Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 111


__ADS_3

Disisi lain terlihat dua orang dewasa berbeda gender sedang menanti di luar ruang perawatan, dengan harap harap cemas. Tak lama terlihat dokter diikuti perawatnya keluar dari ruang perawatan.


“Bagaimana dok keadaan putri saya?” serbu seorang wanita dengan wajahnya yang kentara sekali sangat cemas.


“Putri ibu tidak apa apa, hanya demam tinggi. Besok sudah bisa dibawa pulang.” Mendengar penjelasan dokter dia sedikit tenang. Syukurlah putrinya tidak kenapa napa.


“Oh iya Bu, apakah beliau papanya?” tunjuk dokter tersebut kearah laki laki yang berada disamping wanita tersebut.


“Sepertinya putri ibu sangat merindukan papanya, karena terus menggumamkan papa. Saran saya bapak segera menemui putri bapak didalam. Dan saya permisi buk pak,” lanjut sang dokter sebelum undur diri diikuti oleh perawatnya.


Wanita tersebut yang mendengar ucapan dokter segera menghadap lelaki disampingnya dengan tatapan mengiba, “Ai……”


“Baiklah gue kedalem dulu.” Ya dua orang dewasa tersebut adalah Faishal dan Natasya. Ketika mereka sedang sibuk meninjau beberapa proyek di luar kota, Natasya dapat kabar dari pengasuh putrinya bahwa putrinya demam tinggi.


Natasya menyuruh pengasuh membawa putrinya ke rumah sakit. Dan kenapa bisa Faishal ikut ke rumah sakit bukan David sang asisten aja yang mengantar Natasya? Yap, karena Natasya mohon mohon ke Faishal.


Sebagai seorang ibu, Natasya sangat yakin bahwa putrinya sangat merindukan Faishal yang sudah terlanjur dianggap sebagai Papa. Salah Natasya juga sih yang dari awal memberi tahu ke putrinya bahwa sosok papa yang dicarinya selama ini adalah Faishal. Jadi, sulit bagi putrinya menerima Ketika Natasya menjelaskan bahwa Faishal bukanlah papa kandungnya.

__ADS_1


Kembali lagi ke Faishal yang saat ini berjalan masuk memasuki ruangan Naura aka putri Natasya.


“Papa,” seru Naura ketika melihat Faishal yang berjalan mendekat ke brankar pembaringan.


“Hiks hiks papa.” Lagi. Naura menyerukan suaranya diiringi isak tangisnya sembari merentangkan tangannya berharap Faishal menyambutnya.


Faishal tidak berkutik melihat Naura seperti ini. Mau tidak mau Faishal akhirnya mengulurkan tangannya menggapai tangan mungil Naura dan mendekap anak kecil yang selalu memanggilnya papa.


“Hiks hik papa. Nola kangen Papa. Mama bilang Nola nggak bisa ketcemu Papa lagi. Mama bilang papa bukan papa Nola, tcapi Nola nggak pelcaya hiks hiks.”


Naura mendongak dan dengan mata bulatnya yang penuh dengan air mata yang merembes keluar, “Papa nggak akan ninggalin Nola kan?”


***


Disis Syeila. Selesai dengan makan malamnya, Syeila Kembali ke kamar. Bolak bali Syeila menengok ke balkon kamar melihat halaman rumah, berharap sang suami segera pulang.


Tidak hanya itu, Syeila juga sesekali melihat layar hapenya yang masih setia dengan kesenyapannya tanpa bersua.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, habis sudah Syeila tidak bisa menunggu lebih lama.


Syeila mengotak atik gawai miliknya mencoba menghubungi Faishal. Sekali, dua kali, tiga kali dan semuanya gagal. Faishal tidak mengangkat panggilannya. “Ihhh kok nggak diangkat sih. Masak masih sibuk jam segini.”


Dengan Langkah gontai yang seakan dipaksakan, Syeila melangkah menuju pembaringan. Hari sudah larut dan Syeila memang sangat capek. Ingin beristirahat.


Bukannya langsung tidur tetapi Syeila membolak balikkan dirinya, berguling ke kanan Kembali kekiri berharap menemukan posisi yang pas dan berharap matanya segera terpejam.


Namun, sia sia aja, bukanna terpejam yang ada malah hatinya bergemuruh gelisah. Lagi lagi suaminya pulang larut malam. Syeila sebal Syeila nggak suka.


“Haaah, sepi sekali. Syeila nggak suka kayak gini. Rumah besar tapi seperti tak berpenghuni. Syeila kangen Mommy. Syeila pengen pulang.” Syeila terus mendumel, dan jangan lupa badannya yang terus bolak balik, dan lama kelamaan akhirnya Syeila tertidur sendiri.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2