
“Sayang.”
Syeila mendongak melihat Faishal dengan air mata yang kembali menetes membasahi pipi. Faishal yang melihat hal tersebut segera merentangkan tangannya, “Sini!”
Tanpa babibu, Syeila langsung berhambur ke pelukan Faishal, “Hiks hiks hiks.” Syeila terus terisak dengan mengeratkan pelukannya.
Faishal hanya mengelus pundak Syeila sayang dan terus bergumam, “Sudah sayang, jangan nangis. Tidak apa apa.”
Faishal yang melihat biji sawinya terus sesenggukkan segera mengangkat Syeila membawa ke pangkuannya, otomatis Syeila lansung mengalungkan tangannya di leher Faishal dan kembali menenggelamkan dirinya.
“Hei Sayang, lihat aku. Sudah sayang jangan nangis lagi. Tidak apa apa, tidak akan ada yang memarahimu.”
Cup, cup, cup, cup.
Faishal memberikan kecupan berturut turut dari mata turun ke hidung dan berakhir di bibir mungil Syeila, dan kembali menghujani wajah Syeila dengan kecupan sampai Syeila kegelian.
Setelah Syeila agak tenang, Faishal mulai bertanya, “Bagaimana ceritanya kamu bisa ada di ruang BK sayang?”
Syeila kembali menunduk, mendengar ucapan Faishal. “Hei, lihat aku. Aku nggak akan marah sayang, aku hanya bertanya. Tadi kamu kemana hem?”
Dengan mata yang kembali berkaca kaca, Syeila bercicit, “Syeila beli cimol di belakang pagar sekolah.”
“Apa Yang? Beli apa?” Faishal mencoba memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
“Beli Cimol.”
Cimol? Makanan apa itu? Astaga ada ada aja biji sawinya ini. Namun tak urung Faishal kembali bertanya, “Emang cimol cimol di kantin nggak ada hem, sampai kamu harus keluar sekolah?”
__ADS_1
“Nggak ada Yang.”
“Dan hanya gara gara cimol tadi, kamu sampai meninggalkan kelas hem?” Syeila menggangguk membenarkan.
“Astaga sayang, kenapa nggak nunggu pulang sekolah aja sih?”
“Tadi Syeila beneran pengen sayang. Dan nggak bisa di tunda, Syeila ingin makan cimol.” Astaga, Faishal gemas sekali dengan Syeila yang saat ini ada di pangkuannya.
“Terus gimana caramu melompat pagar sekolah?” Faishal masih penasaran, menurutnya tingkah Syeila sudah di ambang batas wajar. Sangat tidak mungkin hanya karena ingin, sampai rela melompat pagar sekolah.
“Pakai kursi yang ada di belakang sekolah Yang.” Faishal menghela napas mendengar ucapan Syeila. Masih belum di percaya seorang Syeila harus melompati pagar sekolah hanya beli cimol.
“Maafin Syeila ya Yang. Maafin Syeila. Syeila juga nggak tau kenapa Syeila begitu ingin cimol.” Syeila kembali menenggelamkan dirinya di ceruk leher suaminya.
“Iya sayang, tidak apa apa. Aku juga tidak marah.” Meskipun demikian pikiran Faishal terus berkelana, memikirkan apa yang terjadi dengan biji sawinya.
gue bawa periksa ke teman gue ya, mengingat satu bulan ini mood Syeila selalu naik turun. Dan terkadang kemauannya di ambang batas wajar seperti saat ini. Apa Syeila stress ya? Tapi stress kenapa? Perasaan selama ini gue nggak pernah mengekang dia. Argggg entahlah, gue harus ketemu gurunya dahulu.
“Sayang, kamu turun ya. Aku mau ketemu guru BK tadi dan kepala sekolah. Kamu disini dulu ya.” Syeila hanya menggangguk dan bergegas turun dari pangkuan Faishal.
Kemudian Faishal bergegas keluar ruang BK dan mencari guru tadi. Setengah jam kemudian barulah Faishal kembali.
Entahlah, Syeila nggak tau apa aja yang di obrolan suaminya. Yang jelas ketika Faishal kembali keruang BK, “Ayo, pulang.”
Syeila mengerjap polos, “Hah, tapi sekolah belum waktunya pulang.”
“Nggak papa, kamu udah aku ijinin pulang lebih awal, ayuk.” Faishal mengulurkan tangannya, dan dengan senang hati Syeila menyambut uluran tangan suaminya.
__ADS_1
Sebelum keluar dari ruang BK, Syeila dan Faishal berpamitan dulu dengan guru yang ada disana. Sesampainya di mobil Faishal segera melajukan mobilnya.
“Sayang, apa kamu merasa tertekan?” Faishal bertanya dengan hati hati.
Ditanyai oleh suaminya, Syeila bingung, “Hah, maksutnya?”
“Kamu sadar nggak sih, akhir akhir ini emosimu tidak stabil?”
Syeila menunduk. Ya Syeila sadar akhir akhir ini emosinya gampang banget anjlok. Tapi, masak sih gara gara Syeila tertekan. Perasaan Syeila nggak tertekan deh. “Tapi Syeila nggak tertekan sayang.”
“Yakin, kamu merasa nggak tertekan?” Syeila bergeming dengan pertanyaan Faishal.
“Kamu, aku ajak periksa ke temen aku ya?” lanjut Faishal
“Periksa? Periksa apa Yang?” Syeila bingung, perasaan dia nggak sakit tuh.
“Temen aku ada yang psikiater Yang, nanti kita bisa tau kamu kenap…” Belum selesai Faishal bersuara, Syeila sudah memekik, “SAYAAAAAAAANG!”
CIIIIIIIT,……
.
.
.
TBC
__ADS_1
Yuk, bagi LIKE + KOMENTARNYA dong :)