Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 86


__ADS_3

Tidak lama, guru yang tadi keluar sudah kembali masuk ke ruangan BK. Dan guru tersebut duduk di depan Syeila. Melihat gelagat Syeila, guru tersebut faham bahwa Syeila sangat ketakutan.


Guru tersebut menghela napas sebelum kembali memberondong pertanyaan kepada Syeila, “Syeila, coba kamu cerita ke Ibu, tadi kamu kenapa sampai naik ke pagar belakang sekolah? Kamu bolos kemana, sampai meninggalkan kelas? Kamu taukan hari ini presentasi laporan hasil pelatihan magangmu? Dan Kenapa kamu lewat pagar belakang sekolah? Kamu udah kelas tiga loh, tinggal dua bulan saja kamu sekolah sampai ujian kelulusan.”


Ya, tadi pagi ketika waktunya masuk, Syeila izin ke kamar mandi. Tetapi sampai jam pelajaran selesai, Syeila tidak kembali.


Padahal saat ini waktunya presentasi pelaporan hasil magang. Semua teman teman Syeila bingung, pun dengan guru yang mengajar di kelasnya karena Syeila tidak ada di kelas.


Singkat cerita, Syeila yang saat hendak turun dari pagar sekolah ketauhan oleh salah satu siswa kedisiplinan yang bertugas mengelilingi sekolah mencari anak yang berniat bolos atau mangkir dari kelas.


Alhasil Syeila dibawa oleh siswa tersebut untuk menghadap guru BK.


“Syeila nggak kemana mana Bu. Syeila juga nggak berniat bolos Bu,” cicit Syeila dengan kepala menunduk.


“Terus kamu habis dari mana Syeila?” tanya guru tersebut. Syeila hanya diam dengan kepala tertunduk.


Guru tersebut menghela napas, ketika lagi lagi Syeila tidak menjawab. “Baik. Kamu tunggu disini. Sampai orang tuamu datang. Tadi ibu sudah menghubunginya.”


Setelah berucap, guru tersebut meninggalkan Syeila kembali. Sedangkan Syeila yang mendengar ucapan guru tersebut, sudah tidak bisa menahan air matanya yang sejak tadi ingin melaju bebas.


Tes.. tes.. tes.


Air mata Syeila merembak keluar tanpa di komando. Walaupun begitu, Syeila berusaha keras tidak meloloskan isakan tangisnya.


Sehingga ketika ada orang yang melihat Syeila, tidak ada yang tau kalau Syeila menangis, karena Syeila selalu menunduk tanpa ada isakan..


***

__ADS_1


Di lain tempat, saat ini Faishal berada di tengah tengah meeting dengan semua kepala divisi. Baru empat puluh menit  berjalan, Faishal mendapat telepon dari Daddy Wijaya.


Kening Faishal berkerut samar, kenapa Daddy mertuanya menghubungi di jam kerja. Sangat jarang sekali, beliau menelpon di jam kantor. Pasti ada sesuatu yang penting.


Tanpa mengurangi wibawanya, Faishal segera mengangkat telepon tersebut, “Halo Dad.”


“Halo Nak. Bisa minta tolong datang kesekolah Syeila?”


“Emang ada apa Dad?” Kening Faishal semakin berkerut ketika disuruh datang ke sekolah istrinya.


“Daddy tidak tau Nak. Tadi Daddy dapat panggilan dari gurunya disuruh ke sekolah sekarang. Kamu bisa kan Nak?”


“Iya Dad bisa.”


“Baik Nak, terimakasih. Jangan lupa kamu nanti bilang ke guru guru Syeila kalau kamu Pamannya ya? Mengingat hanya kepala sekolah saja yang tau kalau Syeila sudah menikah.”


Setelah itu Faishal berbisik kepada David asistennya, “Vid, rapatnya tolong kamu ambil alih, gue harus ke sekolah Syeila.”


 David yang mendengar  bisikan atasan sekaligus bosnya menaikkan alisnya sebelah. Dan belum sempat David bersuara, Faishal sudah mendahuluinya.


“Ehem, Mohon perhatiannya.” Semua serempak menoleh ke arah Faishal. “Terkait rapat bulanan kali ini akan di teruskan oleh David. Saya ada urusan mendadak. Terimakasih.”


Setelahnya, Faishal berjalan keluar meninggalkan ruangan meeting dan bergegas menuju ke sekolah Syeila. Selama perjalanan, Faishal terus berpikir ada apa dengan Syeila sampai harus memanggil walinya. Semoga Syeila tidak berbuat ulah. Semoga~


Sesampainya di sekolah Syeila, segera Faishal bergegas menuju ke ruangan BK dengan bertanya ke guru yang kebetulan lewat. Sesampainya di depan ruang BK, “Permisi Bu.”


Deg, Syeila mendengar suara suaminya semakin menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Sedangkan, guru BK yang ada di ruangan tersebut mengernyit, kenapa CEO Amar.Corp ada disini. Ya guru tersebut tau karena Faishal merupakan salah satu pengusaha yang sukses saat ini.


“Mari Pak masuk. Silahkan duduk Pak. Ada yang bisa saya bantu?”


Faishal melirik Syeila sekilas sebelum menjawab, “Saya pamannya Syeila Bu. Saya mewakili orang tua Syeila. Katanya ada panggilan dari sekolah. Ada apa ya Bu?”


Guru tersebut terlihat terkejut, tidak menyangka ternyata Syeila adalah keponakan CEO besar. “Hmm begini Pak. Sebenarnya Syeila anak yang baik dan rajin. Syeila juga tidak pernah berbuat ulah. Tetapi hari ini, dia ketahuan sama siswa kedisiplinan melompat pagar. Sepertinya dia habis bolos pak. Dan kami memberitahu bapak supaya bisa memberikan pengertian kepada Syeila untuk jangan di ulangi lagi mengingat sebentar lagi ujian kelulusan.”


Faishal menghela napas, sepertinya ada yang tidak beres dengan biji sawinya. “Baik Bu, terimakasih. Hmm boleh beri saya waktu lima belas menit berbicara dengan Syeila?”


“Oh tentu pak. Kalau begitu saya tinggal dulu pak.”Faishal hanya mengangguk mengiyakan. Sepeninggal guru tersebut, Syeila masih bertahan dengan kepala tertunduk, dan Faishal yang menatap lekat biji sawinya.


Suasana diruang BK hening sesaat sampai terdengar kembali suara Faishal. “Sayang.”


Syeila mendongak melihat Faishal dengan air mata yang kembali menetes membasahi pipi. Faishal yang melihat hal tersebut segera merentangkan tangannya, “Sini!”


Tanpa babibu, Syeila langsung berhambur ke pelukan Faishal, “Hiks hiks hiks.” Syeila terus terisak dengan mengeratkan pelukannya.


Faishal hanya mengelus pundak Syeila sayang dan terus bergumam, “Sudah sayang, jangan nangis. Tidak apa apa.”


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2