
"Kay, tolong kamu jaga mereka ya."pinta tidak lupa ia menunjuk ke arah beberapa anak kecil.
"baik nona." jawab Kay dengan sopan.
"anak-anak kalian ikut paman kay dulu ya," ujar Chaterine dan di angguki kepala oleh keponakan nya.
Kay membawa anak-anak itu ke sebuah taman, di markas tidak hanya ada rumah tapi juga ada tempat latihan memanah, menembak, berkuda, tempat balapan, golf, permainan anak-anak, dan taman yang indah.
"selamat datang nona." ujar salah satu anggota black wolf dengan sopan dan membukakan pintu untuk Chaterine, saat ingin masuk tercium aroma anyelir darah.
"yakin mommy,mama, kakak dan aunty mau ikut masuk ke dalam."ujar Chaterine, ia khawatir jika mereka akan pingsan saat melihat tempatnya.
"mommy sepertinya mau di luar saja sayang." ujar mommy Jovinka yang berubah pikiran, begitu juga dengan para perempuan yang lainnya kecuali Grace dan angel yang tetap ikut masuk.
"baiklah mom, mommy berjalan lurus saja nanti ketemu sama anak-anak dan kay.”
setelah para perempuan pergi, mereka kembali masuk, saat pertama masuk pandangan mata mereka tertuju pada tempat yang seperti nya untuk menyiksa para musuh nya dan sepertinya juga darah yang berada di bawah meja itu masih baru.
"Zee."panggil Chaterine, Zee yang mendengar nya segera menghampiri nya.
"nona."
"di mana mereka?"tanya Chaterine
"ada di dalam ruangan mereka nona," jawab Zee dengan sopan, ia lupa jika nona nya akan berkunjung dan lupa membersihkan noda darah tersebut.
"bawa aku ke sana." ujar Axel, Zee melihat ke arah Chaterine untuk meminta persetujuan, Chaterine pun menganggukkan kepalanya. Zee membawa Dady Axel ke sebuah ruangan yang gelap.
di saat semua orang sudah mulai mual dengan bau darah justru Chaterine terlihat tenang-tenang saja.
__ADS_1
"kamu tidak mau ikut masuk sayang?" tanya Samuel sebelum benar-benar pergi meninggalkan sang adik.
"tidak kak, Chaterine di sini saja." jawab Chaterine, Samuel dengan para adiknya kecuali Chaterine, pergi ke tempat sang Dady dan uncle nya yang sudah berjalan lebih dulu.
"kenapa tidak ikut masuk saja?" tanya Angel sambil menutupi hidungnya.
"belum waktu nya untuk bertemu dengan mereka, jika aku ikut. aku tidak bisa janji mereka akan masih hidup."jawab angel dengan memainkan pisau kecil, angel memperhatikan seksama pisau kecil tersebut yang seperti nya ada sebuah ukiran tapi tidak jelas.
"kamu dapat dari mana pisau itu."
"pisau ini ya, hadiah dari kakek saat aku berusia empat tahun. cantik bukan,"katanya dengan memperlihatkan pisau tersebut, angel mengernyitkan keningnya saat melihat ukiran bunga Lotus di pisau itu.
"kenapa kakek selalu memberikan mu hadiah yang ada ukiran bunga Lotus?"tanya Angel, seingat nya kakek nya Chaterine selalu memberikannya hadiah yang berukiran bunga Lotus, bahkan saat pertama ia bertemu dengan Chaterine, ia juga memakai kalung bunga Lotus.
"karena aku menyukai nya, sebenarnya kakek tidak hanya memberikan hadiah yang berukiran bunga Lotus tapi masih ada yang lainnya."
Chaterine baru sadar jika angel dengan yang lainnya menutup hidung mereka, Chaterine menekan tombol kecil yang tidak jauh dari nya dan membuat mereka semua berada di ruang rahasia.
"kenapa kita bisa ada disini?" tanya Angel dengan nada terkejut, Chaterine Hanya menggeleng kan kepalanya. lalu ia berjalan ke sebuah ruangan yang ada beberapa buku yang memang ia sediakan sejak awal.
sedangkan Dady Axel sedang memukuli kedua orang itu hingga babak belur, dan memenuhi keinginan putri nya untuk tidak membunuh keduanya, Zee yang melihat kemarahan pada diri Axel membuat nya ingat tentang Chaterine,
"tidak heran kenapa nona bisa semenakut kan itu, Dady nya saja juga sama. tapi lebih menakutkan nona saat sedang marah,." batin Zee, ia menelan Saliva nya melihat ke brutalan Dady nona nya.
setelah selesai mereka kembali keluar dan tidak mendapati putri nya maupun yang lainnya, Zee yang melihat nya pun menekan sebuah tombol dan membawa mereka semua masuk.
"apa yang sedang kalian lakukan di sini sayang?"tanya Dady Axel yang baru datang
"eumm.... mereka semua tadi menutupi hidung mereka dad, jadi Chaterine bawa ke sini saja."jawab Chaterine dan meraih tangan sang Dady yang terkena darah.
__ADS_1
Chaterine mengambil tisu dan membersihkan darah tersebut, Dady Axel tersenyum mendapatkan perhatian kecil dari sang putri.
"kenapa baju Dady jaga bisa terkena darah?" tanya Chaterine sambil membersihkan nya tetapi masih bisa mencium darah itu melekat pada pakaian sang Dady.
Chaterine memutar tubuh nya dan berjalan ke arah sebuah dinding, dan menekan tombol yang tersembunyi dan muncullah sebuah lemari pakaian. Chaterine mengambil salah satu kemeja dan memberikan nya kepada sang Dady.
"ganti dad, darah nya masih bisa tercium."kata Chaterine dengan mendorong pelan tubuh Axel ke sebuah ruangan, Axel hanya bisa menuruti kemauan sang putri.
"ayo sayang, kita temui mommy kamu dan yang lainnya." ujar Dady Axel yang sudah berganti pakaian, Chaterine mengangguk kan kepalanya dan membawa mereka keluar dari dalam ruangan tersebut dari arah lain.
"kenapa tadi tidak ikut Dady masuk?"
"jika Chaterine ikut bersama Dady, mungkin Chaterine akan langsung membunuh mereka berdua."jawab Chaterine dengan menggandeng tangan sang Dady dan membawanya ke sebuah taman, bahkan mereka di buat takjub dengan taman itu,
"siapa yang membuat taman ini sayang?"tanya papa derent, bagaimana tidak takjub di sekeliling Tama ada berbagai macam buah-buahan dan jenis bunga yang berbeda dan barulah ada rumah kecil di tengah nya untuk bersantai di sana.
"Chaterine, tapi yang menanam nya para pelayan dan anggota black wolf pa."jawab Chaterine, kemudian ia berlari ke salah satu pohon buah dan memetik buah tersebut.
"Dady, coba buah strawberry ini sangat manis!" seru Chaterine dengan membawa beberapa buah strawberry di kedua tangannya dan itu membuat nya teringat saat berlibur dengan Chaterine di kebun buah dan putrinya melakukan hal yang sama seperti ini.
tetapi bedanya dulu Chaterine menaruhnya di baju nya dan sekarang di tangan nya.
"ini manis sayang."ucap nya, Chaterine tersenyum lebar mendengar nya. dulu ia selalu ingin membawa keluarga nya ke sini tapi belum waktu nya dan sekarang ke inginan nya sudah terkabul.
"apa hanya Dady saja yang diberikan,lalu kami bagaimana!"seru Gavin dan Andrew bersamaan.
"ambil saja sendiri kan bisa." ujar Chaterine sambil menarik tangan sang Dady untuk duduk bersama dengan yang lainnya.
lagi-lagi Leon cemberut melihatnya, setiap bersama dengan keluarga nya pasti dia akan di lupakan oleh sang istri.
__ADS_1