Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 46


__ADS_3

Pagi hari sinar matahari menerobos masuk dicelah celah korden, sehingga mengganggu tidur nyenyak dua insan yang masih lelah akibat kegiatan panas mereka.


Secara perlahan Syeila membuka matanya, dan pemandangan pertama membuat Syeila mendelik.


Astaga, lagi lagi tangan Om Fai nya namplok di salah satu bukit kembar Syeila. Segera Syeila singkirkan, kemudian segera beranjak.


Namun, baru mau menggerakkan tubuhnya, tiba tiba dia mendelik terkejut dan seketika berteriak keras, “Awwwwwww.”


Faishal yang tidur disampingnya sangat terganggu karena sangking kerasnya Syeila berteriak.


Setelah kesadarannya terkumpul, Faishal tersentak mendengar Syeila menangis sesenggukan di sampingnya.


“Kamu kenapa Syei?” tanya Faishal sembari memegang bahu Syeila.


“Hiks hiks sakit hiks, sakit banget Om hiks. Kenapa bisa sakit kayak gini sih hiks hiks”


Faishal sempat bingung sesaat, namun kemudian berucap  setelah menyimpulkan praduganya, “Itumu sakit?”


“Sakit banget Om hiks, badan Syeila rasanya mau patah semua hiks, ini kakinya juga hiks hiks.”


Ya iyalah bagaimana nggak remuk seluruh tubuh Syeila, kan kemarin di gempur habis habisan sama Om Fai nya .


Sedangkan Faishal yang mendengar itu segera menyingkap selimutnya, segera memakai kaos dan boxernya.


Faishal gelisah, astaga apa semalem dia terlalu kasar, padahal dia merasa sudah melakukan selembut mungkin.


Setelah memakai kaos dan boxernya, Faishal segera mendekat ke biji sawinya yang sudah tidak sesenggukan, “Syei beneran sakit hem?”


“Kan syeila udah bilang sakit berarti sakit Om, kan kemarin Syeila udah bilang juga ih ikannya jangan dimasukin, Om nggak denger.”


Ya Syeila kesal, bayangkan punyanya masih sakit dan nyeri loh habis pertempuran sore itu, tapi Om Fai nya tetap kekeh ingin memasukkannya. Syeila kemarin juga bingung sebenarnya, ingin menolak tapi ya gimana.


Namun ketika teringat ucapan Mommy nya mau nggak mau Syeila pun pasrah.


Sedangkan Faishal yang mendengar ucapan Syeila segera berucap, “Coba punya mu saya lihat.”


Syeila mendelik mendengar ucapan Om Fai nya, kemudian berucap, “Ih apa an sih Om. Syeila nggak mau ya kayak kemarin. Syeila masih sakit ini nya.”

__ADS_1


Faishal memutar bola matanya malas, astaga kenapa lemot sekali sih ini biji sawinya, kapan otaknya bisa encer, padahal urusan apartemen dan menyiapkan kebutuhannya udah mahir melakukannya loh.


 Namun tak urung Faishal juga menyahuti, “Saya hanya ingin melihatnya Syeila, takut kalau ada yang terluka.”


Syeila cengo, kemudian bluss muncul rona merah dipipinya, ya Syeila malu.


“Syeila malu Om!”


“Nggak papa Syeila, saya sudah lihat setiap inci tubuhmu, coba agak kamu lebarkan kakimu,” pinta Faisha dengan memberikan pengertian kepada biji sawi nya.


Akhirnya Syeila menurut. Segera Faishal memeriksa milik biji sawinya. Ya ampun Faishal merasa linu sendiri melihat milik biji sawinya. Pantes saja biji sawi nya kesakitan.


Kemudian Faishal mengambil hapenya di nakas dan segera menghubungi sahabatnya yang berprofesi dokter, namun belum sempat mendial nomernya, terdengar ketukan pintu kamarnya.


Tok..tok..tok.


“Sayang Syeila kamu nggak papa kan,” teriak Mommy Lena dari luar kamar.


Faishal yang mendengarnya segera bejalan keluar membuka pintu, ternyata tidak hanya Mommy Lena saja tetapi ada Mommy Meri yang terlihat khawatir , kemudian Faishal segera menyahut dan menipiskan senyuman, “Tidak apa apa Mom.”


Sedangkan Syeila yang melihat Mommy nya menangis lagi, “Hua Mommy hiks , sakit semua hiks.”


Mommy Meri dan Mommy Lena yang sudah berdiri didepan Syeila, mengerjapkan matanya pelan. Astaga Syeila belum pakai baju loh, hanya bergelung selimut. Apalagi kismarknya terlihat bertebaran dimana mana. Ditambah wajah Syeila yan sembab, Fix Syeila seperti orang yang habis di perkosa!.


Mommy Meri dan Mommy Lena hanya geleng geleng dengan praduganya masing masing.


“Astaga, pasti anak ku sangat buas kemarin, kasihan sekali menantuku ini,” batin Mommy Meri


“Ya ampun sayang, kenapa bentuk mu mengenaskan seperti ini!” batin Mommy Lena


Mommy Lena segera duduk di ranjang sebelah Syeila, kemudian tangannya terulur memeluk putri semata wayangnya, “Suuut, sudah sayang jangan nangis lagi. Hal ini biasa sayang ketika melakukan untuk pertama kali akan terasa sakit tapi nanti akan segera hilang rasa sakitnya.”


Mommy Merry yang berdiri di depan Syeila juga mengucapkan hal yang sama, “ Iya sayang, jangan nangis lagi ya.”


Syeila masih sesenggukan pelan, “Hiks semua perempuan akan begini ya Mom, tapi hiks semua badan Syeila mau patah Mom. Sepertinya kaki juga nggak bisa digerakkan Mom, kalau bergerak sakit banget  hiks.”


Mommy Meri yang mendengar penuturan Syeila langsungmengarahkan tatapan tajamnya ke anaknya, segera melangkah ke Faishal dan ditarik keras telinga Faishal, “Kamu apakan menantu Mommy, kan kemarin sudah dikasih tau melakukannya pelan pelan. Kenapa sampai menantu Mommy susah untuk jalan hah?”

__ADS_1


“Astaga, auw. Ampun Mom. Kemarin aku rasa udah cukup lembut Mom.”


“Kalau lembut ngggak mungkin menantu Mommy sampai nggak bisa jalan Son, dasar ya kamu anak nakal, suami laknat……..” omel Mommy Meri dengan terus menjewer telinga Faishal dan tangan satunya sesekali menggeplak bokong Faishal.


Faishal mendengus dan terus terusan mengaduh sakit. Sedangkan Mommy Lena dan Syeila melongo melihat kejadian tersebut. Namun itu tidak lama, segera Mommy Lena menghentikan aksi Mommy Meri, “Sudah jeng, jangan dimarahi Faishal, maklum ini yang pertama.”


Mendengar ucapan Mommy Lena, Mommy Meri segera melepaskan jewerannya kemudian berjalan menuju menantunya yang sekarang terlihat melongo sudah tidak sesenggukan lagi, “Bagaimana sayang? Masih sakit


hem?”


Syeila tersentak mendengar ucapan Mommy Meri, kemudian berucap sambil mengadu, “Iya Mom masih sakit, karena malemnya Om Fai kembali memasukkan  ikannya, kan punya Syeila masih sakit!”


Astaga mendengar ucapan Syeila, rasanya Faishal ingin meremas mulut mungil yang kalau ngomong sudah seperti rem blong.


Sedangkan Mommy Meri dan Mommy Lena mengernyit bingung, entah kenapa bayangan mereka kembali ketika mendengar ucapan Syeila di dalam kamar yang menyerukkan ikan.


Dari pada penasaran dan hanya praduga saja, segera Mommy Lena berucap, “Ikan sayang?”


“Iya Mom, tuh ikannya tuh,” ucap Syeila sambil menunjuk bawah Faishal dengan dagunya.


Mommy Lena dan Mommy Meri yang mendengar nya mengerjap pelan. Kemudian Mommy Lena berucap, “Sayang itu bukan ikan!”


“Benar sayang, daripada kamu sebut ikan, akan lebih cocok kalau disebut belut lho,” ucap Mommy Meri dengan senyum mengggoda.


Astaga, Faishal udah nggak kuat, mendengar lebih lanjut ucapan dari para Mommy nya. Memang udah geser otak mereka. Ups, maafin Faishal ya Lord karena udah mengatai otak Mommy nya geser.


Segera Faishal berdehem, “Hm, Mom kalau sudah tidak ada yang penting dibicarakan, mungkin bisa keluar. Ini aku juga masih mau menghubungi dokter dulu buat….”


Mommy Mery menyela omongan Faishal, “Ngapain hubungidokter?”


“I—itu, milik Syeila sedikit luka,” ucap Faishal lirih


Mendengar ucapan anaknya, Mommy Meri kembali kesal dengan memelototkan matanya dan segera


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2