
“Yasudah kalau nggak bisa malam ini. Sekalian aja nggak usah tidur dikamar, rapat aja sampai besok pagi.” Ucap Syeila lantang, kemudian secepat kilat tangan mungil Syeila meremas keras othong Faishal yang setengan berdiri.
“Argggggg Syeila,” pekik Faishal kaget, karena perasan Syeila yang cukup keras. Namun Syeila tidak mempedulikan pekikan Faishal, Syeila malah berlajan cepat keluar kemudian,
BLAM, Astaga sekali lagi Faishal dikagetkan dengan Syeila yang membanting pintunya.
“Astaga, biji sawi. Kenapa semakin kesini semakin menjadi sih,” desah Faishal. “Untung saja sudah aku mute dan non aktifkan vidionya, huffft.” Ya, untung saja, zoomnya sudah di mute dan dinonaktifkan vidionya. Jadi teman teman Faishal tidak ada yang melihat dan mendengarnya.
Setelahnya Faishal fokus ke rapat, dan segera menyela,” Halo, maaf ya! Sepertinya rapat kita sudahi saja, gue nggak bisa lanjut rapatnya malam ini.”
“Lah lah, kenapa Bro? Kan loe yang minta rapat malam ini” tanya Marcel. Ya memang benar yang diucapkan Marcel bahwa yang meminta rapat malam ini adalah Faishal.
“Sorry, hmmm gue bener nggak bisa lanjutin rapat malam ini. Besok aja jam sepuluh kalian ke kantor gue ya. Sekalian gue traktir makan siangnya. Sekali lagi sorry, soalnya ibuk negara lagi mode singa,” ucap Fashal yang terkekeh di akhir kalimatnya.
Teman teman Faishal yang mendengar itu juga ikut terkekeh, membayangkan istri manja dan polosnya Faishal dalam mode singa.
“Oke oke, kita besok saja rapatnya. Sekalian pengurus umumnya diajak gimana?” sahut David
“Oke, atur ajalah gimana besok. Sudah ya, gue leave dulu.” Faishal langsung leave dari room meeting. Kemudian bergegas ke kamar sebelum biji sawinya tambah ngambek.
Sedangkan disisi lain, setelah Syeila keluar dari ruang kerja Faishal, Syeila menuju kekamar dengan menghentak hentakkan kakinya. Disepanjang jalan Syeila menggerutu tidak jelas dengan bibir mengerucut disertai pipi yang mengggelumbung.
“Ish teman teman Faishal memang nyebelin, nggak ada akhlak semua. Sudah tau malem, masih aja rapat. Nggak tau aja mereka kalau Faishal sudah menikah. Ihh nyebelin banget sih mereka.” Ya kurang lebih seperti itulah gerutuan Syeila.
Sampai kamarpun, Syeila tidak bisa tidur. Pasalnya sudah berjanji sama Rendi kalau malam ini akan mewawancarai Faishal, jadinya Syeila merasa bersalah dan tidak enak. Alhasil deh dikamar Syeila terus terusan mengumpat suaminya dan teman teman suaminya.
Terkadang Syeila mengumpat, suami nggak peka, suami nggak pengertian, suami egois, suami jahat. Pun Syeila juga mengumpati teman teman Faishal seperti, teman nggak ada adab, temen nggak punya akhlak, temen nggak tau waktu dan lain lain, yang jelas mulut mungil Syeila malam ini mengeluarkan kata kata pedas buat suami dan teman teman suaminya.
Tak lama terdengar suara pintu terbuka, Ceklek.
Syeila yang mendengar, segera memejamkan matanya dan menghadap kesamping yang otomatis membelakangi pintu masuk.
Faishal yang melihat biji sawinya tidur menyamping membelakanginya, hanya menghela napas. Karena Faishal tau kalau biji sawinya itu ngambek sehingga pura pura tidur menyamping membelakanginya.
__ADS_1
Segera Faishal melangkah menaiki kasur kemudian tidur menyamping dengan mendekap pinggang mungil Syeilla. Sedangkkan, Syeila bodoh amat dengan tindakan suaminya, Syeila masih marah pokoknya.
“Sayang~,” panggil Faishal
Tok..Tik.. Tok.. Tik.. Tok.. Tik.. Hening tidak dijawab oleh Syeila
“Sayang, aku tau kamu belum tidur, maaf ya kalau tadi aku cuek. Ada apa hem?” ucap Faishal sekali lagi dengan tangan yang mengelus lembut tangan mungil Syeila dibalik dekapannya.
Syeila yang mendengar itu tetap bodoh amat. Enak saja mau minta maaf, pokoknya Syeila nggak mau cepet luluh tuh. Syela tetap mempertahankan kebungkamannya dengan memejamkan matanya.
Faishal tidak kehilangan akal, dengan seringai jailnya, Faishal mengarahkan telapak tangan kekarnya ke salah satu gundukan yang sangat pas ditangkupnya. Kemudian Faishal meremas sedikit keras gundukan tersebut, dan
“Awwwww,” pekik Syeila karena merasa sedikit sakit dan ngilu. Seketika Syeila duduk dan melotot kearah Faishal yang masih setia berbaring dengan wajah polos seakan akan nggak melakukan kesalahan.
“Sayaaaaang, kenapa remesnya kenceng banget sih! Syeila tuh masih tahap tahapnya pertumbuhan, ininya juga masih tahap pertumbuhan jadi remesnya jangan kenceng kenceng ih, sakit tau!” ngomel Syeila dengan bibir mengerucut
Faishal terkekeh, kemudian ikut duduk dan berucap, “Iya sayang maaf ya, kita impas. Kan tadi kamu juga gituin punyaku.”
Faishal meringis mendengar rentetan omelan biji sawinya yang memang kalau lagi marah ngomongnya nyablak nggak ada remnya. Astaga, tidak tau saja biji sawinya, kalau yang mengajak rapat itu dirinya.
Cup, Faishal mengecup bibir Syeila yang mengerucut setelah puas mengomel.
“Iya sayang, maaf ya. Emm kamu ada apa tadi?” Faishal mencoba mengalihkan perhatian biji sawinya.
“Haah, gini yang, sebenarnya Syeila mau mewawancari kamu buat tugas observasi. Tapi kamu malah sibuk dengan teman temanmu.”
Astaga, masih inget saja biji sawinya,” Iya sudah sayang. Wawancaranya sekarang nggak papa kok, aku juga sudah selesai dengan teman temanku.”
Syeila berbinar mendengarnya,” Bener yang sekarang nggak papa?”
“Iya sayang, wawancara sekarang aja nggak papa. Yang penting setelahnya kita…” ucap Faishal dengan senyum penuh arti.
Syeila yang tau keinginan suaminya hanya mengangguk saja, toh memang sudah kewajibannya. Kemudian Syeila mulai menyalakan rekaman di hape untuk merekam wawancaranya. Beberapa menit wawancara berlangsung lancar, sampai tangan Faishal yang sudah mulai tidak bisa di kondisikan.
__ADS_1
“Ah, sayang. Jangan gini dong. Jawab dulu ahh pertanyaannya,” keluh Syeila karena tangan Faishal yang menjalar kemana mana
“Oh iya sayang, tadi pertanyaannya apa?” tanya Faishal dengan tangan yang terus aktif menggerayangi tubuh biji sawinya
“Ya ampun sayang, makanya jangan aneh aneh ih tangannya. Pertanyaannya, strategi strategi apa yang digunakan oleh, ahhh sayang tangan tolong ahhh…..”
“Maaf sayang, lanjut besok aja wawancaranya ya. Besok kamu cukup ngasih aku list pertanyaannya. Si othong sudah nggak kuat sayang.”
Segera Faishal mematikan rekaman di hape Syeila. Tanpa banyak kata Faishal langsung mel*mat rakus bibir mungil biji sawinya, dengan tangan yang terus aktif menggerayangi setiap inci tubuh biji sawinya.
Syeila yang mendapat serangan dari Faishal hanya menerima dan mencoba mengimbangi permainan Faishal. Malam itu mereka kembali berbagi nafas dan saling mendesahkan nama pasangan masing masing.
.
.
.
TBC
HALO HALO, BAGAIMANA NIH DENGAN CERITA BAB INI? MASIH PADA SUKA KAN? INI BELUM KLIMAKS LOH,
SATU KATA DONG BUAT BIJI SAWI?
SATU KATA JUGA DONG BUAT OM FAI?
HEHE, JANGAN LUPA YA BESOK HARI SENIN, BERARTI AUTHOR LIBUR DULU UPDATENYA. KITA KETEMU LAGI DI HARI SELASA :)
SALAM HANGAT DAN TERIMAKASIH.
__ADS_1