
Panggilan langsung dimatikan sepihak oleh Faishal, “Ya ampun, langsung dimatikan panggilannya. Ahhh bodoh amat, nanti gue wa aja alamatnya. Sekarang nenangin Syela dulu,” batin Rendy. Setelahnya Rendy mencoba menenangkan Syeila yang masih menangis.
“Syei sudah dong, kamu jangan nangis lagi. Bentar lagi pak bos sampai sini kok,” seru Rendy dengan tangan yang sibuk menepuk nepuk punggung Syeila.
Mendengar ucapan Rendy, Syeila mulai berhenti menangis, “Beneran Ren?”
“Iya, suami Lo sedang dalam perjalanan ke sini kok. Ayok kita turun,” ajak Rendy.
Kembali Syeila menggenggam seragam Rendy, “Ada apa Syei?”
“Kita disini aja Ren nunggu suami Syeila.”
“Tapi….”
“Sini aja sih Ren.”
“Huuuft baiklah.”
“Pak, nanti uangnya kita tambahin,” lanjut Rendy kepada pak Supir. Dan pak supir pun mengiyakan.
Semenit dua menit, sampai lima belas menit tiba tiba ada yang keluar dari dalam rumah pak RT.
“Syei syei itu ada bapak bapak yang keluar dari rumah Pak RT. Itu Pak RT kah?” tanya Rendy dengan menunjuk orang tersebut.
__ADS_1
Syeila yang awalnya melihat pohon mangga pun beralih menatap orang yang di tunjuk Rendy. “Oh, iya itu Pak RT.”
“Yaudah ayok kita kesana dulu,” ajak Rendy.
“Ihh mau ngapain sih Ren? Kan suami Syeila belum datang,” protes Syeila.
“Kita ijin dulu yok sama Pak RT. Kayaknya beliau mau keluar tuh.”
“Ihhh nggak usah Ren.”
“Loh nanti kita di kira maling loh Syei.”
“Eh, bukan dikira maling lagi Syei, tapi kita maling dong,” lanjut Rendy mengkoreksi kata katanya.
“Syeila udah biasa kok ambil mangganya Pak RT tanpa ijin.”
“Udah ih, Rendy diem aja deh.” Syeila menyela ucapan Rendy dan kembali menatap pada pohon mangga Pak RT.
“Hmm oke deh. Gue diem.” Rendy akhirnya masa bodoh dengan Syeila. Meskipun Syeila adalah istri atasannya sekaligus sahabatnya, Rendy mah bodoh amat.
Rendy sudah cukup frustasi dengan Syeila dari pagi ini. Alhasil sekarang Rendy sibuk dengan HPnya. Eiittts tapi bukan games ya. Ingat Rendy itu pribadi yang cerdas dan pekerja keras. Buang buang waktu rasanya kalau memanfaatkan kekosongan dengan bermain game.
Rendy sibuk membaca soal soal smp yang harus dikerjakannya. Ya semenjak Rendy diangkat pegawai oleh Faishal, Rendy sudah keluar dari semua kerja paruh waktunya.
__ADS_1
Selain Rendy mendapat gaji yang lumayan, Faishal juga menjanjikan akan membiayai sekolah Rendy sampai sarjana. Asal Rendy mau mengabdikan dirinya menjadi asisten Faishal.
Tentu, Rendy menerima tawaran tersebut. Dan selain itu Rendy juga ada sampingan mengerjakan soal soal SMP. Selain mendapat uang, Rendy juga mengasah kemampuannya.
Tik tok tik tok, waktu terus berjalan. Tidak terasa Syeila dan Rendy sudah menunggu Faishal lebih dari empat puluh menit.
Syeila mulai gelisah,” Ren. Kok suami Syeila belum datang ya.”
“Ini sudah hampir satu jam loh,” lanjut Syeila.
Rendy yang mendengar ucapan Syeila, seakan tersadar, “Ya ampun Syei. Gue lupa.” Ya, Rendy lupa mengabari Faishal kalau mereka ada di komplek perumahan bonyoknya Syeila.
Namun naas, belum sempat Rendy menghubungi Faishal, HP Rendy sudah berdering dahulu. Siapa lagi yang menghubungi kalau bukan Faishal.
Baru Rendy menggeser tombol hijau dan mendekatkan di telinganya, Rendy segera menjauhkan ponselnya karena gendang telinganya terasa berdengung mendengar teriakan dari seberang. Pun dengan Syeila yang juga berjingkat kaget.
“KALIAN ADA DIMANA HAAAAA?”
Astaga, Rendy mengelus dada dan menelan ludah kasar. “Astaga, galak banget sih suaminya Syeila,” batin Rendy.
.
.
__ADS_1
.
TBC