Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 70


__ADS_3

“Sudah sudah gais jangan tertawa. Ayok kita bagi ini tugas tugasnya,” celetuk Rendy menghentikan kehebohan mereka.


Sekarang Syeila dan teman temannya duduk manis dikursi dan terlihat mulai membahas keperluan yang perlu dihabas. “Ehem, begini gais. Berhubung CEO disini adalah suami Syeila, jadi yang bertanggung jawab untuk wawancara Syeila aja ya. Dan untuk observasi tentang kinerja karyawan, nanti kita bagi. Gitu aja ya gimana?”


“He em Ren, Syeila setuju,” celetuk Syeila. Dan yang lain juga menganggukkan kepalanya pertanda setuju.


“Oh ya, kita kapan mulai observasinya? Dan kita nggak papakan berkeliaran di waktu kerja?” tanya Bobby


“Kita mulai besok aja ya, dan nggak papa kita berkeliaran. Tadi Pak David juga sudah memberitahu kok,” jelas Rendy.  Dan setelahnya mereka mengobrol ringan sebelum pulang.


***


Tiga minggu kemudian.


Tidak terasa, Syeila dan teman temannya sudah melaksanakan tugas observasi selama tiga minggu. Sampai detik ini tidak ada masalah yang berarti. Syeila dan teman temannya melakukan observasi dengan lancar.


Selama tiga minggu ini hubungan Syeila dan teman temannya semakin dekat. Sekarang teman teman Syeila sudah saling mengetahui seluk beluk masing masing. Yah memang benar, ternyata cover itu bisa menipu. Contohnya saja Syeila yang ternyata sangat manja dan polos. Yah, dan bisa dikatakan kalau sekarang mereka itu bukan berteman lagi, tetapi sudah bersahabat.


“Pagi gais,” sapa riang Syeila kepada teman temannya ketika memasuki ruangan.


“Pagi Syei,” sahut mereka serempak. Kemudian Syeila duduk dikursinya dan mengobrol ringan dengan yang lain.


“Gais, seperti biasa. Mana laporan kalian kemarin,” pinta Rendy kepada sahabat sahabatnya yang sibuk mengobrol.  Syeila, Bobby, Cici dan Mia segera memberikan laporan mereka. Setelahnya mereka bersiap siap untuk melakukan observasi kembali.


“Oh ya, hari ini biar gue sama Bobby dilantai satu ya observasinya. Kalian bertiga dilantai dua.”


“Okay.” Kemudian mereka segera melaksanakan tugas masing maisng.


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sekarang sudah masuk jam makan siang. Syeila, Cici dan Mia segera menuju kantin perusahaan. Di kantin, mereka melihat Bobby dan Rendy, segera mereka menuju ke meja Rendy dan Bobby.


“Tumben Syei, loe ikut makan disini? Nggak papa?” tanya Bobby.  Ya, karena selama tiga minggu ini biasanya Syeila akan makan dengan suaminya.


“Nggak papa kok Bob, soalnya dia tidak ada dikantor. Tadi dia ada rapat diluar sekalian makan siang sama klien katanya,” sahut Syeila.


Bobby mengangguk anggukan kepalanya. Setelahnya Syeila, Cici dan Mia segera memesan makanannya.


Jam makan siang selesai, sudah waktunya Syeila dan teman teman kembali keruangan. Sesampainya diruangan mereka segera melakukan tugasnya masing maisng. Tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Pertanda waktunya mereka pulang.


“Gais, sudah jam dua, sisanya bisa dikerjakan dirumah. Oh ya Syei, emm wawancaranya gimana?” tanya Rendy.

__ADS_1


Syeila yang mendapat pertanyaan tersebut melotot dan menepuk jidatnya,” Astaga, Syeila lupa Ren. Nanti malem coba Syeila bilang ke Faishal ya Ren. Ya ampun, maaf ya.”


“Tidak apa apaSyei. Masih satu minggu kok. Nanti malem aku ingetin biar nggak lupa.”


“Siap Ren Ren, makasih.”


Setelahnya, Rendy, Bobby, Cici dan Mia pulang. Sedangkan Syeila berjalan menuju ruangan suaminya. Ya, Faishal tidak pernah mengijinkan biji sawinya pulang dulu, Faishal selalu menyuruh Syeila menunggu di ruangannya.


***


Malam harinya, setelah makan malam Faishal sudah sibuk di ruang kerjanya, sedangkan Syeila sibuk dengan laporan observasi dan membaca artikel tentang keluarga.


Dua jam berlalu dengan aktivitasnya, dan waktu juga sudah menunjukkan pukul sembilan malam.” Hoammm, Syeila udah ngantuk. Lanjut besok aja deh bacanya.” Kemudian Syeila turun dari kasur, menuju kamar mandi untuk cuci muka.


Setelahnya Syeila segera berbaring di kamar bersiap tidur, tetapi sebelum itu Syeila mengecak ponselnya. Ternyata ada beberapa pesan masuk.


“Astaga,” pekik Syeila ketika dia membaca pesan Rendi. “Ya ampun Syeila lupa, kalau malam ini harus mewawancarai Faishal.”  Segera Syeila bergegas turun dari kasur dan keluar menuju ruang kerja yang berada di sebelah kamarnya.


“Sayang,” panggil Syeila, ketika sudah berada di ruang kerja suaminya.


“Iya sayang,” sahut Faishal tanpa melihat biji sawinya.


“Hmm, enggak sih, tugas kantor sudah selesai.”


Syeila senang mendengarnya,”Oh berarti ada waktu dong. Begini sayang, Syeila mau..”


“Bentar sayang, besok saja ya, ini masih ngurus reoni.”


“Reoni? Katanya enggak jadi yang.” Ya, kemarin kemarin Faishal sempat bilang ke Syeila kalau reoninya tidak jadi.


“Oh, ini jadi Yang,” sahut Faishal yang lagi lagi tidak menoleh ke arah Syeila.


“Yaudah sih yang, kan bisa dibahas besok besok sih masalah reoni. Syeila lagi butuh…”


“Besok saja sayang, ini aku masih ada urusan.” Lagi dan lagi lagi Faishal tidak menoleh kearah Syeila.


Syeila yang geram dengan Faishal segera melangkah mendekat, tanpa aba aba Syeila langsung duduk dipangkuan Faishal dengan tangan mungilnya yang mengalung dileher suaminya.


“Astaga,” desah Faishal. Pasalnya, othongnya Faishal itu sudah candu dengan Syeila, apalagi Syeila duduk dipangkuan Faishal, wuuuuh tidak lama lagi pasti si othong akan berdiri tegak.

__ADS_1


“Sayang, jangan gini ya. Turun ya, kita bicara besok. Aku ada urusan dengan teman teman,” lanjut Faishal memberi pengertian.


Syeila langusng mengeratkan tangannya dileher Faishal dan menggesek gesekkan bokongnya sambil berucap,” Sayang, kan ngurus reoninya bisa besok besok ih. Ayolah Syeila ada tug..”


“Sayang, tetapi malam ini aku ada. Ya ampun sayang! Jangan digesek gesekkin, astaga.” Pening sudah kepala Faishal.


“Sayang, ayolah ngurus reoninya kan bisa besok besok. Syeila ada tugas untuk me…” Ucapan Syeila terpotong karena ada telepon. Ternyata itu  panggilan dari David yang memberitahu untuk segera gabung ke zoom untuk rapat.


“Sayang, kita bicara besok ya. Ini ada rapat, bahas kelanjutan reoni.” Tanpa mempedulikan pening dikepala dan jawaban Syeila, Faishal segera menghubungkan ke link zoom. Tidak membutuhkan waktu lama, Faishal sudah terhubung ke room meetingnya.


Syeila yang melihat itu, menghentikan aksinya dan mengerucutkan bibirnya. Syeila sedih dan kesal, Faishal lebih mengutamakan teman temannya. Mengurus reoni kan bisa besok besok saja. Ahh, entahlah temen temen Faishal juga keterlaluan. Malam malam begini gangguin aja, kan Syeila jadi nggak bisa mewawancarai Faishal.


Syeila menghembuskan napasnya, kemudian berucap,” Sayang beneran nggak bisa?”


“Ya sayang, tidak bisa. Kita bicara besok saja ya, aku ada urusan dengan teman teman.”


Syeila yang mendengarnya segera turun dari pangkuan Faishal. Sesaat Faishal merasa lega. Alhamdulilah untung othongnya belum tegak berdiri, baru setengahnya saja. Kan susah kalau sudah berdiri menari nari mencari goanya. Namun ingat ya, itu hanya sesaat karena setelahnya,


“Yasudah kalau nggak bisa malam ini. Sekalian aja nggak usah tidur dikamar, rapat aja sampai besok pagi.” Ucap Syeila lantang, kemudian secepat kilat tangan mungil Syeila meremas keras othong Faishal yang setengah berdiri.


“Argggggg Syeila,” pekik Faishal kaget, karena perasan Syeila yang cukup keras. Namun Syeila tidak mempedulikan pekikan Faishal, Syeila malah berlajan cepat keluar kemudian,


BLAM.  Astaga sekali lagi Faishal dikagetkan dengan Syeila yang membanting pintunya.


.


.


.


TBC


HALO HALO, KELAMAAN YA UPDATENYA?


OH IYA, AUTHOR MAU KASIH INPOH NIH. HARI SENIN AUTHOR LIBUR YA. DAN MAAF BARU UPDATE, KARENA SELASA KEMARIN ADA PERS YANG CUKUP MEMBUAT AUTHOR GALAU SAMPAI KAMIS PAGI, WKWKW DAN JUMAT KEMARIN, KALIAN TAULAH YA ADA APA DIHARI JUMAT KEMARIN. 


BTW, GIMANA NIH DENGAN CHAPTER KALI INI? KALAU SUKA, SEMPATKAN DUKUNG AUTHOR DENGAN LIKE DAN KOMENTARNYA YA READERS .


SALAM HANGAT DAN TERIMAKASIH :)

__ADS_1


__ADS_2