Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 43


__ADS_3

Padahal tidak seperti itu,  si othongnya masih sehat wal afiat kok. Cuma, Faishal masih  menunggu waktu yang tepat saja buat menyentuh biji sawinya.


Tetapi, karena biji sawinya yang ngomong kayak rem blong, ya jadi gini nih. Astaga, kalau dipikir pikir, biji sawi nya perlu di privat untuk memfilter omongannya.


“Ahh, mungkin perlu juga gue kasih pelajaran tuh si biji sawi ,” lirih Faishal sambil fokus ke jalan.


Faishal segera memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, supaya segera sampai di rumah mertuanya.


Lima belas menit, sampailah Faishal di rumah mertuanya. Kemudian Faishal segera turun dan masuk rumah.


Rumah keadaannya senyap dan sepi, terlihat dilantai satu hanya ada pembantunya Bi Yem. Segera Faishal bertanya kepada Bi Yem, “Bi, kok rumah sepi?”


“Oh iya Den, Nyonya Lena dan Nyonya Meri katanya mau membeli perlengkapan acara buat nanti malam yang kurang,” jawab Bi Yem dengan menipiskan senyum.


“Terus Syeila dimana Bi?” tanya Faishal lagi.


“Non Syeila ada dikamar Den, biasanya kalau jam segini sih tidur Den,” jawab Bi Yem memberitahu kebiasaan Nonanya sebelum menikah.


“Oh begitu, baik Bi terimakasih.”


“Iya Den,” jawab Bi Yem dengan menipiskan senyum dan segera melangkah ke dapur.


Kemudian Faishal melangkahkan kakinya menuju kamar Syeila. Sesampainya di depan kamar, segera Faishal membuka pintu.


Ceklek.


Benar yang di ucapkan Bi Yem. Pemanadangan pertama yang dilihatnya adalah biji sawi yang tertidur.


Melihat biji sawinya tertidur, sungguh pemandangan yang menyenangkan bagi Faishal. Apalagi bibir mungilnya yang terbuka.


Wuuuh bukan pemandangan yang menyenangkan lagi, tetapi pemandangan yang menyenangkan dan menggiurkan. Sungguh, biji sawinya terlihat errrrg seksih!


Ting


Tiba tiba Faishal mempunyai ide untuk memberi pelajaran kepada biji sawi nya. “Mungkin gue kasih beberapa kissmark nggak masalah kali ya.”


Ya, selama ini, setiap Faishal mengexplore biji sawi nya, Faishal selalu bermain cantik dan tidak pernah meninggalkan kiss mark,  sehingga, biji sawinya  tidak pernah sadar kalau terkadang ketika dia tidur, Faishal mengexplorenya.

__ADS_1


Segera, Faishal menaruh tas kerjanya disembarang tempat, kemudian membuka baju dan celananya, dan menyisakan boxernya saja.


Kemudian Faishal merangkak ketempat tidur dengan mengungkung biji sawinya, dan tak lama Faishal bergumam lirih seraya tangannya membelai lembut wajah biji sawi nya, “Kamu memang cantik dan sexy sayang,”


Setelahnya, Faishal menyergap bibir mungil biji sawinya dengan perlahan, Faishal mem*gut, menc*cap, dan menggigit kecil bibir mungil yang sangat menggoda.


Faishal terus mengeksplore dan mereguk segala kenikmatan bibir biji sawi nya, dengan tangan meremas pelan rambut kepala biji sawinya.


Puas dengan area bibir, kemudian turun lah kecupan Faishal kerahang dan terus turun sampai ke leher jenjang Syeila. Faishal memberikan sapuan sapuan lembut nan sensual ke leher jenjang biji sawi.


Sedangkan, Syeila terus bergerak gelisah dalam tidurnya. Tetapi Faishal tidak mempedulikannya.


Padahal, biasanya ketika Syeila sudah seperti itu, Faishal akan menghentikan aktivitasnya. Namun, kali ini Faishal udah terlanjur tertutupi kabut gairah, sehingga dia benar benar ingin menuntaskannya.


Faishal segera membuka kancing baju Syeila secara serampangan tidak sabar. Setelah terbuka sepenuhnya, wooow ternyata biji sawinya tidak memakai bra.


Wuhhh jangan ditanya bagaimana bentuknya, Faishal tidak bisa berkata kata. Pokoknya uwuuuw banget.


Faishal kembali membenamkan bibirnya di leher jenjang Syeila, dan secara tidak sadar Faishal menggigit kencang leher Syeila yang mengakibatkan Syeila berteriak dan terbangun, “Awwwww.”


Faishal kaget mendapati Syeila terbangun, tapi mau gimana lagi, si othongnya benar benar tidak bisa diajak kompromi. Mau tidak mau Faishal berucap, “Saya menginginkamu Syei.”


“Hah.” Syeila cengo mendengar ucapan Faishal.


“Saya menginginkanmu Syei, saya ingin melakukannya,” ucap Faishal dengan memperjelas keinginannya.


Syeila yang baru bangun, masih mencoba mencerna maksut dari Om Fai nya.


Faishal yang tidak mendapatkan jawaban dari biji sawinya, mendesah kecewa. Faishal mengira biji sawi nya tidak mau diajak ehem ehem, kemudian Faishal berucap, “Kamu tidak mau ya? Maaf, saya tau kamu belum siap.”


Faishal segera menyingkir dari tubuh Syeila dan turun dari tempat tidur, tetapi sebelum turun Syeila segera memeluknya dari belakang, “Syeila mau kok Om, Syeila mau kok.”


Mendengar ucapan Syeila, Faishal segera berbalik, kemudian merangkum wajah Syeila, “Kamu mau?”


Syeila mengangguk seraya berucap, “Syeila mau Om.”


Langsung saja, Faishal kembali mereguk kenikmatan dari bibir mungil Syeila. Kemudian dibaringkannya kembali Syeila di tempat tidur, dengan terus mereguk kenikmatan setiap inci tubuh Syeila bagian atas, sedangkan Syeila hanya bisa melenguh mengeluarkan suara seksinya.

__ADS_1


Setelah puas, Faishal membuka penutup bagian bawah Syeila, dan Syeila yang ngos ngosan mencoba melihat kegiatan Om Fai nya. Astaga, Syeila baru menyadari ternyata dirinya sudah polos.


Segera Syeila menutupinya, tetapi gagal karena Faishal terus mendesaknya dengan mengatakan, “Tidak apa apa sayang, jangan malu. Kamu sangat cantik dan seksi.” Akhirnya, Syeila hanya pasrah aja dengan semua yang dilakukan Om Fai nya.


Faishal kembali melakukan aksinya, tetapi ada yang tidak beres dengan biji sawinya. Benar saja biji sawinya terlentang dengan merapatkan akses ke surganya.


“Haaah, Syei tolong dilebarin dong kakinya?” pinta Faishal


“Harus ya Om? Gini aja deh Om, Syeila udah PW ih!”


“Iya Syeila harus!”


“Emang setiap melakukan itu harus dilebarin apa? Ribet banget sih,” gerutu Syeila pelan, namun tak urung juga melebarkannya.


Faishal yang melihat biji sawinya menurut dan mau membuka aksesnya, segera Faishal membuka boxer dan dalamannya. Setelah terbuka, segera Faishal mengungkung kembali biji sawinya.


Namun belum sempurna kungkungannya, biji sawinya berseru heboh, karena melihat sesuatu dibalik paha Om Fai nya, “Wah, Om! Om punya Ikan Nila ya? Wah wah wah, kenapa semakin membesar Om ikannya. Astaga, sekarang seperti Ikan Mujaer tetanggaku Om besarnya.”


“Astaga, ini bukan ikan Syeila!” jawab Faishal dan tanpa menunggu respon Syeila, segera Faishal kembali memberi sentuhan sentuhan yang membuat biji sawinya melenguh nikmat.


Faishal yang sudah tidak tahan segera menerobos milik Syeila, sedangkan Syela yang merasakannya mengernyit, kemudian menggelinjang mundur dan berteriak, “Auuuuw, sakit Om hiks hiks. Syeila nggak mau hiks sakit hiks. Lepas Om, Syeila nggak mau hiks sakit hiks.”


Faishal yang melihat itu, segera menahan biji sawinya agar tidak mundur kebelakang dan mengecup kedua mata biji sawinya kemudian berucap pelan, “Tahan ya sayang, bentar lagi tidak akan sakit kok.”


Nanggung banget kan, udah diterobos kalau nggak dituntasin.


Kembali Faishal memberikan sentuhan dan sapuan kepada biji sawinya. Faishal menyentuh biji sawinya selembut mungkin dan berusaha tidak menyakitinya. Perlahan namun pasti,  tangisan Syeila mereda dan berganti dengan lenguhan lenguhan seksi nan sensualnya.


Sore itu berbarengan dengan matahari yang kembali keperaduannya, Faishal akhirnya bisa mereguk kenikmatan yang katanya merupakan surga dunia bagi setiap pasangan.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2