Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 124


__ADS_3

Tinggalah Natasya dan Faishal. Suasana disekeliling mereka berdua berubah mencekam. Aura dingin seketika menguar dari tubuh Faishal. “Jelaskan.” Sorot mata tajam Faishal selalu menatap Natasya dengan dingin.


Natasya mencoba menenangan dirinya terlebih dahulu sebelum menjawab. “ Sebelumnya aku minta maaf Ai…”


“FAI,” ucap Faishal penuh penekanan. “Ehmm, iya maksutnya Fai. Maaf. Memang ini salahku. Sehari setelah Naura dirawat dan kamu tidak lagi datang, dia marah marah.  Aku sudah menjelaskan ke Naura, tapi dia tidak percaya. Dia terus marah marah dan terus minta pulang dari rumah sakit.”


“Maaf juga, karena aku membawa putriku ikut kerja. Karena dari pagi dia nanyain kamu terus Fai.”


“Aku… aku bingung harus menjelaskan apa. Makanya aku membawanya kesini berharap kamu mau membantuku menjelakan ke Naura Fai.” Hanya itu yang mampu Natasya jelaskan. Natasya sadar diri, dia sudah tidak bisa lagi mengharapkan Faishal. Natasya tau bagaimana rasanya di khianati, makanya dia sekarang menyesal pernah berpikiran untuk merebut Faishal dari istrinya.


Sebenarnya Faishal tidak ingin menjelaskan apa apa ke Naura. Faishal ingin Natasya saja yang memberitahu ke putrinya, karena Faishal tidak tega menyakiti bocah polos yang tidak tau apa apa.


Tapi kalau sudah begini, Faishal bisa apa. “Baiklah. Panggil putrimu kesini, biar aku yang bicara.” Akhirnya, kata kata itu yang keluar dari mulut Faishal.


“Naura sini sayang.” Naura yang memang pada dasarnya anak yang penurut segera menuju kearah mamahnya.


“Maafin mamah ya nak. Sini duduk dekat mama, Om mau bicara.” Mata Naura membulat, ketika mamahnya bilang Faishal adalah Om, bukan papah.


Tiba tiba ingatan pembicaraan kemarin dengan mamahnya terlintas. Meski Naura masih tergolong anak kecil, tapi Naura cerdas. Kecerdasan Naura di atas anak rata rata seusianya. Naura kecil yang memang tidak pernah disukai oleh anak seusianya dan sering mendapat perundungan karena tidak mempunyai papah, membuat Naura menghabiskan waktunya dengan mamah dan para ARTnya. Naura sering menolak ketika diajak untuk berkumpul dengan teman sebayanya.

__ADS_1


 Selain itu, sangking seringnya Natasya yang selalu mengajak Naura berdiskusi, hal itu juga berdampak pada pola pikir Naura. Jadi pembicaraan saat ini,  Naura cukup mengerti. Dan sekarang Naura takut. Takut nggak punya papah lagi. Naura sudah nyaman dengan Faishal yang biasa di panggil papahnya itu. Naura mencoba protes ke mamahnya.


“Kok Om sih mah. Kan ini papah Nola.”  Naura yang memang anak kecil, lebih mengedepankan egonya dari pada logikanya. Selama Papah Faishal tidak melarangnya dan menerimanya, Naura akan tetap memanggilnya Papah. Naura ingin punya Papah, untuk membungkam mulut teman temannya. Selain itu, Naura juga merindukan pelukan papahnya.


Naura berjalan mendekati Faishal, tapi belum sempat mendekat sampai ketempat Faishal, Naura menegang ketika mendengar ucapan Faishal, “Bener Naura. Saya bukan Papahmu. Saya hanya teman ibumu. Alangkah lebih baiknya kamu memanggil saya Om.”


Naura tetap diam diposisinya sekarang. Mata Naura sudah berkaca kaca, “Papah bohong kan? Papah, papah Nola kan Pah?” Sesak dada sikecil Naura, dan buliran air mata tidak dapat terelakkan lagi.


“Tidak Naura. Saya bukan Papahmu. Tanyakan pada mamahmu.”


Deg, mendengar ucapan Fashal, tiba tiba Naura menatap Natasya dengan tatapan marah, “Mamah pembohong. Nola benci mamah.”


 Naura melempar tablet mamahnya sampai retak. Setelah itu Naura berlari keluar dari ruangan Faishal


yang kebetulan tidak tertutup. Sedangkan Natasya syok melihat anaknya yang baru kali ini memberikan tatapan mata yang seolah olah mengatakan kalau dia sangat marah dan membencinya.


***


Disisi lain, Syeila yang saat ini sedang di taxi sibuk bertelepon dengan temannya, siapa lagi kalau bukan Cici.

__ADS_1


“Astaga, iya iya Cici. Maaf telat, ini Syeila udah mau sampai kok.” Syeila di omelin abis abisan oleh Cici, karena belum sampai sampai.


“Cepetan dong. Ini gue sama Mia udah nunggu lo hampir setengah jam,” seru Cici.


“Iya iya ini mau sampai. Dah ya, Syeila tutup.” Syeila menutup telponnya, dan tanpa sengaja mata Syeila mengarah ke sebrang jalan.


Mata Syeila membulat terkejut, “Awas Paaaak. Ada anak keciiiiiiiil,” Pekik Syeila, dan.


Ciiiiiiiiiiiit,


Bruuuuuuugk…


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2