
Disisi lain, Mommy Meri yang mendengar ucapan menantunya mendelik, kemudian berucap, “Jangan bilang kamu belum ehem ehem dengan Faishal.”
“Memang belum Mom.”
“Apa?” sahut Mommy Meri dan Mommy Lena bersamaan.
Syeila syok mendengar sahutan dari kedua Mommy nya, bukan makna atau katanya sih yang bikin Syeila Syok. Tetapi ngomongnya itu loh, kenceng bener.
Kemudian Syeila berucap, “Emang kenapa Mom?”
“Sayang. Kamu beneran belum ehem ehem dengan suamimu?” tanya Mommy Meri memastikan.
Syeila bingung sebenarnya, kenapa juga tanya begitu, tapi tak urung Syeila juga menjawab, “Memang belum Mom, emang kenapa sih Mom?”
Astaga, Mommy Meri hanya bisa memijit pelipisnya pelan dengan semua praduga yang bercokol di otaknya.
Sedangkan Mommy Lena memberikan tatapan tajamnya kepada putri semata wayangnya, “Sayang, apa kamu tidak mau melakukan itu dengan suamimu?”
“Syeila mau kok Mom,” jawab Syeila polos.
“Terus kenapa sampai sekarang belum melakukannya?”
“Kan Syeila nggak tau Mom caranya, dan Om Fai nggak pernah ngajakin Syeila lagi tuh.”
Mommy Lena mendelik mendengar ucapan terakhir anaknya, “Berarti, sebelumnya pernah ngajakin dan kamu nggak mau begitu?”
Syeila yang mendapati aura Mommy nya berubah, segera bersuara, “Bu-bukan begitu Mom. Dulu pas awal aja kok Mom Syeila nolaknya. Tapi setelahnya, Syeila sudah berjanji kalau Om Fai ngajakin ehem ehem, Syeila bakal mau kok. Tetapi sampai sekarang Om nggak minta Mom, dan Syeila juga nggak masalah dengan itu Mom.”
“Astaga Syeila, iya kamu nya yang nggak masalah. Tetapi suami mu tuh, kasian harus nahan sampai sekarang. Kamu itu juga sampai sekarang manggil suami mu masih Om, apa nggak ada apa panggilan lain…”. Syeila dapat ceramah panjang kali lebar dari Mommy kandungnya, Mommy Lena.
Disisi lain, Mommy Meri yang melihat menantu kesayangannya di nasehati oleh Mommy nya, segera menyela, “Jeng, mungkin disini anak saya juga bersalah. Tidak sepenuhnya ini salah Syeila, kan Syeila tadi sudah pasti akan memberikan haknya kalau Faishal memintanya.”
“Ini saya hubungi aja Faishalnya. Saya juga penasaran apa punyanya itu letoy, sehingga dia bisa tahan tidak menyentuh Syeila,” lanjut Mommy Meri kemudian keluar mencari tempat yang sepi supaya nyaman berbicara lewat telepon dengan anaknya.
Mommy Lena hanya menganggukkan kepalanya, kemudian kembali memberikan nasihat dan wejangan kepada Syeila. Dan Syeila hanya mendengarnya pasrah.
***
Sedangkan di perusahaan, Faishal terlihat sibuk berkutat dengan segala berkasnya.
Tok…tok..tok
Terdengar suara pintu ruangan Faishal diketuk, kemudian Faishal menyahut dari dalam, “Masuk!”
Ternyata asisten pribadinya lah yang masuk. David membungkukkan badan sebelum bersuara, “Tuan, maaf perusahaan Danadyaksa mengundurkan pertemuannya pukul empat sore, karena saat ini mereka masih di lokasi proyek, ada beberapa masalah disana.”
“Hm, okay. Masih ada satu jam sebelum pertemuan.”
__ADS_1
“Kita ngobrol dulu aja Vid,” lanjut Faishal kemudian beranjak menuju sofa diruangannya dan diikuti David dibelakangnya.
Kalau sudah begini, mereka sedang sahabat mode on, bukan lagi atasan bawahan.
“Gimana Vid perkembangan reuniannya?” tanya Faishal.
“Aman sih bro sejauh ini, masih ada tiga bulan juga kan. Oh iya rapat selanjutnya di tempat loe ya?”
Faishal mengernyit, kemudian bertanya, “Emang kapan bro?”
“Dua minggu lagi sih? Kita rencananya mau rapat di tempat loe kalau boleh.”
“Oh dua minggu lagi, boleh sih. Datang aja ke apartemen gue.”
Kemudian obrolan mereka berlanjut dengan membahas segala persiapan dan keperluan yang sekiranya diperlukan selama reuni. Dan tidak lama, suara posel Faishal berbunnyi.
Faishal mengernyit melihat sang penelpon dan membatin, “Tumben tumbenan Mommy menelpon.”
Namun, tak urung Faishal segera menekan tombol jawab juga.
“Halo Mom.”
“Halo Son, Mommy mau tanya serius.” sahut sang Mommy dari seberang telepon.
“Iya Mom, mau tanya apa,” ucap Faishal juga dengan wajah serius mendengarkan ucapan Mommy nya.
“Hah.” Faishal gagal mencerna maksut dari Mommy nya.
“Maksutnya, kamu belum ehem ehem dengan Syeila ya?”
“Hah, Mommy tau dari mana?” tanya Faishal bingung.
“Jadi bener kamu belum ehem ehem dengan Syeila. Ya ampun Faishal apa yang kamu pikirkan nak, jangan bilang punyammu letoy.”
“Astaga, bukan begitu Mom. Punyaku itu masih perkasa Mom, tidak seperti yang Mommy tuduhkan ya.” Faishal tidak terima punyanya dibilang letoy.
“Kalau nggak mau dikatakan letoy, makanya buktikan!” Setelah mengucapkan itu, Mommy Meri langsung memutuskan teleponnya sepihak.
“Masalahnya, astaga kok dimatiin sih Mom.” Faishal mendengus kesal karena teleponnya dimatikan oleh Mommy nya secara sepihak.
Disisi lain, sahabat sekaligus asistennya cekikikan lirih sembari memperhatikan Faishal. Faishal yang menyadari nya segera memberikan tatapan tajam. “Kenapa loe?’
Bukannya takut, tetapi David malah terbahak, “Buwahahahaha, astaga astaga sampai keluar air mata gue bro. Tetapi ini beneran, elo belum tekdung dengan bini loe?”
Walaupun samar, tetapi David bisa mendengar percakapan Faishal dan Mommy nya.
Faishal yang mendengarnya hanya mendengus dan berdehem, “Hm.”
__ADS_1
Setelah David berhenti dengan tawanya, kemudian dia berubah serius, “Astaga, punya loe nggak bermasalah kan bro?”
Faishal menatap tajam David, “Ya nggak lah, punya gue masih sehat.”
“Kenapa belum loe terkam tuh bini? Jangan bilang loe masih mengharapkannya!”
Faishal mendelik mendengarnya, kemudian berucap lirih, “Gue sudah mulai belajar melupakannya.”
David terkesiap mendengarnya, antara percaya dan tidak percaya. Karena dia adalah salah satu saksi mata yang tau selain orang tua Faishal seberapa terluka sahabatnya, ketika melihat wanita incarannya menikah dengan temannya sendiri. Namun, tak urung David berucap, “Beneran?”
“Iya, entahlah, semenjak menikah dengan Syeila, gue udah jarang ingat kembali dengannya dan semenjak menikah gue juga..” ucap Faishal mengggantung.
“Juga apa?” tanya David yang penasaran
“Gue juga merasa tidak kesepian lagi dan tidak pernah melihat fotonya disetiap malam!”
Ya, Faishal menyadari, semenjak menikah, dirinya sudah tidak pernah lagi menyendiri untuk menghabiskan malamnya dengan foto wanitanya.
Entahlah, sejak kapan, tapi Faishal yakin, posisi wanitanya yang selalu bertahta
dihatinya sekarang tergeser dengan kehadiran biji sawi.
David merasa senang mendengarnya, kemudian berucap, “Gue senang bro mendengarnya. Akhirnya sahabat gue bisa segera move on. Eh, tapi dari mana nyokap loe tau, kalau loe belum tekdung dengan bini loe.”
Faishal mendelik mendengar ucapan sahabatnya, berpikir sesaat kemudian menyimpulkan praduga nya dan semua mengarah kepada biji sawinya. Sialan memang biji sawinya!
“Gue pulang dulu. Ada yang harus gue urus. Untuk rapat, loe aja yang mewakili.” Ucap Faishal tiba tiba.
Kemudian Faishal keluar ruangannya tanpa menunggu respon David. Dan David yang melihatnya hanya melongo dan mendengus kesal, lagi lagi dia yang harus mewakili rapat.
***
Selama perjalanan menuju kediaman Wijaya atau rumah mertuanya, tak henti hentinya Faishal menggerutu kesal.
Bagaimana tidak kesal, si othong kebanggaannya di bilang letoy loh. Catet letoy! Jiwa dan raga Faishal merasa tercabik cabik, dan semua itu gara gara biji sawi nya.
Padahal tidak seperti itu, si othongnya masih sehat wal afiat kok. Cuma, Faishal masih menunggu waktu yang tepat saja buat menyentuh biji sawinya.
Tetapi, karena biji sawinya yang ngomong kayak rem blong, ya jadi gini nih. Astaga, kalau dipikir pikir, biji sawi nya perlu di privat untuk memfilter omongan.
“Ahh, mungkin juga perlu gue kasih pelajaran tuh si biji sawi ,” lirih Faishal sambil fokus ke jalan.
.
.
.
__ADS_1
TBC