Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 76


__ADS_3

Halooo untuk semua kakak kakak yang masih nungguin cerita ini.. Uhhhh lama banget ya aku nggak update. Nggak kerasa loh ternyata udah 3 minggu aja aku nggak update. ✌🏻 Hmmmm aku curhat sedikit ya ka kenapa sampai nggak bisa update. sejujur nya bukan hanya nggak update cerita ini aja sih. selama 3 minggu itu aku nggak bimbingan thesis sama sekali, urusan kampus pun nggak sempat aku perhatikan sampai sampai registrasi ulang pun aku baru tau lusanya. selain itu pun kegiatan ku yang lain seperti les online, kan aku juga ikut les online ya, itu pun aku juga nggak masuk. dan ini untuk pelaporan keuangan organisasi pun belum aku laporkan karena belum aku kerjakan . Jadi tiga minggu ini aku tuh nggak bisa ngapa ngapa in. semua kegiatan ku sampai kampus pun terabaikan karena ibuku sakit dan adikku sudah satu bulan ini terapi dan sampai sekarang pun masih harus kontrol. tetapi untuk ibukku alhamdulilah sudah mendingan tidak separah di dua minggu pertama, makanya ini aku sudah bisa mulai nulis lagi. mulai ngurus kegiatan kegiatan yang lain yang sempat terbengkalai. Oh iya, lebih dari itu aku mau minta maaf ke kalian khususnya yang nungguin cerita ini karena baru bisa update.🙏🏻 Hehe 😁


SELAMAT MEMBACA!!!😉


***


Ruangan Faishal sekarang tampak ramai. Setelah kedatangan orang tuanya, tidak lama datanglah David membawakan makan siang Syeila dan hal tersebut juga bertepatan dengan berhentinya omelan dari Mommy Lena kepada Syeila.


Setengah jam kemudian datanglah rombongan teman teman Syeila dan Faishal.  “Huwaaaaaa Syeila. Lo nggak papa kan ya?” Cici langsung menyerobot masuk ke ruangan Faishal dan berhambur ke Syeila.


“Lo nggak papa kan Syei?” Sekali lagi Cici bertanya dengan tangan yang sibuk membolak balikkan badan Syeila. Memastikan bahwa sahabatnya tidak kenapa napa.


Syeila mengerjap dengan ulah sahabatnya, “Syeila nggak papa kok Ci,…” Syeila menjeda kalimatnya menghentikan ulah sahabatnya yang masih membolak balik kan dirinya. Dikira gorengan kali ya, Syeila sampe di bolak balik. Wkwk


“Ihhhh Ciciiiii,  Syeila nggak  papa. Yang terluka bukan Syeila, tetapi suami Syeila noh!” Seru Syeila kepada sahabatnya. Akhirnya Cici menghentikan aktivitasnya dan merasa lega, “Oh, bukan Lo?”


“Bukan Cici.”


“Syukur deh kalau bukan Lo Syei. Seneng gue dengernya.” Cici segera kembali berhambur ke pelukan Syeila, tetapi tertahan karena secara tidak sengaja Cici melihat Faishal melotot ke arahnya.


Cici tersenyum kikuk dan berucap, “Hehe, Om.  Om nggak papa kan ya? Nggak ada yang luka kan?”  Semua yang ada diruangan tersebut menahan tawa dengan tingkah Cici.


“Hm.” Faishal berdehem dengan tetap melotot ke arah Cici. Syeila yang melihat itu mencoba mencairkan suasana dengan  tangan yang mengelus punggung tangan Faishal sembari berucap, “Sayang, sudah gih melototnya. Nanti kalau matanya keluar bingung loh!”


Krik krik krik krik


Hwaaabahahahahha, pecah sudah tawa yang ada diruangan tersebut kecuali Syeila dan Faishal. Bahkan Mommy Mery sampai keluar air matanya. Astaga, Mommy Mery baru tau kalau menantunya sereceh ini.


Daddy Abian yang sudah reda tawanya segera bersuara, “Ehem, sudah sudah. Kalian jangan berdiri saja. Sini!”


Akhirnya teman teman Syeila berjalan menuju sofa yang masih kosong. Syeila yang melihat teman teman nya menuju sofa, segera menghadap Faishal dan kembali bersuara, “Sayang maaf ya, tadi aku ingin sedikit mencairkan suasana. Tetapi nggak menyangka kalau semua malah terawa.”

__ADS_1


Ya, Syeila merasa bersalah dengan suaminya. Padahal Syeila hanya ingin mencairkan suasana saja, ehhh lagi dan lagi secara tidak langsung Syeila malah membuat Faishal malu.  Syeila merutuki mulutnya yang kalau ngomong kadang tidak bisa di saring dulu. Syeila hanya bisa menunduk menunggu jawaban suaminya.


Sedangkan Faishal hanya mengangguk dan berucap, “Iya sayang, tidak apa apa.”  Syeila yang mendengarnya memekik senang dan tangannya memeras lembut tangan Faishal, “Makasih sayang, kalau gitu aku ke temanku ya.”


Faishal mengangguk mengijinkan dan Syeila yang melihat itu segera melangkah menuju ke arah teman temannya.


Sekarang disekitar brangkar Faishal terdapat teman teman Faishal. “Lo gimana Fai? Beneran nggak ada yang parah kan?” tanya Darwis ketika di dekat Faishal.


“Iya, nggak parah. Cuma tangan doang kok, untung gue bisa menghindar. Jadi Cuma terserempet doang,” sahut Faishal


“Oh, syukur deh,” sahut Darwis lega, begitupun yang lainnya juga merasa lega.


“Oh iya Lo udah tau belum siapa pelakunya? Katanya mobil tersebut melaju kencang,” tanya Marcel


Faishal menghela napas sebelum menjawab, “Haaaaah, iya gue udah tau, sebelumnya  sudah ada yang memperingati gue sih. Nanti deh kalau udah jelas gue kasih tau. Masih diurus David soalnya.”  Akhirnya Faishal dan teman teman mengobrol masalah reuni yang memang belum sempat terbahas.


***


“Ehm Syei, Om kita pamit pulang ya. Om cepat sembuh,” pamit Rendi diikuti teman temannya. Ketika waktunya Mia pamit, Syeila berceletuk, “Oh ya Mia. Kamu pulangnya jadi gimana?” Pasalnya, tadi Mia sempat kebingungan untuk pulangnya. Supirnya nggak bisa jemput karena mobilnya dibawa kebengkel. Sedangkan orang tuanya ke luar kota.


“EMmmm, nanti gue naik taxi sepertinya Syei,” sahut Mia dengan tangan saling bertaut.


“Emang kenapa nggak bareng salah satu dari kalian sayang?” tanya Faishal


“Soalnya kita beda arah dengan rumahnya sayang.”


“Temenmu Itu rumahnya dimana?”


“Di perumahan Asoka sayang.”


Faishal manggut manggut sebelum berucap, “Oh situ. Bareng Marcel aja. Marcel rumahnya juga disekitar situ.” Marcel yang mendengarnya melotot ke arah Faishal dan Mia hanya sibuk meremas tangannya.

__ADS_1


Syeila yang mendengar ucapan suaminya merasa lega,” Waaah, kalau gitu biar Mia bareng Om Marcel aja ya. Gimana Mia? Kamu mau kan ya?”  Marcel yang kembali mendengar ucapan Syeila matanya tambah melotot. Astaga istrinya Faishal ini, kok seakan akan Marcel yang mau numpang ke Mia ya, padahal ini Mia loh yang mau numpang ke Marcel.


Sedangkan Mia gugup bingung, “Emm gimana ya Syei….”


“Udah gih, kamu sama Om Marcel aja ya.”


“Tapi…..”


“Iya dia sama gue,” sahut Marcel tiba tiba. Mendengar ucapan Marcel, Mia menghadap Marcel dan mengembangkan senyumnya, namun tidak bertahan lama karena melihat wanita yang bergelayut manja di lengan Marcel.


“Hm, yasudah kalau gitu gue pulang sekarang ya Fai, semoga loe cepat sembuh,” pamit Marcel kemudian keluar ruangan Faishal diikuti David Miranda dan teman teman Syeila.


Sepeninggal teman teman Syeila dan Faishal, ruangan menjadi hening untuk beberapa saat sampai Faishal kembali bersuara, “Sayang sini, naik sini.”


Syeila yang mendengar melihat suaminya menyisakan space kosong disebelahnya faham dengan maksut suaminya. “Emm sayang, aku di sofa saja. Sofanya besar kok, aku takut nanti tanganmu kegencet tubuhku yang.”


“Ck, sayang sini gih. Kan tanganku cuma sebelah saja yang sakit.”


"Emm tapi..."


"Sayang, sini gih! Tangan aku cuma sebelah yang sakit."


“Baiklah.” Akhirnya Syeila melangkah dan naik ke brangkar Faishal kemudian tidur menghadap Faishal.


“Tidurlah! Aku tau kamu lelah.” Dan benar saja, tidak butuh waktu lama Syeila pun terlelap. Begitupun Faishal juga ikut terlelap.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2