
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sudah dua puluh delapan hari semenjak. Semenjak Syeila dan teman temannya menyelesaikan magang di perusahaan Faishal.
Dan selama dua puluh delapan hari, ada aja permintaan Syeila yang membuat Faishal lebih banyak mengelus dada. Ya, mood Syeila gampang anjlok. Apalagi satu mingguan ini. Sensitive sekali biji sawinya ini.
Dan lagi lagi pagi ini Faishal harus terganggu tidurnya. Sudah selama tiga hari ini Faishal selalu di bangunkan Syeila di kisaran pukul dua sampai empat pagi hari. Entahlah, ada aja yang di minta Syeila di pagi hari.
Seperti pagi ini, Syeila dengan tangan mungilnya mencoba untuk membangunkan Faishal. “Sayang.” Syeila mencubit kecil kecil wajah Faishal dengan tangannya.
“Sayang banguuun!” karena tidak mendapat respon, dengan teganya Syeila menggigit hidung mancung Faishal
“Arrrrg.” Faishal meringis pelan dan perlahan membuka matanya, menatap jam dinding yang menempel di dinding atas pintu kamarnya.
“Sayang ada apa? Ini masih jam setengah empat pagi. Sini bobok lagi.” Faishal meraih Syeila mencoba membawa ke pelukannya. Faishal benar benar masih mengantuk karena kegiatan panasnya semalam.
“Ihh, sayang. Syeila udah nggak pengen bobok lagi tapi pengen lihat kamu masakin Syeila telur ceplok pake kecap manis.” Syeila menggeliat tidak mau tidur kembali.
Faishal memejamkan matanya erat, “Sayang aku masih ngantuk. Kamu masak sendiri nggak papa kan?”
Syeila merengut dengan bibir mengerucut gemas, “Tapi Syeila maunya kamu sayang yang masak. Kan semalem sudah Syeila kasih jatah juga ih.”
Faishal diam dengan mata terpejam, tidak menyahut ucapan Syeila. Syeila sudah berkaca kaca, “Sayang kamu beneran nggak mau ya?”
Fix Suaminya tidak bangun. Padahal Syeila hanya minta dimasakin telur ceplok loh. Mendadak air merebak berlomba lomba keluar dari mata bulat Syeila tanpa di komando. “Hiks hiks hiks.”
__ADS_1
Syeila terus sesenggukan karena keinginannya tidak terpenuhi dan sesekali tangannya menyeka kasar air matanya.
“Hiks hiks, padahal semalem sudah dikasih jatah. Tapi hiks hiks Syeila minta dimasakin telur ceplok aja nggak mau hiks hiks.”
Sayup sayup Faishal mendengar suara orang menangis. Faishal membuka matanya perlahan. Faishal menyipit melihat biji sawinya yang sesenggukan tanpa sehelai benangpun. Inget ya, semalem mereka baru aja indehoy.
Mata Faishal terbuka lebar,” Astaga sayang! Kenapa kamu menangis hem?” Faishal merangkum Syeila membawa kepelukannnya.
“Hiks hiks Syeila ingin sayang masakin telor ceplok pake kecap manis hiks hiks.” Syeila mendongakkan wajahnya menghadap Faishal dengan mata bengkak dan bibir mungilnya yang mengerucut menggemaskan.
Faishal menghapus air mata yang menghiasi wajah biji sawinya, “Iya sayang maaf. Sudah ya jangan menangis lagi. Tunggu sebentar aku masakin telur ceplok dulu.”
“Pake kecap manis Yang. Kecapnya dicampur dengan telur pas di goring.”
Cup,
Faishal memberikan kecupan singkat di bibir mungil Syeila, sebelum beranjak dari kasur. Dan tak lupa, Faishal memakai celananya sebelum keluar kamar.
Sesampainya di dapur, Faishal menyiapkan bahan dan alatnya terlebih dahulu. Sebelum Faishal memasukkan telurnya di penggorengan, Faishal di kagetkan dengan tangan mungil yang mengelilit pinggangnya.
“Astaga sayang. Jangan kayak gini Yang. Aku nggak fokus entar masaknya.”
“Nggak mau Yang. Syeila ingin melihat sayang masak. Dan enak gini, sayang wangi bangeet.” Syeila semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
“Astaga.Wangi dari mana, ini aku baru bangun tidur loh Yang, bukan baru selesai mandi.”
“Nggak papa kok Syeila suka.”
“Yasudah Yang. Terserah kamu saja.” Faishal membiarkan Syeila memeluk dan bersandar di punggungnya.
Faishal kembali fokus dengan tugasnya. Segera Faishal membuat telur ceplok dicampur dengan kecap manis.
Namanya cuma telur ceplok ya. Jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk Faishal menyelesaikannya. “Sayang, minggir dulu ya. Ini aku mau ambil piring dulu.” Faishal mengelus lembut punggung tangan Syeila yang membelit pinggangnya.
“Sayang.” Kening Faishal mulai mengerut, sepertinya ada yang tidak beres dengan biji sawinya karena bebannya terasa semakin berat.
Dipegangnya tangan mungil Syeila, kemudian secara perlahan Faishal berbalik menghadap Syeila. Faishal menganga terkejut, “Astagaaaa sayang! Kenapa kamu malah tidur lagi sih. Ini telur ceploknya gimana?”
.
.
.
TBC
Halo, ini update buat hari kamis kemarin ya. Untuk update hari ini nanti agak malaman ya.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan LIKE + KOMENTARNYA ya :)