
setelah memastikan keadaan anggota black wolf dan setelah membersihkan diri nya, Chaterine meminta salah satu anak buah nya untuk mengantarnya pulang dan ia tidak ingin kedua orang tua nya khawatir jika ia sampai tidak pulang.
sedangkan saat ini Axel sedang menunggu kepulangan putri kecilnya, bahkan perasaan nya sejak tadi masih masa.
"kenapa baru pulang?" tanya Axel dengan datar, ia memperhatikan wajah Chaterine dan penampilan putri nya dari atas sampai bawah.
ia ingin memastikan jika putri nya baik-baik saja.
Chaterine tidak menjawab nya, kepala dia sudah pusing dan butuh istirahat. lawannya kali ini benar-benar menguras habis tenaga nya.
"kamu baik-baik saja kan sayang!" seru Samuel saat melihat wajah sang adik pucat, Axel juga memperhatikan wajah putri nya.
"aku baik-baik saja, Chaterine mau istirahat dulu."jawab Chaterine, ia segera melangkah menuju ke dalam kamar nya.
Axel yang melihat cara langkah putri nya yang sedikit pincang pun segera berjalan cepat dan menarik tangan Chaterine dengan cepat.
"ada apa dengan kaki kamu, sayang?" tanya Dady Axel, ia khawatir jika putri nya terluka saat pergi dari rumah tadi. sedangkan Chaterine mencoba menjawabnya dengan tenang agar tidak semakin membuat mereka khawatir.
"hanya terkilir saat Chaterine berlari tadi." jawab Chaterine dengan berbohong, Axel tahu jika putri tengah berbohong kepada nya saat ini.
ia menarik putri nya agar duduk di sofa,
"Kim, ambil kotak obat."perintah Axel, ia berjongkok di depan putri nya dan menaikkan celana jeans sang putri.
inilah alasan mengapa ia tidak menyetujui jika Chaterine harus terjun ke dunia mafia, hanya akan membahayakan keselamatan nya.
__ADS_1
"ini tuan."ujar Kim yang sudah di samping sambil membawa kotak obat dan menyerahkan kepada Axel.
"Dady, Chaterine baik-baik saja, sungguh." ujar Chaterine yang berusaha menghalangi sang Dady untuk mengobati kakinya.
"apa perlu Dady ikat tangan kamu supaya kamu tidak memberontak?" tanya Dady Axel dengan datar, luka di kaki putri nya ini jelas luka tembakan.
tidak hanya Axel yang menyadari luka Chaterine, tapi semua orang juga bisa menyadari nya.
Samuel berjalan ke arah Chaterine dan menyibak kan rambut Chaterine ke samping, ia terkejut saat mendapati luka lainnya. sedangkan Chaterine hanya diam, sekuat tenaga ia untuk menutupi luka nya pasti akan tetap ketahuan.
"Grace, setelah ini bawa Chaterine ke dalam kamar nya dan periksa luka yang lainnya juga."perintah Samuel, ia yakin luka sang adik tidak hanya ini saja dan pasti masih ada beberapa lagi. jika ia tahu begini, pasti Chaterine lebih baik membawa obat yang ia racik sendiri dari rumah,
"baik kak." Chaterine menghela nafas berat, ia bukan anak kecil lagi tapi masih saja di perlakukan seperti anak kecil.
"apa sakit sayang?"
"apa kamu yakin sayang? bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja?"
"Chaterine baik-baik saja Dady, Chaterine mempunyai obat untuk luka Chaterine agar segera sembuh. Dady tidak perlu khawatir, ini sudah biasa bagi Chaterine."jawab Chaterine dengan jujur, ia menatap wajah sang Dady dengan tersenyum manis. sekarang ia tahu, sebesar apapun dia marah kepada orang tuanya.itu tidak membuatnya membenci mereka.
"kenapa tersenyum?"
"apa Dady sangat mengkhawatir kan ku?" Axel menatap tajam ke arah putri nya, yang masih tersenyum ke arah nya.
"pertanyaan macam apa itu sayang, bukankah sudah jelas jika Dady mengkhawatirkan mu saat ini!" jawab Axel kesal dengan pertanyaan sang putri yang cukup konyol.
__ADS_1
"aku senang melihat Dady yang seperti ini." perkataan Chaterine membuat Axel semakin kesal, apa putri nya berencana untuk membuat mati muda karena kelakuan nya.
"berhenti tersenyum, atau dady akan menutup mulut mu menggunakan lem." bukannya takut, justru Chaterine tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah sang Dady,
"apa benar tidak sakit sayang?" tanya Samuel untuk memastikan keadaan sang adik.
adiknya yang terluka tapi mereka yang merasakan sakit nya.
"Chaterine baik-baik saja kak Sam, setelah Chaterine berikan obat, besok juga sudah sembuh seperti sebelumnya." jawab Chaterine yang masih mencoba untuk meyakinkan keluarga nya.
"apa yang sedang kamu lakukan tadi sampai bisa terluka seperti ini?"
"menghajar orang, memangnya apa lagi?."
"lain kali jangan sampai terluka kembali." ujar Samuel, ia mengusap kepala Chaterine dengan pelan, walau ia khawatir tentang masa depan sang adik tapi ia tetap akan mendukung apapun keputusan sang adik.
"tidak janji, lagi pula ini hanya luka kecil."
"luka kecil kamu bilang." ujar Axel yang kesal kepada putrinya, dan sedikit menekan luka sang putri, supaya bisa hati-hati lain kali.
"arggggg..... Dady ingin membunuh ku ya." teriak Chaterine, sedang Dady Axel tersenyum miring melihat putri nya yang tengah mengusap luka nya.
"bukannya tadi tidak sakit hmmm." ujar Dady Axel, ia kembali duduk di samping putri nya yang tengah memasang wajah cemberut karena nya, siapa suruh putrinya ini memancing amarahnya.
"hufff.... untung sayang, kalau tidak sayang udah Chaterine balas perbuatan Dady." ujar Chaterine dengan kesal, ia melirik ke arah map yang ada di atas meja dan sepertinya anak buah kakak nya sudah mendapatkan informasi tentang dirinya.
__ADS_1
walau tidak semua, setidaknya mereka sudah tahu identitas diri nya waktu kecil.