Sementara cowok kemarin malam, menciumnya dengan lum*tan dan dia terlihat sangat menikmatinya… Ah~ iya aku lupa, cowok semalam kan tampa, kurus, dan kaya. Aku lupa poin pentingnya.
“Mengapa kau tega melakukan ini padaku?” Tanyaku kembali meminta penjelasan, tak terima dengann perlakuan Melanie terhadapku.
“Karena itu… itu…” Melanie pun mengigiti ujung bibirnya. “Karena itu merupakan ciuman pertamaku.” Jawabnya, dengan nada dan tampang yang… polos?
Aku pun membelalakan mataku bulat-bulat mendengar kalimat polosnya.
Jadi, siapa yang kulihat tengah berciuman dengan pakaian minim, semalam?
Kembaran Melanie? (Ini kesimpulan bodoh, mengingat Melanie hanya mempunyai dua saudara kandung laki-laki di keluarganya)
Hantu Melanie?
Jin Melanie?
Atau siluman Melanie?
Dan aku pun tertawa senyaring-nyaringnya.
“BWAHAHAHAHAHHAAHHAAA~ HAHAHAHAHHAHAHAHA~ HAHAHAHAHHAHAA~”
“Kenapa kau tertawa sekencang itu?” Protes Melanie terhadapku, sambil mengerutkan alisnya.
Mengingat kini beberapa anak sedang memperhatikan kami, karena mendengar suara tertawaku yang sangat nyaring.
“Kamu lucu ya Melanie…” Ucapku kepadanya, dengan sorot mata yang tajam kearahnya. Aku pun mendekatkan wajahku lagi, ke arahnya. “… Sangaaaaaaaaaaaaatttt~ lucu!” Bisikku di telinganya.
₩₩₩₩₩
Hari kedua aku menguntit Melanie…
WAH~ Gadis ini benar-benar luar biasa, SANGAT LUAR BIASAAAAA~
Bagaimana tidak?
Hampir setiap hari Ia selalu memberikanku kejutan.
Kali ini dia pergi bersama lelaki lain lagi, yang kali ini wajahnya terlihat juah lebih tua dari lelaki kemarin, mungkin umurnya sekitar umur 40 tahunan, tapi kali ini lelaki tua tersebut mengendarai mobil Sport mewah.
Untuk kesekian kalinya, dadaku dibuat sesak olehnya, bagaimana tidak Melanie merangkul tangan lelaki tua tersebut dengan menggunakan pakaian minim ketat berwarna Khaki (seperti warna kulit), yang kali ini sangat menonjolkan bagian dadanya yang seksi…
Aku pun terkekeh, bagaimana tidak… Melanie seperti tidak memakai baju sehelai benang pun, saat memakai gaun berwarna Khaki tersebut.
Dan mereka pun masuk ke mobil Sport hitam tersebut. Kali ini aku tidak akan membuang kesempatan emas ini… aku harus mengikuti mereka!
Aku pun mengarahkan setir mobilku, mengikuti kemana pun mobil Sport itu berada… bahkan lampu merah pun nekat ku terjang, demi tak kehilangan jejak dari mobil Sport hitam tersebut.
Untungnya pengawasan polisi tak tampak di jalan tersebut, sehingga diriku dan mobil ayahku selamat, paling hanya bunyi klakson mobil lain saja yang berteriak, seakan protes dengan tindakan setir ku yang ugal-ugalan.
“CIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTT~” Aku pun memberhentikan mobilku di depan sebuah gedung sebelah hotel, saat mobil sport tersebut berhasil masuk ke sebuah hotel berbintang lima yang ada di Jakarta.
Seketika saja mataku terbelalak, tubuhku pun bergetar hebat.
__ADS_1
“BRAAAAAKKKKK~ BRAAAAAKKKKK~ BRAAAAAKKKKK~” Aku pun memukul setir mobilku berkali-kali. Aku benar-benar emosi… sumpah, ingin sekali rasanya ikut masuk kedalam hotel tersebut, akan tetapi dengan sekuat tenaga aku menahannya. Untuk apa?
Untuk berbuat keributan?
Untuk menginap pun uangku pun juga tak cukup, bukan?!
“BRENGSEEEEEEEEEE*****KKKKK!!!” Teriakku, emosi. Aku benar-benar ingin menangis dibuatnya!
Aku penasaran seberapa jal*ngnya seorang Melanie?
Seberapa murahnya tubuh Melanie?
Seberapa pel*curnya harga diri seorang Melanie?
Dan berapa pria yang sudah menidurinya?
Karena mengingat pria yang hari ini dan kemarin berbeda.
Apa yang harus ku lakukan, oh tuhan?
Apakah aku harus berteriak, melabraknya dan membawanya kembali bersamaku untuk pulang?
Atau aku hanya diam saja seperti ini, menunggu dan menangis, bagaikan seorang pengecut?
Aku pun menggigiti bibir bawahku…
Jangan gegabah Arya!
Semua itu butuh kesabaran…
Semua itu butuh strategi...
Hanya orang bodoh yang menyelesaikan masalahnya langsung dengan emosi!
Lagi-lagi, diriku sendiri menasehati diriku sendiri.
HAHAHAHHAHAAHHAAA~ BISA BENAR-BENAR GILA AKU DIBUATNYA SEKARANG~
₩₩₩₩₩
Hari demi hari berlalu.
Bulan demi bulan berganti.
Aku saat ini masih sama (masih bucin), masih di tempat yang sama (yakni di depan rumah Melanie), masih dengan perasaan yang sama (yakni terluka, lagi-lagi terluka).
Bagaimana tidak?
Hampir setiap hari, hampir setiap malam, Melanie selalu berkencan dengan pasangan pria yang berbeda-beda… dengan pria yang sama-sama kaya, akan tetapi dengan mobil mewah yang berbeda-beda, dan dengan hotel yang berganti-ganti tiap harinya.
Aku sampai bingung ingin menjuluki dirinya seperti apa, Playgirl? P*lacur? J*lang?
Saat ini dia dimata ku, Ia benar-benar F*ck Girl!
Hari ini yang mengajaknya kencan, kurang lebih pria seperti aku… pria B*bi. Maksudku, pria bertubuh gendut seukuran ku, dengan mobil Marcedes Benz merah mewah yang kini dibawanya.
Jujur aku capek!
Pasti kamu ada rasa jenuh kan, kalau setiap hari, secara tidak langsung hanya berperan sebagai penonton?
Melanie loh pacarku!
Kenapa aku, saat ini hanya bisa terlihat sebagai pecundang?!
Toh kali ini lawannya terlihat sama, sama-sama jumbo!
Paling tidak, kalau terjadi apa-apa, kita berdua bisa saling adu Sumo (Olahraga Jepang).
Ketika aku ingin membuka pintu mobilku, lagi-lagi diriku sendiri memperingatkan diriku sendiri… Lagi?
Jangan gegabah Arya!
Semua itu butuh kesabaran…
Semua itu butuh strategi...
__ADS_1
Hanya orang bodoh yang menyelesaikan masalahnya langsung dengan emosi!
Ah bodoh amat~
Aku pun membuka pintu mobilku…
Dan…
“MELANIIIIEEEE!!! Teriakku kepadanya. Saat Ia hendak mengalungkan mesra, lengan tangannya ke arah lengan pria berpostur jumbo, pria yang juga mempunyai ukuran size XXXL, sama sepertiku.
“A… A… ARYA~” Pekik Melanie, kaget. Ketika menemukan sosok keberadaan ku, tepat di depan matanya. Akan tetapi tangannya tak mau lepas, ia masih setia menggandeng lengan pria gendut tersebut dengan mesra.
“Kenapa… Kenapa?” Lirihku, entah mengapa air mataku saat ini tumpah di pipiku, tanpa aba-aba.
Melanie pun hanya terdiam, matanya pun kini ikutan memerah.
“Siapa dia Melanie?” Tanya pria gendut, yang saat ini lengan pria gendut tersebut sedang di gandeng oleh Melanie.
Melanie pun hanya diam. Tak menjawab pertanyaan pria gendut tersebut.
“Aku pacarnya Melanie!” Jawabku lantang, dengan rasa percaya diri yang tinggi. Iyalah percaya diri, wong saingannya sama, sama-sama jumbo.
“Ia… Ia bukan siapa-siapaku!” Ucap Melanie, singkat, padat dan jelas. Sambil berlalu dari hadapanku. Bersama dengan pria gendut tersebut, yang saat ini masih tetap setia digandeng oleh lengan Melanie.
Sumpah, betapa sakitnya hatiku saat itu!
Aku pun berbalik ke arah mereka, menatap lirih ke arah mereka dari arah belakang…
“MELAAAAANNIIIEEE!” Teriakku sambil bercucuran air mata di pipiku. “AKU BERSUMPAH! AKU BERSUMPAH, AKU AKAN MEMBALAS MU!” AKU BERSUMPAH AKU AKAN MEMBUAT DIRIMU MENYESAL MENGANGGAP DIRIKU BUKAN SIAPA-SIAPA DI MATAMU!!!”
Melanie hanya diam, tak menggubris teriakan-teriakan ku. Dan masih melanjutkan langkahnya, tanpa rasa iba sedikit pun kepadaku.
Sementara, pria gendut menyebalkan itu, kini berbalik ke arahku, tersenyum puas sambil menatap remeh ke arahku.
Aku benci hal ini… aku pun mengepalkan tangan kiriku kuat-kuat… Melanie aku bersumpah, suatu hari nanti aku akan membalas mu!
“MELANIE INGAT ITU BAIK-BAIK!! KAU TUNGGU PEMBALASANKU!!!” Teriakku lagi, emosiku saat ini meledak-ledak, benar-benar tak stabil.
#Flashback End
“Arya bangun, Arya!!!” Terdengar suara Teddy Priady, sambil menepuk-tepuk kasar tubuhku… Ia secara tak langsung, sedang membangunkan ku dari mimpi buruk ku.
Aku pun mengucek mataku, terbangun dari tidurku. Tanpa sadar, sedari tadi aku tertidur di jejeran kursi lobi, rumah sakit Permata, rumah sakit kecil milik pamannya Teddy Priady.
“Bagaimana keadaan Melanie Ted?” Tanyaku dengan nada khawatir ke arah Teddy. “Apa dia mati? Apa dia sekarat?” Tanyaku bertubi-tubi ke arah Teddy. “Apa dia…”
“Sssstt…” Teddy pun berusaha menenangkan ku. “Melanie nggak apa-apa Ya, Ia saat ini masih tertidur, tentunya dengan selang uap yang masih menempel di hidungnya.”
“Huuuuuuuffffttt~ Syukurlah.”
“Ya, kamu masih ada rasa ke Melanie?” Sindir Teddy ke arahku, sambil tertawa meremehkan.
“Nggak ih~ aku loh kesini cuma kasian sama dia… kamu masih ingat kan gimana jahatnya dia ke aku dulu?”
“Iya, aku tahu kamu benci banget ke Melanie…” Ucap Teddy serius. “…Benar-benar cinta! HAHAHHAHAHAAAAAA.” Lanjutnya, sambil terkekeh.
Aku pun memukul pelan, ke arah lengannya.
“Ih Najis…” Elak ku, sambil tersenyum simpul.
Entahlah~ entah mengapa aku merasa sangat bahagia, Sang Pencipta kini mempertemukan ku kembali dengan sosok Melanie, meski harus dengan cara menyedihkan seperti ini.
Untuk kamu Melanie, ingat! Tunggu pembalasanku!!!
#To Be Continued
Jangan lupa like, komentar, vote, ratting dan shared...
demi... demi... demi... keberlangsungan hidup Arga, Gladish dan kawan-kawan di masa depan... 😢😢😢
ini Visual Bapaknya Gladish👇👇👇👇
tampan nggak?? 😅
__ADS_1
Ok, yang mau Request Visual lagi dipersilahkan coret-coret di kolom komentar 👇👇👇👇