
Faishal meraup wajahnya kasar, setelah mengingat kembali kegiatan yang dia lewati kemarin. Ahh tidak seharusnya kemarin dia sampai ketiduran di rumah Natasya. Apalagi Syeila sedang menunggu dan memberi kejutan untuknya.
Tetapi semuanya gagal, dan itu gara gara dirinya. “Haaaaaah.” Faishal menghela napas panjang.
Bersamaan itu, terdengar ketukan pintu,
Tok tok tok…. “Son, keluar. Ada yang mau kita bicarakan. Kami tunggu di ruang depan ya?” seru Mommy Meri.
Deg, dada Faishal bergemuruh. Perihal apa yang mau dibicarakan oleh orang tuanya. “Baik Mom.”
***
Di ruang depan sudah terdapat para orang tua dan juga Syeila yang bersandar manja kepada Mommy Lena. Ohh, jangan lupakan dengan satu koper yang teronggok di dekat pintu.
Faishal seakan sadar ada yang tidak beres segera bersuara, “Mom, Dad, ini maksudnya apa? Dan itu koper buat apa?”
“Duduklah dulu Son. Ada yang mau kami bicarakan.” Pinta Daddy Abian.
Setelah Faishal duduk, kembali Daddy Abian kembali bersuara, “Begini. Selama Syeila hamil, kalian harus tinggal di rumah kami. Nanti bisa gantian.”
Faishal sudah faham terkait kata kalian yang di lontarkan oleh Daddy Abian, sedikit keberatan. “Tapi kenapa Dad?”
Mommy Meri yang mendengar protesan anaknya merasa kesal. “Ya iyalah harus tinggal dengan kami. Kalau tinggal di apartemen siapa yang jagain? Kemarin malam aja kamu pulang telat,” sindir Mommy Meri.
Faishal hanya tertunduk. Kembali Faishal merasa bersalah mengingat kemarin. “Baik Mom.” Akhirnya mau tidak mau Faishal mengiyakan perintah Mommynya. “Tapi nanti kalau rumah kami sudah jadi. Kami akan pindah di rumah kami Mom.”
“Iya ya ya, penting ada pembantu biar ada yang nemenin Syeila kalau kamu tinggal kerja.” Faishal akhirnya mengangguk setuju. Dan Syeila masih nyaman bermanja dengan Mommy Lena tanpa menghiraukan perdebatan Faishal dengan Mommy Meri.
“Ya sudah, kita keluar sekarang aja sekalian makan siang,” seru Daddy Wijaya mengingat sekarang sudah lewat jam makan siang. Dan yang lain pun juga setuju. Akhirnya mereka menuju ke restoran langganan keluarga Abian. Dan seharian penuh Faishal Syeila menghabiskan waktu dengan para orang tuanya.
***
Keesokan harinya, Faishal dan Syeila bersiap siap. Terlihat Syeila sedang memoles wajahnya dengan bedak tipis di depan cermin. Faishal mendekat dan memeluknya dari belakang dengan kepala bersandar di pundak sebelah kanan Syeila, “Gimana sayang? kamu beneran udah enakan?”
__ADS_1
Syeila berbalik, berjinjit dan mengalungkan tangannya ke leher suaminya, “Syeila sudah sehat Yang. Yuk kita kebawah.”
Cup, dilabuhkkannya kecupan singkat di bibir Faishal, sebelum mereka turun ke bawah. “Ya sudah, tapi ingat ya Yang, kalau kamu merasa nggak enakkan langsung lapor Rendy,” seru Faishal sambil berjalan dengan tangan yang setia menggenggam tangan mungil Syeila.
Ya memang benar, sejak selesai magang, Faishal mengangkat Rendy sebagai pegawainya. Ahh lebih tepatnya, nanti Rendy akan di jadikan asisten pribadinya pengganti David. Mengingat David sebentar lagi akan resign karena harus mengelola perusahaan keluarganya. Tapi untuk saat ini, Rendy lebih di fokuskan untuk menjaga Syeila ketika di sekolah, dan untuk urusan kantor pun hanya sesekali saja.
“Pagi Mom, Dad,” sapa Faishal dan Syeila secara bersamaan ketika sudah sampai di tiga tangga terakhir.
“Pagi sayang,” sahut Mommy Meri dan Daddy Abian bersamaan.
“Sini, ayo kita sarapan,” lanjut Mommy Meri yang dibalas anggukan oleh Faishal dan Syeila.
Saat ini, Syeila dan Faishal menginap di rumah keluarga Abian selama sebulan kedepan, setelahnya mereka akan bergantian menginap di rumah keluarga Wijaya. Begitu seterusnya.
“Mommy senang deh. Kalau ada kalian rumah serasa ramai,” celetuk Mommy Meri di tengah aktivitas saratan mereka.
“Mooom,” tegur Daddy Abian yang mengingatkan Mommy Meri untuk tidak bicara selama makan. Mommy Meri hanya menunduk, dan melanjutkan makannya.
Disisi lain Syeila yang nggak sadar teguran Daddy Abian, menyahut ucapan Mommy Meri dengan antusias, “Benar banget Mom, Syeila juga senang banget. Beda kalau di apartemen.”
Dan sarapan akhirnya berjalan dengan khitmah kembali. Syeila dan Faishal segera berangkat setelah menyelesaikan sarapannya. Tak lupa sebelumnya, mereka juga berpamitan dengan Mommy Meri dan Daddy Abian.
Hanya butuh waktu lima puluh menit, Faishal sudah sampai di sekolah Syeila. “Sayang, selama di sekolah kalau kamu merasa nggak enak badan atau butuh sesuatu kamu bisa minta ke Rendi ya."
Syeila mengangguk dan fokus dengan HPnya, “Terus ini untuk uang sakumu hari ini.” Lagi lagi Syeila hanya mengangguk dan menerima beberapa lembar uang yang di berikan suaminya.
“Sayang, terimakasihnya mana?” Faishal gemas dan kesal karena Syeila hanya fokus dengan HPnya.
Syeila yang tersadar segera memasukkan HPnya dan menunjukkan gigi putihnya, “Makasih sayang.”
Cuup, kecupan di benamkan Syeila sebelum berpisah dengan suaminya. “Aku keluar ya Yang,” lanjut Syeila seraya mencium punggung tangan Faishal sebelum keluar dari mobil.
Faishal terus melihat Syeila sampai punggungnya tidak terlihat, sebelum melajukan mobilnya.
__ADS_1
Sesampainya Faishal di kantor, Faishal sudah disambut oleh sang asisten David. Di ruangan Faishal , David mengatakan agenda Faishal hari ini.
“Dan sepuluh menit lagi, Tuan ada rapat dengan perwakilan MRC. Corp. Perwakilan MRC.Corp juga sudah datang Tuan.”
“ Baik. Kalau gitu kita langsung ke ruang rapat.” David mengangguk dan mengikuti langkah Faishal.
Rapat kali ini berjalan cukup alot untuk menuai kesepakatan penentuan lokasi proyek yang di anggap strategis. Namun, walaupun begitu rapat tetap berjalan lancar.
Selesai rapat, Faishal berseru kepada sekretarinya sebelum kembali keruangannya, “Rum, setelah ini kamu keruanganku ya.”
“Baik Tuan.”
***
Tidak lama Faishal duduk di kursi kebesarannya, terdengar pintu di ketuk,
Tok tok tok
“Masuk,” sahut Faishal. Masuklah Rumi sang sekretaris. “Ada apa tuan memanggil saya?”
“Begini, beberapa hari lagi kan kamu udah cuti. Saya ingin sebelum kamu cuti, kamu juga harus membriefing penggantimu.”
“Baik Tuan. Lusa nanti pengganti saya sudah masuk, dan sampai hari H cuti, saya akan membriefing nya.”
Faishal mengangguk anggukan kepalanya,” Baik, kalau begitu kamu sudah boleh keluar.”
Setelah sang sekretaris undur diri, beberapa saat terdengar suara telepon berdering. Kening Faishal mengkerut melihat id pemanggil sebelum mengangkat. “Halo.” Faishal mendengarkan dengan seksama penjelasan dari sebrang.
“Apa?” Faishal tersentak mendengar penjelasan dari sebrang. Apalagi setelah mendengar tangisan dari sebrang, Faishal mengurut hidungnya sambil berucap, “Astaga, baiklah. Aku akan kesana sekarang.”
.
.
__ADS_1
.
TBC