
“Mana sayang roti bantalnya?”
“Ini” sahut Syeila dengan mengambil barang yang dia sebut roti bantal dan mengarahkan ke wajah Faishal
Faishal melotot, ketika mengetahui barang tersebut
“Astaga, itu bukan roti bantal tapi softex biji sawiii” lirih Faishal penuh frustasi menahan malu.
Sungguh Faishal malu sekali, karena sekarang para pengunjung melihat dirinya sambil cekikikan. Apalagi si biji sawi, jangan ditanyakan lagi dia tidak peduli sama sekali.
Terbukti, sekarang biji sawi malah ngantri di kasir setelah tadi memberitahu apa itu roti bantal, dan tanpa berdosa biji sawi malah langsung ngacir ke kasir.
“Shit, bener bener” umpat Faishal pelan
Kemudian, Faishal menghela napas mencoba menetralisir rasa malunya. Setelah itu, Faishal segera berlalu keluar menuju mobil.
Lima menit kemudian, Syeila sudah keluar dan segera masuk mobil
“Makasih ya om, udah mau berhenti. Yuk om pulang” ucap Syeila sambil memakai seatbeltnya
Ya, Syeila yang polos tidak tau kalau Faishal sangat frustasi malu karena ulahnya tadi.
Sedangkan, Faishal yang mendengar ucapan Syeila, mengerjapkan matanya beberapa kali , dan
“Astaga” desah Faishal lirih yang hanya mampu di dengar oleh dirinya sendiri.
Ya, Faishal faham, ternyata biji sawinya ini bener bener tidak merasa bersalah sama sekali. Dan Faishal memutuskan untuk mengacuhkannya.
Cih, enak saja kalau Faishal luluh kembali. Sudah berulangkali dia dibuat jengkel sama biji sawinya. Jadi sekarang waktunya dia untuk memberi sedikit pelajaran ke biji sawinya dengan mengacuhkannya.
“Om, kok belum jalan jalan sih. Keburu sore lho, Syeila capek om, pengen segera istirahat” cerocos Syeilapanjang lebar, karena om Fai nya tidak memberikan tanggapan sama sekali
Faishal yang kembali mendengar ucapan Syeila hanya melirik sinis sekilas kemudian segera melajukan mobilnya.
Sedangkan, Syeila masih belum ngeh kalau om Fai nya ngambek. Jadi ketika mobilnya udah jalan, Syeila fokus ke hapenya lebih tepatnya game. Ya syeila suka sekalin main game POU.
Selama perjalanan pulang, suasana sangat sunyi senyap hanya terdengar suara klakson, karena Faishal dan Syeila sibuk dengan dirinya masing masing.
Lima belas menit akhirnya sampai di apartemen. Segera Faishal keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata, dan langsung mengambil semua belanjaannya.
Sedangkan, Syeila yang melihat om Fai nya langsung keluar tanpa mengajaknya, Syeila mengernyitkan keningnya .
“Masak sih om Fai marah? Tapi nggak mungkin deh, mungkin capek kali ya si om” gumam Syeila dalam hati sambil melihat om Fai nya yang sedang mengambil barang belanjaan.
Ya, Syeila berusaha positif thingking , mungkin om Fai nya capek dan ingin istirahat.
__ADS_1
Kemudian, Syeila yang melihat om Fai nya kesusahan membawa barang menuju apartemen, segera turun dari mobil dan membantu membawakan barang belanjaannya.
“Sini om, beberapa biar Syeila yang bantu bawa” ucap Syeila ketika sudah dekat
Faishal yang mendengarkan ucapan Syeila langsung meninggalkan 2 barang, kemudian segera berlalu menuju unit apartemennya
Syeila yang melihat kelakuan om Fai nya mengkerutkan keningnya kembali, bahkan sekarang kerutannya semakin dalam.
“Tumben tumbenan om diam aja, jutek ke Syeila. Syeila juga capek kali om, dan juga pengen istirahat” lirih Syeila dengan bibir mengerucut sambil melihat om Fai nya telah berjalan terlebih dahulu.
Tapi, tetap aja Syeila masih belum sadar kalau om Fai nya ngambek mode on. Maklum Syeila masih polos
Segera, Syeila menyusul Faishal ke apartemen dan tidak lupa barangnya juga dibawa.
Sesampainya didalam unit, Syeila yang melihat barang belanjaan yang dibawa Faishal tadi ditaruh di ruang tamu, segera Syeila ambil.
Kemudian ditatanya barang tersebut sesui tempatnya baik didapur maupun dikamar.
Tiga puluh menit kemudian, Syeila telah selesai menata barang belanjaannya. Kemudian dia segera menuju ke kasur ikut tidur disamping om Fai nya.
Ya, pas Syeila masuk kamar dia sudah disuguhi pemandangan om Fai nya tidur.
Jadi praduga Syeila sebelumnya benar, bahwa om Fai nya capek dan ingin cepat cepat istirahat.
Setelah Syeila membaringkan tubuhnya di kasur, Syeila segera merapatkan dirinya dengan om Fai.
Salah satu hal wajib yang dilakukan Syeila semenjak menikah, ketika tidur Syeila selalu memeluk atau minta dipeluk om Fai nya untuk mencari kehangatan dibalik dada bidang yang mampu membiusnya untuk segera terlelap.
Entahlah, ketika berada dalam dekapan dada bidang om Fai nya, Syeila selalu merasa aman dan nyaman.
Terbukti, hanya beberapa menit saja Syeila sudah terlelap.
Setelah Syeila terlelap, Faishal mulai membuka matanya. Sebenarnya Faishal tadi tidak tidur, dia hanya pura pura tidur ketika tau kalau Syeila mau masuk ke kamar.
***
Sebenarnya, semenjak Faishal masuk ke kamar, dia langsung melihat CCTV untuk mengamati setiap gerakan biji sawinya.
Sungguh, Faishal sebenarnya dilema karena sudah nggak tahan untuk mengacuhkan biji sawi nya.
Tetapi, kadar kepekaan biji sawi nya yang dibawah rata rata , akhirnya Faishal tetap kekeh untuk berlanjut mengacuhkannya.
Dan tepat, saat biji sawinya mau masuk ke kamar, Faishal langsung pura pura tidur.
Lima belas menit kemudian, dirasakannya tangan biji sawi melingkar di pinggangnya dan wajahnya di susupkan ke dadanya untuk mencari kehangatan dan kenyamanan.
__ADS_1
Ya, Faishal tau, itu adalah kebiasaan biji sawinya ketika tidur. Dan setelah dirasakannya biji sawi mulai terlelap, Faishal membuka matanya.
Kemudian, dipindahkannya kepala biji sawi supaya tidur di lengan kekarnya, namun dengan tangan biji sawi yang masih posesif melingkar di pinggang Faishal.
Nah, ketika biji sawinya tidur seperti ini, Faishal merasa bebas mengekspresikan dirinya dan tidak perlu acuh kembali.
Terbukti, sekarang Faishal tersenyum tipis melihat wajah polos biji sawi saat tertidur, sungguh terlihat damai sekali.
Namun, ada satu yang mengganggunya. Saat ini biji sawi tertidur dengan bibir mungil sedikit terbuka.
Oh, Faishal merasa terundang untuk mencicip menyes*ap melum*t dan mereguk nimatnya bibir tersebut.
“Oh may bibir nya. Sungguh ingin sekali aku obrak abrik” batin Faishal gemas melihat bibir biji sawi yang menggoda.
Tapi, Faishal masih ingat kalau sekarang masih mode mengacuhkan .
Namun, sesaat kemudian Faishal berfikir lagi “Tidak apa apa kali ya, gue nikmati pas dia tidur, nanti pas bangun bisa gue acuhkan lagi”
“Toh, dia kalau tidur jarang sekali terganggu dengan tangan gue yang mesum” lanjut batin Faishal dengan pelan pelan memiringkan badannya dan menempatkan posisi biji sawinya supaya nyaman. Setelah itu
Cup
Satu kecupan mendarat di antara belahan bibir biji sawi, kemudian
Cup
Didaratkannya kembali bibir tebal Faishal ke belahan bibir mungil biji sawinya. Beberapa detik didiamkan, kemudian pelan pelan dises*p, dilum*at bibir mungil tersebut secara bergantian atas dan bawah.
Tidak lupa tangannya sudah menyusup dibalik baju biji sawi. Setelah menemukan dua bukit favoritnya, diremasnya pelan secara bergantiam, sedangkam bibirnya masih setia mengobrak abrik bibir mungil biji sawi untuk mereguk kenikmatan tersebut.
Dan, gelora nafsu Faishal naik seketika.
Sehingga tidak sampai disitu saja, ketika merasa biji sawi nya tidak terganggu sama sekali. Faishal duduk, kemudian menaikkan sedikit baju bagian atas dan tidak ketinggalan juga menaikkan bra nya sampai diatas bukit kembar biji sawi.
Dan wow, terpampang secara jelas bukit kembar yang terlihat masih kecil dan segar, karena selama ini Faishal hanya merasakan lewat tangan mesumnya, belum pernah melihat.
Walapun, bukit kembarnya masih kecil tapi sangat pas di tangan Faishal.
Tanpa menunggu lama, Faishal segera melanjutkan aktivitasnya kembali yaitu mendaratkan bibir tebal nya ke bibir mungil Syeila untuk kembalimereguk segala nikmat yang ada.
.
.
.
__ADS_1
TBC
LIKE+KOMENTAR jangaaaan lupa ya kak