
Dan yang Faishal butuhkan sekarang adalah ketenangan. Hanya satu nama yang terlintas di benak Faishal yang dapat memberikan ketenangan baginya.
SYEILA, ya hanya dia yang Faishal butuhkan saat ini, supaya tidak salah langkah, yang berujung pada penyeselan.
Faishal butuh Syeila. Bener bener butuh Syeila untuk meyakinkan perasaannya yang mulai bimbang. Ahhh bodoh amat Syeila masih sekolah.
Faishal bergegas keluar dari ruangannya. Ternyata di depan sudah ada Natasya dan Rumi yang sepertinya mau masuk.
“Pak,” sapa Rumi.
“Rum, batalkan semua agendaku hari ini.”
“Tapi Pak, untuk beberapa proyek yang harus di kunjungi hari ini?”
“Batalkan Rum.” Faishal tidak dapat di ganggu gugat. “Dan suruh David mengahandle yang ada disini,” lanjut Faishal. Tanpa menunggu jawaban Rumi ataupun menoleh kearah Natasya, Faishal sudah melesat pergi.
Ya Faishal ingin segera bertemu Syeila. Ingin segera menenangkan hatinya yang entahlah, Faishal sendiri merasa bimbang.
Sampai di parkiran, Faishal segera melajukan mobilnya menuju sekolah Syeila. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Faishal untuk sampai di sekolah Syeila.
Tanpa membuang waktu, Faishal bergegas menuju ke ruang kepala sekolah. Ya memang kepala sekolah Syeila merupakan sahabat dari Daddy Abian. Selain itu, Darwin sahabatnya merupakan anak dari kepala sekolah tersebut. Jadi cukup mudah bagi Faishal untuk mendapatkan izin membawa Syeila pulang.
Faishal menceritakan kondisinya kepada kepala sekolah tersebut. Meskipun tidak semuanya. Tapi kepala sekolah cukup mengerti tanpa di beritahu dengan detail.
“Baik Nak. Saya suruh guru piket untuk memanggil Syeila.”
“Makasih Om.” Kepala Sekola menghubungi guru piket sekolah. Dan tidak lama terdengar pintu diketuk.
__ADS_1
Tok tok tok. “Masuk,” sahut kepala sekolah.
Dan terlihatlah Syeila lengkap dengan tasnya. Syeila mengernyit bingung, ini masih pagi. Belum istirahat pula. Tapi kenapa suaminya sudah nangkring di ruang kepala sekolah.
Kepala sekolah yang melihat Syeila sudah datang segera mempersilahkan duduk, “Silahkan duduk Nak.” Syeila tersenyum mengangguk.
Setelah Syeila duduk, kepala sekolah melanjutkan ucapannya, “Begini Nak, Faishal ingin menjemputmu pulang.”
Singkat padat begitulah yang di ucapkan kepala sekolah. Tanpa menunggu respon Syeila, Faishal lagsung menyela, “Om, terimakasih atas pengertiannya dan sudah memanggil Syeila. Kalau begitu saya izin langsung membawa Syeila untuk pulang.”
“Astaga. Kamu itu nggak sabaran ya. Ya sudah kamu boleh bawa Syeila pulang.” Kepala sekolah terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. “Dasar anak muda,” batinnya.
Faishal segera berdiri, dan melihat Syeila yang masih bengong, segera mendekat, “Sayang.” Faishal menggenggam tangan Syeila kemudian mengajaknya keluar.
Syeila tersadar, setelah keluar dari ruang kepala Sekolah. Syeila mendadak menghentikan langkahnya.
“Sayang,” panggil Faishal menoleh kearah Syeila yang mendadak berhenti.
“Maksutnya?” Sumpah siapapun minta tolong kasih tau Faishal yang gagal mencerna ucapan Syeila.
Dan dengan tampang polosnya, Syeila berucap,” Sayang, tidak ada yang kecelakaan atau hal buruk kan. Sampai kamu menejemputku pulang.”
Ya ampun. Faishal baru ngeh. Segera Faishal merengkuh tubuh Syeila yang memang dari tadi Faishal tahan. “Tidak ada Yang. Tapi kamu hari ini pulang ya, nemenin aku.”
“Aku butuh kamu,” lanjut Faishal setelah mengurai pelukannya sembari menyelami mata indah biji sawinya.
Mendengar tiga kata terakhir, Syeila mengernyit. Pasti ada sesuatu yang terjadi dengan suaminya. Tanpa berpikir, Syeila segera mengangguk. Kemudian Faishal mengajak Syeila pulang.
__ADS_1
Satu tempat yang terpikirkan oleh Faishal adalah Apartemennya. Ya, setidaknya kalau di apartemen tidak akan ada yang mengganggu. Itulah pikir Faishal.
“Kok ke apartemen Yang?” tanya Syeila ketika mereka berhenti di apartemen Faishal.
Faishal menoleh tersenyum kearah Syeila, “Nggak papa. Hari ini aku ingin berduaan denganmu. Ayok keluar.”
Meskipun Syeila loading dengan ucapan Faishal. Syeila tetap turun dari mobil. Dan Faishal langsung menggenggam tangan Syeila sembari berjalan menuju unit apartemennya.
“Sayang. Lepas dulu ih tangannnya. Aku mau ganti baju.” Syeila mencoba melepas tangannya dari genggaman Faishal setelah sampai di kamar.
Bukannya melepas, Faishal malah menarik Syeila dan menatuhkannya ke kasur. “Akkkhhhh,” pekik Syeila tertahan karena ulah suaminya yang sekarang sudah mengukung tubuhnya.
“Sayaaang.” Syeila mengernyit bergerak gelisah.
“Sssssst sayang. Tolong tetap begini ya.Aku butuh kamu.” Faishal sedikit menyamping menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Syeila dan menimbulkan sensasi geli yang menjalar di sekujur tubuh Syeila.
Syeila yang dasarnya gerah dan ingin ganti baju, bukannya diam malah blingsetan tak karuan. Hal tersebut membuat junior Faishal juga ikutan blingsetan tidak karuan.
Astaga, Faishal bukannya tenang tapi malah cekat cekut kepalanya. Hmmm apalagi setelah mendengar celetukkan Syeila, “Yang, udah ya. Itumu nusuk nusuk pinggangku loh.” Faishal memejamkan matanya, “Astaga, kenapa di perjelas sih,” batinnya.
Sudah kepalang tanggung, Faishal kembali mengukung Syeila. “Yang.” Seruan Syeila, tidak langsung dijawab Faishal.
Faishal menatap dalam mata Syeila beberapa saat, sebelum akhirnya berucap, “Aku menginginkanmu.”
.
.
__ADS_1
.
TBC