
“Aku ingin menceritakan seluruh kisah masa laluku.” Syeila mengernyit, “Maksutnya?”
“Aku mohon, kamu dengerin ceritaku sampai selesai ya? Jangan kamu potong sebelum aku selesai bercerita.” Entahlah, mendengar ucapan Faishal, jantung Syeila sudah bekerja tidak normal. Namun, tak urung Syeila mengangguk.
“Kamu taukan sahabat sahabatku, yang semuanya laki-laki.” Syeila mengangguk tanpa menyela. Faishal menerawang pandangan jauh kedepan mencoba menyibak kenangan pahit untuk dibagikan kepada istrinya. ”Sebenarnya ada satu lagi sahabatku. Dia perempuan.” Mendengar kata perempuan, mendadak perasaan Syeila tidak enak.
“Dulu, kemanapun dia pergi selalu ada aku disisinya. Meskipun ada sahabatku yang lain, tapi intensitas ku dengan dirinya paling tinggi. Apapun yang dia inginkan, selalu aku turuti. Dia mau kemanapun, selalu aku temani. Aku tak bisa melihatnya bersedih atau merajuk. Kalau kamu beranggapan aku mencintainya. Ya, jawabanmu benar sayang. Dulu aku mencintainya, tapi tidak dengan dirinya.” Mendengar Faishal mencintai orang lain, Dada Syeila seakan diremas remas. Sakit sekali. Syeila menunduk mencoba menyembunyikan air matanya yang sudah mulai berjatuhan.
Sedangkan, Faishal mengambil napas, sebelum kembali melanjutkan ceritanya, “Meskipun begitu, aku berusaha selalu ada untuk dia, berharap dia luluh dan berbalik mencintaiku. Berulang kali aku menembaknya, dia selalu menolak. Tetapi, aku masih berteman baik dengannya, sampai tiba tiba ada kabar kalau dia berpacaran dengan musuh bebuyutanku. Aku tidak terima pada saat itu. Dan aku mencoba mengajaknya dinner romantis sekaligus melamarnya, tapi -tapi…”
Lagi lagi Faishal menghela napas, untuk membuang kenangan yang cukup menyakitkan dengan pandangan masih menerawang jauh kedepan, “Tapi, dia menolakku dan lebih parahnya, dia saat itu malah mempermalukanku di
__ADS_1
depan umum. Dan itu membuatku terpuruk selama bertahun tahun.” Faishal menghela napas lagi. Kemudian Faishal melihat Syeila, Faishal tersadar ketika bahu Syeila bergetar. “Sayaaang. Hei.” Faishal menangkup wajah
Syeila yang berderai air mata. “Kamu menangis?” Faishal tercekat.
“Hiks hiks hiks.. Jangan dilanjutkan hiks. Syeila belum siap kalau kamu sampai saat ini masih mencintainya dan mengharapkannya. Hiks.” Syeila berdiri dari pangkuan Faishal, mencoba pergi. Namun urung, karena Faishal sudah menarik dirinya membawanya kepelukannya. “Maaf, kalau ceritaku membuatmu sedih.” Syeila masih terus terisak membayangkan suaminya masih mencintai sahabat wanitanya.
Faishal yang melihat Syeila yang tak kunjung berhenti menangis, merenggangkan pelukannya, “Hei sayang.” Faishal membersihkan sisa sisa air mata Syeila. “Maafkan aku kalau ceritaku membuatmu bersedih. Tapi percayalah, semenjak bertemu denganmu, aku sudah terlepas dari bayang bayang masa laluku. Kamu adalah istriku. Cintaku. Pemilik separuh hatiku.”
“Sayang, tataplah mataku.” Faishal memaksa Syeila untuk menatap matanya, “Aku sangat mencintaimu Sayang. Aku sudah melupakannya. Percayalah padauku.” Syeila yang terus mengeluarkan air matanya, mencoba menyelami bola mata suaminya. Hanya ketulusan dan kejujuran yang dapat Syeila lihat.
Mendengar ucapannya, Syeila segera memeluk suaminya dengan tangan bergelayut manja dileher suaminya, “Iya hiks hiks. Jangan mencintainya lagi hiks hiks. Syeila nggak rela hiks. Jangan mencintainya lagi hiks.” Syeila yang pada dasarnya mudah sensitive dan emosians semenjak hamil membuat Faishal menghela napas dan mencoba mengerti. Faishal mengelus lembut punggung Syeila, “Iya, aku sudah tidak mencintainya lagi sayang,” gumam Faishal pelan, dan membiarkan Syeila sampai tenang dan memahami apa yang dia ucapkan tadi.
__ADS_1
“Sayang, sudah sedikit tenang?” tanya Faishal, yang melihat kondisi Syeila yang sepertinya mulai tenang. Dan Syeila menjawab dengan anggukan.
“Baiklah Yang. Aku ingin menceritakan masalah intinya.” Mata Syeila membulat mendengarnya, jadi dari tadi yang dibicakan itu belum masalah intinya. Pikir Syeila.
“Yang, hei.” Syeila tersadar setelah bahunya diguncang pelan. “Maksutnya masalah apa Yang? Katanya kamu sudah tidak mencintainya?” cecar Syeila yang merasa bingung.
“Bukan sayang. Aku sudah tidak mencintainya. Makanya dengarkan dulu ucapkanku.”
“Baiklah.”
“Tapi,….” Faishal mengangkat tubuh Syeila, menggendongnya ala ala koala. “Akhhh, sayaaang.” Pekik Syeila karena tanpa aba aba Faishal menggendongnya.
__ADS_1
“Hehehe, akan aku ceritakan masalah intinya sembari mendaki bukit dan bercocok tanam Yang.” Faishal langsung membawa Syeila ke kamar yang ada di ruangannya.
Sedangkan Syeila hanya mengerjap memikirkan ucapan suaminya, kemudian pipinya merona ketika sadar maksut dari ucapan suaminya, “Ihhh sayang, Syeila malu.” Lupa sudah Syeila dengan masalah yang akan di ceritakan Faishal.