Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 137


__ADS_3

Sesampainya di ruangan Faishal, Syeila segera melepas rengkuhan manjanya dilengan Faishal. Seperti biasa, Syeila mencari tempat dan bersiap mulai berselancar menyelami Samudra ilmu. Yap, Syeila mulai menyiapkan buku buku pelajaran yang dibawanya.


Faishal yang melihat hal itu membiarkannya, yang penting Syeila nyaman aja berada di ruanganya.


Syeila sudah mengeluarkan buku buku pelajarannya, tapi belum di buka sama sekal. Saat ini mata Syeila fokus ke pintu ruangannya suaminya. Syeila sangat yakin pasti sebentar lagi tante Natasya akan masuk.


Tok.. tok.. tokk.


Tuh, tuh, tuh bener kan. Belum ada 10 detik Syeila membatin, sudah ada yang ngetok pintu.


“Masuk,” sahut Faishal. Masuklah Natasya dengan membawa berkas. Berkasnya entahlah, Syeila kagak paham. Yang jelas sekarang Syeila hanya fokus melihat dengan intens setiap pergerakan Natasya.


“Ini Tuan berkas yang perlu Tuan tanda tangani.” Natasya meletakkan berkas tersebut sebelum kembali bersuara. “Dan untuk hari ini Tuan ada meeting dengan klien  jam sepuluh pagi. Dan setelah makan siang nanti ada meeting dengan semua kepala divisi untuk membahas progress masing masing divisi.”


Faishal mengangguk, “Baik.”


“Oh ya, tolong beritahukan ke kepala divisi marketing untuk menghadap ke saya satu jam lagi,” lanjut Faishal.

__ADS_1


“Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi.” Natasya segera undur diri.  Selama masuk ke ruangan Faishal, dia sudah merasa tidak enak seperti ada yang mengawasinya.


Natasya melirik sekilas ruangan tersebut. Deg,


Ternyata ada Syeila yang terlihat menatap instens dirinya. Tapi, ketika dirinya hendak membungkuk sebagai bentuk rasa hormatnya, lagi lagi dia terkejut.


Syeila kembali lagi memelototkan matanya. Natasya sampai harus mengelus dada. Ada apa dengan istri bosnya. Kenapa terlihat kemusuhan sekali dengan dirinya. Natasya yang nggak ingin berpikiran macam macam segera membungkuk dan berlalu keluar.


Syeila yang melihat Natasya keluar dari ruangannya hanya mendengus kesal. Huh.


Memang benar, sebenarnya Syeila tuh sebal banget tau sama tante Natasya. Tapi kalau minta ke Om Fai untuk di pecat. Kok enak banget ya? Ya kali, habis dipecat tuh Tante sadar diri, tapi kalau nggak? Hayoloh kan Syeila jadi bingung yak. Takut takut tuh tante malah melancarkan aksinya di luar kantor. Kan Syeila jadinya nggak tau.


Tapi kalau dipikir pikir, tidak mungkin juga sih Om Fai akan kepincut dengan tante Natasya. Ya kali Syeila yang imut dan masih kinyis kinyis mau ditinggalin. Apalagi tuh tante udah punya buntut. Rugi bandar dong Om Fai, kalau lebih memilih tuh Tante. Huh.


“Sayang.” Meskipun Faishal sibuk dengan pekerjaannya, tapi sesekali dia melirik Syeila. Terlihat sekali sejak kejadian kemarin , Syeila seperti memusuhi Natasya.


Syeila yang mendengar panggilan suaminya, membuat lamunannya buyar seketika. Dengan malas Syeila menoleh kearah suaminya. “Hmmm?”

__ADS_1


Faishal menghela napas. Syeila sedang hamil, pasti sensitif sekali kalau membicarakan masalah kemarin. Tapi, Faishal tidak ingin membuat biji sawinya menyimpan amarah dan kebencian kepada orang lain. Faishal tidak ingin hal tersebut mempengaruhi kandungan Syeila.


Faishal bangkit dari kursi kebesarannya. “Hei. Kamu masih marah masalah kemarin?”


Syeila melirik sinis kearah Faishal yang ada di sampingnya, “Menurutmu?”


Dengan penuh kesabaran, Faishal memegang bahu Syeila menghadapkan kearahnya, “Sayang dengerin aku. Sebelum kamu ketemu sama Naura. Natasya sudah minta maaf terkait ulahnya. Dan aku sama dia tidak ada apa apa Yang.”


Syeila hanya menatap sinis kearah Faishal dengan bibir mengerucut. “Hei sayang. Sudah dong jangan cemberut terus, dan jangan benci dengan Natasya. Kata orang nih, ketika sedang hamil dan membenci seseorang, maka anak yang dilahirkan akan mirip dengan orang tersebut. Hayo kamu mau anak kita nanti mirip dengan orang lain yang saat ini sedang kamu benci?”


Mata Syeila membola, tangan Syeila segera mengelus lembut perutnya, dan berucap, “Ihh amit amit jabang bayi. Syeila nggak rela, Syeila nggak ridho kalo dedek bayinya jiplak tuh tante.”


Faishal tersenyum, sedikit banyak Syeila terpengaruh dengan ucapannya. “Nah, maka dari itu sudahi ya rasa bencimu. Kan masalah kemarin sudah beres Yang. Aku hanya milikmu tidak akan ada yang mengambil diriku darimu Yang.”


Syeila menghela napas, “Tapi tuh Tante….”


“Suuut, sudah ya. Lupakan masalah kemarin. Ingat, kamu juga sedang hamil. Jangan terlalu memikirkan masalah yang memang sudah tidak perlu dipikirkan, dari pada dirimu pusing sendiri Yang. Dan aku juga minta maaf, sempat tidak langsung jujur kepadamu Yang.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2