Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 123


__ADS_3

Syeila tersenyum sendiri membaca note yang ditinggalkan suaminya. “Ihhhh so sweeetnya. Kan Syeila jadi gemeeeees. Gemes gemes gemes.” Syeila heboh sendiri kayak cacing kepanasan.


Sesaat setelah kembali normal, Syeila nampak berfikir, “Oh ya, apa mending Syeila datang ke kantor aja ya. Pasti Om sibuk, sekalian kasih kejutan juga ke Om Fai.”


Tiba tiba terdengar bunyi dering yang berasal dari gawai Syeila. “Halo Ci.” Ahhh ternyata Cici yang menghubungi Syeila.


“Halo Syei. Hari ini jalan jalan yuk. Mumpung kita lagi minggu tenang.” Cici memberi jeda sebelum kembali melanjutkan ucapannya, “Sama Mia juga. Girl’s time. Gimana Lo bisa kan?”  Seperti yang dibilang Cici, saat ini kelas dua belas libur lima hari, sebelum minggu depan mereka melakukan ujian tulis kelulusan.


Syeila melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan lebih semperempat. “Hmmm bisa sih. Tapi kita mau kemana nih? Syeila soalnya ingin ke kantor Om Fai.”


“Biasa, pengen nge mall hehehe. Cuci mata, biar otak gue nggak konslet hehehe.”


“Oke deh. Syeila ikut. Tapi, gimana kalau kita ngemall nya deket kantor suamiku. Disana ada mall. Baru dibuka minggu kemarin.”


“Oke deh. Kita ketemu disana ya Syei, jam sepuluh.”


“Oke Ci, siap.”

__ADS_1


Sebelum berangkat, Syeila beres beres kamar terlebih dahulu, sembari menunggu makanan pesanannya. Setelah makan, Syeila langsung mandi dan bersiap.


“Perfect,” guman Syeila yang memperhatikan penampilannya di depan cermin.Syeila sudah memesan taxi online.


Tak lama ada pemberitahuan kalau taxinya sudah ada di lobi apartemen. Syeila bergegas keluar apartemen. Kemudian menuju Mall yang berada dekat dengan kantor Faishal.


***


Disisi lain, Faishal yang sudah masuk keruangannya, dengan Natasya yang mengekor dibelakangnya.


“Bicaralah.” Faishal menuntut penjelasan dari Natasya setelah Natasya duduk.


“Maaf Tuan, aku…” Natasya belum menyelesaikan ucapannya, Faishal sudah menyela duluan. "Panggil saja biasa, tidak perlu Tuan, karena kita tidak sedang bicara masalah perusahaan."


"Maaf Ai, ak...." Lagi lagi perkataan Natasya dipotong oleh Faishal, “Tolong jangan lagi memanggil dengan sebutan itu. Kurasa kita tidak dekat seperti dulu.”


“Maaf. Fa-Fai sebenarnya aku sudah mengatakan yang sebenarnya ke Naura. Tapi…” Kelu Natasya untuk menjelaskannya. “Maaf, ini memang salahku.” Ya, hanya itu yang dapat di sampaikan oleh Natasya.

__ADS_1


Memang benar akar permasalahan ini ada pada Natasya. Entah apa yang mendasari Natasya mengakui ke putrinya bahwa dirinya adalah papanya. Kalau Faishal masih sendiri, mungkin dirinya masih bisa mempertimbangkannya. Tapi saat ini Faishal sudah ada Syeila. Sudah beda kondisinya.


Faishal yang ingin menyahut, mengatupkan kembali mulutnya, ketika bocah mungil yang sedari tadi nyaman ndusel di ceruk lehernya kembali bersuara, “Papah.” Naura mendongakkan wajahnya ke Faishal. “Nola kangen Papah. Papah pulang ya jangan kelja lagi.”


Faishal memejamkan matanya, sebelum menjawab, “Naura, kamu main sama bonekamu sebentar ya. Eheem, Om mau bicara penting sama mamahmu.”


“Kok Om sih pa. Kan papah bukan Om,” protes Naura. Serba bingung Faishal harus bagaimana. Natasya yang melihat kebingungan Faishal, segera bersuara, “Iya Naura sayang. Naura main sendiri dulu yah. Main di situ. “Natasya menunjuk salah satu sudut deket jendela, kemudian melanjutkan ucapannya, “Ini mamah pinjamin tablet mama.”


Ambyar sudah! Naura paling tidak bisa menolak kalau sudah disodorkan tablet. Dengan riang gembira Naura turun dari pangkuan Faishal dan menerima tablet dari mamahnya, “Asyik asyik asyik. Makasih mamah. Nola sayang mamah.” Naura berjalan menuju sudut ruangan yang dekat jendela seperti yang sudah di tunjuk oleh Natasya.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2