
PRAK,
Naura melempar tablet mamahnya sampai retak. Setelah itu Naura berlari keluar dari ruangan
Faishal yang kebetulan tidak tertutup. Sedangkan Natasya syok melihat anaknya yang baru kali ini memberikan tatapan mata yang seolah olah mengatakan kalau dia sangat marah dan membencinya.
Setelah Natasya tersadar dari keterkejutannya, Natasya segera menghadap kearah Faishal. “Fa- ehm Pak. Saya ijin untuk menyusul anak saya,” lirih Natasya ditengah tengah rasa terkejutnya.
Faishal yang mengerti keadaan Natasya, dia pun memberikan izin. “Pergilah susul anakmu. Maaf aku hanya bisa membantu sampai disini. Untuk rapat nggak papa, kamu hari ini absen.”
Mendapat izin dari Faishal, Natasya segera berlalu keluar ruangan, tak lupa Natasya memberi hormat sebelum undur diri.
Selepas kepergian Natasya, Faishal menghela napas panjang, “Lo udah benar Fai. Keputusan yang lo ambil udah tepat.” Kemudian mulai mempelajari berkas, sebelum dirinya rapat.
***
Natasya yang sudah ada di luar ruangan Faishal, melihat sekitar, mencari keberadaan anaknya, “Ya Allah Nak, kamu dimana. Maafin mamah,” gumam Natasya lirih. Natasya tidak dapat berbohong kalau saat ini dirinya sedang mencemaskan putrinya.
Setelah mencari disekitar, tidak menemukan tanda tanda putrinya ada di lantai tersebut, akhirnya Natasya memutuskan untuk turun ke lantai bawah.
Natasya yang mau memencet tombol Lift, tiba tiba,
__ADS_1
Sreeeet, ada yang menarik tangan Natasya dan memojokkannya ke dinding yang berada di samping Lift. Natasya kaget melihat siapa yang memojokkannya. Dia David asisten Faishal a.k.a teman Natasya juga.
Natasya mengernyit, “Da-David ap…” Perkataan Natasya dipotong telak oleh David, “Cih, murahan,” desis David menatap tajam Natasya.
Deg, Natasya tersentak kaget. Tidak terima dikatakan oleh David yang notabene adalah temannya yang selama ini selalu berlaku lembut dengan dirinya, “Maksut Lo apa? Gue nggak punya urusan sama Lo brengsek.
Lepasin gue.”
Bukannya melepas, tetapi David semakin mencengkeram erat pergelengan Natasya. David semakin mendekat, sampai hembusan nafasnya terasa dikulit wajah Natasya, “Awas Lo. Jangan sampai Lo ngrusak rumah tangga Faishal dengan tameng anak Lo dan mantan suami Lo.”
“Maksut Lo apa Vid? Jangan asal…” Ucapan Natasya dipotong telak oleh David, “Jangan apa? Gue tau semua tentang Lo. Dan ternyata Lo tidak lebih dari cewek murahan, cih.” Tanpa menunggu jawaban dari Natasya, David segera melenggang pergi menuju lobi kantor.
***
Disisi lain, setelah Syeila menutup telponnya, tanpa sengaja mata Syeila mengarah ke sebrang jalan.
Mata Syeila membulat terkejut, “Awas Paaaak. Ada anak keciiiiiiiil,” Pekik Syeila, dan.
Ciiiiiiiiiiiit,
Bruuuuuuugk…
__ADS_1
Meskipun laju mobilnya dibawah rata rata, Pak sopir juga kaget melihat ada anak kecil yang tiba tiba menyebrang, tapi lebih kaget lagi dengan pekikan keras Syeila sehingga membuat dirinya nge rem mendadak.
“Non, Non tidak apa apa?” Sopir bertanya keadaan Syeila. Untung, kepala Syeila Cuma kejedok sandaran kursi mobil aja. Syeiila masih mengatur napasnya, “Hah, hah, hah. Pak Syeila nggak papa. Tapi gimana anak kecil tadi Pak?” Sekarang Syeila sudah pucat pasi, takut kalau anak tersebut kegilis ban mobil. Mana masih kecil lagi. Wkwkkw aneh ya Syeila. Yang bawa mobil siapa yang takut siapa.
“Sepertinya tidak apa apa Non.” Bukan tanpa alasan pak supir bilang seperti itu, karena Pak supir merasa tidak menabrak bocah kecil. “Tapi mari kita lihat dulu Non.” Syeila langsung keluar dari taxi. Sekeluarnya dari taxi, Syeila disuguhkan oleh pemandangan anak kecil yang duduk meringkuk dengan kepala tersembunyi dibalik paha kecilnya. Syeila melihat sekelilingnya, ternyata jalanan saat ini sangat lengang, sehingga tidak ada orang yang melihat kejadian tadi.
Samar samar, Syeila mendengar isak tangis anak tersebut. Entahlah, mendadak Syeila ingin melihat anak tersebut. Syeila ingin menenangkannya. Dipegangnya bahu bergetar anak tersebut, “Hai sayang kamu kenapa hem?”
Bocah kecil tersebut mendongak, “Huaaaa kaka hiks hiks hiks.” Tiba tiba bocah tersebut menubruk tubuh Syeila. Hampir saja Syeila terjengkang kebelakang.
“Kamu kenapa hem?” Si kecil tidak mendengarkan Syeila tapi sibuk menangis memeluk tubuh Syeila.
Syeila hanya bisa pasrah dengan tangan menepuk halus punggung gadis kecil yang memeluk tubuhnya. “Cup cup. Kamu terpisah dari orang tuamu ya? Ayuk kakak anter. Sudah jangan nangis lagi ya.” Hibur Syeila yang mengira gadis mungil tersebut menangis karena terpisah dari orang tuanya.
.
.
.
TBC
__ADS_1