
Setelah Syeila turun dari mobil Faishal, segera Syeila melangkah menuju kelasnya. “Semangat,” gumam Syeila memberi semangat pada dirinya. Mengingat sekolah hanya tinggal beberapa bulan saja sebelum ujian kelulusan.
Sesampainya di kelas, kelas masih sangat sepi, hanya beberapa orang saja yang baru hadir salah satunya Rendy.
“Hai Ren Ren,” sapa Syeila sembari menaruh tasnya di meja. “Hai Syei. Lo udah sehatkan?”
Syeila mengangguk, “Iya Syeila udah sehat kok.”
“Apalagi yang disini, juga sangat sehat,” lanjut Syeila dengan jari telunjuknya menunjuk ke bagian perut. Rendy yang mendengarnya tersenyum lega. Ya, semua sahabat magang Syeila pada tau kalau Syeila tengah mengandung.
Dan tak lama para siswa berdatangan, begitupun dengan teman teman Syeila yang lain. Syeila, Mia, Cici, Rendy dan Boby bergerombol cerita di bangku dekat Syeila sampai bel masuk berbunyi.
Jam pertama kelas Syeila ada pelajaran Biologi. Materi yang di terangkan oleh gurunya terkait tumbuhan dikotil dan monokotil. Syeila memperhatikan pelajaran dengan serius sampai guru tersebut menampilkan slide gambar beberapa pohon, salah satunya pohon mangga.
Apalagi yang dibuat contoh pohon mangga adalah gambar pohon mangga yang sudah berbuah. Hmmm, ambyar sudah Syeila tidak jadi fokus dengan materi yang dijelaskan oleh gurunya.
Beberapa kali Syeila menelan ludah, ketika membayangkan betapa lezatnya memakan pohon mangga. Apalagi pohon mangga pak RT yang ada di komplek rumahnya (perumahan keluarga Wijaya ya maksutnya).
Uhhhh, lama bener sih, nggak selesai selesai. Syeila sudah nggak sabar pengen makan mangganya pak RT. Syeila hanya menelan ludah dan mendumel selama pelajaran berlangsung.
Setelah pelajaran pertama selesai. Segera Syeila menuju meja Rendi. “Ren Ren.”
Rendi yang saat itu sedang mengbrol dengan Boby menoleh, “Ada apa Syei. Kamu merasa nggak enak badan.”
Syeila menggeleng, “Lalu kenapa Syei?”
“Syeila pengen mangga Ren.”
“Hah mangga?” Syeila mengangguk mengiyakan. “Yaudah nanti pas istirahat ya?”
Syeila berkaca kaca sambil memegang perutnya, “Tapi dia pengen sekarang Ren.” Astaga, Rendy menghela napas. Bagaimanapun ini juga bagian dari pekerjaannya. “Baiklah ayo.”
Rendy membawa Syeila ke belakang sekolah dan tidak sadar diikuti oleh Cici, Mia dan Boby.
“Kamu tunggu sini ya. Aku manjat pohon dulu,” pinta Rendy kepada Syeila sebelum memanjat pohon mangga yang ada di belakang sekolah.
Syeila menghentikan langkah Rendy dengan memegang seragam Rendy, “Ada apa Syei?”
Syeila menunduk takut, “Syeila nggak ingin mangga ini Ren.”
“Hah,” Rendy mengerjap, “Maksutnya?” lanjut Rendy.
“Syeila ingin mangga pak RT yang di satu kompleks dengan Daddy dan Mommy Syeila, Ren,” cicit Syeila sembari menunduk.
__ADS_1
Rendy melongo mendengar permintaan Syeila. Bukannya nggak mau sih, tapi ini masih jam sekolah loh. “Syei, kalau gitu nanti aja gimana. Ini masih jam sekolah juga.”
Syeila kembali berkaca kaca, “Tapi dedek bayinya mintanya sekarang Ren Ren, hiks.” Luruh air mata Syeila.
Rendy bingung, bagaimana cara menenangkan Syeila, dan hal tersebut bersamaan dengan datangnya Cici, Mia dan Boby.
“Syei, Lo kenapa?” tanya Mia yang sudah dekat dengan Syeila.
“Sudah, jangan nangis,” sambung Cici menenangkan Syeila
“Hiks Syeila ingin mangga Ci, tapi Ren Ren nggak mau nolongin.”
Cici, Mia melotot ke arah Rendy, “Rendyyyyy!”
Astaga, Rendy mendesah kasar. “Masalahnya Syeila nggak mau mangga ini.” Rendy menunjuk pohon mangga yang ada di depannya.
“Hah, emang Lo mau mangga yang mana Syei?” tanya Cici.
“Mangganya Pak RT.”
“Pak RT yang rumahnya dekat dengan rumah bonyok Lo?” tanya Cici yang memang sudah hafal.
Syeila mengangguk membenarkan, “Berarti Pak RT yang kepalanya plontos dan menyeramkan itu?”
“Astaga, Lo tu nggak kapok apa minta mangga ke sana lagi.” Ucapan Cici membuat yang lain penasaran. Belum sempat Cici menceritakan, Syeila sudah kembali bersuara, “Tapi dedek bayinya ingin mangga yang disana Cici.”
“Ohhh, jadi kamu ngidam Syei?” sela Mia yang akhirnya faham kalau Syeila tengah mengidam.
“Nggak tau, tapi Syeila ingin banget mangga Mia, gara gara lihat gambar pohon mangga yang berbuah tadi di pelajaran Biologi.”
“Ahhh, guru laknat memang. Ngasih contoh ada buahnya lagi, kan gue jadi repot,” umpat Rendy dalam hati.
“Oh iya kamu lagi ngidam itu Syei. Yasudah, Rendy kamu harus anter Syeila ya. Soalnya Syeila ngidam, dan orang ngidam itu harus di penuhi keinginannya, kalau nggak di penuhi, siap siap aja anaknya entar ileren loh,” seru Mia menakut nakuti
“Yaudah gih Ren, kamu anter Syeila,” timpal Cici
“Hmm, baiklah. Tapi kita lewat mana? Nggak mungkin kita lewat depan,” sahut Rendy.
“Iya, kalian nggak akan mungkin lewat depan. Dan sebentar lagi siswa kedisiplinan akan berkeliling,” timpal Boby yang sedari tadi hanya diam saja.
Syeila yang melihat temannya bingung, segera menunjuk pagar sekolah, “Lewat situ aja gimana?”
Cici dan Mia melotot, “Lo yakin mau lewat situ Syei? Itu pager loh,” seru Mia yang tidak yakin Syeila bisa melewati pager sekolah yang lumayan tinggi.
__ADS_1
“Ya, itu memang pager Mia, Syeila juga nggak bilang itu kasur kan,” jawab Syeila dengan tampang polosnya membuat Boby cekikikan.
“Ya ampun, Syeila sayang. Maksutnya Mia tuh, gimana caranya Lo bisa lewati pager itu?” jelas Cici
“Syeila bisa kok Ci. Tuh ada kursi sama meja. Dan di belakang pager ini juga ada meja kok. Kan Syeila juga pernah melakukannya.”
Sebelum ada yang menyela lagi, Rendy segera bersuara, “Okay deh. Syei kita berangkat sekarang aja. Sebelum ketahuan siswa kedisiplinan. Jangan lupa ya kalian bilang ke guru kalau gue nganterin Syeila pulang karena sakit.”
Mia, Cici dan Boby hanya mengangguk mengiyakan. Kemudian Rendy dan Syeila segera melompati pagar menggunakan meja kursi yang ada di dekat mereka.
Setelahnya, Rendy dan Syeila bergegas mencari taxi untuk menuju ke kompleks perumahan bonyok Syeila. Pun dengan Cici, Mia dan Boby yang juga kembali ke kelas.
Setengah jam berlalu, akhirnya Rendy dan Syeila sampai di rumah pak RT yang hanya berjarak lima rumah dari rumah bonyoknya. “Ayok Syei kita turun.”
Syeila menggelengkan kepalanya. “Loh.” Sungguh Rendy bingung harus ngadepi Syeila kayak gimana.
“Katanya tadi mau mangganya pak RT.”
“Iya, tapi mau suami Syeila yang ngambil mangganya,”cicit Syeila dengan kepala tertunduk.
“Ya ampun Syei. Nanti gue bilang apa ke suami Lo.” Rendy frustasi mengacak rambutnya. Syeila hanya diam.
Lama kelamaan terdengar suara isak tangis Syeila. Rendy menoleh ke arah Syeila dengan mata membulat, “Ya ampunnn. Kenapa nangis lagi.”
“Hiks hiks, Syeila ingin yang ngambil mangganya suaminya Syeila Ren Ren hiks.”
“Sudah mas, hubungi orang yang di maksut adeknya aja,” saran supir taxi. Akhirnya Rendy menghubngi Faishal.
Di nada dering ke dua panggilan Rendy diangkat,”Halo Tuan. Maaf mengganggu waktunya. Tapi saat ini Syeila meminta anda untuk segera kesini…” Belum sempat Rendy berucapp sudah dipotong oleh Faishal, “Apa?”
Syeila yang mendengar suara Faishal nangisnya tambah kencang dan itu semakin membuat Rendy bingung, “Ya ampun kenapa tambah kenceng nangisnya. Tuan, Tuan bisa dengarkan Syeila menangis. Tuan segera kesini ya di…”
Lagi lagi belum Rendy menyelesaikan kalimatnya, Faishal sudah memotongnya,“Astaga, baiklah. Aku akan kesana sekarang.” Tuuut.
Panggilan langsung dimatikan sepihak oleh Faishal, “Ya ampun, langsung dimatikan panggilannya. Ahhh bodoh amat, nanti gue wa aja alamatnya. Sekarang nenangin Syela dulu,” batin Rendy. Setelahnya Rendy mencoba menenangkan Syeila yang masih menangis.
.
.
.
TBC
__ADS_1