Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 40


__ADS_3

Syeila mendongakkan wajahnya kemudian berhambur kepelukan Om Fai nya, “Hiks hiks, Om Fai nggak salah hiks, Syeila sayang Om Fai hiks,  Syeila nggak like Om Fai dimarahi sama Mommy hiks. Yang salah Syeila hiks hiks, kenapa Om Fai yang kena marah hiks.”


Faishal yang mendengarnya, tentu merasa senang dan semakin mengeratkan pelukannya . Sedangkan Mommy Meri melongo mendengar ucapan menantunya.


Namun seperkian detik kemudian Mommy Meri mendekat kearah Syeila dan mengelus rambut Syeila sambil berucap, “Sudah ya sayang, maafkan Mommy. Tadi Mommy tidak bermaksut memarahi Faishal kok. Mommy hanya khawatir aja dengan mu sayang.”


Syeila yang berada dalam pelukan Faishal langsung menghapus kasar air matanya yang mengalir dan sekuat tenaga menghentikan isakannya, kemudian mendongakkan wajahnya menghadap kearah Mommy, “Iya Mom. Jangan memarahi Om Fai lagi ya Mom.”


“Iya sayang, yasudah kalian belum makan siang kan? Segera turun ya makan dibawah.” Mommy Meri berlalu keluar. Namun, sampai didepan pintu, Mommy Meri berbalik ke arah anak dan menantunya.


“Sayang, tapi ingat kalau suami tua mu ini nakal bilang ke Mommy ya,” ucap lagi Mommy sembari memberikan tatapan mengejek ke anaknya.  Setelahnya Mommy Meri bergegas keluar kamar.


Faishal mendelik, astaga lagi lagi Mommy yang melahirkan dirinya mengatainya suami tua.


Sedangkan Syeila yang melihat Om Fai nya mendelik kesal segera merangkum wajah Om Fai nya dan berucap, “Om marah ya?”


Faishal mendengus kesal sebelum berucap, “Ya iya lah Syei saya marah. Masak dibilang suami tua.”


Syeila yang mendengar ucapan Om Fai nya mengerjapkan matanya polos menoleh ke kanan ke kiri memperhatikan wajah Om Fai nya dengan seksama, kemudian berucap, “Tetapi kalau di lihat lihat, Om emang tua kok.”


Astaga, Faishal double double kesel. Bayangin aja, istrinya sendiri loh yang bilang tua. Faishal rasa rasanya bener bener kesel. Namun semua itu hilang seketika ketika mendengar ucapan biji sawinya.


“Tetapi Syeila sayang kok sama Om, walaupun Om tua tapi Syeila suka,” ucap Syeila kemudian memeluk Om Fai nya.


Faishal senang mendengarnya, kemudian mengeratkan pelekunnya. Dan Faishal yakin kalau biji sawinya mulai sayang dengan dirinya. Kemudian Faishal mengecup kening biji sawinya dan bersuara, “Iya, saya juga sayang sama kamu Syei. Yasudah kita kebawah yuk makan siang dulu.”


“Baik Om, Syeila cuci muka dulu biar wajah Syeila tidak terlalu sembab.”


Kemudian Syeila menuju kamar mandi mencuci mukanya yang terlihat sembab, setelahnya Syeila dan Faishal menuju ruang makan dilantai satu. Kemudian mereka makan siang bersama.


Setelah itu, Syeila kembali kekamar karena sangat mengantuk. Maklum, tadi tidurnya terganggu. sehingga Syeila merasa mengantuk kembali.


Selain itu, Mommy Meri juga menyuruhnya istirahat dulu, belajar memasak dan lainnya bisa nanti katanya.


Sedangkan Faishal menemui Mommy nya di ruang baca, setelah memastikan biji sawinya terlelap.


“Ada apa Mom?” tanya Faishal setelah mendudukan dirinya di kursi depan Mommy nya.


“Apa yang terjadi dengan menantu Mommy Son? Kenapa dia sembab begitu?”


Faishal menghela napas sebelum akhirnya menceritakan kejadian siang tadi direstoran tanpa berbelit belit.


Sedangkan Mommy Meri mendengarnya dengan seksama dan kadang kadang terkekeh geli sendiri membayangkan kejadian anak dan menantunya di restoran.


“Begitulah Mom kejadiannya direstoran tadi.”

__ADS_1


Setelah mendengar keseluruhan cerita anaknya, Mommy Meri bisa mengambil kesimpulan kalau menantu dan anaknya sudah saling terbuka, dan terlihat keduanya sudah mulai ada rasa yang hinggap di hati masing masing.


“Oh begitu, yasudah Son berarti memang salah paham.”


“Iya Mom.”


“Dan Mommy berharap kamu yang sabar ya Son, lambat laun pasti Syeila akan berubah lebih baik dan semakin dewasa.”


“Iya Mom, sejak aku memutuskan untuk menikahi Syeila, aku sudah siap dengan semua konsekuensinya Mom.”


“Good Son, Mommy senang mendengarnya.”


Faishal hanya tersenyum menanggapi ucapan Mommy nya.


“Oh iya, bagaimana seminggu ini tinggal bersama Syeila, Son?” lanjut sang Mommy bertanya.


Mendengar pertanyaan Mommy, akhirnya Faishal menceritakan semuanya semenjak dia mulai hidup berdua dengan biji sawinya. Tidak lupa kejadian biji sawinya yang belum bisa ngepel sampai Faishal terpeleset pun juga diceritakannya.


Mommy Meri yang mendengarnya pun, sesekali tergelak kemudian tertawa lirih. Sungguh, melihat itu semua, Mommy Meri sangat senang, karena putranya telah kembali seperti dulu lagi. Faishal nya telah kembali. Kembali hangat dengan keluarganya.


Dan Mommy Meri sangat bersyukur, dengan adanya Syeila, Faishal kembali hangat seperti dulu. Mommy Meri yakin, memilih Syeila menjadi menantunya adalah pilihan yang tepat . Hanya perlu dipoles saja, pasti Syeila akan menjadi sosok yang mengagumkan.


Setelah berbincang dengan Mommy nya, Faishal kembali ke kamar dan Mommy nya segera menghubungi besannya yaitu Mommy Lena untuk mengabari perkembangan hubungan Syeila dan Faishal.


Disisi lain setelah Faishal sampai kamarnya, pemandangan yang dilihat adalah bijisawinya yang tertidur pulas.


Segera Faishal merangkak ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya disisi biji sawinya. Ya, sepertinya untuk tidur siang boleh juga, karena Faishal jarang sekali bahkan hampir tidak pernah untuk tidur siang.


Tidak butuh waktu lama Faishal pun juga ikut terlelap dengan tangan memeluk erat biji sawi.


***


Tok..tok..tok..


“Son.”


Faishal sayup sayup mendengar ketukan dipintu, kemudian membuka matanya perlahan, segera menyahut, “Hoaam, iya Mom?”


Iya, yang mengetuk pintu adalah Mommy Meri.


“Son katanya Syeila mau belajar memasak, suruh segera turun ya.” Mommy Meri setengah teriak memberitahukan kepada putranya.


“Baik Mom.” Sahut Faishal


Kemudian, Faishal menghadapkan wajahnya kesamping. Disingkapnya rambut rambut yang jatuh ke wajah biji sawinya. Faishal mengakui biji sawinya memang cantik.

__ADS_1


Apalagi kalau tidur seperti ini dengan bibir mungilnya terbuka, wuuuh bukan cantik lagi, tetapi tambah seksi paripurna.


Faishal menepuk nepuk lembut pipi biji sawinya dan bersuara, “Syei bangun, katanya mau belajar masak sama Mommy.”


Tik..tok..tik..tok..hanya suara jam saja yang terdengar, sepi senyap biji sawinya tidak merespon.


Sekali lagi Faishal membuka suara, “Syei.”


Namun nihil, biji sawinya tidak merespon. Astaga Faishal memijit pelipisnya.


Kemudian Faishal mencoba kembali dengan mendekat kearah biji sawinya, mendaratkan bibirnya tepat ditelinga biji sawi dan berucap, “Sayang bangun yuk, waktunya belajar memasak.”


Dan diikuti kedua tangannya membelai lembut kelopak biji sawinya yang tertutup. Akhirnya, si biji sawi bangun juga.


“Om,” ucap Syeila khas orang bangun tidur dengan mata menyipit melihat Om Fai nya yang sangat dekat dengan dirinya.


“Hah, bangun juga kamu Syei. Segera bersihkan dirimu, sudah ditunggu Mommy dibawah katanya mau belajar memasak.”


Syeila yang mendengar itu segera menyahut, “Oh iya Om, Syeila mau mandi dulu Om.”


Kemudian Syeila bergegas kekamar mandi. Setelah mandi Syeila segera kebawah membantu Mommy Meri masak. Lebih tepatnya belajar memasak.


Ya, Mommy Meri mengajari Syeila memasak beberapa menu dan juga memberikan sedikit edukasi juga kepada menantu kesayangannya tersebut.


Setelah selesai memasak, Syeila segera memanggil Om Fai nya untuk makam malam bersama. Setelah makan malam, semua berkumpul diruang keluarga untuk saling bercengkerama.


Pukul setengah sembilan malam, Syeila ijin ke kamar duluan begitupun dengan Mommy Meri. Akhirnya tersisalah dua orang laki laki ayah dan anak yang terus saja sibuk mengobrol sampai membahas masalah pekerjaan.


Satu jam kemudian Faishal masuk kekamar. Ternyata biji sawinya sudah tidur pulas, Kemudian Faishal berlalu kekamar mandi, setelahnya, Faishal ikut membaringkan dirinya disamping biji sawi.


Faishal memiringkan tubuhnya menghadap biji sawi, kemudian berucap dengan tangan mengelus pipi biji sawinya, “Terimakasih telah hadir dalam hidupku, aku tidak tau rasa apa ini. Yang jelas aku nyaman bersamamu biji sawiku.”


Sejurus kemudian dibenamkan bibir tebalnya ke bibir mungil biji sawinya, dan diberikan ******* ******* kecil. Setelahnya Faishal memejamkan matanya dengan tangan yang memeluk posesif biji sawinya.


***


Satu bulan kemudian.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2