Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 135


__ADS_3

“Hehehe, akan aku ceritakan masalah intinya sembari mendaki bukit dan bercocok tanam Yang.” Faishal langsung membawa Syeila ke kamar yang ada di ruangannya.


Sedangkan Syeila hanya mengerjap memikirkan ucapan suaminya, kemudian pipinya merona ketika sadar maksut dari ucapan suaminya, “Ihhh sayang, Syeila malu.” Lupa sudah Syeila dengan masalah yang akan di ceritakan Faishal.


Dengan pelan pelan, Faishal meletakkan Syeila datas pembaringan, dengan dirinya berada diatas Syeila, tetapi tidak sampai menekan Syeila biji sawi kesayangannya.


Cup. Dikecup dan dilumatnya bibir mungil Syeila yang membuat pipi sang empunya semakin merona. Tapi mendadak otak Syeila mengingat ucapan Faishal sebelumnya. “Sayang tunggu.” Tangan Syeila mencegah mulut Faishal yang ingin terus ******* habis bibirnya.


“Huuuuuh, ada apa Yang.”


“Tadi ceritamu belum selesai loh.” Faishal menepuk jidat. Dirinya ikut terhanyut sampai lupa tujuan awalnya. Salah Syeila juga sih, menangis aja bibirnya sangat menggoda. “ Kamu sudah siap mendengarnya Yang?”


Syeila yang penasarannya sudah di ubun ubun, mengangguk dengan semangat. Tak peduli masalah apa yang akan di ceritakan oleh suaminya, tapi satu yang Syeila pedulikan  bahwa suaminya sangat mencintainya. Dan Syeila mempercayai itu.

__ADS_1


“Begini, temanku tersebut kembali kesini beberapa minggu lalu. Dia mempunyai putri berumur 4 tahunan. Dan dia sudah bercerai.” Faishal menghela napas. “Untuk masalahnya…” Syeila menyela dengan sedikit emosi, “Jangan bilang tu tante minta kamu jadi suaminya Yang?”


“Bukan sayang, tapi dia bilang ke putrinya kalau aku adalah ayahnya.” Faishal terpejam sesaat bersiap menerima semburan Syeila. “Apaaaaa?” Tuh kan bener, Syeila langsung mode singa. “Tuh tante emang bangcat.”


Faishal langsung mengecup Syeila, “Sayang mulutmu dikondisikan please!” Syeila mengerjap,” Maaf.” Bener. Seemosi emosi Syeila, dia tidak pernah sampai lepas control lewat ucapan. Karena sejak kecil kedua orang tua selalu mencontohkan tutur kata yang baik dan sopan.


“Habis tantenya nyebelin banget sih. Seenaknya aja mengklaim kamu ayah anaknya. Pengen aku jedotin tuh kepala ke tembok biar ingat siapa kamu bagi dirinya,” lirih Syeila yang masih emosi. “Terus terus, anaknya gimana? Jangan sampai ya otak anaknya tercuci mengira kamu bapaknya beneran. Enak


 aja!” lanjut Syeila


Syeila menatap kedalam bola mata Faishal sebelum berucap, "Jangan bilang dia...." Faishal mengangguk seakan mengerti siapa yang dituju oleh Syeila, "Dia Natasya."


"Ohhh triple ****," umpat Syeila lirih, kemudian mendorong tubuh kekar Faishal yang Sebagian masih menimpa tubuhnya, “Minggir, Syeila harus memberi pelajaran kepada tuh Tante. Syeila nggak terima pokoknya. Mentang mentang Syeila masih SMA, enak aja mau jadi pelakor. Dikira Syeila nggak bisa melawan apa.” Syeila sudah bangkit dari tidurannya dan berjalan keluar.

__ADS_1


“Sayang tunggu. Kamu mau kemana?” tanya Faishal memegang tangan Syeila. “Mau keruangan tuh Tante. Mau kasih pelajaran tante calon pelakor itu. Biar kapok, biar tidak berusaha merebut suami Syeila lagi.”


“Sayang, hei. Dengerkan aku.” Dengan sekali sentak, Faishal membawa Syeila kepangkuannya. Dan itu membuat Syeila cemberut. “Sayang hei. Sudah jangan dibahas lagi. Masalah itu sudah selesai.” Mendengar ucapan suaminya, mata Syeila melotot, “Kamu mencoba melindunginya?”


“Bukan sayang. Maksutku bukan seperti itu. Masalahnya kan juga sudah selesai. Dan Tadi pagi dia sudah minta maaf Yang dan juga sudah menjelaskan ke putrinya kalau aku bukan ayahnya. Meskipun awalnya, putrinya sedih dan kecewa, tapi akhirnya juga bisa menerimanya Yang.” Syeila terdiam, ya memang benar ucapan suaminya. Tapi tidak salah dong ya, Syeila perlu waspada.


“Dan yang terpenting, aku nggak ingin kamu berurusan dengan masalah yang memang nggak guna Yang. Dari pada ngurusin itu, lebih baik kita lanjutkan yang tadi ya Yang,” lanjut Faishal dengan mengerlingkan matanya menggoda Syeila.


Syeila yang digoda seperti itu, hanya berdecih. “Oke Syeila nggak akan buat perhitungan dengan tante calon pelakor itu. Tapi mulai saat ini Syeila akan menemanimu ke kantor Yang. Pulang sekolah Syeila akan selalu ke


kantor untuk mengawasinya. Awas aja kalau kamu ganjen Yang.”


Faishal malah tersenyum lebar mendengar ucapan Syeila, tak peduli dengan kalimat terakhir Syeila. "Dengan senang hati sayang. Aku malah senang kalau kamu mengikuti ku kerja. Bisa nguyel nguyel kamu setiap saat dong.”

__ADS_1


Syeila mendeli, “Enak saja.” Syeila berdiri dari pangkuannya Faishal, “Kamu aku liburkan seminggu. Tidak ada aktivitas bercocok tanam atau mendaki lembah atau apalah itu Namanya. Byee. Syeila pulang duluan dengan taxi.” Syeila berlalu dari ruangan Faishal.


"Haaaa?" Faishal tertegun beberasa saat, sebelum akhirnya seluruh badannya lemes seketika, ketika menyadari ucapan Syeila, “Ohhh ****, kenapa harus ada libur seminggu .”


__ADS_2