
Akhirnya Syeila, Faishal dan David keluar bersama dari restoran yang tentunya Syeila tetap berada dalam gendongan Faishal.
Selama perjalanan pun, Syeila masih tetap di pangkuan Faishal dengan kepala bersandar di dada bidang Faishal. Tidak henti hentinya Faishal menyuruh Syeila untuk duduk sendiri, tetapi ya gitu biji sawinya nggak mau duduk sendiri dengan alasan nyaman berada dalam pangkuan Om Fai nya.
Haaah, Faishal hanya bisa menghela napas. Bukan masalah nggak mau, sekali lagi bukan masalah nggak mau ya, tapi si othong ini loh nggak bisa diajak kerjasama. Apalagi ketika biji sawi nya bergerak, errrrg bener bener nggak tahan Faishal.
Faishal masih terus mencoba membujuk biji sawinya untyuk turun dari pangkuannya, “Sayang, turun dong, duduk sendiri ya.”
Syeila yang terus terusan mendapat perintah dari Om Fai nya untuk turun dari pangkuannya segera menghadapkan wajahnya ke wajah Om Fai nya. Dengan berkaca kaca Syeila berucap, “Om kenapa sih dari tadi nyuruh Syeila turun turun terus. Syeila suka begini Om. Enak.”
Kemudian Syeila kembali bersandar ke dada bidang Om Fai. Sedangkan Faishal hanya menghela napas berat dan berucap, “Astaga, saya nggak akan nyuruh kamu turun kalau kamu nggak gerak gerak. Ya ampuun jangan digerakin dong Syei.”
“Ish, kok Om nyalahin Syeila sih. Salahin Om yang mengemudikan mobil noooh,” sahut Syeila dengan mencebikkan bibirnya kemudian turun dari pangkuan Om Fai nya dan menghadap keluar jendela.
Ahh, Faishal lega biji sawinya mau turun, tadi itu sungguh Faishal menahan mati matian, supaya othongnya tidak bereaksi.
Apalagi memang benar, sahabat bangsatnya yang didepan dengan sengaja membawa mobilnya nggak bener.
Segera Faishal memberikan tajam kemudian berucap, “Vid, yang bener loe bawa mobilnya.”
Sedangkan David hanya nyengir dan memberikan tanda okay dengan tangannya.
Walaupun David berwajah sebelas dua belas dengan Faishal dalam kategori dingin, tetapi jangan ditanya kalau masalah keusilan.
Wuuh David adalah nomer satu dari pada sahabatnya yang lain dalam kategori keusilannya. Ya begitulah David, berwajah dingin, tetapi juga usil.
Memang benar beberapa saat, Faishal merasa lega setelah biji sawinya turun dari pangkuannya. Beberapa saat loh ya, karena sekarang Faishal samar samar mendengar isakkan disebelahnya. Semakin lama isakkannya semakin keras.
Astaga, ajaib memang biji sawinya. Jago bener nangisnya. Dan satu yang dapat disimpulkan oleh Faishal, ternyata biji sawinya suka sekali menangis.
Kemudian Faishal memberikan tatapan tajam kepada sahabatnya, dan alhamdulilahnya si David faham dengan kodean tatapan tajam tersebut. Setelah nya dirangkumnya tubuh Syeila dan dibawa kembali kepangkuannya.
Syeila masih terisak dalam pangkuan Faishal, kemudian Faishal berucap, “Kenapa lagi hem? Nangis karena turun dari pangkuan saya.”
Syeila hanya menggelengkan kepalanya dengan terus terisak, dan kembali Faishal bertanya, “Lalu menangis kenapa hem?”
Segera Syeila berhambur memeluk Om Fai nya, kemudian berucap, “Huwaaa hiks hiks Syeila malu ih Om dengan kejadian tadi hiks hiks.”
Ampuuun memang biji sawinya ini. Please deh, kejadian tadi sudah lewat kenapa masih diingat. Faishal sampai memijit pelipisnya.
__ADS_1
“Sudah ya Syei, tidak apa apa nggak usah dipikirkan lagi.”
“Hiks hiks, Syeila malu ketemu sahabat sahabat Om, hiks pasti mereka mengira Syeila cengeng Om. Tetapi kan Syeila memang masih kecil, hiks hiks nggak papa kali ya Om kalau Syeila cengeng hiks hiks?”
Mendengar penuturan biji sawinya, Faishal hanya bisa berucap dengan mengelus punggung Syeila, “Iya tidak papa Syeila cengeng, tetapi harus dikurangi ya. Kan setiap hari Syeila berproses menjadi dewasa apalagi sekarang Syeila juga sudah menikah. Jadi pelan pelan belajar ya sebagai penunjang menuju dewasa?”
Ya, Faishal tidak akan pernah mengeluhkan biji sawinya yang cengeng ataupun mempermalukannya, karena Faishal faham bagaimana kondisi biji sawinya.
Biji sawinya masih remaja dengan pola ppikir yang masih labil, jadi Faishal harus banyak bersabar dan memberikan edukasi edukasi sebagai penunjang biji sawinya dalam berproses menjadi dewasa.
Syeila yang mendengar jawaban dari Om Fai nya, segera mendongakkan wajahnya menghadap kewajah Om Fai nya, kemudian mengecup singkat bibir tebal Om Fai dan berucap, “hiks hiks Makasih banyak Om, Syeila sayang sama Om hiks.”
Setelahnya, kembali Syeila menenggelamkan wajahnya didada bidang Faishal dengan isakkan yang sesekali lolos dari bibir mungilnya.
Dan Faishal yang mendapat perlakuan itu tentu merasa senang. Setidaknya biji sawinya sudah mulai berinisiatif seperti ini. Dan lambat laun Faishal yakin, pasti biji sawinya akan mulai terbiasa dan memahami perannya.
Disisi lain, jangan ditanya bagaimana keadaan sang supir alias sahabat sekaligus asistennya. Melihat tingkah dua orang yang duduk di belakang, sebenarnya ingin mengumpati dua orang tersebut.
Tetapi hal tersebut tidak sebanding dengan perubahan besar yang terjadi pada sahabat sekaligus atasannya Faishal. Padahal ini baru seminggu loh. Sungguh kehadiran Syeila memberikan dampak yang baik bagi perubahan sikap Faishal.
Dan dibalik kemudinya, David tersenyum melihat dua pasangan tersebut yang saling berpelukan dengan Syeila berada dipangkuan Faishal, kemudian David bergumam dalam hati, “Semoga loe beneran bisa melupakannya, dan hidup bahagia bersama bini loe bro.”
Beberapa menit berlalu, akhirnya sampailah mereka di rumah orang tua Faishal atau lebih tepatnya di kediaman keluarga Amarkhan.
Tetapi bukannya bangun, Syeila malah menggeliat mencari tempat ternyamannya.
Mau tidak mau, Faishal membawa biji sawinya dalam gendongannya. Sebelum masuk rumah, terlebih dahulu Faishal berterima kasih kepada sahabatnya.
Kemudian, Faishal membawa biji sawinya masuk kerumah dan langsung menuju ke kamarnya.
Kebetulan Mommy Meri yang sedang menikmati makan siang bersama suaminya, melihat anak dan menantunya pulang merasa senang sekali.
Tetapi khwatir ketika melihat menantu kesayangannya itu pulang dengan digendong anaknya.
Kemudian Mommy Meri ijin pada suaminya untuk melihat keadaan menantunya. Segera Mommy Meri menuju ke kamar anaknya.
Didepan kamar anaknya, Mommy Meri mengetuk pintu kemudian berucap, “Son, Mommy masuk ya.”
“Iya Mom,” sahut Faishal.
__ADS_1
Setelah diizinkan, Mommy Meri langsung masuk kekamar anaknya dan berucap, “Son, menantu Mommy kenapa? Kok digendong?”
“Biasa Mom, ketiduran.”
Mommy Meri lega mendengar ucapan anaknya karena tadi dia mengira ada apa apa dengan menantu kesayangannya tersebut.
Namun, ketika melihat lebih dekat dan memperhatikan dengan seksama menantunya, Mommy Meri mendelik.
“Kamu apakan Son, menantu Mommy ha?” tanya Mommy Meri setengah berteriak dengan menarik telinga kiri Faishal.
“Auw auw, ampun Mom, jangan dijewer telinganya Fai,” ucap Faishal mengaduh kesakitan tak kalah kerasnya dengan suara Mommy Meri.
Bukannya melepas, Mommy Meri malah mengencangkan tarikannya.
“Kamu apakan ha?” tanya sekali lagi Mommy Meri dengan tangan setia menarik telinga Faishal dan sekarang tangan satunya dibuat untuk memukul pantat Faishal.
“Auws, astaga Mom dengerin Fai dulu,” ucap Faishal dengan melihatkan tampang melasnya.
Namun, tiba tiba atensi keduanya teralihkan karena mendengar isakan kecil. Ya, siapa lagi kalau bukan Syeila. Sebenarnya, sejak Mommy Meri memarahi Faishal, Syeila sudah mulai terbangun.
Syeila merasa bersalah, dirinya merasa bahwa Om Fai kena amukan Mommy Meri karena dirinya, sehingga secara tidak sadar, lagi lagi dirinya menangis. Ah entahlah kenapa dirinya hari ini suka sekali menangis, yang jelas dirinya merasa sangat emosional sekali hari ini.
Segera Faishal dan Mommy Meri mendekat kearah Syeila.
“Sayang, kamu kenapa hem? Bilang sama Mommy kalau suami tua mu ini berani macam macam.”
Syeila hanya menggelengkan kepala nya.
Dan Faishal mendelik mendengar Mommy nya yang menyebut dirinya suami tua. Astaga sebenarnya Faishal ingin protes, tetapi waktunya yang tidak tepat.
Diabaikan ucapan Mommy nya, kemudian Faishal membelai wajah biji sawinya dan menyapukan ibu jarinya untuk menghilangkan jejak jejak air mata sambil berucap, “Kenapa lagi hem?”
Syeila mendongakkan wajahnya kemudian berhambur kepelukan Om Fai nya, “Hiks hiks, Om Fai nggak salah hiks, Syeila sayang Om Fai hiks, Syeila nggak like Om Fai dimarahi sama Mommy hiks. Yang salah Syeila hiks hiks, kenapa Om Fai yang kena marah hiks.”
Faishal yang mendengarnya, tentu merasa senang dan semakin mengeratkan pelukannya . Sedangkan Mommy Meri melongo mendengar ucapan menantunya.
.
.
__ADS_1
.
TBC.