Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 44


__ADS_3

Disisi lain, pukul lima sore terlihat Mommy Meri dan Mommy Lena memasuki kediaman Wijaya.


“Enak ya jeng, berasa muda lagi kita ,” ucap Mommy Meri sambil berjalan memasuki rumah.


“Iya jeng, boleh banget jeng nanti kita agendakan jalan jalan berdua hihihi,” sahut Mommy Lena.


Setelah sampai dirumah, lebih tepatnya diruang tamu, mereka menghempaskan bokongnya di di sofa ruang tamu.


“Ahh, capeknya,” gumam Mommy Meri yang masih terdengar Mommy Lena.


“Bentar jeng, saya suruh Bi Yem bwakan minum dulu,” ucap Mommy Lena


“Bi Yem bawakan jus jeruk yang saya buat tadi Bi, taruh di dua gelas ya,” teriak Mommy Lena


“Iya Nyah.”


Tergopoh gopoh Bi Yem membawa minuman tersebut ke depan, pelan pelan Bi Yem menaruh minuman tersebut  di meja sambil berucap, “Ini Nyah.”


“Makasih Bi,” sahut Mommy Meri dan Mommy Lena


“Oh ya Bi, tolong bawakan barang belanjaan ini kedapur ya, bentar lagi kita akan memasak juga untuk makan malam,” pinta Mommy Lena.


“Baik Nyah.” Segera Bi Yem mengambil barang belanjaan tersebut dan membawanya kedapur.


Kemudian Mommy Meri dan Mommy Lena mengobrol ringan sembari menikmati waktu sore mereka sebelum berkutat dengan dapur.


Setelahnya mereka menuju ke dapur, menyiapkan segala keperluan buat bahan masakan yang digunakan untuk makan malam.


Kemudian Mommy Meri berceletuk, “Syeila mana jeng? Kok sepi gini? Kan tadi dia mau ikut bantu masak, sekalian belajar?”


Mommy Lena menepuk jidat, kemudian berucap, “Oh iya lupa. Biasanya sih jam segini dia tidur jeng. Bentar biar dipanggilkan Bi Yem saja.”


“Bi Yem, tolong panggilkan Syeila ya Bi, suruh kebawah katanya mau bantu bantu masak.”


“Baik Nyah.” Segera Bi Yem naik ke lantai dua lebih tepatnya menuju kamar Syeila untuk menjalankan perintah Nyonya nya.


Lima menit kemudian Bi Yem kembali kebawah dengan peluh bercucuran dan panas dingin menghadap Nyonya nya, “Nyo-Nynya.”


“Iya Bi Yem, Syeila nya udah dikasih tau kan?” sahut Mommy Lena tanpa menatap Bi Yem dan terus saja mempersiapkan bahan yang diperlukan.


“I-itu Nyonya,” jawab Bi Yem gemetaran dan merasa kelu mau memberi tahu.

__ADS_1


Mommy Meri dan Mommy Lena yang mendengar suara Bi Yem, merasa ada yang tidak beres, segera menghentikan kegiatannya dan menghadap kearah Bi Yem.


Mommy Meri yang melihat Bi Yem sudah berspekulasi negative, “Bi Yem ada apa? Menantu saya tidak kenapa napa, kan?”


“Iya Bi Yem, anak saya tidak kenapa napa kan?” tanya Mommy Lena menimpali ucapan Mommy Meri.


“I-itu Nya sebenarnya..” Bi Yem bingung mau bilang gimana, secara bibirnya kelu untuk mengatakan apa yang tengah terjadi di kamar Syeila.


Karena nggak sabaran dan khawatir dengan putrinya, Mommy Lena memutuskan untuk langsung menuju kamar putrinya dan melihat sendiri apa yang terjadi, “Ya sudah Bi, saya lihat aja sendiri. Bibi tolong siapkan yang belum ya.”


Mommy Meri pun juga ingin ikut melihat, “Tunggu Jeng saya juga ikut.”


Mereka berdua berjalan beriringan menuju lantai dua tempat dimana kamar Syeila. Sampai di pertengahan tangga, sayup sayup mereka mendengar suara desahan dan erangan.


Mereka berdua saling pandang, namun tak urung tetap melanjutkan langkahnya. Dan suara suara desahan seksi semakin terdengar.


Tepat sampai didepan kamar Syeila mereka berdua membekap mulut masing masing dengan mata yang hampir melompat dari tempatnya.


Mereka saling pandang, kemudian Mommy Meri berucap dengan tersenyum lebar, “Akhirnya jeng, sebentar lagi kita punya cucu.”


“Iya jeng, akhirnya kita akan segera menimang cucu,” ucap Mommy Lena juga ikut tersenyum.


Mommy Lena pun menyetujui, akhirnya mereka berjalan turun untuk kembali kedapur. Tetapi sebelum sampai ke tanjakan tangga pertama, mereka berdua terlonjak kaget mendengar teriakan Syeila diikuti dengan isakannya.


Momy Lena dan Mommy Meri saling pandang dan menggelengkan kepala, kemudian melanjutkan jalannya turun ke lantai satu menuju ke dapur.


Sesampainya didapur, Mommy Lena membuka suara, “Bi, seharusnya bilang kalau Syeila lagi ehem ehem, kita kirain Syeila kenapa kenapa Bi.”


Bi Yem hanya tersenyum malu, “Maaf Nyah.”


“Oh ya Jeng, mungkin kamar Syeila perlu dibuat kedap suara deh Jeng,” usul Mommy Meri.


“Iya Jeng, nanti aja saya bilangin ke Daddy nya. Tapi Jeng bagaimana dengan sekolahnya kalau dia hamil?”


“Jeng tenang saja, nanti biar suami saya yang mengurusnya. Urusan sekolah dijamin aman. Toh Syeila nggak sampai satu tahun juga sekolahnya kan, bentar lagi lulus. Jangan khawatir, yang penting kita bisa segera menimang cucu hihihi.”


Mommy Lena yang mendengarnya tertawa lirih, kemudian berucapa, “Iya jeng.”


Setelahnya, Mommy Meri dan Mommy Lena melanjutkan masak buat makan malam dengan dibantu oleh Bi Yem, dan sesekali mereka juga mengghibahkan putra putrinya yang lagi indehoy di kamar.


***

__ADS_1


Terlihat dua anak manusia tengah bergelung selimut sebatas pinggang setelah melewati sore panas mereka.Perlahan namun pasti, Faishal membuka matanya.


Pemandangan pertama yang dia lihat adalah bukit kembar biji sawinya. Bagaimana bukan bukit kembar yang Faishal lihat untuk pertama? Kalau tidurnya aja dia menduselkan wajahnya diantara bukit kembar biji sawinya.


Kemudian Faishal kecup secara bergantian puncuk bukit kembar tersebut dan mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah biji sawinya yang masih terpulas, “Uhhhh, kamu gemesin banget sih sayang.”


Ya, lagi lagi Syeila tertidur pulas dengan bibir yang menganga, Faishal yang tergoda dengan bibir mungil tersebut segera membenamkan bibit tebalnya, kemudian dilumat pelan dan di cecapnya segala rasa manis yang terdapat di bibir mungil tersebut.


Setelahnya, di kecupnya seluruh wajah biji sawi tanpa terkecuali


Syeila yang merasa terganggu segera membuka suara tanpa membuka matanya, “Euuuungh, Syeila masih capek Ih!”


Faishal yang mendengarnya segera menghentikan aktivitasnya dan berucap , “Maaf sayang, maaf.”


Faishal memberikan kecupan hangat dikening Syeila, setelahnya Faishal bergegas kekamar mandi untuk membersihkan dirinya dari sisa sisa percintaannya.


Setelah selesai, segera Faishal bergegas turun kebawah, mengingat sekarang sudah menujukkan pukul tujuh lewat empat puluh menit.


Sebelum keluar dari kamar, Faishal sekali lagi melihat ke arah tempat tidur, Faishal tersenyum lebar kala melihat bercak merah yang sudah mulai mengering.


Setelah puas memandang tempat tidur, Faishal segera turun kebawah. Ternyata di ruang makan sudah sepi hanya ada Bi Yem yang membersihkan sisa sisa makan malam.


“Bi, yang lain kemana?”


“Itu Den dibelakang sedang bakar bakar. Aden mau makan?”


“Iya Bi.”


“Oh bentar Den, Bibi siapkan.”


Faishal hanya mengaggukkan kepalanya. Setelah disiapkan, Faishal segera memakan makan malamnya.


Karena Faishal juga ingin melihat para orang tua nya sekaligus menyapa mereka, sebelum akhirnya kembali ke kamar menemani biji sawinya.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2