Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 72


__ADS_3

Pagi hari, Syeila nampak terganggu dengan sinar matahari yang masuk melalui celah celah korden di kamarnya. “Hoaaaaam.” Syeila menggeliatkan badannya dengan mata yang sedikit demi sedikit terbuka.


“Ya ampun, kenapa remuk banget sih ni badan,” keluh Syeila ketika merasakan badannya remuk redam. Yaiyalah remuk redam, kan kemarin malam mantap mantap dengan Om Fai nya sampai dini hari.


Kemudian Syeila menoleh kesamping, dan terlihatlah wajah Faishal yang masih damai bergelung selimut, “Ck,ck ck,” Syeila berdecak kesal, melihat Faishal yang damai dalam tidurnya. Pasalnya, Faishal tidak merasa sakit setelah malam panjang kemarin, malah keenakakan. Beda dengan dirinya.


Ya sih, awalnya Syeila tuh juga merasa enak. Enak banget malah, tapi setelahnya badan Syeila rasanya mau patah semua,  Huuuh.


Ada yang bilang kalau mantap mantap, sakitnya pas pertama kali aja. Ini Syeila masih sakit tuh, padahal ini bukan yang pertama kali.  Apalagi setelahnya badan Syeila juga remuk pegal  karena Faishal nggak mau berhenti.


Faishal baru berhenti ketika Syeila mau pingsan. Uhhh nyebelin memang Faishal. Diluar aja Faishal sok sok an dingin, padahal kalau udah di ranjang, beuuuuh jangan ditanya. Syeila sampai nggak kuat megap megap melayaninya.


Syeila geleng geleng kepala membayangkan kembali kegiatan panas mereka kemarin malam. Untuk mengenyahkannya, Syeila bergegas ke kamar mandi. Setelahnya Syeila membangunkan suaminya.


Puk, puk, puk.. tangan mungil Syeila menepuk pelan pipi Faishal. “Sayang bangun! Udah siang loh. Udah mau jam tujuh,” ucap Syeila dengan tangan yang terus menepuk pelan wajah Faishal.


Bukannya bangun, tetapi Faishal semakin nyenyak dengan tidurnya. Syeila yang memang pada dasarnya tidak sabaran, dengan sekali sentak


PLAK, bukannya ditepuk pelan lagi, tetapi ditamparlah wajah Faishal. Nggak keras sih, tetapi cukup membuat tidur nyenyak Faishal terganggu. “Sayang,” ucap Faishal dengan suara serak khas orang bangun.


“Bangun ih, kan kamu harus ke kantor yang.”


“Iya, tapi banguninnya yang elegan dong. Hampir setiap hari kamu bangunin aku kalau nggak di tampar pasti diteriakin,” keluh Faishal dan mulai bangun duduk bersandar.


“Salah kamu lah yang, kebo! Aku udah bangunin dengan cara elegan tapi kamunya aja yang nggak bangun bangun.  Udah cepat mandi gih yang. Udah aku siapin bajunya. Aku mau ke dapur buat sarapan.”


“Baik sayang.”Faishal bergegas menuju kamar mandi. Begitupun Syeila yang juga bergegas menuju dapur. Sesampainya didapur dan melihat bahan bahan yang tersedia. Syeila mengernyit.


”Masak  apa ya? Hmm kalau nasi goreng, Syeila udah sering buat. Ahh iya, Syeila buat sandwich saja


deh sama jus jambu.”  Hanya membutuhkan dua puluh menit saja, untuk menyelesaikan urusan dapurnya.


Syeila segera menata sarapannya ke meja makan. Kemudian kekamar, untuk berganti baju dan memoles sedikit wajahnya. Dikamar terlihat Faishal sudah rapi dan sibuk bertelepon dengan asistennya David.


Faishal mendekat kearah Syeila setelah selesai telpon David. Direngkuhnya pinggang Syeila dengan membenamkan bibirnya di ceruk leher Syeila, “Wangi banget sih istri aku.”


“Ihh, sayang. Jangan gini dong. Entar berantakan lagi. Sudah yuk, kita sarapan, nanti kamu kesiangan ke kantornya,” ucap Syeila yang tengah berdiri di depan cermin.


“Siap sayang, yuk sarapan.” Faishal dan Syeila menuju ruang makan dan mulai sarapan paginya. Kemudian mereka berangkat ke kantor bersama.

__ADS_1


Seperti biasa, sesampainya dikantor, Faishal pasti sudah di tunggu asistennya di lobi. Syeila yang memang mengetahui hal tersebut, segera izin ke suaminya untuk masuk dulu,” Sayang, aku duluan ya. Jangan lupa pertanyaan wawancara sudah aku kirimkan ke kamu yang, nanti segera dijawab ya.”


“Iya sayang, pagi ini aku jawab pertanyaannya,” sahut Faishal. Kemudian Syeila mencium tangan Faishal dan Faishal mengecup bibir mungil Syeila. Setelahnya Syeila berlalu keluar mobil terlebih dahulu dan segera masuk ke kantor menuju ruangannya.


Sesampainya diruangan, seperti biasa teman temannya sudah pada kumpul, “Hallo everybody!” sapa Syeila dan dibalas oleh teman temannya.


“Oh ya Syei, wawancara sudah kan?” tanya Rendi


Syeila cengengesan sebelum menjawab, “Nanti kok sebelum istiraha dijawab. Hehe maaf  ya.”


“Iya Syei nggak papa. Tenang aja. Oh ya ini kita pengamatan terakhir, jadi kalian yang cewek dua lantai ya, lantai 3 dan 4. Sisanya aku sama Bobby.”


“Hmm, berarti besok kita sudah nggak kesini dong?” tanya Mia.


“Oh iya ya. Terus pengerjaannya kalau dirumah salah satu dari kita gimana?” usul Bobby


“Setuju,” ucap Syeila dan Cici serempak


“Eh gimana kalau di tempat loe Syei?” usul Mia


“Iya sih, nggak papa ditempat Syeila aja. Tetapi Syeila di apartemen jadi nggak luas.”


“Sudah sudah, berarti besok kita ke rumah loe ya Syei,” ucap Rendi


“Iya besok dirumah Syeila saja.” Setelahnya mereka mulai melakukan pengamatan. Syeila, Cici dan Mia bergegas ke lantai 4 dahulu.  Tidak terasa waktu menunjukkan pukul sepuluh. “Aku rasa kita sudah cukup deh, kita balik yuk,” ucap Mia yang memag sudah merasa cukup untuk pengamatannya.


“Yuk,” sahut Syeila dan Cici bersamaan. Sesampainya di lantai limat tempat ruangan mereka dan tentunya juga tempat CEO, asisten dan sekteratis berada, Syeila kembali bersuara, “Oh iya, anterin Syeila ke ruangan CEO yuk. Syeila mau ambil rekaman,” pinta Syeila yang memang mendapat pesan dari suaminya kalau udah selesai menjawab pertanyaanya.


“Emm. Sama Mia aja ya Syei. Gue kebelet.” Syeila mengangguk mengiyakan, kemudian Syeila dan Mia bergegas keruangan Faishal.


Sesampainya disana, Faishal langsung memberikan apa yang diminta Syeila. Sebuah benda kecil panjang yang isinya adalah rekaman dari jawaban pertanyaan wawancara. Dan sebelum Syeila keluar, Faishal kembali berucap, “Sayang, nanti makan siangnya ajak temenmu sekalian ya, kebetulan temen temenku juga kesini, jadi nanti makan bareng aja."


“Siap sayang, yasudah aku keluar dulu. Ayo Mia.” Syeila dan Mia keluar ruangan.  Dan sesampainya diruangan mereka, terlihat Syeila masuk terlebih dahulu. Ketika Mia mau masuk, tiba tiba terdengar pintu lift terbuka, entah kenapa tiba tiba Mia menghadapkan wajahnya kearah lift.


DEG, hati Mia mencelos dengan bulir bening jatuh dipipi melihat beberapa orang keluar dari lift. Ahh bukan beberapa orang lebih tepatnya fokus Mia pada satu orang yang terlihat mesra dengan salah satu wanita disana. Bergegas Mia menyeka air matanya, kemudian segera masuk keruangannya.


***


Tidak terasa waktunya makan siang akan segera tiba, “Gais. Udah mau makan siang nih. Yuk kita ke ruangan CEO, tadi beliau mengajak kita makan.”

__ADS_1


“Wah asyik dapat makan gratis,” celetuk Bobby. Yang lainnya hanya tertawa melihatnya. Kemudian mereka bergegas menuju ruangan CEO.


Tok.. tok.. tok.. tok. Syeila mengetuk pintu sebelum masuk.


“Masuk,” terdengar suara dari dalam yang megijinkan masuk. Barulah Syeila dan teman temannya masuk kedalam. Didalam sangat ramai, terlihat ada delapan orang dengan lima laki laki dan tiga wanita. Dan Syeila tau, itu adalah teman teman suaminya yang mau bahas reoni.


Sedangkan Mia yang melihat seseorang yang terlihat mesra apalagi duduk bersebelahan hanya menahan sakit dengan tangan saling meremas kuat.


“Siang Om  Tante,” sapa Syeila kepada teman teman Faishal.


Uhukk…uhuhh… Miranda yang sedang minum tersedak mendengar ucapan Syeila, sedangkan yang lain menyapa balik Syeila.


Marcel yang berada di samping Miranda menepuk pelan punggung Miranda. “Kamu tidak papa?” tanya


Marcel. Miranda tersenyum,  dan menjawab “Aku tidak papa.”


“Yasudah. Ini sudah waktunya makan siang. Kita langsung ke café depan aja ya,” ucap Faishal. Kemudian mereka semua berjalan menuju café depan. Setelah sampai disana, Faishal memesan ruang privat buat mereka.


Disaat yang lain sibuk dengan menu, Syeila tersadar akan sesuatu. “Sayang, aku balik ya. Aku lupa nggak bawa Hp.”


“Hah balik? Harus ya yang? Nanti aja gih, ini kita kan sedang makan juga.”


“Ihh, bentar sayang. Kan temen temen juga masih milih menu. Udah ya sayang, aku ambil Hp dulu.” Pamit Syeila tanpa menunggu jawaban Faishal. Faishal pun juga tidak bisa mnecegahnya, karena sifat dasar Syeila yang selain manja juga keras kepala.


Sesampainya diluar café, segera Syeila berjalan menyebrang kantor ketika kendaraan dirasa sepi.  Sedangkan


diujung jalan terlihat seseorang yang mengeluarkan seringian yang menyeramkan.


“Akhirnya, setelah beberapa lama gue ikutin, akhirnya tuh bocah sendiri juga.” Tanpa banyak kata, segera orang tersebut menyalakan mesinnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan jauh diatas rata rata membidikkan sasarannya pada Syeila.


Syeila yang berada ditengah jalan dan melihat mobil yang melaju kencang kearahnya, syok lemas seketika, dan mendadak mulutnya terkunci tidak bisa untuk sekedar berucap minta tolong atau berteriak.


Syeila memejamkan matanya kuat dan pasrah. Ya pasrah karena kakinya mendadak tidak bisa digerakin.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2